Share

Bab 08

Author: Biee
last update Last Updated: 2026-02-03 17:42:26

Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.

'Gara-gara perempuan ini,' batin Bara dingin, matanya menatap tajam ke ubun-ubun Marissa. 'Gara-gara tubuh wangi dan daging empuk ini, Bapak tega membuang Ibu dan aku. Bapak tega membiarkan Ibu mati perlahan di atas dipan reot di kampung, sementara dia bersenang-senang di selangkangan wanita ini setiap malam.'

Rasa benci itu bukannya membuat Bara jijik, malah membuat nafsunya terbakar hebat menjadi sesuatu yang liar dan kejam. Dia ingin menghukum wanita ini. Dia ingin membuat "ratu" yang dipuja ayahnya ini hancur berantakan di bawah kuasanya.

Dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, Bara mencengkeram pinggang Marissa dan mendorong tubuh montok itu agar terguling ke samping sampai membentur kasur.

"Aduh! Kenapa Bar? Kasar amat sih," protes Marissa kaget karena didorong begitu saja tanpa aba-aba.

Bara tidak menjawab sepatah kata pun. Dia langsung bangun dan bergeser turun ke arah kaki Marissa. Tanpa basa-basi, Bara menarik kedua pergelangan kaki Marissa dan membukanya lebar-lebar semaksimal mungkin sampai paha wanita itu terentang kaku.

"Eits, mau ngapain lagi? Tante sudah lemas banget, Bar. Ampun deh," kata Marissa manja, mengira Bara mau memasukkannya lagi.

Bara menatap tepat ke arah inti tubuh Marissa. Di sana, di antara paha putih mulus yang terbuka lebar, terpampang jelas "pusat dunia" ayahnya. Bagian kewanitaannya terlihat basah kuyup, merah muda, dan sedikit bengkak sisa percintaan mereka barusan.

'Jadi ini alasannya? Cuma karena lubang daging ini Bapak lupa segalanya?' batin Bara sinis sambil menyeringai. 'Kalau begitu, aku akan hancurkan kebanggaan Bapak ini. Aku akan bikin wanita ini lupa kalau dia punya suami.'

"Diam Tante. Tante bilang Bapak tidak bisa memuaskan Tante kan? Biar saya kasih pelajaran cara anak muda main. Jangan harap Tante bisa tidur tenang malam ini," geram Bara.

Tanpa peringatan, Bara langsung membenamkan wajahnya di antara kedua paha Marissa.

"Hah? Bar?! Tu-tunggu!" pekik Marissa kaget.

Bara tidak peduli. Dia langsung menempelkan mulutnya rapat-rapat pada kewanitaan Marissa. Lidahnya menjulur keluar dan dengan gerakan menyapu yang brutal, dia menjilat belahan itu dari bawah sampai ke atas dalam sekali tarikan napas yang kuat.

"Arghhh! Baaar!" jerit Marissa seketika. Tubuhnya melenting kaget bagai disengat listrik karena serangan tiba-tiba itu.

Bara tidak memberinya ampun. Dia bukan sedang melayani, dia sedang melahap. Seperti binatang buas yang kelaparan, Bara menghisap, menjilat, dan mengulum inti kenikmatan Marissa dengan rakus. Suara kecipak basah terdengar nyaring dan memalukan memenuhi ruangan itu.

'Rasakan ini! Rasakan! Ini balasan buat air mata Ibu!' teriak Bara dalam hati.

Bara menggunakan tangan kasarnya untuk menahan paha Marissa agar tetap terbuka lebar, memaksanya menerima setiap jilatan yang dia berikan. Namun Bara belum puas. Dia melihat benjolan kecil kemerahan di bagian atas belahan itu yang sudah menegang keras.

Itu klitoris Marissa. Pusat dari segala kenikmatan yang membuat ayahnya bertekuk lutut.

Tanpa ragu, Bara membuka mulutnya dan menangkap klitoris itu. Bukan dihisap, melainkan dia gigit.

Bara menggigit klitoris Marissa dengan tekanan gigi yang cukup kuat, cukup untuk menyakiti tapi juga memicu kenikmatan yang gila.

"AAAAKH! SAKIIIT! JANGAN DIGIGIT BAR! MATI TANTE!" teriak Marissa histeris.

Bara tidak melepaskannya. Dia justru menggigit dan menarik klitoris itu pelan-pelan dengan giginya, seolah sedang mengunyah daging yang sangat lezat. Lidahnya bermain liar di sekitar gigitan itu, memberikan sensasi perih dan nikmat secara bersamaan.

