Mag-log inAyu refleks melempar ponselnya jatuh, lalu ia dengan cepat meringkuk dan menarik selimut untuk melilit tubuhnya. Kepalanya berputar cepat, seolah mencari-cari seseorang yang mungkin bersembunyi di dalam apartemennya.
Jantung Ayu berdebar kencang. Tubuhnya gemetar. Jelas-jelas ia sudah memblokir nomor asing itu, mengikuti perintah Daniel. Namun, kini orang itu kembali menghubunginya dengan nomor yang berbeda dan lebih parah. Tangannya gemetar saat berusaha menjangkau ponselnya yang tergeletak di atas karpet. Susah payah Ayu mencari kontak Rangga, padahal kontak Rangga ia sematkan di paling atas. Ayu tempelkan ponsel itu ke telinga, menunggu Rangga mengangkat teleponnya, namun suaminya itu tidak kunjung menerima panggilan Ayu. Sampai panggilan keenam, suara serak Rangga di ujung terdengar. “Halo? Rangga …,” Ayu menghela napas. Suaranya terdengar begitu payah dan Ayu yakin Rangga dapat merasakannya. “Ay? Sayang?” suara Rangga tiba-tiba terdengar panik. “Kenapa, Ay? Kenapa suara kamu begitu?” “Aku … dapat pesan lagi,” suaranya mengecil. Kini Ayu seolah dipaksa untuk selalu waspada. “Kali ini, pesan suara.” “Pesan suara? Seperti apa, Ay?” “Suara … Suaraku, Rangga. Suaraku. Aku enggak tahu orang itu dapat dari mana. Tapi itu suaraku…,” Ayu bercerita tangisnya kini tumpah. “Aku takut banget, Rangga.” “Ayu, Sayang…,” Nada suara Rangga memelan, seakan mencoba menenangkan Ayu, tetapi ada sarat remeh di sana. “Aku rasa itu hanya orang iseng. Nggak mungkin orang itu bisa dapat suaramu. Lagipula zaman sekarang, suara pun bisa dimanipulasi, Ay.” “Tapi–” “Ay, kamu harus tenang. Mungkin kamu banyak pikiran aja.” “Aku mau kamu di sini, Rangga,” Ayu mulai terdengar putus asa. “Aku takut….” “Aku juga maunya begitu, Ay. Tapi bagaimana? Aku gak mungkin dong pulang ke Jakarta cuma untuk nemani kamu. Aku mempertaruhkan kehidupan kita kalau begitu namanya. Tolong fahami posisi aku juga ya Ay. Kamu sabar dulu kita cari solusi sama-sama.” Ayu memejamkan mata mendengar ucapan Rangga. Air mata mengulir begitu saja dari sudut mata kirinya. “Atau kalau kamu takut, coba minta temani Daniel.” Mendengar ucapan Rangga, Ayu langsung membuka matanya. Apa suaminya itu sadar yang telah ia ucapkan? Setelah ia tidak pernah percaya dan benar-benar memberinya ketenangan sejak awal masalah ini terjadi, sekarang Rangga justru menyuruh Daniel menemani dirinya? Terlalu kesal dan tidak percaya dengan ucapan Rangga, Ayu langsung memutuskan sepihak panggilannya, dan kembali melemparkan asal ponselnya menjauh. Ayu meringkuk, memeluk lututnya dan menangis sendirian di sana. Ayu yang biasa kehilangan ketenangan bahkan dalam tidurnya kini tidur begitu lelap. Menangis semalaman membuat energinya habis. Ayu bisa saja melanjutkan tidurnya kalau bukan karena sinar matahari yang ternyata sudah naik tinggi di atas kepala, menyelinap masuk melalui kaca jendela. Terangnya langsung mengusik tidur Ayu. Ia bangun dengan mengerjap. “Astaga!” Matanya langsung disilaukan dengan cahaya matahari yang menyinari dan menghangatkan seluruh ruang. Tangannya mengusap-usap mata, bekas-bekas air mata yang mengering masih ada di sana, menjadi saksi atas keputusasaan Ayu semalam. Kepalanya juga sedikit berdenyut. Ayu melangkah lemas menuju kamar mandi, berniat untuk mencuci muka agar merasa lebih segar. Belum selesai