Se connecter
"Apa yang terjadi sama Liana?"
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kata suster, Liana mengalami kecelakaan. Dia ditabrak mobil." "Terus, sekarang kita harus apa. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama Liana? Kita tidak bisa memanfaatkan dia lagi. Aku tidak mau hidup miskin." "Karin, kamu harus tenang. Kalau terjadi sesuatu sama Liana, aku yang akan mengurus semua hartanya. Harta dia akan menjadi milik kita semua." "Kamu kan tahu, Liana masih memiliki wali, pamannya. Pamannya tidak akan membiarkan kita memiliki semua harta itu. Apalagi kalian tidak mempunyai anak. Kita akan ditendang keluar." "Masalah paman Liana biar aku urus juga, ya." "Baiklah. Apa kata dokter tentang Liana." "Kata dokter, kepala Liana mengalami benturan yang cukup keras. Kita harus menunggu dia sadar dulu untuk mengetahui perkembangannya." "Aku pikir dia beneran akan mati." "Dia tidak boleh mati dulu sebelum kita mengambil alih semua hartanya. Kamu sabar ya. Aku pasti akan usahakan semua hartanya menjadi milik kita secepatnya" "Kamu janji." "Iya, aku janji." "Jangan lama-lama. Aku tidak tahan melihat kalian saling menempel." "Iya-iya. Sekarang kita keluar dulu. Kita jangan ngobrol di sini lagi. Nanti Liana bisa bangun," ujar Evan melirik ke arah Liana. Evan begitu terkejut ketika melihat Liana yang sudah duduk di atas ranjang tempat tidur. Begitu pula dengan Karin, perempuan yang tadi sibuk bicara dengan Evan, suami Liana. Apakah Liana mendengar semua obrolan mereka tadi. Seharusnya Liana masih dibawah obat bius. Tidak secepat itu bangun. "Li-liana, kamu sudah sadar, sayang. Sejak kapan kamu bangun. Aku kok nggak tau," tanya Evan dengan gugup. Evan sekali-kali melirik ke arah Karin. Karin berdiri di sampingnya dengan wajah datar. Beda dengannya yang kalangan kabut. Liana sudah sadar dari tadi. Dia mendengar semua percakapan antara sang suami dan sahabat baiknya. Sama sekali tidak ada dalam bayangannya jika Evan berani selingkuh di belakangnya. Apalagi selingkuhan itu adalah sahabat baik yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Kemudian suami dan sahabatnya juga berkomplotan untuk mengambil semua hartanya. Harta yang ditinggalkan oleh almarhum kedua orang tuanya. Mau hidup enak tapi menggunakan cara yang kotor. 'Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil uang aku satu sen lagi. Aku akan membalas semua perbuatan mereka. Aku juga harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Semua hak yang ada pada Evan harus aku ambil kembali. Aku harus pura-pura tidak dengar obrolan mereka. Ya, aku sekalian pura-pura tuli saja,' batin Liana dengan raut wajah masih datar berbeda dengan isi hatinya. "Evan kamu bilang apa. Suara kamu sangat kecil. Aku tidak bisa dengar," ujar Liana mengerut kening. Istri yang baru saja mengetahui penghianatan memutuskan untuk berpura-pura tuli agar mereka tidak mengetahui jika dia sudah mendengar semuanya. Sekalian mencari tahu sejauh mana hubungan mereka berdua. "Liana kamu tidak bisa mendengar suara kami?" tanya Karin ingin memastikan Liana. Tatapan Liana berfokus pada Evan. Sehingga otomatis dia tidak merespon pertanyaan Karin. Seakan dia tidak mendengar suara Karin. "Evan!" seru Liana. "Liana, kamu baik-baik saja?" "Evan kamu jangan berbisik. Aku tidak bisa mendengar suara kamu bahkan suara lain. Apa yang terjadi sama aku. di sini sangat sunyi, Evan. Evan, aku takut," gumam Liana memeluk tubuhnya seolah menunjukkan gerakan ketakutan. Evan dan Karin saling bertatapan. Mereka saling memberikan kode jika ada yang tidak beres dengan Liana. Bagaimana mungkin Liana tidak mendengar suara apapun. Keadaan dalam kamar memang sepi, tapi masih ada suara AC dan orang-orang yang lewat. "Kamu tunggu di sini dan jaga Liana, biar aku panggilkan dokter," suruh Karin. Evan mengangguk kecil. Setelah itu Karin segera keluar mencari dokter. Hingga tinggal mereka berdua saja di dalam ruangan. "Evan, kenapa Karin pergi." "Liana." "Kamu jangan diam saja Evan," tangis Liana memaksa air mata keluar. "Liana, apa kamu bisa dengar suara aku?" tanya Evan menatap lekat ke arah Liana. "Evan, kamu jangan nakutin aku. Kamu bicara yang keras. Jangan buat aku takut Evan," teriak Liana dengan suara keras dengan putus asa. "Liana, hei Liana. Kamu dengar aku?" ulang Evan menjentikkan tangan di samping telinga Liana. "Kenapa aku tidak bisa mendengar suara kamu. Apa kamu mau bercanda sama aku. Kamu jangan seperti itu, aku takut Evan," ujar Liana memegang kedua tangan Evan. "Jangan-jangan dia bener-bener tuli. Dari tadi kami tidak nyambung," gumam Evan yang bisa didengar oleh Liana. "Evan!" 