Share

Bab 09

Author: Biee
last update publish date: 2026-02-03 17:42:49

Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih itu terlihat makin licin dan berkilauan di bawah cahaya lampu.

Bara merangkak naik perlahan dari arah kaki menuju ke atas tubuh Marissa. Matanya tidak lepas menatap dua gundukan daging besar yang bergun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 189

    "Eungh! Bara... kamu pegang apa..." Siska tersentak. Kepalanya langsung mendongak ke atas dengan mata terpejam rapat. Tubuhnya yang tadi lemas mendadak kaku, tersengat sensasi nikmat yang datang tiba-tiba."Saya cuma memastikan posisi pinggul Tante tidak bergeser saat diregangkan," ujar Bara dengan nada nakal yang berbisik di dekat telinga Siska. Jari tangannya justru semakin gencar menekan dan menggesek area intim tersebut melalui kain."Ih, kamu mah... bohong banget... ah!" Siska meremas ujung matras yoga hingga kukunya yang merah menyala memutih. Siksaan peregangan dari Bara benar-benar membuatnya kembali melayang."Gimana, Tante? Mau lanjut latihannya atau mau saya buat lebih lemas lagi?" tanya Bara, menyeringai puas melihat kain di selangkangan Siska mulai kembali basah oleh cairannya sendiri."Kamu... nakal banget... eungh! Tekan lagi, Bar... cepat!" Siska meracik desahan pasrah, melupakan rasa sakit di otot pahanya demi siksaan nikmat dari jari-jari Bara.Bara terkekeh pendek.

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 188

    Bara melepaskan tautan bibir mereka. Siska terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Lipstik merahnya berantakan, tercoreng hingga ke sudut dagu. "Tante kenapa buru-buru sekali? Masih ada banyak waktu," ujar Bara sambil menyeringai. Tangannya dengan santai meraba ritsleting belakang baju Siska. Sreeek. Siska memekik tertahan saat kain ketat itu melorot, memamerkan punggung mulus yang langsung merinding saat kena udara AC. Bara sengaja menghembuskan napas hangat di tengkuknya, membuat Siska menggeliat seperti kucing betina. "Bar, jangan nakal," desis Siska, meski pinggulnya justru sengaja mundur, menabrak kejantanan Bara yang sudah menegang di balik celana bahan hitam itu. Bara terkekeh pelan. Dia membalik tubuh Siska hingga menghadap dinding. "Tante yang mulai tadi. Masa sekarang mau menyerah?" Plak. Bara menepuk pantat Siska dengan cukup keras, membuat si wanita memekik kaget sekaligus senang. "Ah! Bara, kamu benar-benar..." "Benar-benar apa? Benar-benar bisa bikin Tan

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 187

    Bara melangkah keluar dari lobi utama gedung HDK Group. Dia memacu motor tuanya membelah jalanan Jakarta, lalu berhenti di depan sebuah ruko berlantai tiga bertuliskan Mega Gym.Begitu pintu kaca didorong, bau minyak otot dan suara dentum musik disko langsung menyengat. Di balik meja resepsionis, seorang pria berbadan seperti kulkas dua pintu dengan kaos kutang hitam sedang asyik mencabuti bulu ketiak menggunakan pinset. Bang Jaka."Bang," sapa Bara."Eh, kunyuk! Dari mana aja lo? Baru kelihatan batang hidungnya!" seru Bang Jaka. Pinsetnya terlepas, menjatuhkan sehelai bulu ke atas meja."Ada urusan, Bang," jawab Bara datar. "Mulai minggu ini, saya cuma bisa ambil jadwal kerja hari Sabtu dan Minggu saja."Bang Jaka melotot sampai matanya hampir keluar. Dia menggebrak meja hingga botol suplemen di dekatnya melompat. "Lah! Kagak bisa gitu dong, Bar! Gila lo ya? Jadwal lo padat begini mau lo pangkas?!""Saya ada kesibukan lain, Bang. Nggak bisa diganggu."Bang Jaka menjambak rambutnya se

