Share

Gagal Bulan Madu

last update Terakhir Diperbarui: 2022-02-21 13:58:31

Oh Tuhan, aku sangat kebingungan sekarang. Terlebih Freza mengatakan jika dia menyukaiku. Memang aku tidak mempercayainya di awal, tetapi ntah mengapa sekarang aku sulit untuk menyangkalnya.

Freza telah membuatku menjadi orang gila dalam sekejap. Langkah seperti apa yang harus kuambil? Baru memikirkannya sudah membuatku lelah. Tidak tahu sudah berapa kali indra penciuman ku menarik napas panjang.

Tiba-tiba kurasakan perut ini yang terasa sakit, aku baru sadar jika hari ini diriku belum makan sesuap nasi pun. Karena ibu Freza menyuruhku berangkat pagi datang ke kantor, membuatku melupakan sarapan.

Saat di kantor pun aku tak makan apapun, dengan langkah kaki gontai aku berjalan pergi ke kamar pun. Walau hati ini sedari tadi berdegup tidak karuan, aku tetap memaksa pergi.

Ketika sampai di depan pintu, ku tarik napas panjang. Tanganku meraih gagang pintu dan segera mendorongnya. Ku telusuri setiap sudut ruangan, tetapi nihil aku tidak menemukan sosok pria yang mengangguku.

Apakah Freza keluar? Atau dia tengah di kamar mandi? Perlahan aku mendekat ke arah kamar mandi, kemudian mengetuk nya pelan.

"Za? Lo ada di dalem?" tanyaku tapi tak ada jawaban. Aku ragu, dengan hati-hati ku dorong pintu hingga ia terbuka. Namun, tak ada siapapun di dalam, kuputuskan untuk keluar dan duduk di tepi ranjang.

Sebuah catatan kecil yang tersimpan rapi di atas ranjang mengangguku. Segera kuambil dan membacanya. Aku tersenyum, kedua pipiku terasa panas, sebuah kalimat singkat berhasil membuatku terbang melayang senang.

Freza meningggalkan sebuah catatan yang berisi;

Untuk istriku

Aku pergi sebentar untuk menyelesaikan pekerjaanku, bersiaplah untuk malam ini.

Dari suamimu

Terdengar aneh tapi aku menyukainya, membacanya saja sudah membuatku senang. Aku termenung memikirkan Freza yang menulis surat ini. Terkekeh geli karena menurutku lucu.

Kusimpan surat ini di tas, momen penting seperti ini harus ku abadikan. Ah sial! Aku berharap pada Freza, semoga saja perasaanku tidak terlalu dalam.

Sekarang aku dibuat bingung kembali, apa yang harus kulakukan sekarang? Freza terlihat begitu berharap atau mendambakan malam ini. Langkah apa yang harus kuambil? Tidak mungkin jika aku tidak mengakui dan berkata jujur di awal?

Aku menarik napas panjang, oh aku sangat kesal jika gelisah seperti ini. Aku terdiam sesaat sebelum menarik napas panjang.

Keputusan sudah kuambil, aku akan menceritakan tentang keperawananku yang hilang pada Freza. Jika yang dikatakan Freza benar adanya, dia tidak akan memarahiku, kuharap begitu.

Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Tak peduli bagaimana reaksi Freza nanti, aku tak akan gentar. Walau sebenarnya ada satu harapan yang kulambungkan, yaitu Freza tidak membenciku setelah tahu rahasiaku.

Waktu sudah hampir petang, aku bergegas bersiap-siap layaknya seorang pengantin baru. Aku terkekeh geli, mengapa diriku terlalu bersemangat? Apakah ini tanda jika aku pun menyukai Freza? Sepertinya begitu.

Tuhan, mengapa cintaku begitu mudah dan sederhana? Bahkan, selama 25 tahun aku hidup, tak pernah aku merasakan perasaan seperti ini pada pria-kecuali Freza.

