Share

Bab 07

Author: Biee
last update Last Updated: 2026-02-03 17:42:02

Bara masih terengah-engah dengan napas memburu karena tenaganya rasanya baru saja disedot habis. Matanya menatap cairan putih kental miliknya yang kini melumuri belahan dada dan perut rata ibu tirinya itu. Pemandangan itu terlihat sangat kotor tapi sekaligus sangat indah di mata Bara yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.

"Sudah lega kan, Bar?" tanya Marissa dengan suara lembut sambil menyeka sedikit cairan di dadanya dengan jari telunjuk lalu menjilatnya tanpa rasa jijik sedikit pun.

Bara menelan ludah melihat gerakan bibir Marissa itu.

'Gila. Istri Bapak menjilati punyaku. Kalau orang kampung tahu, bisa dirajam aku,' batin Bara ngeri tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya.

"Su-sudah, Tante. Maaf ya, jadi kotor banget badannya Tante," jawab Bara dengan suara serak karena merasa bersalah.

Tangan Bara bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang telanjang karena dia mulai sadar diri.

"Saya ambilkan tisu dulu ya, Tante," kata Bara hendak bangun.

Namun tangan Marissa bergerak cepat menahan dada Bara dan mendorongnya kembali ke kasur. Wajah cantiknya yang tadinya tersenyum lembut mendadak berubah jadi cemberut manja dan matanya menatap Bara dengan tatapan lapar.

"Eits, mau ke mana? Enak saja mau langsung tidur atau bersih-bersih," protes Marissa.

"Lho? Maksud Tante gimana? Kan sudah selesai," tanya Bara bingung dan panik.

"Kamu curang, Bar. Masa cuma kamu yang enak sendirian sampai lemas begitu? Tante kan juga mau enak," kata Marissa dengan nada yang tidak mau dibantah.

Bara melotot kaget dan menatap wajah ibu tirinya tidak percaya.

"Tante belum selesai, Sayang. Kamu sudah bikin Tante basah dan kepengin begini, sekarang kamu harus tanggung jawab dong," tambah Marissa lagi.

Tanpa memberi waktu Bara untuk berpikir atau menolak, Marissa menegakkan punggungnya. Dia tidak turun dari tubuh Bara tapi malah memajukan posisi duduknya. Marissa mengangkat pinggulnya yang besar dan sintal itu tinggi-tinggi lalu memposisikan pangkal paha mulusnya tepat di atas wajah "adik" Bara yang baru saja tidur lemas.

Tangan Marissa bergerak ke bawah untuk memegang milik Bara dan mengelusnya sebentar. Ajaibnya, meski baru saja keluar, sentuhan tangan halus dan pemandangan selangkangan Marissa yang terbuka lebar di atasnya membuat milik Bara perlahan bangun lagi.

'Waduh, kok bangun lagi sih? Padahal dengkulku sudah lemas,' batin Bara heran dengan tubuhnya sendiri. 'Dasar mata keranjang, lihat paha putih sedikit langsung tegang.'

"Lihat tuh Bar, punya kamu bangun lagi kan? Dia tahu kalau Tante masih lapar," goda Marissa sambil terkikik senang.

Bara hanya bisa pasrah karena jantungnya berdegup kencang lagi. Dia melihat paha dalam Marissa yang putih bersih dan sedikit basah di bagian tengahnya yang merekah merah muda.

"Tante ... itu ... anu ... tapi itu kan jatahnya Bapak," cicit Bara ragu-ragu mencoba mengingatkan status mereka yang terlarang.

Marissa mendengus pelan seolah tidak peduli dan menatap Bara dengan tatapan meremehkan saat nama suaminya disebut.

"Halah, Bapakmu itu sudah tidak bisa bikin Tante sepuas ini. Punya dia lembek, tidak keras dan gagah kayak punya kamu ini," hina Marissa terang-terangan. "Tante bosan sama Bapakmu."

Kalimat itu seperti bensin yang disiramkan ke api dendam di hati Bara.

'Bapak dengar itu? Bapak yang merasa paling hebat di dunia, ternyata dianggap payah sama istri sendiri,' batin Bara sambil tersenyum sinis dalam hati. Ada rasa puas yang meledak di dadanya mendengar ayahnya dihina.

"Sekarang kamu diam dan rasakan servis Tante," perintah Marissa.

Marissa memegang batang milik Bara dan mengarahkannya ke bibir liang kewanitaannya yang sudah basah kuyup. Perlahan-lahan dia menurunkan pinggulnya yang berat itu.

"Ahhh ...," desah Marissa panjang sambil mendongakkan kepala dan memejamkan mata saat milik Bara mulai menerobos masuk ke dalam dirinya.

Bara refleks mencengkeram pinggang Marissa karena kaget. Rasanya sempit sekali dan dinding daging yang hangat itu menjepit miliknya dengan kuat.

"Masuk semua ... gila, panjang banget punya kamu Bar," racau Marissa saat dia sudah duduk sepenuhnya di pangkuan Bara.

