LOGINRuangan itu mendadak menjadi hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari pria di ujung sofa itu.
"Niel?" panggil Ayu. Tenggorokannya terasa kering. "Daniel?" Masih hening. Ayu akhirnya menoleh ke belakang. Matanya seketika memicing saat mendapati Daniel justru menatapnya dengan segaris senyum yang tertahan. Darahnya langsung berdesir hebat, perpaduan antara gairah dan rasa malu yang luar biasa memuncak. "Kenapa kamu tersenyum?" tembak Ayu, suaranya sedikit bergetar menahan emosi. "Kamu menertawakan aku? Karena memohon dipuaskan oleh pria lain saat suamiku sedang jauh?" Daniel tersentak pelan. Senyumnya pudar seketika, digantikan raut panik. "Bukan, Yu. Astaga, sumpah! Aku sama sekali tidak sedang menertawakanmu." "Lantas kenapa tersenyum seperti itu? Kamu pikir aku sedang bercanda? Atau kamu merasa aku menjijikkan?" cecar Ayu tak tertahan. "Bukan begitu, Ayu," balas Daniel cepat, nadanya berubah lembut namun tegas. "Aku... hanya kaget saja. Benar-benar kaget. Aku tidak menyangka sama sekali akan mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang Ayu." Ayu terdiam, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan air mata. Daniel menghela napas panjang, menatap lurus ke mata wanita itu. "Yu, dengarkan aku. Aku datang ke sini malam ini murni atas permintaan suamimu. Rangga itu bukan sekadar teman, dia sahabat karibku. Kami sudah melewati banyak hal dari nol, dan dia sudah kuanggap seperti saudara sendiri." Tatapan Daniel mengunci mata Ayu yang mulai berkaca-kaca. "Aku sangat menghargai Rangga. Dan aku menghargaimu. Jadi, aku tidak mungkin mengkhianati sahabatku. Maafkan aku, Yu." Penolakan halus itu menghantam telak kesadaran Ayu. Suasana seketika berubah menjadi sangat canggung dan menyesakkan dada. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ayu buru-buru membenamkan wajahnya ke dalam bantal sofa, menyembunyikan rasa malu yang membakar seluruh wajahnya. Daniel berdeham pelan, menyadari kecanggungan yang menebal di antara mereka. Ia segera memutar otak dan meraih kembali botol minyak urut di atas meja. "Sudahlah, Yu. Tidak usah dipikirkan," ucap Daniel dengan nada yang sengaja dibuat jauh lebih santai. "Aku faham kok Yu. Lagi pula, aku rasa apa yang kamu rasakan dan katakan barusan itu hal yang sangat wajar." Ayu masih diam tak merespons di balik bantal. "Kamu sedang jauh dari suamimu, lelah bekerja seharian, stres, lalu mendapat pijatan yang membuatmu rileks," lanjut Daniel. Tangannya kembali menyentuh kaki Ayu, memberikan usapan ringan yang profesional. "Lagian, kamu bukan yang pertama, kok. Aku juga sering mendengar hal serupa dari klien-klienku ketika aku sedang mengurut mereka." Rasa penasaran akhirnya berhasil mengalahkan rasa malu Ayu. Ia mengangkat wajahnya sedikit, mengintip pria itu dari balik bantal. "Sering?" "Iya, sering," jawab Daniel santai. "Biasanya istri-istri pejabat atau pengusaha yang suaminya terlalu sibuk di luar kota. Saat sedang dipijat rileks, pertahanan mental mereka tiba-tiba jebol. Ada yang sampai terang-terangan meminta pelayanan 'ekstra' seperti kamu tadi." "Terus..." Ayu menelan ludah. "Apa yang terjadi? Kalian melakukannya?" Daniel sontak menghentikan pijatannya. Ia menatap Ayu dengan raut wajah