Share

Bab 5

Author: Khai Tsan
last update publish date: 2025-11-06 13:49:59

'Gila. Aku benar-benar sudah gila,' rutuk Ayu dalam hati.

Di balik bantal sofa yang menyembunyikan wajahnya yang merona, peperangan hebat tengah berkecamuk di dalam kepala Ayu. Di satu sisi, akal sehatnya berteriak nyaring, mengingatkan tentang harga dirinya yang harus dijaga teguh. Ia adalah istri Rangga, dan pria yang kini sedang memijat kakinya ini adalah Daniel, sahabat karib suaminya sendiri.

Namun, di sisi lain, hasrat kelam yang sudah berbulan-bulan ia pendam di dasar jiwa perlahan merangkak naik, mencekik sisa-sisa logikanya.

'Bagaimana rasanya kalau aku nekat malam ini?' bisik sisi gelap di sudut benaknya. 'Hanya malam ini saja. Hanya Daniel dan aku. Tidak akan ada yang tahu. Lagi pula, aku sudah terlalu lelah menahan semuanya sendirian.'

Ayu memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan tentang sebuah pelepasan setelah sekian lama terasa begitu memabukkan. Ia membayangkan betapa nikmatnya jika tangan besar dan cekatan milik Daniel tidak hanya berhenti di pergelangan kakinya. Bagaimana jika sepasang lengan berotot itu merengkuh tubuhnya yang gemetar?

Bersamaan dengan keliaran imajinasi itu, jari-jari Daniel terus bergerak menekan titik-titik saraf di betisnya. Pijatan itu terasa begitu ritmis, presisi, dan entah mengapa justru terasa seolah sedang memprovokasi sisa pertahanan tubuh Ayu.

“Eungh ... ahh ....”

Tanpa sadar, lenguhan dan desahan tipis lolos begitu saja dari sela bibir Ayu. Otaknya terlalu sibuk melamunkan fantasi liarnya, membiarkan tubuhnya merespons jujur setiap tekanan jari pria itu.

“Yu?” panggil Daniel dari ujung sofa.

“Mhhh ....” Ayu hanya merespons dengan gumaman tak jelas, matanya masih terpejam menikmati sengatan-sengatan nikmat di kakinya.

“Ayu?” panggil Daniel lagi, kali ini suaranya terdengar sedikit lebih keras.

Ayu masih lambat menjawab. Pikirannya masih melayang jauh di awang-awang.

Seolah paham bahwa Ayu sedang melamun, Daniel tiba-tiba saja menarik kedua tangannya. Pijatan itu berhenti secara tiba-tiba.

Kehilangan sentuhan hangat secara mendadak membuat Ayu tersentak pelan. Matanya seketika terbuka, kesadarannya kembali tertarik secara paksa ke alam nyata. Ia menoleh ke belakang dengan kening berkerut dalam.

“Kenapa berhenti, Niel?” tanya Ayu dengan nada yang jelas-jelas menyiratkan kekecewaan.

Daniel mengernyitkan dahi sambil menatap Ayu dengan heran. “Masih nanya? Lah, kamu dari tadi dipanggil-panggil bukannya jawab, malah mendesah.”

Ayu tersipu malu, wajahnya kembali memanas. “Aku ... aku cuma menikmati pijatannya. Enak, kok.”

Daniel sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam langsung ke dalam manik mata Ayu. “Jangan bilang, kamu benar-benar sedang berpikir untuk nekat, ya?”

Tembakan langsung dari Daniel membuat jantung Ayu berhenti berdetak sedetik. Dalam situasi normal, Ayu pasti sudah mengelak mati-matian, berteriak marah, atau setidaknya memaki Daniel karena tuduhan kurang ajar itu.

Namun, alih-alih mengelak, Ayu justru membalas tatapan pria itu. Dengan suara pelan namun menantang, ia balik bertanya, “Memangnya boleh?”

Ruangan itu seketika hening. Pandangan mereka terkunci selama beberapa detik yang terasa selamanya. Daniel tidak langsung menjawab dengan jelas. Pria itu hanya mendengus pelan dari hidungnya.

“Hmmm ....”

Hanya gumaman yang keluar dari mulut Daniel sebelum ia mencoba mengubah topik lagi.

