Share

Bab 5

Author: Khai Tsan
last update Last Updated: 2025-11-06 13:49:59

Setelah hari itu, selama tiga hari, Ayu tidak lagi merasa diawasi.

Tidak ada pesan-pesan misterius di ponselnya dan tidurnya bisa kembali nyenyak. Selama tiga hari pula Ayu dan Rangga tidak melakukan panggilan video untuk memuaskan hasrat mereka.

Entah apa alasan Rangga untuk menghentikan hubungan intim itu terlebih dahulu. Meski demikian, Ayu menjadi sedikit frustasi akibat nafsu yang tak terpuaskan.

Selain itu…, Ayu juga tidak berhenti memikirkan Daniel.

Kadang suara berat Daniel di hari itu terus menyapa telinganya, membuat Ayu teringat apa yang hampir mereka lakukan. Membayangkannya membuat wajah Ayu memanas. “Sial…,” Ayu menghela napas sambil mengusap wajahnya.

Ada rasa bersalah yang terus menghantui Ayu tanpa henti. Potret dirinya dan Rangga yang tersenyum bahagia menghiasi beberapa titik di ruangan kamar seolah menjadi saksi atas lakuannya hari itu. Ayu merasa kacau dan malu.

Di tengah dilemanya, Ayu tetap menjalankan rutinitas sehari-harinya. Bekerja, pulang lalu berbenah apartemen, juga menelepon Rangga untuk melepas rindu. Pergelangan kakinya yang terkilir beberapa hari lalu seolah sudah dilupakan, malah terbayang mimpi kotornya dan tentu saja… Daniel.

Sore itu, Ayu tengah menenteng barang belanjaan dari minimarket. Tangannya terlalu sibuk menggenggam barang-barang itu karena ia lupa membawa tas belanja. Pikirannya kembali bercabang padahal pesan-pesan misterius itu tak lagi muncul.

“Aduh…,” Ayu menggerutu sambil berusaha menekan tombol lift, berupaya agar barang belanjaannya tidak jatuh. Ayu harus berhati-hati karena ia membawa sekotak telur.

Di tengah kesulitannya, seseorang tiba-tiba mendahului jarinya untuk menekan tombol lift. Ayu kaget ketika menoleh dan mendapati Daniel yang sudah berdiri di sana. Daniel. Sepertinya sudah lama sejak kali terakhir Ayu melihatnya, padahal baru tiga hari.

“Oh… Daniel…,” kata Ayu sedikit gugup dan canggung.

“Biar aku bantu, Yu,” dengan hati-hati, Daniel mengambil beberapa barang dari tangan Ayu. Ayu belum sempat berkata apa-apa dan hanya membiarkan Daniel membantunya.

Setelah lift terbuka, Daniel melangkah masuk lebih dahulu, kemudian menekan tombol “6”, lantai unit Ayu. Ayu sendiri masih terdiam dengan canggung.

Lift yang bergerak lama membuat Ayu gugup. Namun cepat ditangkis dengan Daniel yang memulai pembicaraan lagi. “Ayu, kakimu masih sakit?”

“O-oh.. Enggak, Niel. Udah mendingan,” jawab Ayu pelan.

Daniel mengangguk. “Baguslah, Yu. Kalau masih sakit, aku juga yang jadi khawatir.”

“Terima kasih, Niel. Aku enggak apa-apa. Ini juga berkat pijat dari kamu.”

Daniel menoleh dan tersenyum, membuat Ayu tersipu. Lift kemudian berhenti di lantai 6 dan Ayu melangkah keluar diikuti oleh Daniel. Langkah Ayu rasanya begitu berat dan canggung, tak kalah dengan pikirannya yang terus merasa bahwa kejadian beberapa waktu lalu adalah bagian dari nafsunya yang tak bisa ia tahan.

‘Padahal Daniel sudah mengobatiku, tapi aku malah…,’ batin Ayu, ia mengutuk dirinya sendiri.

Begitu sampai di depan pintu unit apartemennya, Ayu berbalik badan menatap Daniel.

“Niel…, mau masuk dulu?”, ucap ayu dengan nada ragu-ragu.

