تسجيل الدخولPukul 09.50 WIB.Bara memarkirkan mobilnya di pelataran pusat kebugaran eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Setelah mengganti kemejanya dengan kaus polo hitam ketat yang menonjolkan otot dada dan lengannya yang kokoh, Bara melangkah masuk ke area VIP gym.Suasana ruangan privat itu dingin oleh semburan pendingin udara, namun aroma parfum vanila manis yang khas langsung menyapa penciuman Bara saat pintu kaca terdorong.Di depan cermin besar, Sandra sedang melakukan gerakan pemanasan. Gadis itu mengenakan sport bra hitam ketat yang memperlihatkan lekuk payudaranya yang padat serta perut mulusnya yang kencang tanpa cela. Celana legging abu-abu ketat berpinggang tinggi membungkus paha dan bokongnya yang berisi.Tuk!Langkah kaki Bara membuat Sandra menoleh cepat.Wajah cantik gadis itu seketika berseri-seri. Ia menyeka sedikit keringat di leher jenjangnya dengan handuk kecil, lalu melangkah cepat menghampiri Bara dengan senyum manis yang merekah lebar."Bara! Akhirnya lo datang juga!" p
Marissa meremas kedua tangannya yang dingin di depan dada. Gaun sutra tipis yang dikenakannya bergetar halus mengikuti tarikan napasnya yang pendek. Matanya menatap Bara dengan sorot putus asa, mencari secercah kepastian dari pemuda tegap yang berdiri kokoh di depannya."Tapi Bara... kalau rentenir itu sampai datang menagih ke rumah ini..." bisik Marissa tercekat, memajukan tubuhnya hingga aroma melati menguar kuat ke hidung Bara. "Keluarga ini bisa hancur berantakan. Reputasi Keyla, hidupku... semuanya taruhannya!"Bara melangkah satu jengkal lebih dekat. Tatapan matanya yang dingin dan tajam mengunci pandangan ibu tirinya tanpa ragu sedikit pun."Bukankah itu yang Tante inginkan?" tanya Bara dengan suara rendah yang menekan. "Melihat Bapak yang selama ini menindas dan mengkhianati Tante jatuh ke titik terendahnya?"Deg!Marissa terkesiap. Bibir tipisnya terkatup rapat, tak mampu menyangkal kebenaran pahit itu."Dengarkan aku baik-baik, Tante," lanjut Bara tenang, suaranya terdengar
Bara melangkah keluar dari lobi HDK Group tepat saat langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Angin sore yang membawa debu kota menerpa wajahnya, namun Bara tak bergeming. Tanpa disadarinya, langkah kaki yang ragu-ragu mengikutinya dari belakang.Maya berjalan cepat dengan napas memburu, menyusul Bara yang baru saja tiba di area parkir basement yang agak sepi."Bara... tunggu sebentar!" panggil Maya dengan suara berbisik, takut suaranya memantul di dinding beton.Bara menghentikan langkahnya, lalu berbalik pelan. Ia menatap sekretaris pribadi ayahnya itu dengan sebelah alis terangkat. Wajah Maya tampak pucat, tetapi ada binar gugup dan sisa-sisa rasa takut yang perlahan berubah menjadi nekat."Ada apa lagi, Mbak Maya? Takut rahasia Anda bocor?" tanya Bara datar, sengaja menekan nada suaranya agar terdengar dingin.Maya menggigit bibir bawahnya. Ia melangkah mendekat, sengaja merapatkan tubuhnya hingga aroma parfum mahal bercampur keringat dingin menyeruak ke penciuman
Sandra mematung di kursinya. Bola matanya membesar, menatap Bara tanpa berkedip. Jari-jemari lentiknya yang putih meremas ujung kardigan rajutnya kuat-kuat."L-lo serius, Bar?" cicit Sandra dengan suara bergetar. "HDK Group itu perusahaan gede banget. Masa bisa bangkrut?"Bara bersandar santai ke kursi. Ia meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam itu perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.Tuk."Kelihatannya saja megah, Sandra. Isinya sudah habis," sahut Bara datar. "Papamu cuma dijadikan tameng. Begitu ada masalah keuangan, perusahaan papamu yang bakal dikorbankan pertama kali oleh Handoko."Sandra menelan ludah.Glek.Kardigan rajut tipis yang dikenakannya sedikit melorot, memperlihatkan bahu mulusnya yang putih bersih. Dua gundukan dadanya yang padat naik-turun cepat seiring napasnya yang memburu. Aroma manis vanila dari tubuhnya menguar makin kuat saat ia memajukan badannya ke arah Bara."Tapi, Bar... Papa mana mau dengar omongan gue?" rengek Sandra manja bercampur
Bara bangkit dari kursinya dengan tenang. Ia menatap Maya yang masih terduduk lemas di balik meja kerjanya. Tubuh wanita itu tampak kaku, riasan wajahnya yang tebal tak mampu menyembunyikan pucat pasi di pipi."Rapatkan kancing blazermu, Mbak. Hapus keringatmu sebelum Bapak datang," ucap Bara datar sambil menunjuk kerah blazer Maya yang melorot.Sret!Dengan tangan gemetar, Maya buru-buru menarik kerah blazernya dan merapikan kancing atas kemejanya. Napasnya masih tersengal pendek, membuat belahan dadanya naik-turun kencang di balik kain sutra tipis itu."I-iya, Bar... saya nurut," cicit Maya dengan suara nyaris berbisik. Matanya memandang Bara dengan tatapan takut bercampur tunduk.Tuk! Tuk!Bara melangkah santai menuju lorong lift lantai lima. Di tempat yang sepi, ia mengeluarkan ponselnya yang masih bergetar di saku celana.Bzzzt...Ia menggeser tombol hijau ke kanan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga."Halo," sapa Bara dengan suara berat dan tenang."Bara! Lo ke mana aja
Bara duduk di tepi ranjang. Kamar belakang itu remang. Jarum jam di dinding menunjuk pukul 23.30.Bara membuka laci meja kecil di samping kasur. Sebuah flashdisk hitam dan map tipis salinan laporan keuangan ia letakkan di pangkuan.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk tiga kali dari luar.Bara memasukkan map kembali ke laci, lalu melangkah dan memutar kunci pintu.Kriet.Marissa berdiri di lorong gelap. Gaun tidur sutra krem yang tipis itu hanya ditutupi kardigan rajut pendek. Lekuk buah dadanya yang padat terlihat jelas menonjol di balik kain sutra saat wanita itu menarik napas cepat."Bara..." bisik Marissa gemetar.Marissa melangkah maju satu jengkal. Bau wangi melati dari leher mulusnya langsung menusuk hidung Bara."Ada apa, Tante?" tanya Bara datar."Bapakmu baru tidur setelah minum obat penenang," cicit Marissa pelan. Matanya yang bulat tampak basah dan gelisah. "Tapi tadi dia sempat telepon pengacaranya.""Mau apa Bapak?""Bapak mau alihkan sebagian sisa saham kantor atas nama Keyla s