pura-pura terkejut, lalu tertawa. "Tentu tidaklah, Yu! Gila saja. Kalau sampai ketahuan klinik, lisensi praktikkku sebagai fisioterapis bisa dicabut permanen saat itu juga." Ayu mengembuskan napas lega. "Aku ini selalu menjaga etika dan profesionalisme dalam bekerja, Yu," tambah Daniel penuh keyakinan. Pria itu menatap Ayu dengan serius, sebelum tiba-tiba sudut bibirnya berkedut menahan tawa jahil. "Ya... kecuali kalau lagi di luar jam kerja, sih. Ha-ha-ha!" Mata Ayu seketika membulat sempurna. "Hah?! Maksud kamu apa, Niel?!" Melihat reaksi Ayu yang terperanjat, tangan Daniel buru-buru kembali mengoleskan minyak urut ke pergelangan kaki Ayu dengan sigap. "Ini aku cerita sambil lanjut memijat, ya? Biar sesinya cepat selesai," potong Daniel mengalihkan pembicaraan secepat kilat. "Eh, jangan pernah menganggap remeh masalah terkilir ringan begini, lho, Yu. Kalau terlambat atau salah ditangani, efeknya bisa fatal. Kakimu bisa bengkak berminggu-minggu—" Ayu langsung menarik sebelah kakinya menjauh dari sentuhan Daniel, menatap pria itu dengan tatapan tajam mengintimidasi. "Niel, enggak usah coba-coba mengubah topik pembicaraan, deh. Jawab pertanyaanku barusan." "Pertanyaan yang mana sih, Ayuuu?" jawab Daniel, sengaja memanjangkan namanya dengan nada bercanda. "Benar kamu masih tetap melakukannya dengan mereka asal bukan saat jam kerja begitu?" cecar Ayu tak sabar. Tawa Daniel kembali meledak meramaikan ruangan. "Ha-ha-ha! Ya enggaklah, Yu! Aku cuma bercanda! Habisnya kamu dari tadi serius banget.” Ayu mendengus sebal, menjatuhkan kembali rahangnya ke atas bantal. "Bercandaanmu itu sama sekali enggak lucu, Niel." Daniel terkekeh pelan sambil menarik lembut pergelangan kaki Ayu, menempatkannya di pangkuannya, lalu melanjutkan pijatannya dengan ritme konstan. "Tapi, Yu..." suara Daniel tiba-tiba merendah, nadanya berubah serius tanpa unsur candaan lagi. "Tapi apa?" sahut Ayu tanpa sudi mengangkat wajahnya. "Tapi memang kenyataannya, di lapangan ada juga, sih, klien yang kelakuannya sangat nekat." Ayu langsung menoleh kembali, keningnya berkerut dalam. "Nekat?" "Iya, nekat minta dipuaskan," jawab Daniel tenang. Jempolnya kini mulai menelusuri dan menekan urat di sekitar betis bawah Ayu. "Mereka nekat menawarkan apa saja, harga berapa pun, asal aku bersedia." "Terus... kamu mau?" kejar Ayu. Napasnya mulai kembali tidak beraturan. Daniel mengangkat kedua bahunya pelan. "Yah... mau bagaimana lagi, Yu? Terkadang mereka memaksa dan mendesak terus-terusan. Jadi, aku sengaja pasang tarif jasa pribadiku dengan harga yang sangat tinggi. Mahal banget, niatnya biar mereka mundur dan enggak jadi minta macam-macam." Daniel tersenyum geli. "Eh, ternyata mau juga. Langsung dibayar lunas di depanku. Sudah sampai ubun-ubun kali ya hasratnya, he-he-he." Dada Ayu berdegup sangat kencang. Fakta yang baru saja dilontarkan Daniel terasa seperti menampar telak wajahnya. "He-he-he... mungkin, Niel," sahut Ayu serak, diiringi tawa getir yang sangat dipaksakan. Di dalam kepalanya, suara batin Ayu menjerit keras. Aku pun rasanya sudah sampai di ambang batas ubun-ubun dan siap meledak sekarang juga. Tepat saat itu, jempol Daniel menekan sebuah titik saraf di bagian lengkungan betis Ayu agak kuat. Rasa ngilu luar biasa nikmat seketika menjalar bagai aliran listrik lurus ke pangkal punggungnya. "Uuuuh... Niel...." desah Ayu tertahan, kedua tangannya otomatis meremas seprai sofa kuat-kuat. Di bawah sentuhan tangan pria itu yang terus membakar saraf-sarafnya, pikiran waras Ayu semakin terkikis tak bersisa. Ia menatap profil wajah tampan sahabat suaminya itu dengan dada yang kian memburu. Apa aku harus nekat juga malam ini?"Ayu, cukup!""Kenapa, Rose? Kita baru saja mulai."Ayu memiringkan kepalanya, menjilat perlahan garis rahang Roselyn yang halus. Roselyn terlonjak kaget. Sebuah lenguhan kecil yang tertahan meluncur dari tenggorokan wanita berblazer putih itu."Lihat?" desis Ayu di leher Roselyn. "Tubuhmu merespons. Kamu bilang parfum itu aromaterapi penambah gairah, kan? Sepertinya aromanya juga menempel padaku... dan sekarang bekerja padamu."Roselyn memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dengan kencang. "Jangan... jangan lakukan ini ...""Kenapa?" tantang Ayu. "Bukannya ini yang kalian inginkan? Bukankah ini skenario yang kalian buat?"Ayu makin menekan cengkeramannya pada rahang Roselyn, memaksa wanita itu menatapnya kembali."Katakan padaku, Roselyn! Pria itu... siapa dia sebenarnya?" bentak Ayu pelan, namun penuh penekanan. "Apakah kamu mengenalnya?"Roselyn menatap mata Ayu yang membara. Di dalam mata itu, tidak ada lagi Ayu yang polos dan penurut. Yang ada hanyalah sosok wanita ya
Tubuh Ayu membeku. Detak jantungnya yang tadi serasa mau meledak oleh rasa bersalah, mendadak berhenti sejenak. Kata-kata Roselyn barusan tidak lagi terasa seperti kehangatan seorang pelindung, melainkan bagaikan bilah pisau es yang ditancapkan perlahan ke tengkuknya.Ayu menarik kepalanya perlahan, keluar dari dekapan hangat Roselyn. Isak tangis yang tadi membasahi gaun blazer wanita itu mendadak surut. Wajah Ayu yang sembap dan dipenuhi penyesalan kini perlahan berubah.Sorot matanya mendadak menajam."Apa maksudmu, Rose?" tanya Ayu dingin.Roselyn menyipitkan matanya sedikit. "Ayu, kamu—""Jawab aku," potong Ayu. "Apa maksudmu Mas Rangga sudah tahu dengan apa yang terjadi antara aku dengan pria itu?"Roselyn tidak langsung menjawab. Senyum tipis yang biasa bertengger di bibirnya tertahan di udara.Ayu maju satu senti lebih dekat."Dan bagaimana kamu bisa tahu?" desak Ayu."Ayu, tenanglah dulu...""Bagaimana kamu bisa tahu kalau telah terjadi sesuatu denganku bersama pria itu?" Ayu
Jeritan Ayu pecah seketika setelah gema pintu yang terbanting itu surut. Tubuhnya merosot di atas karpet ruang tamu. Kedua tangannya mengepal, memukul lantai dengan sisa tenaga, meratapi kehancuran rumah tangganya dalam hitungan menit."Puas kamu, Roselyn? Puas kamu menghancurkan hidupku, hah?" racau Ayu dengan suara serak. Air mata membasahi pipinya yang memerah. "Kamu iblis! Kamu yang bikin Mas Rangga emosi dan pergi! Apa salahku padamu, Rose? Kenapa kamu harus memprovokasi dia?"Roselyn yang berdiri di dekat sofa sama sekali tak membalas. Ia berdiri mematung, merapikan lengan blazer putihnya dengan tenang. Matanya menatap tajam ke arah Ayu yang menangis di lantai."Jawab aku!" teriak Ayu kian histeris. "Jangan cuma diam! Kamu sengaja, kan? Kamu memang berniat merusak pernikahanku dari awal!"Hening kembali mencengkeram apartemen mewah itu, hanya diselingi napas Ayu yang tersengal-sengal dan isak pilunya.Setelah membiarkan Ayu meluapkan emosinya, Roselyn melangkah anggun mendekat d
Deg!Darah di sekujur tubuh Ayu seolah berhenti mengalir detik itu juga. Jantungnya yang tadi berdetak liar karena amarah, kini seakan jatuh berdebum menghantam dasar perutnya. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak lemas tak bertulang.Ayu membeku. Mulutnya yang sedikit terbuka akibat berteriak tadi kini terkunci rapat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Dengan gerakan patah-patah bagaikan sebuah robot yang kehabisan daya baterai, Ayu memutar lehernya ke arah lorong kamar utama secara perlahan.Di sana, berdiri suaminya.Rangga baru saja keluar dari kamar, mengenakan kemeja santai berwarna navy yang kancing atasnya masih terbuka dan rambut yang sedikit basah. Pria itu berdiri mematung di ujung lorong, menatap lurus ke arah punggung Ayu dengan kening berkerut dalam dan tatapan mata yang memancarkan seribu satu kecurigaan."Mas... Mas Rangga ...," cicit Ayu dengan suara yang nyaris tak terdengar, wajahnya sepucat mayat.Tamat riwayatku, batin Ayu meratap dengan keputusasaan yang
"Kenapa kamu memandangiku seperti itu, Ayu?"Suara Roselyn yang biasanya ramah kini terasa sangat dingin dan datar, secara tiba-tiba memecah keheningan di ruang tamu tersebut. Wanita elegan berbalut blazer putih itu perlahan menurunkan majalah mode yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya. Matanya yang tajam langsung mengunci tatapan Ayu yang masih berdiri mematung di dekat lorong."Ada yang aneh denganku?" tanya Roselyn lagi, sebelah alisnya terangkat.Ayu menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya yang baru saja sedikit tenang kini kembali berpacu liar. Tatapan mata Roselyn seolah bisa menembus tengkoraknya, menguliti setiap rahasia kotor yang baru saja ia sembunyikan rapat-rapat.Dia tahu, jerit batin Ayu dengan kepanikan yang mulai menguasai akal sehatnya. Tatapan matanya... senyum miringnya barusan... wanita ini pasti tahu sesuatu! Tidak mungkin dia asal menebak soal parfum cendana dan lavender itu! Itu terlalu spesifik!Alih-alih menjawab pertanyaan Roselyn atau memalingkan
Mati aku! Mati aku! jerit batin Ayu dengan kepanikan luar biasa. Itu wangi dari ruangan apartemen kosong tadi! Aroma cendana dan lavender itu menguar sangat kuat di dalam ruangan itu! Wanginya pasti menempel di gaunku karena aku berbaring di atas karpet dan duduk di kursi itu cukup lama! Bodoh! Bodohnya kamu, Ayu! Kenapa kamu bisa melupakan detail sepenting ini?!"Ayu?" panggil Rangga, membuyarkan lamunan panik istrinya. "Kok diam? Kamu ganti parfum tidak bilang-bilang Mas, ya?""A-aku... a-anu, Mas... i-itu ..."Ayu terbata-bata parah. Lidahnya kelu. Otaknya berputar keras mencari sejuta alasan, tetapi tidak ada satu pun kebohongan yang masuk akal yang bisa ia rangkai dalam waktu sesingkat ini.Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan aroma asing yang sangat khas itu?Tepat ketika Ayu sudah bersiap membuka mulut untuk melontarkan kebohongan yang paling konyol, sebuah suara langkah kaki dan ketukan hak tinggi terdengar dari arah pintu masuk yang rupanya masih sedikit terbuka."Itu aku ya