ia membasuh wajahnya, Ayu sudah dikejutkan dengan ketukan di pintu. Diraihnya cepat handuk yang menggantung di belakang pintu. Ayu mengusap wajahnya, kemudian ia berseru, “Sebentar!” Ayu berlari kecil menuju pintu, mengusap-usap sedikit tangannya yang masih basah ke bajunya, sebelum meraih gagang pintu dan membukanya. Pintu terbuka dan seorang pria berdiri di hadapannya. “Daniel?” Ayu dapat melihat wajah penuh kekhawatiran pada pria itu ketika pintu baru terbuka. Ayu masih berharap bahwa ia dapat melihat ekspresi itu dari suaminya, dari Rangga, dan bukan dari pria lain. “Kamu sakit, Ayu? Kok pucat sekali wajah kamu?” tanya Daniel. “Ah… enggak apa-apa. Kamu ada apa kesini, Niel?” Ayu mengesampingkan kekhawatiran Daniel. “Itu, sepertinya jam tanganku ketinggalan di sini. Kemarin sempat kulepas waktu memijatmu,” jelas Daniel. “Aku boleh cari?” “Oh, boleh, Niel. Silakan masuk,” Ayu membalasnya dengan lemas. Pikirannya masih terlalu dibalut ketakutan. Daniel melangkah masuk sambil masih memperhatikan Ayu. Pria itu mulai mencari di sofa dan tempat-tempat yang ia singgahi kemarin malam. Ayu hanya memperhatikan sesekali sambil duduk di ujung sofa, ia memijat-mijat kepalanya. “Yu?” suara Daniel bergema di telinganya. “Ayu?” Ayu menengadah. Ia mendapatkan wajah Daniel yang sudah begitu dekat. Dari sini, Ayu dapat melihat jelas fitur-fitur wajah pria itu yang tajam. “Ayu, kamu enggak apa-apa?” tangan Daniel menyentuh dahi Ayu. “Kamu enggak demam, tapi wajahmu pucat sekali lho?” Daniel berakhir duduk di sebelah Ayu. “Kenapa, Ayu?” Daniel bertanya untuk kesekian kalinya. “Niel, aku takut banget. Aku diteror lagi,” pada akhirnya Ayu mengalah pada ketakutannya. “Lho, masih, Yu?” Ayu mengangguk lemas. “Jauh lebih seram kali ini, Niel. Orang itu merekam suaraku.” “Suara!?” Daniel terdengar terkejut. “Bagaimana bisa? Kamu sudah beritahu Rangga?” Enggan menjawab pertanyaan mengenai suaminya, Ayu memilih untuk menggeleng sambil memijat pelipisnya. Melihat Ayu yang frustasi, Daniel merapatkan tubuhnya. Kini lengan mereka bersentuhan dan entah mengapa Ayu merasa sedikit lega setelah mendapat hangat yang dibagi, lagipula Ayu sudah tidak punya tenaga untuk menolak. Tangan Daniel perlahan menghampiri bahu Ayu, menuntunnya untuk bersandar dengan nyaman di sofa. Setelahnya tangan Daniel mengusap-usap lengan Ayu. “Yu, kalau ada apa-apa, kalau kamu merasa takut, kamu bisa telepon aku,” suara Daniel terdengar rendah dan begitu dekat di telinga Ayu. “Jangan sungkan, Yu.” Ayu belum menjawab. Dalam situasi yang sangat membuatnya takut dan memenuhi pikirannya, Ayu tidak dapat berpikir lebih panjang lagi. Untuk saat ini, ia hanya ingin bersandar dan rasanya tubuhnya semakin meleleh ke sisi Daniel dalam tiap usapan di atas lengannya. Ayu dapat merasakan tangan Daniel yang sedikit ragu, sebelum akhirnya merengkuh tubuh mungilnya. Daniel membawa Ayu ke dalam pelukannya selagi tangan yang lain mengusap kepala Ayu pelan. “Aku betul-betul takut, Niel,” rengek Ayu. Daniel kembali memberi sentuhan-sentuhan hangat kepada Ayu. Lama-kelamaan, tangan Daniel mulai terasa menyusuri titik-titik sensitif di tubuh Ayu.Dari menyentuh lengannya, tangan Daniel bergerak turun menuju pinggang ramping Ayu dan mengelusnya dari luar kaos tipis Ayu. Ayu sedikit kaget atas perlakuan itu, namun ia tak menghindar.