'Aku harus mengetes dia dulu.' "Liana apa kamu tahu, kalau aku mencintai Karin sahabat kamu," kata Evan dengan takut-takut. Evan gugup dengan pertanyaannya sendiri. Pertanyaan yang bisa menjebak diri sendiri. Jika nanti Liana merespon, alasan aja itu hanya candaan saja. "Evan! Evan! Tolong aku, aku takut Evan," teriak Liana masih berpura-pura tidak dengar dan memeluk pinggang Evan dengan erat. Hati Liana seakan tertusuk dengan tombak. Dia sangat yakin jika tadi Evan sengaja mengetesnya. Namun dia lebih yakin lagi jika pertanyaan Evan tadi bukan bohongan semata. Hatinya sungguh kecewa dengan sang suami dan juga Karin. 'Kamu harus kuat Liana. Kamu tidak boleh goyah. Kamu harus bisa pura-pura tuli agar semua rahasia suami kamu bisa terbongkar,' batin Liana menguatkan diri. Semakin memeluk Evan dengan erat. Evan puas dengan reaksi Liana. Liana sama sekali tidak merespon pertanyaannya. Artinya Liana tidak mendengar percakapan dia dengan Karin tadi. "Bagus, ini bagus sekali. Kamu tetap saja seperti ini, ya Liana," kata Evan mengelus punggung Liana. Evan melepaskan pelukan Liana. Lalu merubah raut wajah sesedih mungkin untuk menyakinkan Liana jika dia ikut sedih. Membingkai wajah Liana dengan kedua tangan agar pandangan mereka bertemu. "Evan! Evan!" histeris Liana dengan air mata yang bercucuran. Evan kembali membawa Liana ke dalam pelukan. Bersikap seolah sedang menghibur Liana. Namun dia tertawa keras di belakang Liana. "Liana, Liana. Semoga saja kamu tuli permanen. Biar aku lebih mudah mengambil semua milik kamu. Tahu gini sekalian saja kamu buta gara-gara kecelakaan tadi," bisik Evan sambil mengelus punggung Liana. Liana meremas kedua tangan di balik punggung Evan. Sangat sakit hati mendengar perkataan Evan. Apakah Evan sama sekali tidak mempunyai hati. Mereka sudah menikah selama setahun lebih dan mengenal lebih dari tiga tahun. Apa waktu selama itu hati Evan tidak bisa digoyahkan sedikit pun. Sampai hati menginginkan hal buruk menimpanya. Liana sudah memberikan apapun yang dimiliki untuk Evan. Sudah begitu banyak perhatian dan cinta. Lalu tidak terhitung lagi modal untuk usaha Evan yang juga tidak membuahkan hasil. Bersambung ….Liana kembali mendorong Dirga. Kemudian dia menampar Dirga dengan sangat keras. Sekalian melampiaskan kekesalannya saat dia masih kecil. Kapan lagi dia bisa membalas tanpa dikerjain balik. Dirga memegang pipinya yang berdenyut. Dia tidak menyangka kalau Liana akan menamparnya sekeras itu. Menyesal dia menyuruh Liana berbuat senatural mungkin. "Pak, kalau punya mulut itu dijaga. Saya tidak akan pernah tertarik sama lelaki seperti anda. Bagi saya Evan adalah suami terbaik di dunia ini," ujar Liana keras agar Evan bisa mendengar dengan baik. "Terbaik? Aku ini jauh lebih kaya daripada Evan. Perusahaan aku sudah bertahun-tahun sukses. Perusahaan suami kamu itu bisa sukses berkat aku. Aku bisa saja memutuskan kontak di antara kami. Kita lihat, apa suami kamu itu masih bisa bertahan." "Suami saya memang tidak sekaya Bapak. Tapi hati anda itu jauh lebih miskin," ujar Liana meninggalkan Dirga sendiri. *** Evan dari tadi menyaksikan interaksi Liana dan Dirga. Dia sangat kaget ketika Lia
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Kamu mengikuti aku? Di mana Evan?" tanya Liana panik. Liana melirik ke arah belakang Dirga. Sepanjang mata memandang, tidak ada sosok Evan. Ada perasaan lega jika hanya ada mereka berdua. "Apa aku tidak boleh mengikuti orang yang aku sayangi," sahut Dirga cuek. "Kamu kalau ngomong dijaga ya. Nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham. Apalagi di dengar oleh Evan," tegur Liana. "Salah paham apanya. Wajar dong jika seorang kakak sepupu menyayangi adik sepupunya sendiri. Kalau masalah Evan, dia masih di meja makan. Jadi kamu tidak perlu takut jika kita akan ketahuan," ujar Dirga. Benar, Dirga dan Liana adalah saudara sepupu. Jadi Liana sangat terkejut saat tahu klien Evan adalah Dirga. Padahal sudah jauh-jauh hari mewanti-wanti paman agar sepupu tidak ikut campur masalahnya. "Sudahlah, jangan banyak basa-basi. Apa paman yang menyuruh kamu menjadi klien dari Evan?" "Bukan." "Terus," ujar Liana memicing mata. Tidak percaya dengan mudah jawaban Sepup
