Share

Bab 5

Author: Kayla Sango
Aku bangun perlahan, meregang seperti kucing malas setelah malam yang luar biasa sempurna.

Seprai lembut menyentuh kulitku, dan seluruh tubuhku terasa sakit tapi nikmat. Sakit yang enak. Jenis yang hanya muncul setelah malam yang benar-benar sepadan dengan setiap detiknya.

Aku menghembuskan desahan puas sebelum membuka mata.

Lalu aku berguling ke sisi, siap untuk kembali meringkuk di tubuh hangat dan berotot yang seharusnya ada di sana.

Tapi, apa yang kutemukan?

Kosong.

Sisi lain tempat tidur itu kosong. Tak ada tanda Adriel. Tak ada napas stabil. Tak ada tangan yang menarikku untuk ronde kedua di pagi hari.

Oh, mantap. Pria sewaan itu meninggalkanku.

Aku menutup mata sejenak dan menarik napas panjang.

Tidak ada sarapan sekalipun? Tidak ada selamat tinggal manis? Tidak ada catatan bertuliskan malam ini menyenangkan, ayo lakukan lagi?

Penggoda murahan.

Ya... bukan murahan. Sangat mahal.

Aku tahu ini akan terjadi.

Tapi kenapa rasa kecewa yang menyebalkan itu malah tumbuh di dadaku?

Mungkin... mungkin aku bisa bertemu dia lagi. Kalau aku menabung sedikit, mungkin aku bisa bayar satu malam lagi...

Tidak, tidak, tidak!

Aku menggeleng, menepis pikiran itu seperti menepuk nyamuk yang menyebalkan.

"Kamu mulai gila, Vivian. Dia cuma pria sewaan... Dia melakukan hal yang sama denganmu seperti yang dia lakukan pada yang lain."

Apa aku benar-benar mempertimbangkan untuk habiskan sedikit uang yang kupunya untuk seorang pria sewaan?

Tuhan tolong aku.

Tapi tetap saja...

Sebuah kalimat, kamu luar biasa, sayang, tidur yang nyenyak, pasti enak didengar, 'kan?

Aku bangkit, bergumam kesal, lalu membungkus tubuhku dengan seprai sebelum berjalan ke ruang tamu kamar. Dan saat itulah aku melihatnya...

Hidangan sarapan yang layak untuk bangsawan.

Aku terpaku, berkedip beberapa kali.

Roti renyah dengan warna keemasan. Buah-buahan eksotis. Kopi yang disajikan di porselen begitu mewah sampai mungkin harganya lebih mahal daripada sewa apartemenku.

Aku mengerutkan kening.

"Eh... aneh. Apa aku tanpa sengaja bayar paket premium tanpa sadar?"

Sebelum aku bisa memikirkannya lebih jauh, perutku mengambil keputusan sendiri. Kalau makanannya sudah ada di sini, berarti itu buatku.

Aku duduk dan mulai makan seolah besok tidak akan pernah datang.

Setelah makan sampai rasanya bisa mengenyangkan satu desa, aku menuju kamar mandi. Setidaknya Adriel meninggalkanku dengan kamar mandi ala hotel bintang lima untuk kunikmati.

Dan... wow, kamar mandinya! Ruang pancuran itu punya tombol lebih banyak daripada pesawat luar angkasa, dan lima menit pertama kuhabiskan hanya untuk mencoba satu per satu pancuran air seperti anak kecil menemukan mainan baru.

Setelah mandi, pikiranku akhirnya kembali ke dunia nyata. Aku harus bekerja.

Ponselku? Mati. Harga diriku? Hampir mati. Komitmenku ke bos? Sayangnya, masih hidup banget.

Tak masuk akal kalau pulang dulu baru ke toko, jadi aku mampir ke sebuah toko kecil dan membeli celana jeans biasa dan blus yang nyaman. Tidak mungkin aku masuk kerja dengan gaun pesta semalam, ogah.

Satu jam kemudian, aku melangkah masuk ke butik, lelah tapi masih bertahan.

Setidaknya, itulah yang kupikirkan, sampai aku melihat siapa yang menungguku.

Mataku membelalak. Jantungku tersentak seperti baru saja disetrum listrik. Tasku lepas dari bahu dan jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang pelan.

"Astaga!" seruku, sebelah tangan cepat-cepat menutup mulutku.

Adriel tersenyum, tampak rapi dan benar-benar tak tahu malu berdiri di sana seolah dia berhak sepenuhnya menguasai hidupku.

"Apa... apa yang kamu lakukan di sini?" Kata-kata itu keluar dengan nada tinggi, hampir tak dikenali.

Dia tersenyum dengan santai.

"Kangen kamu, sayang."