Ada apa dengan diriku? Jangan terlalu percaya dengan Freza, dia bisa saja tengah menipuku. Ya, pikiran dan hatiku tengah berbeda pendapat, aku sudah dibuat gila oleh Freza.

Dengan hati yang berdebar, aku terduduk diam di ranjang kamar. Rasanya sedikit berbeda, walaupun ini bukan kali pertamaku.

Sudah hampir dua jam aku terduduk diam seperti ini. Freza tak kunjung datang, sampai aku bosan menunggunya. Ku berusaha untuk bersabar lebih lama lagi, tetapi tetap saja hasilnya nihil.

Ini sudah jam setengah sepuluh malam, tetapi Freza tak kunjung datang. Aku geram sekali, pria itu begitu menyebalkan sekarang.

Walaupun diperlakukan seperti ini oleh Freza, aku malah mengkhawatirkannya. Khawatir sesuatu yang buruk menimpanya, membuatku tak tenang saja.

Aku akan menunggunya lagi, aku berharap Freza baik-baik saja dan segera pulang ke villa. Namun, lagi dan lagi aku harus dikecewakan olehnya.

Tak terasa kini jarum jam pendek sudah mengarah pada angka dua. Sampai dini hari aku menunggu kehadirannya, sebenarnya kerjaan seperti apa yang Freza kerjakan sampai jam segini?

Aku menyerah, kuputuskan untuk tidur. Mata ini sudah terlalu berat, mulutku ntah sudah berapa kali menguap. Kubaringkan tubuhku, ditatapnya langit-langit kamarku.

Hatiku berdenyut sakit, cairan bening membasahi pipiku. Inilah yang paling kubenci, terlalu melambungkan harapan pada sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Isak tangis menjadi pengantar tidurku. Detik terakhir aku merutuki sikap Freza. Aku menyesal, setelah kejadian ini aku tak akan pernah percaya pada pria itu.

Sudah cukup, terakhir kalinya aku sakit hati oleh Freza. Aku tidak mau jika harus menangisi pria yang tidak tahu malu sepertinya. Sia-sia saja aku menunggu, bodohnya sekali diriku.

Kurutuki diri ini yang terlalu percaya dengan ucapan Freza. Seharusnya aku curiga kenapa Freza tiba-tiba berubah pikiran, bukannya malah percaya dan mengikuti semua ucapannya seperti orang bodoh.

Argh rasanya aku ingin  melenyapkan pria itu sekarang, jenis pria sepertinya tidak baik ada di muka bumi ini. Bisa-bisa setiap harinya banyak gadis yang menangis karena ulahnya.

Walaupun begitu, ada hal aneh. Aku baru tahu Freza bisa berbuat seperti itu, yang kudengar dari rumor sangat berbanding terbalik dengan aslinya.

Kadang heran darimana rumor itu berasal, siapa yang menciptakannya? Freza adalah pria sejuta misteri. Kukira sikapnya tidak akan terlalu beda dengan yang dikatakan rumor, tetapi ternyata tidak juga.

Malahan sikap Freza sangat berbanding terbalik dengan rumor yang ada. Ah sial! Kenapa aku terjatuh dalam perangkapnya. Bukankah diri ini sudah memutuskan untuk tidak terjatuh dalam sebuah perasaan? Lalu mengapa dengan Freza aturan itu tidak berlaku!

Lihat saja, setelah ini aku tak akan percaya pada Freza lagi. Dia sudah membuatku sakit hati, dan kesalahan yang sama tak akan kuulangi lagi. Biarlah ini ini menjadi pelajaran bagiku, ya aku harus berhati-hati terhadap pria yang bernama Freza itu.

Aku akan membencinya, tetapi semua keputusanku tak berjalan ketika aku melihat sosok Freza di pagi hari. Freza tampak berbeda dengan kemarin, ada sorot kesedihan di matanya. Pun tatapannya seperti kosong, bahkan saat aku datang dia tak menyadarinya. Terbukti dengan Freza yang masih terdiam menatap taman di sebrang sana.

