LOGINBeberapa saat kemudian, dokter masuk bersama suster dan juga Karin. Karin cemburu begitu melihat Evan yang memeluk Liana dengan erat di depan matanya. Baginya, dialah orang yang pantas dipeluk oleh Evan. Karena Evan adalah pacarnya.
"Pak, bisa tolong keluar sebentar. Kami akan memeriksa kondisi pasien," ujar sang dokter. "Baik Dok," sahut Evan melepaskan pelukan mereka. "Evan, kamu mau kemana. Jangan tinggalin aku, Evan. Kamu tetap di sini saja ya," pinta Liana seakan tidak mau ditinggal oleh Evan. "Kamu harus diperiksa dulu. Setelah selesai diperiksa, aku akan masuk lagi. Aku tunggu di luar ya," bujuk Evan melepaskan tangan Liana. "Evan, Evan," tolak Liana. "Ayo Karin," ajak Evan. Karin mengikuti Evan dari belakang. Sebelum keluar dia sempat melirik ke arah Liana. Tersenyum puas melihat Liana yang sangat terpukul ditinggal Evan. "Evan! Evan!" teriak Liana. Setelah Karin dan Evan keluar dari ruangan, Liana berhenti berteriak. Ruangan yang ditempati merupakan ruangan yang kedap suara. Oleh karena itu, walaupun dia berteriak maka suaranya tidak akan terdengar sampai keluar jika pintu sudah tertutup rapat. Dokter dan suster terheran-heran sendiri melihat pasien yang bisa berubah sikap dalam sekejap. Tadi Liana berteriak keras, lalu beberapa detik kemudian dia duduk dengan tenang dalam diam menatap pintu. Mereka takut jika pasien juga mengalami masalah kejiwaan. "Bu, Ibu tidak apa-apa?" tanya dokter dengan pelan. "Saya tidak apa-apa Dok," sahut Liana setelah menghela nafas berat. Seumur hidup baru kali ini Liana berakting. Dia tadi juga gugup kalau akan ketahuan. Benar kata orang, saat terdesak semua kemampuan bisa keluar begitu saja. Dokter dan suster saling pandang. Mereka mendapatkan pasien yang sangat aneh. "Bu, saya periksa kondisi Ibu ya," pinta Dokter mengecek kondisi Liana. Liana mengangguk kepala dengan pelan. Dia mempersilahkan dokter memeriksa keadaannya. Semoga saja kondisinya baik-baik saja. Dokter tidak menemukan ada yang aneh dengan kondisi Liana. Semua terlihat normal. "Bagaimana Dokter?" "Kondisi Ibu baik-baik saja. Hanya ada luka ringan di kepala. Sebentar saja bakalan sembuh," sahut dokter. "Syukurlah, saya baik-baik saja," ujar Liana menghela nafas lega. "Dokter, apa boleh saya bisa minta tolong sama Dokter?" pinta Liana. Liana ingin mengajak dokter kerja sama dengannya. Tanpa kerja sama dengan dokter semua kebohongan yang dia buat akan ketahuan. "Maksudnya Ibu?" "Dok, tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan suami dan sahabat baik saya. Mereka ngobrol tanpa tahu saya sudah sadar. Ternyata selama ini mereka menginginkan harta saya. Sahabat baik saya jadi selingkuhan suami saya, Dokter. Tadi saya sengaja berpura-pura tuli agar mereka tidak tahu kalau saya mendengar semua ucapan mereka," ujar Liana dengan tatapan sendu dan kosong. Siapa yang tidak akan sakit hati mengetahui suami selingkuh. Ditambah dengan orang yang paling dipercaya. Lalu berusaha memanfaatkan apa yang dimiliki untuk kesenangan mereka. Dokter dan suster prihatin dengan yang dialami oleh Liana. Mereka berdua juga sama-sama perempuan yang sudah menikah. Jika mereka mengetahui sang suami selingkuh apalagi dengan sahabat mereka, mereka juga akan terluka. "Jadi apa yang bisa saya bantu, Bu. Saya sesama perempuan juga tidak akan membiarkan jika suami saya berselingkuh," kata Dokter yakin. "Iya Bu, kalau saya jadi Ibu tadi, mungkin saya sudah mencakar teman Ibu tadi. Enak aja dia bersikap santai di depan Ibu," sambung suster ikut emosi. "Tidak, saya tidak boleh melabrak mereka sekarang. Saya harus mengetahui semua rahasia dibalik motif mereka dulu. Untuk itu saya ingin Dokter bekerja sama dengan saya. Tolong nyatakan jika pendengaran saya bermasalah. Buat