"Jangan panggil aku begitu." Mataku bergerak cepat ke sekeliling toko, memastikan tidak ada yang mendengar.

"Kamu sepertinya tidak keberatan tadi malam."

Brengsek.

Aku sama sekali tidak berminat dengan permainannya. Apalagi setelah dia meninggalkanku di tempat tidur seperti pesanan murah.

Tepat saat itu, bosku muncul dan terlihat bersemangat.

"Vivian! Aku senang banget kamu di sini! Kita punya klien yang sangat penting! Dia minta kamu secara pribadi."

Alisku berkedut.

"Apa?"

Dia hanya tersenyum lebar, sama sekali tidak menyadari aura sombong yang terpancar dari Adriel.

"Tuan Adriel mau beli gaun pengantin, dan dia bersikeras kamulah yang harus membantunya."

Aku menelan ludah.

Aku menatap Adriel. Lalu bosku. Lalu kembali ke Adriel.

Dan saat itulah aku sadar.

Dia jelas lagi ngerjain aku.

Pasti begitu.

"Oh, ya ampun. Sekarang kamu punya obsesi yang aneh sama gaun pengantin, ya?"

Adriel tersenyum, jelas terlihat terhibur.

"Mungkin saja."

Aku menoleh ke bosku.

"Apa kamu yakin dia... benar-benar mau beli gaun?"

"Pasti! Dia sudah lihat beberapa, tapi katanya dia ingin pendapatmu."

Aku menoleh lagi padanya.

"Apa sih tujuanmu?"

Dia cuma memiringkan kepala.

"Ayolah, Vivian. Kamu jual gaun pengantin dan aku butuh. Apa anehnya?"

‘Semuanya, Adriel! Semuanya aneh!’

Tapi bosku ada tepat di sana, tampak seperti siap memecatku kalau aku menolak.

Jadi, aku menutup mata dan menarik napas panjang.

"Baiklah. Mari kita selesaikan ini saja."

Aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya menunjukkan berbagai pilihan gaun kepada Adriel. Dia menolak semuanya. Dia ada di sana untuk menyiksaku. Untuk melihatku kesal. Untuk bersenang-senang sambil aku berusaha tetap profesional dan tidak menusukkan gantungan baju ke wajahnya di depan bosku.

"Yang ini bagaimana?" Suaraku terdengar manis dan profesional, tapi di dalam kepala, aku ingin menusuknya dengan gantungan baju itu.

"Kamu terlihat cantik saat marah."

Otakku langsung korslet.

"Hah?!"

Dia mengangkat bahu, mengambil gaun lain dan menahannya di depanku, seolah membayangkan aku memakainya atau bahkan melepasnya.

"Aku sedang mencoba memutuskan di sini..." katanya dengan suara keras, jelas untuk didengar bosku, lalu menurunkan suaranya menjadi bisikan yang penuh kenakalan. "Kira-kira kamu lebih cantik saat marah... atau saat mencapai klimaks."

Seluruh tubuhku membeku.

"Adriel!" bisikku, pipiku panas sekali.

Dia hanya memberiku senyum nakal.

"Pasti seru kalau dicoba lagi. Tapi sementara ini..." Matanya menelusuri tubuhku pelan-pelan saat dia menahan gaun itu di depanku, memiringkan kepala dengan tatapan menilai yang menyebalkan dan teliti. "Yang ini bagus, tapi yang lebih mencolok pasti lebih cocok buatmu, kan?"

"Adriel, kamu benar-benar mau beli gaun, atau cuma datang ke sini untuk mengacau hidupku?" tanyaku sambil menyipitkan mata.

Dia memiringkan kepala, seolah berpikir.

"Keduanya."

Darah memuncak ke kepalaku begitu cepat, aku marah besar.

"Sekarang tunjukkan yang paling kamu suka."

Kesabaranku langsung hilang entah ke mana.

"Yang paling aku... apa?"

"Gaun favoritmu."

Aku terbelalak.

"Kamu mau tahu gaun favoritku?"

Aku mengambil sebuah desain ikonik dari desainer terkenal, salah satu gaun paling eksklusif dan mewah di toko dan menyusuri kainnya dengan jari-jari, sutra itu licin menyentuh kulitku. Gaun itu seperti dibuat untuk bangsawan, tipe gaun yang akan menjadi impian setiap perempuan saat melangkah di pelaminan, memancarkan pesona dan kemewahan.

Dan tentu saja, harganya sangat mahal.

Aku menarik napas, mengangkat gaun itu, dan menatap Adriel, bersiap menghadapi satu lagi godaannya.

Dia menatapku, lalu menatap gaunnya.

Lalu dia mengucapkan kata-kata yang membuat jantungku berhenti.

"Aku ambil yang ini."