Pagi buta seorang pelayan wanita membangunkanku, ia berkata jika Freza menyuruhku bersiap pulang. Jujur aku tak mengerti dengan keputusannya, mengapa tiba-tiba dia membatalkan rencana awal?

Aku benar-benar kecewa, mengapa Freza tega memperlakukanku seperti ini? Memainkan sebuah perasaan manusia, aku yang baru mendapat satu dua perlakuan manisnya saja marah. Apalagi nanti ke depannya, aku tidak tahu Freza akan memperlakukanku seperti apa. Hati ini benar-benar sakit, kala mengingat semua perlakuan Freza kemarin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Priaku di Kursi Roda   Ayah Angkat?

    Freza menatapku dengan tajam, beberapa orang berdiri di belakangnya membuat semua warga di sini memperhatikan mereka. "Siapa dia?" Putra bertanya padaku, wajahnya begitu serius. Aku bingung harus menjawabnya seperti apa, kuputuskan untuk menghampiri Freza dan menghiraukan pertanyaan Putra. "Ngapain lo di sini?" Aku bertanya berbisik pada Freza yang menarikku pada pangkuannya. "Gini ya kelakuan lo, malah kabur. Lo pikir lo bisa kabur dari gue gitu aja?" Aku muak mendengar ocehan Freza, gigiku menggertak. Segera kutarik badanku dan langsung berdiri. Rasanya aku ingin menampar Freza. "Surat perceraian kita udah gue simpen di meja kerja lo, jadi bukan urusan lo lagi gue harus kemana." Aku bergegas pergi, tetapi Freza kembali menarik lenganku. "Lo ga bisa kabur dari gue!" Aku tersenyum sinis menatap Freza yang terlalu yakin dengan ucapannya. "Satu hal yang lo lupa, Za. Ini bukan tempat lo dan gak ada kuasa lo yang bisa dilakuin di sini." Freza terdiam sesaat, seperti mencerna ka

  • Priaku di Kursi Roda   Kembali?

    Aku terbangun dari tidurku, dan kutatap sekeliling. Nafasku tidak karuan, mimpi ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin aku bermimpi jika Freza menangis untukku dan Ardi yang bunuh diri. "Tenanglah Fiona, ini hanya mimpi." Mataku menatap sekitar yang sudah gelap, segera aku menyalakan lilin dan lampu minyak. Kehidupan di sini jauh dari teknologi, bahkan untuk pencahayaan pun mereka masih memakai manual tanpa listrik. Aku keluar dari rumah dan menatap lurus ke depan. Kuputuskan untuk menuju sisi pantai dan ketika menemukan sebuah batu besar, lantas aku duduk di sana. Suara ombak yang menabrak batu karang, diiringi dengan angin malam yang sejuk benar-benar membuatku menjadi segar. Rasanya sudah lama aku tidak mendengar suara ini, karena seringnya aku mendengar sebuah kendaraan. Kuusap perutku yang masih rata. "Nak, apa kau senang berada di sini?" tanyaku sambil melihat perutku sendiri. "Fiona?" Kepalaku menoleh ke kanan dan menemukan seorang pria seumuran denganku menatapku de

  • Priaku di Kursi Roda   Cinta Pertama?