Kini mereka menyatu sepenuhnya. Tubuh bagian bawah mereka menempel rapat tanpa jarak. Bara bisa merasakan betapa panasnya bagian dalam tubuh ibu tirinya itu yang seolah menyedotnya.

"Gerak, Tante ... ayo gerak," pinta Bara tanpa sadar karena rasanya enak sekali sampai ke ubun-ubun.

Marissa tersenyum nakal menatap Bara di bawahnya sambil mengelus pipi Bara.

"Sabar dong, biar Tante yang goyang. Kamu nikmati saja pemandangannya ya," kata Marissa.

Marissa mulai menggerakkan pinggulnya naik turun. Awalnya pelan untuk menyesuaikan diri tapi lama-lama makin cepat dan bertenaga.

Saat Marissa bergerak itulah mata Bara kembali dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa indah. Karena Marissa berada di posisi atas, kedua payudaranya yang besar dan tak tertutup apa pun itu berguncang hebat tepat di depan wajah Bara. Dua bola daging putih itu melompat-lompat liar ke atas dan ke bawah mengikuti irama genjotan pinggulnya.

'Ya ampun ... besar banget dan goyangnya mantap sekali. Goyangan ronggeng di kampung kalah jauh sama goyangan nyonya rumah gedongan,' batin Bara kagum setengah mati.

Plak! Plak! Plak!

Suara kulit bokong Marissa yang beradu dengan paha Bara terdengar nyaring di kamar yang sunyi itu dan bercampur dengan suara desahan napas mereka berdua.

"Ahhh! Enak banget Bar! Kamu jagoan! Tusukanmu mantap!" erang Marissa tanpa malu-malu. Rambut panjangnya berantakan ke mana-mana dan keringat mulai mengkilap di leher serta dadanya.

Bara menatap wajah Marissa yang sedang mabuk kepayang itu dengan tatapan tajam.

"Enak mana sama punya Bapak, Tante?" tanya Bara tiba-tiba, ingin mendengar pengakuan itu lagi.

Marissa membuka matanya yang sayu dan menatap Bara sambil terus bergerak cepat.

"Jauh! Enak punya kamu! Punya kamu besar dan keras! Bapakmu lewat!" jawab Marissa lantang.

Bara menyeringai puas.

'Rasakan ini, Pak,' batin Bara penuh kemenangan. 'Bapak enak-enakan tidur di kamar mewah di atas sana, tapi malam ini Bara yang jadi raja di kamar ini. Bara yang bikin istri Bapak teriak-teriak keenakan, bukan Bapak.'

Perasaan menang itu membuat Bara makin bergairah dan dia tidak lagi diam saja. Tangannya bergerak meremas pinggul Marissa yang empuk dan membantu wanita itu bergerak lebih cepat lagi.

"Iya Tante, goyang terus sampai puas," bisik Bara parau di tengah desahannya.

"Bagus Bar ... tusuk Tante yang dalam ... aduh nikmat banget!" balas Marissa sambil menggigit bibir bawahnya.

Guncangan di dada Marissa makin menjadi-jadi seolah payudara itu menari mengejek ayahnya yang tidak tahu apa-apa. Cairan sisa milik Bara yang tadi ada di dada Marissa kini meleleh turun karena keringat dan membuat kulitnya makin licin dan bersinar.

"Tante mau keluar lagi! Ahhh! Jangan berhenti Bar!" teriak Marissa tertahan.

Gerakan pinggul Marissa menjadi tidak beraturan dan makin liar karena dia menghentakkan tubuhnya kuat-kuat ke bawah untuk mencari kepuasan puncaknya. Dinding liangnya meremas milik Bara dengan kedutan yang sangat kuat dan menyiksa.

"Bara juga mau keluar lagi, Tante! Tahan Tante!" seru Bara panik.

Sensasi remasan itu terlalu nikmat buat Bara. Dia merasakan gelombang itu datang lagi dan kali ini rasanya lebih dahsyat dari yang pertama karena bercampur emosi.

"Barengan, Sayang! Tumpahkan di dalam! Tante mau punya kamu! Jangan dikeluarin!" perintah Marissa gila.

"Iya Tante! Ahhh!"

Sesaat kemudian tubuh Marissa menegang kaku dan dia melengking panjang. Bersamaan dengan itu, Bara menyentakkan pinggulnya ke atas dan menumpahkan segala benih kemarahannya, dendamnya, dan nafsunya ke dalam rahim wanita yang seharusnya dia panggil Ibu itu.

Marissa ambruk ke depan dan menjatuhkan tubuhnya yang lemas serta berkeringat di atas dada Bara. Payudaranya yang kenyal menindih wajah Bara dan membekapnya dalam aroma tubuh serta aroma percintaan yang kental.

Bara memeluk punggung licin ibu tirinya itu dengan napas tersengal-sengal dan menatap langit-langit kamar dengan senyum sinis yang puas.