Aku terbelalak, mencoba mencerna.

"Maaf... apa?"

"Aku ambil gaun ini."

Jantungku berdebar, dan perutku ikut tak nyaman.

"Untuk siapa?"

Alisnya terangkat, seolah pertanyaanku adalah hal paling bodoh yang pernah dia dengar.

"Untuk tunanganku." Dia menahan jeda sejenak, lalu menambahkan dengan senyum nakal, "Atau kamu pikir orang beli gaun pengantin cuma untuk jalan-jalan di taman?"

Pikiranku langsung lumpuh.

"Kamu sudah bertunangan?!"

Astaga. Aku baru saja tidur dengan pria yang sudah bertunangan? Tenggorokanku serasa menegang saat rasa bersalah mencengkeram.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ros
Semoga tunangan adriel adalah Vivian. Biar bs balas sakit hati nya sm ex tunangan dan sahabat nya .
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 370

    Sudut pandang Valerie.Tawa lolos dari bibirku.Bukan tawa karena merasa lucu, melainkan tawa yang terdengar nyaris histeris dan gemetar, muncul dari keterkejutan luar biasa atas semua yang baru saja terjadi dalam beberapa menit terakhir.Suara itu bergema di seluruh ruangan dengan cara yang bahkan terasa sedikit mengganggu. Dan ketika akhirnya aku berhasil menghentikannya, kata-kata langsung keluar tanpa sempat kusaring."Kamu gila," kataku sambil menggeleng keras. "Ini ide paling tidak masuk akal yang pernah kudengar seumur hidupku."Dewa terus menatapku dengan keseriusan yang sama sekali tidak cocok dengan situasi gila yang sedang dia usulkan.Seolah meminta orang asing untuk menikah dengannya adalah hal paling wajar di dunia."Bagaimana mungkin kamu melamar seseorang yang bahkan tidak kamu ketahui namanya?" lanjutku, merasakan campuran antara ketidakpercayaan dan sesuatu yang nyaris berubah menjadi histeria. "Ini ... ini benar-benar kegilaan.""Memangnya itu perlu?" tanyanya tenang

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 369

    Sudut pandang Rivan."Dewi?" ulangku sambil perlahan mendekatinya ketika dia tidak menjawab pertanyaanku yang pertama.Dia berdiri membeku di tengah ruangan, wajahnya pucat pasi, menatap lantai tempat ponselnya terjatuh dan menghantam marmer. Tangannya gemetar jelas terlihat, dan dia tampak benar-benar syok, seolah baru saja melihat hantu.Tanpa berpikir panjang, aku menjatuhkan handuk yang masih melingkar di pinggangku lalu mengenakan celana pendek yang tergeletak di atas tempat tidur. Pikiranku sudah langsung masuk ke mode waspada.Ada sesuatu yang sangat tidak beres.Dewi bukan tipe orang yang mudah panik. Aku sudah mempelajarinya selama beberapa hari terakhir. Jadi jika dia terlihat seperti ini, apa pun yang baru saja dia lihat di ponselnya pasti sangat serius."Ada apa?" tanyaku lagi sambil menyentuh lengannya dengan lembut.Dia hanya menggeleng, dan masih menatap perangkat yang tergeletak di lantai.Aku mengambil ponsel itu dengan hati-hati dan melihat bahwa meskipun terjatuh, la

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 368

    Sudut pandang Valerie.Hari-hari berikutnya berubah menjadi rangkaian momen yang terasa seperti diambil langsung dari film romantis Hollywood.Anggur-anggur yang harganya tidak masuk akal dan bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya. Hubungan intim yang membuatku kehilangan napas. Pemandangan yang begitu tidak nyata hingga terkadang aku harus mencubit diri sendiri hanya untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi.Jika rencana awalku untuk melupakan Darren adalah meringkuk di sofa sambil memegang seember es krim dan menonton maraton film-film drama, maka Dewa sudah bekerja dengan baik. Pria sewaan pribadiku, seperti yang suka dia sebutkan sebagai lelucon, terbukti sangat efektif menjalankan perannya.Kami menghabiskan pagi-pagi kami saling berpelukan di tempat tidur, terbungkus seprai katun yang lembut, dan menjelajahi setiap sisi satu sama lain seolah waktu tidak ada. Dewa menyentuhku dengan cara yang membangunkan seluruh tubuhku, seakan setiap ujung sarafku memang diciptakan