“Ngomong-ngomong, kenapa kamu enggak ikut Rangga saja ke Australia, Yu?” tanya Daniel dengan nada seringan kapas, seolah ketegangan barusan tidak pernah ada.

Mendengar pertanyaan itu, Ayu langsung menarik tubuhnya untuk duduk, menoleh sepenuhnya ke arah Daniel dengan pandangan tajam memprotes.

'Sialan!' umpat Ayu dalam hati. 'Jawaban yang aku tunggu malah dibalas dengan pertanyaan yang sama sekali enggak nyambung!'

“Kenapa menatapku begitu, Yu? Salahkah pertanyaanku?” balas Daniel santai.

Ayu mendengus kasar. “Enggak, sih, Niel. Tapi, kamu tahu sendiri, kan, kalau aku juga punya pekerjaan di sini? Pekerjaan yang sangat aku impikan dari zaman kita kuliah dulu. Masa aku harus membuang karierku begitu saja?”

“Iya, aku tahu itu, Ayu. Tahu banget,” sahut Daniel tenang, mulai membetulkan posisi duduknya.

“Sudah, sini tengkurap lagi. Kita lanjutin pijatannya biar cepat selesai,” pinta Daniel kepada Ayu.

Ayu pun menurut. Ia kembali ke posisi tengkurap di atas sofa dengan harapan melanjutkan imajinasinya lagi.

“Tapi, kan, Yu, daripada kalian berdua harus LDR begini, kamu sendiri juga yang merasa enggak enak, kan? Coba ingat lagi zaman kita kuliah dulu saat aku baru kenal kalian berdua. Kamu itu bucin banget sama Rangga, clingy ke mana-mana selalu nempel minta ditemani. Lah, sekarang setelah nikah malah rela LDR beda benua.” Daniel mencoba melanjutkan obrolan mereka tadi.

Ayu memutar bola matanya malas. “Iya, itu dulu, Niel. Tapi, aku enggak sebucin itu juga, ya. Enak saja kamu ngomong.”

“Masa? Dulu ditinggal main futsal dua jam saja kamu sudah ngambek minta putus,” goda Daniel diiringi kekehan pelan.

“Ya, tapi, kan, wajar! Enggak salah juga, kan, kalau aku maunya dia selalu ada buatku?” Suara Ayu mulai meninggi, ada nada frustrasi yang terpendam di sana. “Lagi pula, sekarang dia sedang asyik sama dunianya sendiri di Perth. Sudahlah jauh, waktu buat kami berduaan juga seadanya.”

"Tapi Yu, kamu enggak curiga sama Rangga?" potong Daniel perlahan, menatap mata Ayu lekat-lekat.

"Curiga kenapa? Dia di kan kerja, Niel. Mungkin kalau di Luar Negeri memang seperti kali."

"Kerja ya kerja, Yu. Tapi coba pakai logikamu. Sesibuk apa pun laki-laki, waktu bersama itu harusnya jauh lebih penting. kamu istrinya, loh. Bukan sekadar pacar, apalagi orang lain yang tidak ada ikatan apa-apa."

"Tapi dia di sana juga demi masa depan kami, Niel."

"Coba kamu pikir lagi Yu. Laki-laki normal mana yang betah berlama-lama jauh dari istrinya?. Kamu yakin, 'dunianya’ yang kamu maksud itu murni cuma soal tumpukan kerjaan?"

"M-maksud kamu apa sih, Niel? Kamu jangan bicara aneh-aneh deh." Nada suara Ayu mulai bergetar, meski ia berusaha keras terdengar tegas.

"Aku cuma coba realistis, Yu. Jangan-jangan... dia seperti itu karena ada yang lain?"

"Yang lain? Maksudmu... perempuan lain? Enggak mungkin! Rangga enggak kayak gitu!"

“Yah yu, itu cuma asumsiku saja sih namanya juga kerja jauh dari rumah siapa yang tahu kan”, ucap Daniel dengan nada yang tenang namun mengandung provokasi.

Deg.

Apa yang diucapkan Daniel menghantam dada Ayu telak. Napasnya tiba-tiba terasa sesak dan tertahan di tenggorokan. Ia membuang muka, pura-pura merapikan letak bantal di dekatnya, namun jemarinya tampak jelas gemetar.