'Satu sama, Pak. Bapak ambil masa kecilku, sekarang aku ambil istri Bapak,' batinnya merasa egonya puas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 10

    Mulut Bara masih sibuk bekerja di dada Marissa. Dia tidak membiarkan puting yang sudah bengkak itu istirahat sedetik pun. Lidahnya memutar, menghisap, dan menyedot daging empuk itu dengan bunyi kecipak basah yang memenuhi kamar. Bara merasa seperti bayi besar yang sedang menuntut haknya, hak atas kasih sayang yang hilang selama ini.Sementara mulutnya sibuk menikmati "susu" dari ibu tirinya, tangan kanan Bara mulai merayap turun. Tangan yang kasar dan kapalan bekas memegang cangkul itu meluncur melewati perut rata Marissa yang licin oleh keringat, lalu langsung menyusup ke sela-sela paha yang terbuka lebar.Bara menemukan sasarannya dengan mudah. Kewanitaan Marissa sudah banjir cairan, becek dan hangat. Tanpa permisi, jari-jari kasar Bara langsung menyerbu klitoris yang tadi sempat dia gigit."Mmphhh! Baaar!" erang Marissa tertahan karena mulutnya sedang mendesah tapi dadanya disedot kuat.Bara mulai "mengocok" milik Marissa dengan gerakan jari yang cepat dan kasar. Dia menggesek bagi

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 09

    Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih itu terlihat makin licin dan berkilauan di bawah cahaya lampu.Bara merangkak naik perlahan dari arah kaki menuju ke atas tubuh Marissa. Matanya tidak lepas menatap dua gundukan daging besar yang berguncang pelan setiap kali Marissa menarik napas.'Lihat ini,' batin Bara dengan tatapan nanar. 'Daging segunung ini yang tiap malam dipeluk Bapak. Bapak tidur nyenyak berbantalkan dada ini, sementara dulu aku dan Ibu tidur beralaskan tikar tipis sampai badan sakit semua.'Pemandangan payudara yang begitu besar, montok, dan terawat itu seolah mengejek kemiskinan masa lalu Bara. Putingnya yang berwarna merah muda dan besar itu mencuat tegak, seolah menantang Bara untuk mendekat. Rasa dendam Bara kemb

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 08

    Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.'Gara-gara perempuan ini,' batin Bara dingin, matanya menatap tajam ke ubun-ubun Marissa. 'Gara-gara tubuh wangi dan daging empuk ini, Bapak tega membuang Ibu dan aku. Bapak tega membiarkan Ibu mati perlahan di atas dipan reot di kampung, sementara dia bersenang-senang di selangkangan wanita ini setiap malam.'Rasa benci itu bukannya membuat Bara jijik, malah membuat nafsunya terbakar hebat menjadi sesuatu yang liar dan kejam. Dia ingin menghukum wanita ini. Dia ingin membuat "ratu" yang dipuja ayahnya ini hancur berantakan di bawah kuasanya.Dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, Bara mencengkeram pinggang Marissa dan mendorong tubuh montok itu agar terguling ke samping sampai membentur kasur."Aduh! Kenapa Bar? Kas

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 07

    Bara masih terengah-engah dengan napas memburu karena tenaganya rasanya baru saja disedot habis. Matanya menatap cairan putih kental miliknya yang kini melumuri belahan dada dan perut rata ibu tirinya itu. Pemandangan itu terlihat sangat kotor tapi sekaligus sangat indah di mata Bara yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya."Sudah lega kan, Bar?" tanya Marissa dengan suara lembut sambil menyeka sedikit cairan di dadanya dengan jari telunjuk lalu menjilatnya tanpa rasa jijik sedikit pun.Bara menelan ludah melihat gerakan bibir Marissa itu.'Gila. Istri Bapak menjilati punyaku. Kalau orang kampung tahu, bisa dirajam aku,' batin Bara ngeri tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya."Su-sudah, Tante. Maaf ya, jadi kotor banget badannya Tante," jawab Bara dengan suara serak karena merasa bersalah.Tangan Bara bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang telanjang karena dia mulai sadar diri."Saya ambilkan tisu dulu ya, Tante," kata Bara hendak bangun.N

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 06

    Marissa tidak langsung menyentuh milik Bara lagi karena tangan kanannya justru meraih botol minyak kayu putih yang tadi tergeletak di kasur. Dia memegang botol itu sebentar lalu menatap pakaiannya sendiri dengan wajah tidak puas sambil menarik-narik kerah daster kaosnya yang longgar."Ah, ribet kalau masih pakai baju begini, nanti malah kotor semua kena minyak," gerutu Marissa santai.Jantung Bara rasanya mau copot saat melihat tangan Marissa tiba-tiba menarik ujung dasternya ke atas. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa malu-malu, Marissa melepas baju satu-satunya itu melewati kepalanya lalu melemparnya sembarangan ke lantai kamar.Napas Bara tertahan di leher sampai dia lupa caranya menghembuskan udara. Kini di hadapannya, Marissa hanya mengenakan bra tipis berenda warna hitam. Kulit tubuh bagian atasnya yang putih bersih, bahunya yang bulat, dan perutnya yang rata langsung terlihat jelas di depan mata Bara.'Gawat,' batin Bara panik sambil meremas selimutnya kuat-kuat karena tangannya

  • Pria Desa Penakluk Wanita    Bab 05

    Bara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih."Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status