“Masuk?” Daniel bertanya dengan wajah yang kebingungan. Ia juga masih terlihat canggung.

“Aku bisa buatkan makan malam, Niel. Sebagai bentuk terima kasihku, kamu sudah tolongin aku kemarin,” jelas Ayu.

Daniel tersenyum dan lagi-lagi Ayu tidak dapat membaca arti senyumannya. “Baiklah, Yu.”

Ayu menghela napas lega mendengarnya. Ayu pikir, setidaknya, ini akan membuat hubungan keduanya membaik. Maka, Ayu memutar kunci apartemennya dan mempersilakan Daniel untuk masuk.

“Permisi,” kata Daniel sopan sebelum melangkah masuk.

Makan malam itu kiranya berhasil mencairkan suasana kembali. Ayu bercerita tentang tidurnya yang kembali nyenyak akibat pesan-pesan misterius yang mulai menghilang.

Daniel terdengar lega mendengarnya. Mata Daniel lalu memperhatikan seisi ruang, seolah-olah memastikan bahwa memang Ayu sudah aman dan tidak lagi diawasi.

Namun, Ayu gagal menangkap sebuah senyum seringai yang terbesit di wajah Daniel untuk sesaat.

“Aku mau cuci tangan dulu, Yu. Izin ke dapurmu, ya,” ujar Daniel sambil beranjak dari duduknya.

Ayu hanya mengangguk dan mulai merapikan alat makan kotor di atas meja. Tak lama, suara Daniel memanggilnya dari dapur.

“Yu! Kayaknya keranmu rusak deh!”

Setengah berlari, Ayu cepat-cepat menuju dapur dan melihat Daniel yang memutar-mutar keran, namun tak kunjung keluar air. “Duh, tadi masih bisa,” Ayu menggerutu dan mendekat ke Daniel.

“Aku bisa bantu betulkan. Kamu punya perkakas, Yu? Rangga simpan di mana?” Daniel merapatkan tubuhnya dan Ayu dapat mencium aroma segar di sana. Kepala Ayu rasanya berputar. Itu aroma yang familier, kembali mengingatkannya kepada beberapa waktu lalu.

“Kami punya, tapi sepertinya enggak lengkap, Niel. Aku cari dulu-”

“Kalau begitu,” Daniel memotongnya. Tangannya menggenggam lengan Ayu tiba-tiba. Ayu dapat merasakan jari-jari Daniel yang mengusap pelan lengannya. “Aku ambil di apartemenku saja. Nanti aku kembali lagi, ya?”

“Iya, Niel. Aku tunggu.”

Aroma tubuh Daniel rasanya begitu sulit untuk meninggalkan Ayu. Bahkan ketika Ayu mengantarkan Daniel ke pintu depan untuk pulang terlebih dahulu, seisi ruang seolah masih disinggahi Daniel. Ayu menghela napas dan berbaring di atas sofa. Matanya masih menatap pintu depan yang baru ditinggalkan Daniel.

Sialnya, sofa itu juga mengingatkannya kepada Daniel.

Termakan nafsu dan pikiran yang liar serta aroma tubuh Daniel yang masih membekas di hidungnya, tangan Ayu mulai bergerak.

Suasana yang membangun gairah dan bayang-bayang akan sentuhan orang lain membuat nafsu Ayu meluap. Ia memejamkan mata dan tangannya turun, mengangkat kaos yang dikenakan. Ayu meremas pinggangnya, membayangkan seseorang yang pernah melakukan itu kepadanya. Daniel.

Ayu terus terbayang aroma tubuh Daniel yang begitu kuat dan dadanya yang bidang entah kenapa muncul tiba-tiba dalam pikirannya. Ayu terbayang bagaimana rasanya jika Daniel berada di atas tubuhnya yang jauh lebih kecil, kemudian membayangkan tangan-tangan nakal Daniel yang sudah sempat menyentuh kaki jenjangnya. Ia juga terbayang jika dadanya yang penuh ditangkup tangan besar Daniel.

“Ahh..sssh..”