    Tengah malam aku baru sampai di rumah, sengaja aku pergi ke sebuah taman dan merenung cukup lama di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja, baik dari Freza maupun Ardi. Aku hanya ingin menikmati hidupku, dan membesarkan anakku sendirian. Ketika di rumah aku tidak bertemu dengan Freza. Mungkin pria itu sudah tertidur, tadinya aku ingin mengobrol dengan dia sebentar. Ada sesuatu hal yang harus aku tanyakan padanya. Namun, aku mengurungkan niatku, sepertinya aku pergi pun Freza tidak akan peduli. Saat melewati ruang kerja Freza aku mendengar percakapan dari dalam sana. Langkahku terhenti dan bersembunyi di balik pintu, aku begitu penasaran karena ternyata Freza masih belum tidur. "Tuan, saya sudah datang ke tempat yang Anda perintahkan, tetapi tidak ada hal yang bisa saya dapatkan." "Kemana lagi aku harus mencarinya! Dia mungkin sekarang tengah mengandung anakku." "Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan informasi tentang wanita malam itu, karena dia sangat berharga, yan

  • Priaku di Kursi Roda   Terungkapnya Masa Lalu

    "Apa yang kau katakan!?" Segera kulepas genggaman tangannya.Aku tidak mengerti dengan Ardi yang tiba-tiba mengatakan seperti itu.Ardi menarik nafas panjang, dia menatapku dengan tatapan yang serius."Dengarkan aku dulu Fiona.""Aku benar mencintaimu, aku bahkan siap dengan masalalumu. Aku akan membesarkan anak yang tengah kau kandung dan mengatakan pada dunia jika dia adalah anakku.""Ardi cukup! Kau sudah gila apa!? Kita baru bertemu beberapa kali, aku mengikuti keinginanmu bukan berarti aku akan selalu setuju dengan apa yang kau katakan!""Aku memang sudah gila, apa kau lupa Fiona? Di restaurant ini adalah pertemuan pertama kita?" Ardi bertanya membuat dahiku mengernyit.Kutatap sekitar, perasaan familiar ini datang. Tiba-tiba aku teringat dengan masa laluku.Saat itu merupakan

  • Priaku di Kursi Roda   Pengakuan

    Tatapanku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang kemana-mana, hari-hari yang begitu indah kini sudah terganti dengan hari kelam.Satu jam yang lalu Ardi mengantarkanku pulang. Kupikir aku akan diusir dari rumah, tetapi yang mengejutkan Freza menungguku.Dan seperti biasa dia memarahiku, tetapi diriku sudah kebal dengan amarahnya. Jadi aku sekarang bisa menganggapnya angin lalu.Ucapan Ardi waktu itu benar-benar membuatku membuka mataku dengan lebar."Dunia sangat kejam jika kita tidak menikmatinya. Ayolah, tidak semua ucapan orang harus kita dengar, karena untuk mereka kita adalah tokoh sampingan, pun sama dengan kita."Aku tersenyum ketika mengingat Ardi mengatakannya dengan penuh percaya diri. Sulit untuk kupercaya, melihat dirinya sudah memiliki banyak skandal. Dan mungkin aku akan menjadi salah satu bagian dari skandalnya itu.&

  • Priaku di Kursi Roda   Balas Dendam Terbaik

    Freza menatapku dengan tersenyum picik, dia berdiri kemudian mendorong kursi rodanya mendekat padaku. "Apa maksud lo, hah?" Kulempar koran tadi tepat mengenai wajahnya. Aku benar-benar muak, memangnya tidak cukup jika aku hanya digunjing oleh orang-orang di sekitar kita? Kenapa harus melibatkan media juga? "Emang kenyataannya kan? Kalau lo selingkuh dari gue! Kenapa lo harus marah?" Aku terdiam, benar-benar Freza sudah melampaui batasnya. Namun, aku tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak memiliki apapun. Lebih baik aku memilih pergi, enggan untuk berdebat dengan Freza. Akan tetapi Freza segera menarik tanganku, hingga aku menatap ke belakang."Lepas!" Kulempar tangan Freza yang mengenggam tanganku erat. "Bener ya kalau tampang baik gak selamanya baik. Kayak lo, yang sering main di belakang gue!" tutur Freza dengan rahang yang menegas. Aku tersenyum mendengarnya, "Gue gak peduli sama yang lo pikirin. Dan satu hal lagi, lo gak perlu nyewa anak buah buat gertak gue. Gak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status