"Ampun Bar! Jangan digigit! Itu sensitif banget! Ahhh! Gila kamu! Sakit tapi enak!" racau Marissa. Tangannya menjambak rambut Bara dengan kuat, menarik-nariknya karena tidak kuat menahan gelombang nikmat yang menyiksa itu.

Bara menyeringai di sela-sela gigitannya.

'Enak kan, Tante? Enak mana sama Bapak? Bapak pasti tidak pernah menggigit klitoris Tante begini kan? Bapak pasti terlalu sopan, terlalu takut lecet. Tapi aku tidak peduli. Aku akan bikin Tante rusak,' rutuk Bara dalam monolognya yang penuh amarah.

Bara semakin menjadi-jadi. Dia menghisap klitoris yang sudah bengkak itu lalu menggigitnya lagi berulang-ulang dengan tempo cepat.

"Bar ... Bapakmu nggak pernah begini! Kamu jahat banget! Ahhh! Terus Bar! Gigit lagi!" mohon Marissa dengan suara serak. Air matanya sampai keluar saking nikmatnya disiksa seperti itu.

Pengakuan itu membuat Bara merasa menang telak. Benar dugaannya. Ayahnya yang sombong itu pasti merasa terlalu 'berkelas' untuk melakukan hal kotor dan kasar seperti ini. Inilah celah kemenangan Bara.

Bara mempercepat gerakan kepalanya, mengocok bagian itu dengan mulut dan giginya tanpa ampun. Dia ingin menguras habis tenaga wanita ini. Dia ingin Marissa tidak berdaya, tidak bisa berpikir, dan hanya bisa meneriakkan namanya.

"Keluar! Tante mau keluar lagiii! Berhenti gigit, nanti Tante pingsan!" teriak Marissa panik karena rasa nikmatnya sudah di ambang batas kewajaran.

"Jangan harap berhenti. Keluar saja di muka saya! Tumpahkan semuanya!" perintah Bara dengan suara teredam karena mulutnya masih menempel erat di sana.

Dia terus menghajar klitoris itu tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh Marissa mengejang kaku, perutnya berkontraksi hebat, dan pahanya menjepit kepala Bara dengan sangat kuat seolah mau memecahkan tengkoraknya.

"BAAARAAAA!"

Teriakan panjang Marissa menggema saat dia mencapai puncak kenikmatan yang meledak-ledak. Tubuhnya bergetar hebat di atas kasur seperti orang kesurupan. Cairan kewanitaannya membanjiri mulut dan wajah Bara, tapi Bara tidak mundur satu senti pun. Dia menelan semuanya, menjilati sisanya sampai tetes terakhir, memastikan dia mengambil semua harga diri wanita itu.

Marissa akhirnya ambruk, lemas tak bertulang dengan mata terbalik ke atas. Napasnya putus-putus dan mulutnya terbuka sedikit tanpa suara. Dia benar-benar "tewas" dibuat anak tirinya.

Bara perlahan mengangkat wajahnya. Mulut dan dagunya basah kuyup dan berkilauan. Dia menyeka bibirnya dengan punggung tangan kasar miliknya, lalu menatap tubuh Marissa yang terkapar tak berdaya dengan tatapan puas sekaligus dingin.

'Lunas,' batin Bara sambil mengatur napasnya sendiri. 'Bapak ambil Ibu, aku hancurkan istri Bapak. Sekarang wanita ini milikku.'

Bara merangkak naik lalu menepuk pelan pipi Marissa yang merona merah.

"Gimana Tante? Masih berani bilang saya kampungan setelah saya bikin Tante teriak-teriak begitu?" bisik Bara tajam di telinga ibu tirinya yang masih setengah sadar itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 10

    Mulut Bara masih sibuk bekerja di dada Marissa. Dia tidak membiarkan puting yang sudah bengkak itu istirahat sedetik pun. Lidahnya memutar, menghisap, dan menyedot daging empuk itu dengan bunyi kecipak basah yang memenuhi kamar. Bara merasa seperti bayi besar yang sedang menuntut haknya, hak atas kasih sayang yang hilang selama ini.Sementara mulutnya sibuk menikmati "susu" dari ibu tirinya, tangan kanan Bara mulai merayap turun. Tangan yang kasar dan kapalan bekas memegang cangkul itu meluncur melewati perut rata Marissa yang licin oleh keringat, lalu langsung menyusup ke sela-sela paha yang terbuka lebar.Bara menemukan sasarannya dengan mudah. Kewanitaan Marissa sudah banjir cairan, becek dan hangat. Tanpa permisi, jari-jari kasar Bara langsung menyerbu klitoris yang tadi sempat dia gigit."Mmphhh! Baaar!" erang Marissa tertahan karena mulutnya sedang mendesah tapi dadanya disedot kuat.Bara mulai "mengocok" milik Marissa dengan gerakan jari yang cepat dan kasar. Dia menggesek bagi

