แชร์

Bab 198

ผู้เขียน: Biee
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-10 23:12:54

Bara melajukan motor tuanya membelah jalanan Jakarta yang mulai dinaungi mendung tebal. Di belakangnya, Arum duduk dengan jarak yang amat kaku. Tangan kecilnya hanya berpegangan erat pada behel besi di belakang jok, sementara buku kuliahnya didekap rapat di dada sebagai pembatas.

"Kita makan dulu ya, Rum? Kamu belum makan siang, kan?" tanya Bara setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru mesin motor dan angin jalanan.

Arum sedikit condong ke depan, embusan napasnya terasa di bah
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 199

    Motor tua Bara mendadak batuk-batuk, mengeluarkan asap putih dari knalpot sebelum akhirnya mati total di tengah kepungan air yang semakin tinggi. Bara berusaha menstarter berkali-kali, namun mesinnya benar-benar mogok."Sial," umpat Bara pelan. Dia menepi ke bahu jalan, tepat di depan sebuah bangunan tua dengan pagar besi berkarat yang sudah tidak berpenghuni."Kita berteduh di sini dulu, Rum. Motornya mogok," ucap Bara.Mereka berlari menembus tirai hujan menuju teras rumah kosong yang gelap. Arum menggigil hebat. Jaket jins Bara yang dia kenakan basah kuyup di bagian lengan, dan rok plisketnya menempel ketat di paha karena air. Wajah gadis itu pucat, bibirnya yang tadi ranum kini membiru menahan dingin.Bara menatap sekeliling. Sunyi. Hanya ada suara dentuman hujan yang menghantam atap seng rumah tua itu. Dingin malam menusuk hingga ke tulang. Bara menatap Arum yang memeluk tubuhnya sendiri, bahunya terguncang hebat."Kamu kedinginan sekali," ucap Bara. Dia melangkah mendekat, menga

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 198

    Bara melajukan motor tuanya membelah jalanan Jakarta yang mulai dinaungi mendung tebal. Di belakangnya, Arum duduk dengan jarak yang amat kaku. Tangan kecilnya hanya berpegangan erat pada behel besi di belakang jok, sementara buku kuliahnya didekap rapat di dada sebagai pembatas."Kita makan dulu ya, Rum? Kamu belum makan siang, kan?" tanya Bara setengah berteriak agar suaranya tidak tenggelam oleh deru mesin motor dan angin jalanan.Arum sedikit condong ke depan, embusan napasnya terasa di bahu kemeja flanel Bara. "Eh? Terserah kamu saja, Bar. Tapi jangan yang mahal-mahal ya."Bara membelokkan setang motornya ke sebuah warung tenda pecel lele di pinggir jalan yang belum terlalu ramai. Begitu motor berhenti, Arum turun dan buru-buru merapikan rok plisket panjangnya yang sedikit tersingkap.Mereka memilih meja kayu di sudut tenda. Cahaya lampu neon yang agak redup menerangi wajah polos Arum. Kulit wajahnya yang putih bersih tanpa riasan tampak bersemu merah terkena hawa panas dari waja

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 197

    Bara melangkah masuk ke ruang kuliah yang ber-AC dingin. Dosen botak di depan kelas hanya meliriknya sekilas lewat kacamata yang melorot di hidung, lalu kembali menulis di papan tulis.Bara mengambil baris paling belakang. Di sampingnya, seorang mahasiswa berkacamata tebal sedang asyik mendengkur dengan air liur yang hampir menetes ke buku catatannya.Brak!Dosen melempar penghapus papan tulis, tepat mengenai meja mahasiswa yang tidur itu."Hadir, Pak!" teriak si kacamata, langsung tegak duduknya dengan wajah linglung. Seisi kelas tertawa riuh.Bara hanya mendengus, menatap jam dinding yang berputar lambat. Kuliah siang itu untungnya berjalan cepat. Tepat pukul 11.00 WIB, dosen membubarkan kelas. Bara langsung menyambar tas ranselnya dan berjalan cepat menuju parkiran.Pukul 12.00 WIB, Bara memarkirkan motor tuanya di depan lobi utama gedung HDK Group.Di meja resepsionis, dua orang wanita bermake-up tebal dengan seragam rok span ketat sedang berbisik. Saat Bara lewat, salah satu dari

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 196

    Bara tidak memberi jarak. Dia menangkup tengkuk Arum, memperdalam rekatan bibir mereka. Mengetahui tidak ada dorongan menolak dari tangan kecil yang meremas kemejanya, Bara menyelipkan lidahnya masuk, menerobos barisan gigi Arum yang pasrah."Mmph..." Arum melenguh kecil.Lidah Bara mengabsen rongga mulut Arum dengan sapuan basah yang menuntut. Arum yang tidak pernah mengalami hal seperti ini hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Karena tangannya sibuk meremas kemeja Bara, kedua tangan Arum tidak bisa bergerak bebas. Akhirnya, sisa jemari tangannya yang menempel di paha refleks mencengkeram dan memilin kain rok plisketnya sendiri sampai kusut masai.'Manis banget. Beda jauh sama mulut Tante Marissa yang bau alkohol,' batin Bara sambil terus melumat bibir Arum yang hangat.Rasa hangat yang asing menjalar dari perut bawahnya, membuat lutut Arum lemas seketika seperti jeli yang kepanasan. Desah napas Arum yang memburu beradu di antara pagutan mereka. Bunyi decapan basah yang samar mulai

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 195

    Bara mendengus kasar, tidak berniat membuang waktu lebih lama lagi di ruangan yang penuh kepalsuan itu. Dia berbalik, melangkah lebar menuju pintu kerja Handoko yang tebal tanpa memedulikan Marissa yang masih bersandar lemas di meja dengan napas yang belum teratur."Rapikan dirimu, Tante. Jangan sampai pelayan rumah melihat penampilanmu yang berantakan seperti itu," ucap Bara dingin sebelum membuka pintu dan melangkah keluar.Bara segera menuju kamarnya di paviliun belakang. Kaos polo ketatnya diganti dengan kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang kokoh. Setelah menyambar kunci motor dan tas ranselnya, dia langsung menuju garasi. Motor tua miliknya menderu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat menuju gudang nomor tiga milik HDK Group di kawasan pelabuhan.Jam 11.00 WIB: Gudang Nomor tiga.Pekerjaan di gudang ternyata tidak memakan waktu lama. Bara dengan ketegasan yang dingin berhasil menekan kepala mandor gudang yang k

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 194

    Bara menyeringai tipis. Bukannya mendekat, dia malah melepas cengkeramannya di pinggang Marissa dengan sentakan kasar.Marissa terhuyung mundur hingga pinggulnya menabrak tepi meja kerja Handoko. Kimono sutra putih gadingnya sedikit terbuka di bagian dada, memamerkan kulit mulusnya yang naik-turun karena napas yang mendadak memburu. Matanya yang sayu menatap Bara dengan bingung dan kecewa."Bar... kenapa?" bisik Marissa. Bibir merahnya agak bergetar.Bara mundur satu langkah, melipat tangan di depan dada bidangnya. Dia menatap Marissa dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan."Tante pikir saya ini alat pemuas yang bisa Tante panggil kapan saja setiap kali Tante kesepian?" tanya Bara. Suaranya rendah dan penuh ancaman. "Tante salah besar."Marissa menarik kerah kimononya yang melorot, mencoba menutupi dadanya yang bidang dengan tangan gemetar. "Bara, jangan sok jual mahal. Semalam kamu yang menyeret Tante ke kamar tamu. Kamu juga menikmatinya, kan?""Semalam itu hukuman, Tante. D

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status