LOGINMarissa tidak langsung menyentuh milik Bara lagi karena tangan kanannya justru meraih botol minyak kayu putih yang tadi tergeletak di kasur. Dia memegang botol itu sebentar lalu menatap pakaiannya sendiri dengan wajah tidak puas sambil menarik-narik kerah daster kaosnya yang longgar.
"Ah, ribet kalau masih pakai baju begini, nanti malah kotor semua kena minyak," gerutu Marissa santai. Jantung Bara rasanya mau copot saat melihat tangan Marissa tiba-tiba menarik ujung dasternya ke atas. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa malu-malu, Marissa melepas baju satu-satunya itu melewati kepalanya lalu melemparnya sembarangan ke lantai kamar. Napas Bara tertahan di leher sampai dia lupa caranya menghembuskan udara. Kini di hadapannya, Marissa hanya mengenakan bra tipis berenda warna hitam. Kulit tubuh bagian atasnya yang putih bersih, bahunya yang bulat, dan perutnya yang rata langsung terlihat jelas di depan mata Bara. 'Gawat,' batin Bara panik sambil meremas selimutnya kuat-kuat karena tangannya gemetar. 'Kalau Bapak tiba-tiba bangun terus masuk ke sini, tamat sudah riwayatku. Pasti aku langsung ditendang keluar dari rumah ini dan jadi gembel lagi.' Namun di balik ketakutan itu, ada perasaan aneh yang merayap di dada Bara. Dia menatap kulit mulus istri ayahnya itu dengan tatapan lapar. 'Jadi ini wanita yang bikin Bapak lupa sama Ibu? Ini kemewahan yang Bapak kejar sampai tega ninggalin kami di kampung?' batin Bara perih tapi juga penasaran setengah mati. "Kenapa melongo begitu? Kaget ya lihat Tante buka baju?" goda Marissa sambil tersenyum geli melihat wajah Bara yang pucat pasi. Tangan Marissa lalu bergerak ke punggungnya sendiri dan terdengar bunyi 'klik' pelan saat kaitan di belakang punggungnya terlepas. Marissa menarik tali branya turun dari bahu lalu membiarkan kain penyangga itu jatuh begitu saja ke pangkuannya. Bara sontak menutup matanya rapat-rapat karena nyalinya menciut lagi. "Jangan merem dong, Bar. Lihat sini, Tante sudah buka lho buat kamu," perintah Marissa dengan nada manja tapi memaksa. Perlahan dan takut-takut, Bara membuka matanya sedikit demi sedikit. Pemandangan di depannya benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Tanpa tertutup kain apa pun lagi, payudara Marissa yang besar dan berat itu kini terlihat seluruhnya. Dua gundukan daging putih yang sangat padat itu menggantung indah dan bergoyang sedikit saat Marissa bergerak membenarkan duduknya. Ujungnya yang berwarna merah muda terlihat sangat jelas dan menantang di atas kulitnya yang seputih susu. 'Bapak boleh sombong punya segalanya,' batin Bara dengan napas tercekat. 'Tapi sekarang, Bapak tidak tahu kalau anaknya yang dibuang ini sedang melihat hartanya yang paling berharga.' Marissa kembali mengambil botol minyak kayu putih tadi lalu menuangkan cairannya cukup banyak ke telapak tangan sampai tumpah-tumpah sedikit. Dia mulai mengusapkannya langsung ke payudaranya yang sudah telanjang itu. "Nah, kalau begini kan enak mengusapnya, jadi rata semua," kata Marissa santai. Bara menelan ludah kasar saat melihat tangan Marissa meremas dan memijat payudaranya sendiri supaya kena minyak semua. Kulit yang tadinya putih bersih itu kini jadi basah dan mengkilap karena kena cahaya lampu kamar yang remang-remang. "Tante ... tolong jangan begini. Kalau Bapak bangun gimana? Saya takut diusir, Tante. Kita berhenti saja ya," cicit Bara pura-pura memohon, padahal matanya tidak bisa lepas dari dada itu. Marissa cuma tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya pelan. "Bapakmu kalau tidur sudah kayak orang mati, tidak bakal bangun sampai pagi. Dia itu sudah tua, Bar. Sudah tidak bisa puasin Tante lagi. Mending Tante main sama kamu," jawab Marissa blak-blakan. Mendengar ayahnya direndahkan begitu oleh istrinya sendiri, ada rasa puas yang menyelinap di hati Bara. Marissa kemudian menggeser tubuhnya naik ke atas kasur lalu membuka pahanya dan berlutut tepat di atas pinggang Bara. Posisi ini membuat dada montok yang basah dan licin oleh minyak itu bergoyang-goyang tepat di depan muka Bara yang cuma berjarak satu jengkal. "Siap ya, Sayang," bisik Marissa