seolah-olah saya ini tuli, Dok," pinta Liana. "Tapi ini cukup sulit. Ini menyangkut tentang profesi saya sebagai dokter," sahut dokter dilema. "Saya tahu, Dok. Biar semuanya saya yang tanggung. Saya juga bukan ingin menipu atau berbuat sesuatu yang jahat. Saya hanya ingin membongkar rahasia suami saya," mohon Liana. "Kecelakaan Ibu tidak cukup parah. Mereka akan curiga jika saya memvonis Ibu tuli." "Dokter bisa bilang kalau saya hanya tuli sementara saja. Biar mereka juga takut jika suatu saat saya bisa mendengar lagi." "Baiklah, saya akan membantu Ibu. Saya melakukan ini karena kita sama-sama perempuan," putus Dokter. "Terima kasih Dokter. Saya sangat berterima kasih kepada Dokter yang mau membantu saya," ujar Liana penuh syukur menemukan orang baik yang membantu disaat lagi dikhianati. "Sama-sama Bu. Semoga Ibu bisa membongkar semua rahasia suami Ibu dan mendapatkan keadilan." "Terima kasih Dokter." "Suster, sekarang suster sudah boleh panggil mereka masuk," suruh dokter menghembus nafas dengan keputusan membohongi keluarga pasien. Suster segera menuju ke depan pintu sesuai perintah dokter. "Bu, saya suntikan Ibu vitamin ya. Obat ini juga akan membuat Ibu akan mengantuk," ujar dokter mengeluarkan obat untuk Liana. "Baik Dokter," balas Liana. Liana segera berbaring kembali di atas tempat tidur. Dia menyaksikan dokter yang menyuntikkan obat ke selang infusnya. Beberapa detik kemudian dia mulai merasakan kantuk saat obatnya sudah mulai bekerja. Dia sempat menatap ke arah pintu, menatap sang suami dan sahabat baiknya masuk ke dalam ruangan sebelum dia menutup mata sepenuhnya. *** Evan dan Karin keluar dari kamar rawat Liana. Mereka mondar-mandir di depan kamar menunggu hasil pemeriksaan dokter. "Evan, apa benar Liana tuli?" tanya Karin berhenti bolak-balik. "Sepertinya dia memang tuli. Aku tadi sempat tes dia, dia tidak merespon sama sekali," sahut Evan berdiri di depan Karin. "Jadi, dia tidak mendengar percakapan kita tadi kan?" tanya Karin menggigit jari, takut ketahuan. "Kamu tenang saja. Dia tidak mendengar apapun," kata Evan meraih tangan Karin. Evan mencium tangan karin dengan mesra untuk menyakinkan karin. Tangan perempuan yang dia cintai. "Bagus deh kalau dia benar-benar tuli. Kita bisa lebih leluasa memanfaatkan dia sampai habis. Aku sudah muak bersama dengannya. Dia terus berlaga polos dan mencoba merebut kamu dari aku. Aku kan juga ingin tinggal berdua sama kamu," ujar Karin dengan sebal. "Sekarang kamu juga bisa tinggal di rumah Liana kalau kamu mau. Kita bisa tinggal satu atap," bujuk Evan. "Terus bagaimana dengan Liana. Aku takut kita ketahuan," sanggah Karin. "Aku janji kita tidak akan ketahuan. Kita bisa tinggal di rumah Liana sambil menunggu rumah kita selesai dibangun. Kita masih memerlukan dana yang banyak agar rumah itu selesai dan ada isinya. Setelah rumah itu selesai, kita akan tinggal bersama tanpa Liana lagi," tambah Evan. "Kenapa kamu lama sekali memperoti Liana. Aku sebal tinggal di kos mulu," ujar Karin dengan manja. "Kamu sabar ya. Sebentar lagi impian kita akan terwujud. Setelah rumah dan perusahaan berdiri kita akan berdiri kuat, kita bisa tinggal bersama. Aku akan menceraikan Liana," ucapan Evan mencium tangan Karin lagi. "Iya deh, aku akan berusaha sabar." Bersambung …."Virga! Cukup!" ucap Darman keluar dari mobil bersama Liana. Liana dan Darman tiba bersamaan dengan polisi. "Jangan bergerak! Kalian berdua sudah terkepung. Kalian akan kami tahan dengan kasus percobaan pembunuhan, penipuan dan perampokan." "Jangan dulu, aku belum puas mengajar mereka," larang Virga. "Virga, cukup!" Virga mengabaikan larangan mereka. Dia yang masih berada di atas tubuh Evan membalikkan badan Evan. Dia melanjutkan menghajar Evan. Evan sama sekali tidak bisa melawan. Tangannya sangat sakit dan tidak bisa digerakkan lagi. Polisi segera menahan tubuh Virga. Virga menghajar Evan bagaikan orang kesurupan. Sedangkan Evan yang tidak sanggup menahan lagi akhirnya jatuh pingsan. "Liana, tolong maafkan aku," mohon Karin tidak mau masuk penjara. "Maaf? Kemana saja kamu selama ini. Sekarang sudah terlambat kamu minta maaf. Andai saja waktu itu kamu minta maaf, mungkin aku akan melepaskan kamu," sahut Liana. "Liana, aku bersalah Liana. Aku benar-benar minta maaf." "P