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 186

    Bara menatap tepat ke manik mata Handoko. Dia tidak berkedip."Saya mau akses penuh," jawab Bara tegas."Akses penuh?" ulang Handoko pelan."Ke seluruh jaringan perusahaan. Saya mau lihat laporan keuangan pusat. Saya mau tahu rute distribusi dari semua pelabuhan yang dikuasai HDK Group. Saya mau tahu semua daftar anak perusahaan yang Bapak sembunyikan di luar negeri. Semuanya."Senyum di wajah Handoko perlahan memudar. Matanya menyipit. Hening menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar suara dengung halus dari pendingin ruangan.Handoko mengambil cerutunya kembali. Dia memutarnya perlahan dengan jari telunjuk dan ibu jari. Asap tipis masih keluar dari ujung cerutu yang menyala. Abu putih jatuh sedikit menodai celana kain mahalnya. Handoko tidak mempedulikannya."Kamu terlalu ambisius, Bara," kata Handoko pelan. Suaranya kini terdengar mengancam. "Kamu baru satu hari bekerja di cabang kecil. Kamu baru menangkap satu tikus gudang.""Tikus gudang itu bekerja untuk Anton. Dan Anton be

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 185

    "Bara?" suara Anton berubah tegang."Dengar baik-baik. Barang ilegal ini saya sita atas nama perusahaan. Kalau kamu mau barang ini kembali, silakan datang sendiri ke kantor dan ambil lewat meja resepsionis depan. Bawa juga polisi kalau kamu berani."Klik. Bara mematikan panggilan itu sepihak. Dia melemparkan ponsel itu kembali ke perut Pak Beni. Pak Beni menangkapnya dengan tergagap."Pak Heru!" teriak Bara. Suaranya menggema di seluruh gudang.Dari pintu atas, Pak Heru berlari menuruni tangga besi dengan napas tersengal. Dia sampai di depan Bara dalam waktu kurang dari semenit."Iya, Mas Bara. Eh, Tuan Muda," ucap Pak Heru sambil memegang lututnya, mencoba mengatur napas."Panggil keamanan internal. Bawa pak Beni ke ruang interogasi. Kunci pintu kontainer ini. Jangan ada yang berani mendekat satu meter pun dari area ini." Bara memberi instruksi cepat. Matanya tajam."Baik, Tuan Muda. Segera." Pak Heru menoleh ke arah Pak Beni. "Ayo, Pak Beni. Jangan bikin masalah lagi."Dua orang sa

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 184

    "Mana kuncinya, Beni," ulang Bara. Nada suaranya turun satu oktaf.Di belakang meja, ketiga sopir tadi perlahan berdiri. Mereka mengambil langkah mundur satu per satu. Sangat pelan. Sopir bertopi merah menutupi wajahnya dengan map plastik tipis, seolah map itu bisa membuatnya tidak terlihat. Mereka berjingkat menjauh menuju pintu keluar.Bara melirik ke arah mereka. "Mau ke mana kalian? Berdiri di situ."Ketiga sopir itu berhenti seketika. Tubuh mereka membeku. Sopir bertopi merah menurunkan map plastiknya dengan wajah memelas.Bara kembali menatap Pak Beni. "Kamu mau kasih kuncinya sendiri, atau saya harus robek saku celanamu?"Tangan Pak Beni gemetar hebat. Dia merogoh saku celananya. Bunyi gemerincing logam terdengar. Dia mengeluarkan sebundel kunci besar berkarat. Dia menyerahkannya ke tangan Bara."Bangun. Jalan ke kontainer nomor empat," perintah Bara.Bara berdiri. Pak Beni ikut berdiri dengan susah payah. Kakinya pincang sedikit akibat jatuh tadi. Dia berjalan di depan Bara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status