pelan. Marissa membungkukkan badannya rendah sekali dan memakai kedua tangannya untuk memegang kedua payudaranya yang besar itu. Dia menekannya kuat-kuat sampai menyatu di tengah sehingga terbentuklah celah sempit yang dalam dan licin di antara dua bukit kembar itu. Dengan gerakan yang luwes, dia mengarahkan milik Bara yang sudah tegang itu untuk masuk ke sela-sela daging empuk itu. "Argh!" Bara mengerang panjang saat merasakan jepitan itu. Kepala Bara mendongak ke bantal dan matanya terpejam erat. Rasanya enak sekali sampai kakinya lemas. Kehangatan kulit Marissa dan licinnya minyak kayu putih bercampur dengan rasa empuk yang luar biasa. Miliknya benar-benar terbungkus rapat oleh daging yang lembut dan kenyal itu. "Gimana rasanya, Bar? Enak mana sama tangan kamu sendiri?" tanya Marissa dengan napas yang mulai memburu di telinga Bara. Bara membuka matanya dan melihat ke bawah. Dia melihat barangnya sendiri timbul tenggelam di antara belahan dada ibu tirinya yang berkilauan kena minyak. "Enak ... enak banget, Tante. Ampun ...," jawab Bara jujur. Marissa tersenyum puas dan mulai menggerakkan tubuhnya naik turun. Payudaranya yang besar bergesekan terus dengan milik Bara dari pangkal sampai ujung. "Tante tahu kamu pasti suka. Badan Tante memang enak kan buat main?" goda Marissa percaya diri. Setiap kali Marissa bergerak turun, payudaranya yang berat itu menumbuk perut bawah Bara dengan lembut tapi mantap. Guncangan daging putih itu benar-benar memanjakan mata Bara. 'Rasakan ini, Pak,' batin Bara penuh dendam. 'Bapak enak-enakan tidur di kamar mewah, sementara aku yang Bapak telantarkan sekarang sedang dimanja sama istri Bapak. Ini bayaran buat air mata Ibu dulu.' Rasa benci dan dendam itu bercampur dengan nafsu, membuat sensasi di tubuh Bara makin meledak-ledak. Tubuh Bara secara alami malah ikut bergerak sedikit dan pinggulnya terangkat untuk menyambut setiap gerakan Marissa dengan lebih berani. "Terus lihat ke sini, Bar. Jangan lihat ke lain. Lihat punya kamu dimanja sama dada Tante," perintah Marissa sambil menatap mata Bara dalam-dalam. "Iya, Tante ... saya lihat," desah Bara pasrah. Gerakan Marissa semakin cepat dan suara kulit basah yang beradu terdengar memenuhi kamar sunyi itu. Napas Bara makin pendek dan tidak beraturan. Dia merasa menang malam ini. Menang telak dari ayahnya yang sombong. "Tante ... saya tidak kuat lagi. Rasanya sudah mau keluar," rintih Bara sambil meremas sprei kasur kuat-kuat sampai bukunya memutih. Marissa malah makin memajukan wajahnya sampai bibirnya hampir menyentuh kuping Bara dan aroma napasnya terasa hangat. "Jangan ditahan. Keluarkan saja di sini, Bar. Biar dada Tante banjir sama punya kamu," bisik Marissa dengan suara serak yang menggoda. Kata-kata nakal itu bikin sisa pertahanan Bara runtuh seketika. "Tante! Ahhh!" teriak Bara tertahan. Badan Bara kaku semua saat pelepasan itu datang. Dia cuma bisa pasrah melihat dan merasakan miliknya memuncratkan segalanya tepat di celah dada putih mulus yang terbuka lebar dan licin di hadapannya itu, menodai kemewahan yang selalu dibanggakan ayahnya.Mulut Bara masih sibuk bekerja di dada Marissa. Dia tidak membiarkan puting yang sudah bengkak itu istirahat sedetik pun. Lidahnya memutar, menghisap, dan menyedot daging empuk itu dengan bunyi kecipak basah yang memenuhi kamar. Bara merasa seperti bayi besar yang sedang menuntut haknya, hak atas kasih sayang yang hilang selama ini.Sementara mulutnya sibuk menikmati "susu" dari ibu tirinya, tangan kanan Bara mulai merayap turun. Tangan yang kasar dan kapalan bekas memegang cangkul itu meluncur melewati perut rata Marissa yang licin oleh keringat, lalu langsung menyusup ke sela-sela paha yang terbuka lebar.Bara menemukan sasarannya dengan mudah. Kewanitaan Marissa sudah banjir cairan, becek dan hangat. Tanpa permisi, jari-jari kasar Bara langsung menyerbu klitoris yang tadi sempat dia gigit."Mmphhh! Baaar!" erang Marissa tertahan karena mulutnya sedang mendesah tapi dadanya disedot kuat.Bara mulai "mengocok" milik Marissa dengan gerakan jari yang cepat dan kasar. Dia menggesek bagi