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 367

    Sudut pandang Rivan.Aku mengamati Dewi pada pagi setelah makan malam penuh pengakuan itu, dan aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dari gestur dan pembawaannya. Dia tampak lebih ringan, seolah akhirnya berhasil melepaskan beban besar yang selama ini dipikulnya setelah membagikan rasa sakitnya kepadaku. Namun di saat yang sama, ada kerapuhan baru di sana, seakan satu beban telah digantikan oleh beban lain. Mungkin ketakutan karena sudah membuka dirinya terlalu jauh. Karena sudah mempercayakan rahasia terdalamnya kepada seseorang yang pada dasarnya masih orang asing.Dia berdiri di dek dengan secangkir kopi di tangan, dan menatap laut sebening kristal di hadapannya. Namun bahunya sedikit membungkuk, seolah bayang-bayang malam sebelumnya masih belum benar-benar pergi. Saat itulah aku memutuskan bahwa hari ini harus diisi dengan hal-hal yang ringan. Aku ingin menarik Dewi sepenuhnya keluar dari orbit gelap masa lalunya dan mengembalikannya ke surga kecil yang hanya menjadi milik kami."

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 366

    Sudut Pandang Valerie.Sunyi.Itu saja yang tersisa di antara kami setelah aku selesai menceritakan kisahku. Kata-kataku masih seolah menggantung di udara malam tropis yang hangat, bercampur dengan suara ombak yang jauh dan gumaman pelan pasangan lain yang sedang makan di meja-meja sekitar. Aku terus menatap gelas anggur di depanku, dan memperhatikan cahaya lilin yang berkilau di dalam cairan merah gelap itu, karena tidak sanggup menatap Dewa.Aku sudah menceritakan semuanya padanya. Atau hampir semuanya.Aku sudah menceritakan pengkhianatan yang kutemukan di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Tentang aku mendapati tunanganku yang bahkan tidak pernah kusebutkan nama aslinya bersama wanita yang kukira sahabat terbaikku, menyusun rencana untuk menjadikan pernikahanku sebagai alat tukar dalam permainan yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah kubayangkan. Aku juga menceritakan tentang orang tuaku, tentang bagaimana aku menyadari mereka bukan hanya tahu s

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 365

    Tiga Hari Sebelumnya, Sudut Pandang Valerie."Apa kamu melihat itu?" Suaraku keluar nyaris seperti bisikan."Tenang!""Apa kamu melihat itu?!" Kali ini aku berteriak."Tenang!" Ibu membentakku balik.Clarisa Salvino, yang selalu sempurna dalam gaun biru tua berbordir tangan, membuatku duduk di sofa dan menyodorkan segelas sampanye. Bahkan di tengah kekacauan, dia tetap mempertahankan ketenangan elegan yang menjadi cirinya."Kamu sudah tahu?" tanyaku dan keterkejutan membuatku tiba-tiba tenang dengan cara yang aneh. "Kamu sudah tahu?""Aku menduganya," katanya jujur sambil merapikan lipatan yang seolah-olah ada di roknya. "Ayahmu juga.""Kenapa kalian membiarkanku menjalani ini?"Ibu mendekat dan duduk di sebelahku, tangan sempurnanya yang terawat mencengkeram tanganku dengan kekuatan yang tidak nyaman."Sejujurnya, Valerie .…" Dia menghela napas. "Karena kita membutuhkan pernikahan ini sama seperti Darren membutuhkan kita.""Maksud Ibu apa?""Taman hiburan itu, sayang. Kita bangkrut. B

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 75

    Setelah Lydia pergi, aku tetap duduk lama di teras, kata-katanya berputar-putar di kepalaku seperti daun yang diterbangkan badai. Aku perlu tahu lebih banyak, dan memahami apa yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.Tepat saat ini Lusi muncul dengan kopiku, dan saat dia menata meja, aku memutus

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 62

    Teras utama tertata dengan perhatian yang hanya dimiliki orang Valentia saat menyiapkan sebuah hidangan. Lilin-lilin berkelip lembut diterpa angin malam, memancarkan cahaya hangat di atas porselen antik dan perak yang berkilau. Dari dapur, aroma rempah dan saus yang direbus perlahan menyebar seperti

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 39

    Sudut pandang Adriel.Aku langsung melihatnya begitu masuk ke aula utama. Sulit sekali untuk tidak memperhatikan Vivian, meski dari belakang. Saat dia mengatur sesuatu dengan timnya, dengan gerakan tangannya dan memiringkan kepalanya saat mendengar, semua detail itu sudah kuingat tanpa sengaja selam

  • Pria Sewaanku Ternyata Miliuner?   Bab 30

    Porsche milik Adriel berhenti mulus di depan rumahku. Mesin dimatikan, sisakan hanya keheningan di antara kami yang terasa begitu berat hingga seperti ada kehadiran ketiga di dalam mobil. Lewat jendela, aku lihat rumahku persis seperti saat aku meninggalkannya beberapa hari lalu, rumah yang sederhan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status