Perasaan tak karuan dengan cepat menyelimuti Ayu. Tanpa sadar dirinya juga menikmati sentuhan yang diberikan Daniel. Bahkan ketika tangan Daniel menuntun kakinya naik ke atas pangkuan pria itu, Ayu hanya menurut. “Ayu….” suara Daniel semakin dekat. Ayu merutuki kecanduan seksual yang ia miliki saat ini. Ia merasa terkhianati dengan tubuhnya sendiri. Bagaimana bisa dalam situasi seperti ini, hasrat dalam dirinya justru mulai membara, hanya karena disentuh langsung?! Namun, ia tetap melakukannya. Ayu mengalungkan lengannya ke leher Daniel dan perlakuan itu diterima baik oleh Daniel yang langsung kembali memeluk Ayu erat. Tangan Daniel kembali turun dan mulai meremas pinggang Ayu, kali ini langsung menyentuh kulit di bawah kaosnya. “Mhh … Daniel ….” Napas Daniel pun terdengar berat, membuat Ayu menengadah menatap wajah pria itu. Jari Daniel kini membelai lembut wajah Ayu dan berakhir di bawah dagunya. “Ayu…,” panggilnya lagi. Jarak yang sekarang begitu dekat membuat jantung Ayu berdebar. Ayu dapat merasakan napas Daniel yang berhembus tepat di depan wajahnya. Wajah mereka hanya berjarak setitik dan Ayu kembali tersentak saat Daniel mengusap bibirnya. “Daniel….” Hanya butuh sedikit dorongan hingga bibir Ayu dan Daniel menempel. Ting! Suara notifikasi dari ponsel itu memecah keheningan dan Ayu terperanjat mendengarnya. Napasnya memburu dan dadanya naik turun. Buru-buru dirinya turun dari atas pangkuan Daniel, menyadari posisinya. Ayu menatap Daniel dan mendapati wajah pria itu yang langsung berpaling. Daniel terlihat sedikit kikuk dan langsung berdiri. “Ma- maaf, Ayu,” suaranya terdengar ragu. “Aku harus pulang.” Ayu masih terdiam dengan ponsel di tangan, notifikasi dari Rangga. Rasa bersalah lantas menghantui benak Ayu, apalagi ketika matanya menangkap bingkai-bingkai foto di beberapa sudut ruang, menampilkan dirinya dan Rangga yang tersenyum bahagia. Ia belum sempat berkata apa-apa ketika Daniel melangkah cepat menuju pintu, membuka kuncinya dengan terburu-buru, dan pergi meninggalkan dirinya. “Hah…,” Ayu terus mematung di sana.Ayu terdiam sejenak, membayangkan posisi itu. "Hilang kendali... itu terdengar menarik. Selama ini aku harus memegang kendali atas hidupku, rumah tanggaku, dan emosiku gara-gara Rangga. Bayangkan kalau aku tidak perlu melakukan itu semua.""Tapi Kenapa ada laki-laki yang justru menikmati melihat istrinya ditiduri orang lain? Itu masih tidak masuk akal bagiku", lanjut Ayu bertanya.Bima menyesap wine-nya, lalu meletakkan gelas itu kembali ke lantai. "Sederhana, Ayu. Ini soal fantasi dan rasa malu yang diubah menjadi gairah. Dalam dunia cuckold, si suami atau laki-laki itu disebut cuck. Dia merasa sangat bergairah saat melihat pasangannya, yang seharusnya miliknya secara eksklusif, justru dikuasai, digunakan, dan dipasrahkan sepenuhnya kepada laki-laki lain yang lebih dominan, yang biasa disebut Bull.""Jadi dia merasa tidak mampu?" tanya Ayu."Secara fisik dan psikologis, iya," jawab Bima tenang. "Dia melihat istrinya diberikan servis yang tidak bisa dia berikan. Dia melihat istrinya m