Rasa gelisah mulai merambat naik dengan cepat, meremas ulu hatinya tanpa ampun. Kata-kata Daniel barusan bagai racun yang langsung bereaksi di kepalanya. Tiba-tiba saja, semua sikap dingin Rangga belakangan ini berputar di ingatannya, pesan W******p yang baru dibalas belasan jam kemudian, alasan lembur yang tak masuk akal di akhir pekan, hingga panggilan telepon yang selalu diakhiri dengan buru-buru.

Benarkah ada perempuan lain di Perth? batin Ayu merintih.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan resah. Matanya mulai memanas. Berkat satu pertanyaan provokatif dari Daniel, kecurigaan kini sukses tumbuh dan menggerogoti seluruh sisa kepercayaan Ayu pada suaminya.

Suasana mendadak hening. Daniel nampaknya menyadari perubahan Ayu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk mengalihkan perhatian Ayu, tangan Daniel kembali bergerak. Namun, kali ini, arah tangannya sama sekali tidak menuju pergelangan kaki.

Tangan besar itu menyusup lebih ke atas, melewati lutut, dan mulai memijat dengan tekanan yang pas di area paha bagian dalam, nyaris menyentuh bagian bawah bokong Ayu.

Ayu terkesiap hebat. Matanya membelalak, tubuhnya sedikit tersentak ke belakang. “Ahh ... Niel! Apa yang kamu—”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Miskanah Latif
ayu ssngat merindukan rangga
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 196

    "Ayu, cukup!""Kenapa, Rose? Kita baru saja mulai."Ayu memiringkan kepalanya, menjilat perlahan garis rahang Roselyn yang halus. Roselyn terlonjak kaget. Sebuah lenguhan kecil yang tertahan meluncur dari tenggorokan wanita berblazer putih itu."Lihat?" desis Ayu di leher Roselyn. "Tubuhmu merespons. Kamu bilang parfum itu aromaterapi penambah gairah, kan? Sepertinya aromanya juga menempel padaku... dan sekarang bekerja padamu."Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan kencang. "Jangan... jangan lakukan ini ...""Kenapa?" tantang Ayu. "Bukannya ini yang kalian inginkan? Bukankah ini skenario yang kalian buat?"Ayu makin menekan cengkeramannya pada rahang Roselyn, memaksa wanita itu menatapnya kembali."Katakan padaku, Roselyn! Pria itu... siapa dia sebenarnya?" bentak Ayu pelan, namun penuh penekanan. "Apakah kamu mengenalnya?"Roselyn menatap mata Ayu yang membara. Di dalam mata itu, tidak ada lagi Ayu yang polos dan penurut. Yang ada hanyalah sosok wanita ya

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 195

    Tubuh Ayu membeku. Detak jantungnya yang tadi serasa mau meledak oleh rasa bersalah, mendadak berhenti sejenak. Kata-kata Roselyn barusan tidak lagi terasa seperti kehangatan seorang pelindung, melainkan bagaikan bilah pisau es yang ditancapkan perlahan ke tengkuknya.Ayu menarik kepalanya perlahan, keluar dari dekapan hangat Roselyn. Isak tangis yang tadi membasahi gaun blazer wanita itu mendadak surut. Wajah Ayu yang sembap dan dipenuhi penyesalan kini perlahan berubah.Sorot matanya mendadak menajam."Apa maksudmu, Rose?" tanya Ayu dingin.Roselyn menyipitkan matanya sedikit. "Ayu, kamu—""Jawab aku," potong Ayu. "Apa maksudmu Mas Rangga sudah tahu dengan apa yang terjadi antara aku dengan pria itu?"Roselyn tidak langsung menjawab. Senyum tipis yang biasa bertengger di bibirnya tertahan di udara.Ayu maju satu senti lebih dekat."Dan bagaimana kamu bisa tahu?" desak Ayu."Ayu, tenanglah dulu...""Bagaimana kamu bisa tahu kalau telah terjadi sesuatu denganku bersama pria itu?" Ayu

