FAZER LOGINBegitu banyak remah camilan berserakan di atas meja, dengan gelas anggur yang tak dibiarkan kosong.
Mengenakan kostum tipis, 5 pelayan itu siap berdiri melayani para pria yang tampak asik bersenda gurau.Di sisi lain Ryan duduk santai mengawasi, tangannya tiba-tiba merogoh ke dalam saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening.Matanya melirik ke depan, memastikan tak ada yang menyadari sebelum dituangkannya ke dalam gelas."Ehem!"WARNING 21+ HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!Tubuh Ana mematung, ditatapnya handuk putih yang terjatuh di atas lantai.Persetujuan tadi masih mengejutkan, benarkah pria itu sanggup membayarnya?DEG!Degup jantung Ana terpacu semakin cepat saat telunjuk dingin Max membuka ikatan tali di pinggangnya.Takut? Pasti.Terasa keras dan dingin, pucuk batang Max menyesak masuk ke sela paha. Dia memaksa Ana membuka jalan dengan merentangkan kaki,"Jangan---HM!" suaranya tercekat,Max sigap membungkam mulut yang hendak berteriak, sembari memaksa benda kekarnya masuk sepenuhnya.Dingin dan sempit, perlahan digoyangkan pinggul sambil terus menahan Ana agar tak bisa melawan."HM! HM!" Ana meronta,Berusaha menarik paksa tangannya namun tak bisa. Tenaga pria itu terlalu kuat,Ana memejamkan mata, merasakan nyeri menusuk, dirasakan batang
CEKLEK!Setelah lama menunggu, pembatas itu akhirnya terbuka. Ana tersenyum lega melirik kaki yang berjalan keluar,"Hh!" Reflek menutup muka,Tak kuasa melihat pria telanjang yang hanya memakai handuk kecil guna menutupi pinggang."Kenapa Bapak ga pake baju dulu?" tegur Ana sedikit mengintip,Mengenali benda yang tengah menggantung di jari Max."Itu, kan---""Dasar mesum!" pekik Ana berlari mendekat,Tangannya berusaha merebut namun dihalangi oleh telapak yang sigap menghadang. Mendorong mundur kepala Ana hingga tak bisa menggapai,"Mana---kembalikan itu padaku!""Jadi ini milikmu?" gumam Max merendahkan suara,"Kecil sekali,""Aaa! Cepat kembalikan!" ujar Ana dibuat kesal, ucapan tadi terdengar seperti ejekan.Ana sengaja merendam bikini miliknya yang terkena noda, tak disangka malah ditemukan Max.
Begitu banyak remah camilan berserakan di atas meja, dengan gelas anggur yang tak dibiarkan kosong.Mengenakan kostum tipis, 5 pelayan itu siap berdiri melayani para pria yang tampak asik bersenda gurau.Di sisi lain Ryan duduk santai mengawasi, tangannya tiba-tiba merogoh ke dalam saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening.Matanya melirik ke depan, memastikan tak ada yang menyadari sebelum dituangkannya ke dalam gelas."Ehem!" Ryan berdehem sambil memutar gelas,Diam-diam menunduk maju, menukarnya dengan gelas lain.Setelah itu tubuhnya bersandar kembali, bersikap santai dan melihat bagaimana gelas tadi diteguk habis oleh pria berjas di depannya."...?" Syla mengernyit,Dari belakang dia mengawasi aksi tersebut.Waktu berlalu, dan perubahan mulai terjadi. Max menunjukkan reaksi aneh,Padahal mereka tengah duduk di ruang berAC, namun t
"Huft ... akhirnya aku bisa bebas dari sana," helas Ana lega.Dia berbaring santai di atas ranjang kamar, menatap langit-langit sembari menenangkan pikiran. Bibirnya menyunggingkan senyum saat mengingat sikap seseorang yang berani membelanya, sosok pria yang dulu selalu melindunginya.Berkat bujukan Max, Ana diizinkan turun dan beristirahat dengan alasan harus mengerjakan laporan magang.Samar-samar, canda tawa dari lantai atas masih terdengar. Ana perlahan memiringkan tubuh, berniat menguping, tetapi rasa kantuk yang berat telanjur membawanya terlelap.Empat jam kemudian ....Ceklek!Pintu kamar terbuka. Suara itu seketika menyentak Ana dari tidurnya.Matanya menyipit menyesuaikan cahaya, baru tersadar jika dia lupa mengunci pintu. Ana langsung bangkit begitu melihat Max berjalan masuk dengan tubuh sempoyongan."Hh!"Ana bergegas turun dari ranjang, menahan tubuh Max yang nyaris ambruk. "Hih! Berapa gelas anggur yang Bapak minum?!" tanyanya ketus. Hidungnya mengernyit, tertusuk aroma
"Apa gapapa, kalau saya ga minta maaf?" Ana mendongak, menatap punggung pria yang berjalan di depannya. "Gapapa." Max menjawab singkat, Terus diikuti sampai masuk ke dalam villa. Di sana mereka berhenti di depan kamar tamu, "Kamu urus semua koper, pindahkan keluar. Akanku panggil pelayan yang bisa membantu kita membawanya turun," "Lho, kenapa---kan kita menginap selama 3 hari?" Ana mengernyit bingung. "Aku akan mundur dari proyek ini. Jadi kita ga perlu menginap," Max hendak berbalik namun tangannya ditahan, Ana menggenggam erat seakan menunggu penjelasan. Selama ini dia melihat sendiri bagaimana pria itu menahan dan rela merendahkan diri demi proyek tersebut. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikiran? Bahkan dengan santainya mengajak pulang. Ana melangkah maju, berdiri menghadap Max. "Apa ini, ada hubungannya dengan saya yang tidak mau minta maaf?" "Proyek ini melibatkan 5 perusahaan, dan perusahaanku lah yang paling kecil di antara mereka." "Jika Perusahaan K me
"Kudengar, tadi ada keributan di luar sana." celetuk Ryan merendahkan suara, Berdiri di belakang Ana yang tengah sibuk membersihkan tangan di depan wastafel. Tanpa menoleh, Ana hanya melirik singkat dari kaca, Mendapati pria bercelana pendek, dengan kemeja pantai yang tak dikancing, dia bersandar sambil memegang segelas minuman. "Sejak kapan dia di sana?" batin Ana merasa risih, memilih tuk mengabaikan. Masih diam tak menyahuti. Ana sengaja berlama-lama, mencuci tangannya berulang kali, berharap pria itu segera pergi. "Cih! Apa sih yang dia cuci? Lama amat." gerutu Ryan dalam hati, "..." Dia terdiam masih menunggu. Melihat gadis yang baru saja mengibaskan tangan, "Hadeh...males banget," batin Ana memutar matanya dengan malas. Bersiap membalikkan badan sambil memasang senyum. "Eh, sejak kapan Pak Ryan di sini? Maaf kalau menunggu lama..." "Saya habis membersihkan tangan dari kotoran babi," "Babi?" Ryan diam berpikir keras, Dengan wajah polos berpikir ada babi berkeliaran di s