Tangan Ayu turun lagi, kini masuk ke dalam celana pendek yang dikenakan. Kedua kakinya sudah melebar. Pikirannya semakin kacau dan liar, jari-jarinya mulai bermain di atas sana. Tubuhnya menggeliat, mencari titik-titik paling nikmat. Ayu dapat merasakan keringatnya jatuh bercucuran.

Ayu berusaha menahan suaranya untuk keluar namun gagal. “A.. ahh.. mmm..Daniel….”

Ketika ingin mencapai puncak, tangannya lihai memainkan bagian bawah dan juga menyentuh dadanya sendiri, membuat tubuh Ayu bergetar hebat. Kakinya masih bergetar ketika Ayu mengambil napas, mencoba mengatur napasnya yang terengah.

Ayu membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur. Dadanya yang masih membusung dan tak ditutupi kaos itu juga masih naik turun. Ayu butuh beberapa saat sebelum menyadari sesuatu.

Seorang pria berdiri di hadapannya dengan wajah yang memerah. Ayu dengan sigap menutup kaki dan merapikan pakaiannya.

“Daniel!?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 99

    Ayu menahan napas saat tangan Daniel menyapu punggungnya, membebaskan sisa ikatan bikini yang ia kenakan. Kain hitam itu merosot jatuh ke atas karang, membiarkan bagian atas tubuh Ayu sepenuhnya terbuka.Daniel menatap lekat-lekat wanita di depannya. Matanya menggelap, memancarkan rasa lapar yang tak lagi disembunyikan."Cantik," bisik Daniel serak. Tangannya turun, meremas pelan pinggang Ayu yang bertumpu pada batu karang setinggi pinggang tersebut.Ayu menggigit bibir bawahnya, menatap Daniel dengan napas memburu. "Tunggu apa lagi, Niel? Lakuin aja."Daniel tersenyum miring. "Jangan buru-buru, Yu. Kita nikmati pelan-pelan."Bukannya langsung menyatukan tubuh mereka, Daniel justru merunduk. Ia menempelkan bibirnya di leher Ayu, memberikan hisapan pelan di sana, lalu lidahnya mulai bergerak turun. Ia menyapu dada Ayu, merayap ke perut ratanya yang berkeringat, hingga akhirnya turun ke area kewanitaan Ayu yang sudah terekspos tanpa penghalang."Ahhh... Niel..." Ayu tersentak kaget. Tan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 98

    Ayu perlahan mundur, menarik diri dari celah batu sebelum pasangan itu sadar. Daniel membimbingnya menjauh, kembali ke balik batu karang besar tempat mereka bersembunyi di awal.Ayu menyandarkan punggungnya ke dinding karang yang kasar dan hangat. Kakinya terasa lemas. Wajahnya merah padam, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Daniel berdiri di hadapannya, mengurung Ayu dengan kedua lengan yang bertumpu pada karang. Mata Daniel gelap, penuh intensitas yang membaca setiap inci bahasa tubuh Ayu."Kenapa tadi tidak mau pergi?" tanya Daniel. Nadanya menginterogasi, namun lembut.Ayu menunduk, menghindari tatapan Daniel. "Aku... aku cuma kaget. Aku penasaran.""Penasaran atau ingin?" tembak Daniel langsung.Ayu mengangkat wajahnya, menatap Daniel dengan tatapan menantang yang rapuh. "Kalau aku bilang ingin, kamu mau apa?"Daniel tersenyum miring. Ia mengusap pipi Ayu dengan ibu jarinya yang kasar. "Rina," kata Daniel tiba-tiba.Ayu mengerutkan kening. "Apa?""Kamu tadi sebut nam

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 97

    Posisi mereka begitu intim. Si wanita melingkarkan kakinya di pinggang pria itu, punggungnya melengkung ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang sedang diciumi dengan rakus. Tangan si pria meremas pinggul wanita itu dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit putihnya.Ayu tidak bisa memalingkan wajahnya.Tiba-tiba, sebuah ingatan menyeruak di kepala Ayu. Kejadian beberapa bulan lalu yang ia kubur dalam-dalam.Di kantor, tepatnya Ruang Rapat Utama yang terletak di ujung lorong sepi di lantai itu. Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, dan sebagian besar karyawan sudah pulang. Koridor hening.Ayu mendorong pintu kaca Ruang Rapat Utama perlahan. Ruangan itu tampak gelap dan kosong. Ia melangkah masuk menuju meja utama dan menemukan kandar kilas (flash disk) peraknya masih tertancap di port proyektor.Tepat saat tangannya meraih benda itu, Ayu mendengar suara samar-samar yang datang dari Ruang Rapat Cadangan, sebuah ruangan kecil yang terhubung langsung dengan ruangan utama m