"Ahhhhhhh! Ya! Di situ! Terus! Jangan berhenti!"Rasa yang luar biasa itu membuatnya merasa benar-benar hidup. Semua rasa sakit hati, rasa tidak terima, dan amarah terhadap Rangga seolah-olah ikut terdorong keluar bersama setiap sentakan yang ia terima. Ayu benar-benar mengeluarkan sisi gelapnya, sisi yang selama ini ia tekan demi menjadi "istri yang baik"."Aku mau keluar... aku mau keluar!" teriak Ayu lagi.Tubuh Ayu bergetar hebat. Ia mencapai orgasme yang paling kuat dalam hidupnya. Sensasi di lubang belakangnya seolah-olah menarik seluruh kesadarannya. Sesaat kemudian, Bima dan Daniel pun mencapai puncaknya bersamaan dengan Ayu.Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara AC dan deru napas tiga orang yang tergeletak lemas di atas kasur yang kini sudah sangat berantakan. Ayu terbaring di tengah, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, membuatnya terlihat berkilau di bawah lampu kamar yang temaram.Bima menghela napas panjang, ia berguling ke sa
"Kenapa? Kamu bilang ingin yang ekstrem, kan?" sahut Bima dari bawah, suaranya sedikit teredam."Iya... terus... jangan berhenti," Ayu menoleh ke arah Daniel. "Daniel, kenapa diam saja? Pakai tanganmu. Aku ingin kalian berdua bekerja sama."Daniel tersenyum, ia mulai membantu Bima, memainkan bagian sensitif Ayu yang lain. Ayu merasa seperti sedang dipuja oleh dua dewa sekaligus. Pikirannya tentang Rangga mulai memudar, tergantikan oleh sensasi fisik yang begitu kuat hingga ia merasa dunianya hanya sebatas ruangan ini."Niel , buka celanamu," perintah Ayu tiba-tiba. "Aku ingin kamu di mulutku, sementara Bima tetap di bawah."Daniel menurut dengan cepat. Ayu berlutut di sofa, dan mulai menghisap milik Daniel dengan penuh gairah. Ia melakukannya dengan ritme yang dalam dan konsisten, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia memiliki keahlian yang selama ini ia sembunyikan dari suaminya. Daniel mengerang keras, tangannya mencengkeram sprei kasur dengan kuat."Gila... Ayu... kamu belajar dar
Daniel mengangguk. "Ya. Itu Bima.""Buka pintunya, Niel. Jangan biarkan dia menunggu," perintah Ayu dengan suara yang tenang namun penuh otoritas.Suara bel vila kembali berbunyi, kali ini sedikit lebih panjang. Daniel melirik Ayu sejenak, memastikan wanita itu benar-benar siap, lalu ia melangkah menuju pintu depan.Ayu tetap duduk di sofa besar berbahan kulit itu. Ia sengaja membiarkan ikatan bathrobe-nya sedikit longgar, memperlihatkan garis leher dan sebagian dadanya yang masih lembap. Ia mengambil gelas berisi wine merah yang tadi dituangkan Daniel, menyesapnya perlahan sambil menatap pintu.Pintu terbuka. Daniel bergumam rendah menyapa seseorang, lalu langkah kaki mendekat.Seorang laki-laki muncul di belakang Daniel. Namanya Bima. Ia bertubuh tegap, kulitnya terbakar matahari khas orang yang menghabiskan waktu di laut, dan ia mengenakan kaos hitam polos yang ketat menonjolkan otot lengannya. Wajahnya tenang, matanya tajam namun sopan."Ayu, ini Bima," kata Daniel pendek.Bima te