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 09

    Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih itu terlihat makin licin dan berkilauan di bawah cahaya lampu.Bara merangkak naik perlahan dari arah kaki menuju ke atas tubuh Marissa. Matanya tidak lepas menatap dua gundukan daging besar yang berguncang pelan setiap kali Marissa menarik napas.'Lihat ini,' batin Bara dengan tatapan nanar. 'Daging segunung ini yang tiap malam dipeluk Bapak. Bapak tidur nyenyak berbantalkan dada ini, sementara dulu aku dan Ibu tidur beralaskan tikar tipis sampai badan sakit semua.'Pemandangan payudara yang begitu besar, montok, dan terawat itu seolah mengejek kemiskinan masa lalu Bara. Putingnya yang berwarna merah muda dan besar itu mencuat tegak, seolah menantang Bara untuk mendekat. Rasa dendam Bara kemb

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 08

    Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.'Gara-gara perempuan ini,' batin Bara dingin, matanya menatap tajam ke ubun-ubun Marissa. 'Gara-gara tubuh wangi dan daging empuk ini, Bapak tega membuang Ibu dan aku. Bapak tega membiarkan Ibu mati perlahan di atas dipan reot di kampung, sementara dia bersenang-senang di selangkangan wanita ini setiap malam.'Rasa benci itu bukannya membuat Bara jijik, malah membuat nafsunya terbakar hebat menjadi sesuatu yang liar dan kejam. Dia ingin menghukum wanita ini. Dia ingin membuat "ratu" yang dipuja ayahnya ini hancur berantakan di bawah kuasanya.Dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, Bara mencengkeram pinggang Marissa dan mendorong tubuh montok itu agar terguling ke samping sampai membentur kasur."Aduh! Kenapa Bar? Kas

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 07

    Bara masih terengah-engah dengan napas memburu karena tenaganya rasanya baru saja disedot habis. Matanya menatap cairan putih kental miliknya yang kini melumuri belahan dada dan perut rata ibu tirinya itu. Pemandangan itu terlihat sangat kotor tapi sekaligus sangat indah di mata Bara yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya."Sudah lega kan, Bar?" tanya Marissa dengan suara lembut sambil menyeka sedikit cairan di dadanya dengan jari telunjuk lalu menjilatnya tanpa rasa jijik sedikit pun.Bara menelan ludah melihat gerakan bibir Marissa itu.'Gila. Istri Bapak menjilati punyaku. Kalau orang kampung tahu, bisa dirajam aku,' batin Bara ngeri tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya."Su-sudah, Tante. Maaf ya, jadi kotor banget badannya Tante," jawab Bara dengan suara serak karena merasa bersalah.Tangan Bara bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang telanjang karena dia mulai sadar diri."Saya ambilkan tisu dulu ya, Tante," kata Bara hendak bangun.N

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 06

    Marissa tidak langsung menyentuh milik Bara lagi karena tangan kanannya justru meraih botol minyak kayu putih yang tadi tergeletak di kasur. Dia memegang botol itu sebentar lalu menatap pakaiannya sendiri dengan wajah tidak puas sambil menarik-narik kerah daster kaosnya yang longgar."Ah, ribet kalau masih pakai baju begini, nanti malah kotor semua kena minyak," gerutu Marissa santai.Jantung Bara rasanya mau copot saat melihat tangan Marissa tiba-tiba menarik ujung dasternya ke atas. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa malu-malu, Marissa melepas baju satu-satunya itu melewati kepalanya lalu melemparnya sembarangan ke lantai kamar.Napas Bara tertahan di leher sampai dia lupa caranya menghembuskan udara. Kini di hadapannya, Marissa hanya mengenakan bra tipis berenda warna hitam. Kulit tubuh bagian atasnya yang putih bersih, bahunya yang bulat, dan perutnya yang rata langsung terlihat jelas di depan mata Bara.'Gawat,' batin Bara panik sambil meremas selimutnya kuat-kuat karena tangannya

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 05

    Bara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih."Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status