Evan ingin menghubungi kliennya, namun sebelum berhasil menghubungi klien, klien sudah terlebih dahulu muncul di depan Evan. "Selamat malam Pak Dirga," sapa Evan. Evan segera berdiri dan memberi hormat. Sedangkan posisi Liana membelakangi Dirga. "Selamat malam juga Pak Evan," balasnya. Mata Liana sontak membesar ketika Evan menyebutkan nama Dirga. Apalagi suara Dirga yang terasa tidak asing. Dia berharap kalau Dirga yang disebutkan oleh Evan adalah orang yang berbeda dengan yang dia kenal. "Maaf Pak, saya telat. Tadi saya mengalami mogok di jalan," terang Dirga. "Tidak apa-apa Pak. Saya maklum kok. Kami juga baru datang," ujar Evan cari muka. Mata Dirga beralih ke arah punggung Liana. Liana masih saja membeku di tempat. "Apa ini istri Bapak?" tanya Dirga basa basi. "Iya Pak, ini istri saya," sahut Evan. Evan tidak enak dengan Klien. Liana masih belum bangun juga dari kursi. Itu sikap yang tidak sopan kepada klien. "Liana," panggil Evan dengan suara kecil. Liana tersadar
Mirna gugup dengan pertanyaan Evan. Dia segera memutarkan otaknya mencari alasan. "Ah, tadi Kakak haus. Jadi Kakak mau ambil minum," jawab Mirna menyakinkan mereka tapi tidak mempan pada Liana yang sudah tahu semuanya. "Kenapa kalian berdua malam ini kompak cari minum." "Kakak kan juga haus. Kakak pamit duluan ke kamar ya. Kakak masih ngantuk. Hoam … " kata Mirna sambil menguap. Lalu segera kabur dari sana. "Evan …." "Aku juga ngantuk berat Liana. Aku pergi duluan ya. Lampunya juga sudah nyala," potong Evan yang ikut pergi. Evan sama sekali tidak mau menggantikan guci yang telah dihancurkan oleh Mirna. Oleh karena itu dia memilih kabur. "Kakak dan adik sama-sama saja. Lari dari tanggung jawabnya. Untung saja guci ini guci KW. Kalau enggak, aku bisa rugi," kata Liana berdecak lidah. *** Mirna langsung lari ke dalam kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, dia dengan cepat mengunci pintu agar tidak ada yang masuk. Dia sangat gugup dan panik. Lalu segera menghubungi suaminya yan
*** Ketika tengah malam Mirna terbangun. Sengaja memasang alarm untuk menjalankan misinya sebelum tidur. Dia juga sudah menghubungi sang suami untuk menunggunya di depan rumah Liana. Mirna bekerjasama dengan sang suami untuk membawa kabur guci milik Liana. Tidak mungkin bisa dibawa sendiri. Setelah itu mereka bisa kabur. Keadaan malam sangat sunyi. Dimana orang-orang sudah tertidur lelap. Jam masih menunjukkan pukul 1 dini hari. Sehingga semua orang masih berada di dalam dunia mimpi. Dalam gelapnya ruangan yang hanya disinari oleh sinar bulan dan lampu yang berada di luar rumah yang menembus kaca, Mirna berjalan secara mengendap-ngendap. Berjalan hati-hati agar tidak menabrak barang lain. Supaya tidak membangunkan orang lain. Sekarang dia sudah berdiri dekat dengan guci. Setelah memastikan semuanya aman, tangannya langsung mengelus guci tersebut. "Kamu adalah milik aku. Setelah ini aku bisa pergi dari sini. Setelah uangnya habis, baru aku akan kembali ke sini, deh," ucap Mirna
"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Karin dengan kedua tangan di pinggang. Menghadang Evan tepat di depan pintu masuk. Karin sudah menunggu Evan sejak tadi pagi. Mereka sudah membuat janji akan bertemu jam 8. Namun sekarang sudah jam 9 lewat. "Nanti aku jelaskan. Kita masuk dulu," ajak Evan masuk ke dalam rumah setelah menggeser tubuh Karin. Karin berdecak kesal. Menurunkan kedua tangan untuk menutup pintu. Setelah menutup pintu, dia mengikuti Evan yang sudah duduk di atas sofa. "Apa Liana curiga kamu pergi. Atau dia malah melarang kamu pergi?" tanya Karin ikut duduk di samping Evan. "Dia hanya tanya aku pergi kemana saja." "Terus." "Aku bilang saja ingin menemui teman-teman aku. Dia sama sekali tidak melarang aku pergi." "Owh," jawab Karin pendek. "Kamu kenapa cemberut. Aku kan sudah ada di sini." "Aku masih kesal dengan kakak kamu. Setidaknya kita bisa sering jumpa di rumah Liana. Ditambah aku tidak bisa kerja bersama kamu. Kenapa sih dengan keluargamu, tidak ada satupun yan