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 194

    Jeritan Ayu pecah seketika setelah gema pintu yang terbanting itu surut. Tubuhnya merosot di atas karpet ruang tamu. Kedua tangannya mengepal, memukul lantai dengan sisa tenaga, meratapi kehancuran rumah tangganya dalam hitungan menit."Puas kamu, Roselyn? Puas kamu menghancurkan hidupku, hah?" racau Ayu dengan suara serak. Air mata membasahi pipinya yang memerah. "Kamu iblis! Kamu yang bikin Mas Rangga emosi dan pergi! Apa salahku padamu, Rose? Kenapa kamu harus memprovokasi dia?"Roselyn yang berdiri di dekat sofa sama sekali tak membalas. Ia berdiri mematung, merapikan lengan blazer putihnya dengan tenang. Matanya menatap tajam ke arah Ayu yang menangis di lantai."Jawab aku!" teriak Ayu kian histeris. "Jangan cuma diam! Kamu sengaja, kan? Kamu memang berniat merusak pernikahanku dari awal!"Hening kembali mencengkeram apartemen mewah itu, hanya diselingi napas Ayu yang tersengal-sengal dan isak pilunya.Setelah membiarkan Ayu meluapkan emosinya, Roselyn melangkah anggun mendekat d

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   bab 193

    Deg!Darah di sekujur tubuh Ayu seolah berhenti mengalir detik itu juga. Jantungnya yang tadi berdetak liar karena amarah, kini seakan jatuh berdebum menghantam dasar perutnya. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas tak bertulang.Ayu membeku. Mulutnya yang sedikit terbuka akibat berteriak tadi kini terkunci rapat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Dengan gerakan patah-patah bagaikan sebuah robot yang kehabisan daya baterai, Ayu memutar lehernya ke arah lorong kamar utama secara perlahan.Di sana, berdiri suaminya.Rangga baru saja keluar dari kamar, mengenakan kemeja santai berwarna navy yang kancing atasnya masih terbuka dan rambut yang sedikit basah. Pria itu berdiri mematung di ujung lorong, menatap lurus ke arah punggung Ayu dengan kening berkerut dalam dan tatapan mata yang memancarkan seribu satu kecurigaan."Mas... Mas Rangga ...," cicit Ayu dengan suara yang nyaris tak terdengar, wajahnya sepucat mayat.Tamat riwayatku, batin Ayu meratap dengan keputusasaan yang

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 192

    "Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Ayu?"Suara Roselyn yang biasanya ramah kini terasa sangat dingin dan datar, secara tiba-tiba memecah keheningan di ruang tamu tersebut. Wanita elegan berbalut blazer putih itu perlahan menurunkan majalah mode yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam langsung mengunci tatapan Ayu yang masih berdiri mematung di dekat lorong."Ada yang aneh denganku?" tanya Roselyn lagi, sebelah alisnya terangkat.Ayu menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya yang baru saja sedikit tenang kini kembali berpacu liar. Tatapan mata Roselyn seolah bisa menembus tengkoraknya, menguliti setiap rahasia kotor yang baru saja ia sembunyikan rapat-rapat.Dia tahu, jerit batin Ayu dengan kepanikan yang mulai menguasai akal sehatnya. Tatapan matanya... senyum miringnya barusan... wanita ini pasti tahu sesuatu! Tidak mungkin dia asal menebak soal parfum cendana dan lavender itu! Itu terlalu spesifik!Alih-alih menjawab pertanyaan Roselyn atau memalingkan

  • Puaskan Aku, Sahabat Suamiku!   Bab 191

    Mati aku! Mati aku! jerit batin Ayu dengan kepanikan luar biasa. Itu wangi dari ruangan apartemen kosong tadi! Aroma cendana dan lavender itu menguar sangat kuat di dalam ruangan itu! Wanginya pasti menempel di gaunku karena aku berbaring di atas karpet dan duduk di kursi itu cukup lama! Bodoh! Bodohnya kamu, Ayu! Kenapa kamu bisa melupakan detail sepenting ini?!"Ayu?" panggil Rangga, membuyarkan lamunan panik istrinya. "Kok diam? Kamu ganti parfum tidak bilang-bilang Mas, ya?""A-aku... a-anu, Mas... i-itu ..."Ayu terbata-bata parah. Lidahnya kelu. Otaknya berputar keras mencari sejuta alasan, tetapi tidak ada satu pun kebohongan yang masuk akal yang bisa ia rangkai dalam waktu sesingkat ini.Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan aroma asing yang sangat khas itu?Tepat ketika Ayu sudah bersiap membuka mulut untuk melontarkan kebohongan yang paling konyol, sebuah suara langkah kaki dan ketukan hak tinggi terdengar dari arah pintu masuk yang rupanya masih sedikit terbuka."Itu aku ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status