"Ya. Aku ingin merasakan kenikmatan yang lebih dari sekadar hubungan badan biasa. Aku ingin merasa benar-benar diinginkan oleh lebih dari satu orang pada saat yang sama. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku punya kendali penuh atas tubuhku, dan aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau.""Ayu, ini bukan keputusan kecil. Kamu sedang emosi karena Rangga. Jangan sampai kamu menyesal nanti," Daniel mencoba bersikap rasional, meski bagian dirinya yang lain mulai terangsang dengan ide itu."Aku tidak akan menyesal, Dan. Justru aku akan menyesal kalau aku hanya diam dan meratapi nasib karena suamiku tidur dengan orang lain. Aku ingin melampaui batas yang pernah ada dalam hidupku. Rangga tidak mungkin bisa memberikan ini. Dia terlalu kaku, terlalu sok suci, padahal kenyataannya dia busuk."Ayu menekan tubuhnya lebih rapat ke arah Daniel. "Kamu punya teman di sini, kan? Atau seseorang yang bisa kamu percaya? Laki-laki yang bersih, yang tahu cara bermain. Aku tidak mau tahu bagai
"Suami?”, Ayu tertawa sinis. “Suami itu akan selalu ada untuk istrinya, dan akan selalu lebih mengutamakan istrinya dari apapun”.“Coba lihat dirimu Rangga, berapa banyak sudah janji yang kamu ingkari, kamu sadar tidak sudah menyakiti istrimu berkali-kali”, lanjut Ayu dengan nada penuh emosi. “Tapi aku kerja untuk kita Ayu, untuk masa depan kita, untuk kamu juga”, Rangga menekankan kalimatnya.“Dari dulu hanya Itu alasan kamu, sudahlah Rangga cukup, sudah lelah aku dengan sikapmu, aku tutup telponnya”, suara Ayu terdengar lebih pelan.“Tunggu.. Ayu, jangan tutup dulu”, cegah Rangga.“Apa lagi Rangga?, tidak cukupkah kamu membuat istrimu ini sakit hati hari ini?”. Ayu berkata dengan nada geram."Ayu! Sebutkan namanya! Siapa bajingan yang bersamamu di pantai itu?""Pikirkan saja sendiri, Rangga. Bukankah kamu pintar berimajinasi? Bayangkan saja aku sedang bahagia dengan seseorang yang jauh lebih menghargaiku daripada kamu. Itu yang kamu inginkan, kan? Alasan untuk merasa bebas di sana?
Lepas semuanya, Ayu. Jangan sisakan sehelai pun kain yang menghalangi mataku," perintah Daniel, suaranya rendah dan penuh otoritas.Ayu menatap kamera ponselnya dengan pandangan berkabut. Jemarinya bergerak ke belakang punggung, menurunkan ritsleting gaun satinnya hingga pakaian itu meluncur jatuh
Batin Ayu merintih. 'Aku minta maaf... aku khianat. Aku kotor. Harusnya aku nunggu kamu. Harusnya aku setia. Sumpah pernikahan kita... "dalam suka dan duka", "dalam sakit dan sehat". Tapi aku malah nyari kesenangan instan cuma karena aku merasa sepi.'Rasa bersalah itu meremas jantungnya. Ia membay
"Pulang... duluan?" ulang Ayu pelan, memastikan pendengarannya tidak salah. "Sendirian?""Iya," jawab Rangga enteng. "Sopir vila masih stand by di parkiran kok. Aman. Nanti aku pesen GoCar atau minta antar sopirnya Jack pas balik.""Tapi Rangga... ini honeymoon kita," suara Ayu mulai bergetar, kali
Daniel tidak perlu diminta dua kali. Tangannya bergerak cekatan, menyingkap gaun Ayu ke atas. "Kamu basah," bisik Daniel serak saat jarinya menyentuh area pribadi Ayu yang hanya terhalang kain tipis. "Gara-gara aku pegang di bar tadi? Atau gara-gara ngebayangin ini?""Diem... jangan banyak omong,"