Marissa masih berusaha mengatur napasnya yang kacau balau setelah disiksa habis-habisan di bagian bawah sana. Matanya terpejam rapat dan dadanya yang polos itu naik turun dengan cepat mengikuti irama napasnya yang memburu. Keringat membasahi seluruh leher dan belahan dadanya, membuat kulit putih itu terlihat makin licin dan berkilauan di bawah cahaya lampu.Bara merangkak naik perlahan dari arah kaki menuju ke atas tubuh Marissa. Matanya tidak lepas menatap dua gundukan daging besar yang berguncang pelan setiap kali Marissa menarik napas.'Lihat ini,' batin Bara dengan tatapan nanar. 'Daging segunung ini yang tiap malam dipeluk Bapak. Bapak tidur nyenyak berbantalkan dada ini, sementara dulu aku dan Ibu tidur beralaskan tikar tipis sampai badan sakit semua.'Pemandangan payudara yang begitu besar, montok, dan terawat itu seolah mengejek kemiskinan masa lalu Bara. Putingnya yang berwarna merah muda dan besar itu mencuat tegak, seolah menantang Bara untuk mendekat. Rasa dendam Bara kemb
Marissa masih tergolek lemas di atas dada Bara sambil mengatur napasnya yang putus-putus. Namun, Bara tidak membiarkan momen istirahat itu berlangsung lama. Tiba-tiba saja ada desir panas yang menjalar di kepalanya saat menatap wajah puas wanita yang sedang menindihnya itu.'Gara-gara perempuan ini,' batin Bara dingin, matanya menatap tajam ke ubun-ubun Marissa. 'Gara-gara tubuh wangi dan daging empuk ini, Bapak tega membuang Ibu dan aku. Bapak tega membiarkan Ibu mati perlahan di atas dipan reot di kampung, sementara dia bersenang-senang di selangkangan wanita ini setiap malam.'Rasa benci itu bukannya membuat Bara jijik, malah membuat nafsunya terbakar hebat menjadi sesuatu yang liar dan kejam. Dia ingin menghukum wanita ini. Dia ingin membuat "ratu" yang dipuja ayahnya ini hancur berantakan di bawah kuasanya.Dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, Bara mencengkeram pinggang Marissa dan mendorong tubuh montok itu agar terguling ke samping sampai membentur kasur."Aduh! Kenapa Bar? Kas
Bara masih terengah-engah dengan napas memburu karena tenaganya rasanya baru saja disedot habis. Matanya menatap cairan putih kental miliknya yang kini melumuri belahan dada dan perut rata ibu tirinya itu. Pemandangan itu terlihat sangat kotor tapi sekaligus sangat indah di mata Bara yang belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya."Sudah lega kan, Bar?" tanya Marissa dengan suara lembut sambil menyeka sedikit cairan di dadanya dengan jari telunjuk lalu menjilatnya tanpa rasa jijik sedikit pun.Bara menelan ludah melihat gerakan bibir Marissa itu.'Gila. Istri Bapak menjilati punyaku. Kalau orang kampung tahu, bisa dirajam aku,' batin Bara ngeri tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya."Su-sudah, Tante. Maaf ya, jadi kotor banget badannya Tante," jawab Bara dengan suara serak karena merasa bersalah.Tangan Bara bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang telanjang karena dia mulai sadar diri."Saya ambilkan tisu dulu ya, Tante," kata Bara hendak bangun.N
Marissa tidak langsung menyentuh milik Bara lagi karena tangan kanannya justru meraih botol minyak kayu putih yang tadi tergeletak di kasur. Dia memegang botol itu sebentar lalu menatap pakaiannya sendiri dengan wajah tidak puas sambil menarik-narik kerah daster kaosnya yang longgar."Ah, ribet kalau masih pakai baju begini, nanti malah kotor semua kena minyak," gerutu Marissa santai.Jantung Bara rasanya mau copot saat melihat tangan Marissa tiba-tiba menarik ujung dasternya ke atas. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa malu-malu, Marissa melepas baju satu-satunya itu melewati kepalanya lalu melemparnya sembarangan ke lantai kamar.Napas Bara tertahan di leher sampai dia lupa caranya menghembuskan udara. Kini di hadapannya, Marissa hanya mengenakan bra tipis berenda warna hitam. Kulit tubuh bagian atasnya yang putih bersih, bahunya yang bulat, dan perutnya yang rata langsung terlihat jelas di depan mata Bara.'Gawat,' batin Bara panik sambil meremas selimutnya kuat-kuat karena tangannya
Bara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih."Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat







