Short
Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun

Selamat Tinggal Janji Delapan Tahun

By:  GuraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di pernikahan sahabatku, buket bunga itu sempat direbut oleh seorang gadis, tapi kemudian tak sengaja jatuh ke pelukanku. Sahabatku, Shofia Lahda, langsung memberiku selamat, "Andin, pengantin selanjutnya giliran kamu ya." Para tamu pun secara serempak menoleh ke arah pria yang sudah kupacari selama delapan tahun, CEO Grup Argam, Lukas Argam. Namun, dia justru mengambil paksa buket itu dari tanganku dengan tenang, lalu memberikannya begitu saja kepada gadis di sampingku yang juga sekretarisnya, Terry. "Tadi orang lain yang dapat duluan." Dia mengusap rambutku dengan suara yang begitu lembut, "Nurut ya, balikin dulu ke Terry Gisela, kita udah sepakat nunggu kesempatan berikutnya." Lampu sorot dan tatapan para tamu pun mengikuti arah bunga itu, berpindah sepenuhnya kepada Terry. Aku menatap ekspresi Terry yang tampak terkejut sekaligus malu-malu, lalu mengelus perutku sambil tersenyum pahit. Lukas tidak tahu, kali ini tidak akan ada kesempatan berikutnya. Janji delapan tahun sudah terpenuhi, tapi kami tetap tidak kunjung melangkah ke jenjang pernikahan. Aku sudah menyanggupi permintaan orang tuaku yang merupakan anggota keluarga kerajaan, minggu depan aku akan pergi meninggalkan tempat ini untuk kembali ke Eropa dan mewarisi bisnis keluarga.

View More

Chapter 1

Bab 1

Senyum di wajah Shofia seketika sirna saat melihat Terry mendapatkan buket bunga itu.

Dia merasa lebih geram daripada aku, lalu berbisik dengan gigi terkatup di telingaku.

"Terry ini sengaja banget! Sebelum resepsi, aku udah bilang ke semua tamu kalau buket bunganya buat kamu!"

Aku memotong kalimatnya dengan lembut.

"Shofia, hari ini hari besarmu, hal-hal kecil kayak gini nggak penting."

"Tapi kamu udah nunggu delapan tahun buat nikah sama Lukas. Sekarang kamu lagi hamil anaknya, kalau nggak cepat-cepat resepsi ...."

"Nggak apa-apa."

Aku menoleh dengan tenang, lalu menatap Lukas yang sedang duduk di meja tamu.

Terry yang sedang memegang buket bunga itu duduk tepat di sampingnya.

Jarak mereka yang begitu dekat, sudah melampaui batas yang seharusnya dijaga oleh seorang sekretaris.

Para tamu adalah teman-teman yang mengenal baik aku dan Lukas, mereka semua melemparkan tatapan penuh selidik sekaligus simpati kepadaku.

Shofia makin geram dan menggenggam tanganku dengan tegang.

"Andin, aku baru selidiki Terry. Dia itu cewek matre kelas kakap yang emang spesialis goda pria kaya! Dia udah berbulan-bulan berusaha dekati pacarmu! Kamu harus hati-hati ...."

"Shofia, kamu itu pengantin paling cantik hari ini, jangan cemasin aku."

Aku balas menggenggam tangan Shofia sambil tersenyum tipis kepadanya.

"Lagian, aku nggak berencana buat nikah sama Lukas lagi, aku bahkan nggak kasih tahu dia kalau aku hamil."

Perkataanku terlalu mengejutkan, hingga membuat Shofia membelalakkan mata menatapku dengan tidak percaya.

Setelah terdiam cukup lama, dia baru teringat untuk melanjutkan prosesi pernikahan.

Begitu pernikahan selesai, Shofia memelukku erat.

"Andin, kalau kamu butuh bantuan, kasih tahu aku ya. Aku dukung apa pun keputusan yang kamu ambil."

"Keputusan apa?"

Setelah dia pergi, Lukas berjalan tenang ke arahku, "Kalian tadi lagi ngobrolin apa?"

Dia refleks mengulurkan tangan untuk merangkul bahuku, tapi aku sedikit memiringkan tubuh untuk menghindar.

"Bukan apa-apa."

Dia sepertinya tidak keberatan dengan penolakanku dan terkekeh pelan.

"Kamu marah? Bunga itu 'kan emang Terry yang dapat duluan. Dia 'kan masih muda dan pengen banget nikah. Ambil buket bunga juga cuma buat cari keberuntungan aja. Bukannya kita udah sepakat buat nunggu kesempatan berikutnya?"

Dia mendekat sambil mengusap rambutku dan membujukku dengan sabar.

"Kenapa sih harus peduli banget sama buket bunga Shofia? Nanti pas kita nikah, aku bakal siapin buket bunga yang jauh lebih cantik! Kamu mau berapa pun bakal aku kasih!"

Aku meremas telapak tanganku dalam diam, lalu menatap langsung ke matanya.

"Kalau gitu, apa kita bisa nikah bulan ini? Shofia sama aku udah punya janji waktu kecil, siapa pun yang nikah duluan, yang lain bakal nyusul. Kita bakal jadi pendamping pengantin satu sama lain buat saksiin kebahagiaan itu."

Suasana seketika terasa membeku.

Tangan Lukas yang sedang mengelusku terhenti di udara, lalu beberapa detik kemudian dia tertawa kecil.

"Omongan waktu kecil kayak gitu kok kamu anggap serius?"

"Aku ini CEO Grup Argam, pernikahan nggak bisa diadain buru-buru kayak gitu. Jangan tergesa-gesa ya, aku janji itu bakal jadi pernikahan yang paling sempurna!"

Rasa pahit mulai merayap di dalam hatiku.

Setiap kali terjadi konflik, dia selalu menjanjikan "kesempatan berikutnya" dan pernikahan di masa depan itu.

Delapan tahun sudah berlalu, tapi aku tetap tidak kunjung mendapatkan hari di mana janji itu terwujud.

Aku pun memutuskan untuk pulang dan tidak akan terus menunggu lagi.

Kendaraan melaju dalam keheningan sampai akhirnya berhenti di depan vilaku.

Lukas melepas sabuk pengaman, seolah mengira ketegangan di antara kami sudah mencair. Dia refleks mendekat untuk mencoba menciumku.

Aku mengangkat tangan dan menahannya di bagian bahu.

"Aku capek, Lukas."

Dia terpaku dan menatap mataku selama beberapa detik. Akhirnya, dia menepuk bahuku dengan pelan.

"Hei, jadi pendamping pengantin emang capek banget, istirahat lebih awal gih."

"Terry bilang dia nggak dapat taksi dan masih di gedung acara. Aku mau balik buat jemput dia sebentar, kalau nggak, dia bakal sendirian di sana, nggak aman."

Aku mengangguk tenang, tapi Lukas tidak segera bergerak.

Dia seolah sedang menungguku untuk menyuruhnya berhati-hati seperti biasa, atau mengeluh karena dia meninggalkanku sendirian di rumah selarut ini.

Namun, aku hanya membuka pintu mobil dan turun.

Sambil melihat mobilnya menjauh, aku menghapus air mata yang menyengat mataku, lalu menelepon orang tuaku yang berada di Eropa.

"Ayah, Ibu, aku setuju buat jalanin pertunangan dan nikah sama Deon ...."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status