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 96

    "Hei, kenapa? Abaikan saja, Yu. Namanya juga tempat umum, banyak orang bicara sembarangan," bujuk Daniel lembut."Gimana bisa aku abaikan, Niel? Telingaku panas." Ayu menyibakkan rambutnya dengan kasar. Napasnya mulai tidak teratur. "Rasanya aku dikejar-kejar hantu perempuan itu ke mana pun aku pergi. Semua orang membicarakan dia. Muak aku.""Sabar, Yu. Jangan emosi dulu. Ingat, kita di sini untuk senang-senang." Daniel mencoba meraih tangan Ayu, tetapi wanita itu menariknya menjauh."Gampang kamu bicara sabar. Kamu tidak merasakan jadi istri yang suaminya sedang jadi bahan omongan orang karena perempuan itu." Ayu membuang muka ke arah laut, kakinya mengetuk-ngetuk pasir dengan gelisah.Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa nampan berisi dua butir kelapa muda utuh yang segar."Permisi, ini kelapa mudanya, Kak," sapa pelayan itu ramah sembari meletakkan pesanan di meja kecil di antara mereka.Daniel mengangguk singkat pada pelayan itu. "Makasih, Mas."Setelah pelayan pergi,

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 95

    Matahari Bali bersinar terik tepat di atas kepala. Langit biru bersih tanpa awan membentang luas, menyatu dengan garis cakrawala laut yang berkilauan. Deburan ombak terdengar ritmis, memecah kesunyian di antara langkah kaki dua orang manusia yang sedang berjalan menyusuri pasir putih.Ayu berjalan sedikit di depan. Ia mengenakan bikini two-pieces berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit putihnya. Sebuah kain sarung tipis bermotif bunga transparan melilit pinggangnya, menutupi sebagian kecil paha, namun tetap memperlihatkan lekuk tubuhnya yang jenjang setiap kali angin laut berembus. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya, menyembunyikan mata yang mungkin masih menyimpan sisa kelelahan—atau kepuasan.Daniel berjalan santai di sampingnya. Ia hanya mengenakan celana pendek kargo berwarna krem dan kemeja linen putih yang kancingnya dibiarkan terbuka sepenuhnya, memperlihatkan dada bidang yang baru saja dikagumi Ayu beberapa jam lalu."Panas sekali hari ini," keluh Ayu sambil m

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 94

    "Kamu kenapa, Sayang? Kedengarannya nikmat banget," tanya Rangga, terdengar semakin terangsang mendengar desahan istrinya."Iya... aku... aku lagi sentuh diri aku sendiri, Mas," dusta Ayu dengan napas tersengal. Padahal, lidah Daniel kini sedang menari lincah di klitorisnya, memberikan sensasi kejutan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh."Sentuh yang lembut, Yu," pinta Rangga. "Bayangin itu jari aku. Bayangin tangan aku lagi elus paha kamu, terus naik ke atas..."Daniel seolah mengerti instruksi itu. Tangannya meremas paha Ayu dengan kuat, sementara mulutnya bekerja ekstra keras. Ia tidak hanya menjilat, tetapi mulai menghisap klitoris Ayu dengan bibirnya, menciptakan ruang hampa yang menyedot kenikmatan dari pusat saraf Ayu."Ahhh... Mas... iya... di situ..." rintih Ayu. Kepalanya mendongak, matanya terpejam. Tangan kirinya memegang ponsel erat-erat, sementara tangan kanannya menekan kepala Daniel, memintanya untuk lebih dalam."Enak, Sayang?""Enak banget... Eughhh... Mas...""Ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status