Virga menutup telepon dari Liana. Dia segera mengambil kunci mobil milik dan sebelah tangan tangan menghubungi bawahnya. "Kamu cepat cari di mana lokasi Evan. Aku ingin secepatnya kamu menemukan mereka. Jangan sampai mereka kabur ke luar negeri," perintah Virga. Virga menutup kembali handphone. Segera masuk ke dalam mobil. Tangannya dengan cekatan menghidupkan dan membawa mobil mengelilingi kota. Virga berkeliling kota sambil menunggu bawahan mendapat posisi pasti Evan dan Karin. Setelah berhasil mendapatkan titik mereka, Virga langsung menuju ke sana. "Ternyata mereka berniat kabur ke luar negeri sesuai dugaan aku. Jangan harap kalian bisa lepas dari genggaman tangan aku." Virga segera memutar arah mobil. Dengan kecepatan tinggi dia mengejar mobil milik Evan dan Karin. Setelah mobil milik Evan ditemukan, dia menghadang mobil milik mereka berdua. "Evan, awas!" teriak Karin terkejut. Evan juga terkejut dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Dia dengan cepat menginjak
"Apa yang ingin kamu katakan sama Paman. Sepertinya sangat penting," ujar Darman. "Paman, kemarin Evan berencana ingin meracuni aku. Semalam dia tiba-tiba kasih aku teh. Dalam teh itu ada sesuatu obat," terang Liana. "Apa? Evan ingin meracuni kamu?" tanya Darman terkejut. Darman tidak akan melepaskan Evan jika terjadi sesuatu yang buruk sama Liana. Dia beserta anaknya akan mengejar Evan sampai ke ujung dunia sekalipun. "Iya Paman. Untung saja Liana cepat sadar. Selama ini Evan tidak pernah membuat aku teh. Jadi Liana tanpa pikir panjang membuang teh tersebut." "Apa? Evan gagal meracuni Liana. Apa Liana sudah curiga sama Evan. Sejak kapan dia mengetahui semua ini. Gawat, aku harus bilang hal ini kepada Evan. Tapi aku harus menunggu mereka selesai bicara dulu," putus Karin tetap berada di sana. "Kamu tenang saja Liana. Kita akan memenjarakan Evan dengan kasus percobaan pembunuhan. Sekarang kita sudah berhasil mengambil semua harta milik kamu yang diambil oleh mereka." 'Ternyata
Evan langsung menjalankan rencananya saat malam hari. Tidak buang-buang waktu lagi. Dia memasukkan serbuk obat yang didapatkan dari temannya ke dalam teh. Memberikan racun lewat teh itu kepada Liana. "Liana," panggil Evan mencari Liana setelah teh itu selesai dibuat. Liana berada di depan TV sedang mengerjakan laporan. Bukan hal besar yang harus diperiksa. Hanya mencocokkan data saja. Jadi dia memutuskan mengerjakan di ruang TV sambil menyalakan TV. Supaya tidak terlalu sunyi. "Ada apa Evan," sahut Liana menatap ke arah Evan yang melangkah ke arahnya. "Ini, aku buatkan teh buat kamu. Kamu pasti sangat capek dan mengurus itu. Ini, minum dulu," kata Evan menyodorkan gelas teh ke arah Liana. 'Tumben dia buat aku teh. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tidak mungkin dia langsung berubah,' curiga Liana. "Terima kasih ya. Kamu sangat baik," sahut Liana tetap menerima teh tersebut. Mencegah Evan curiga jika dia mencurigai teh tersebut. Liana hanya meletakkan teh itu di di atas me
"Apa? Terus bagaimana dengan pak Dirga. Dia orang yang sangat penting di perusahaan kita?" "Dia juga ikut membatalkan proyek dengan kita. Andai dia masih membantu kita, perusahaan kita masih bisa diselamatkan." "Apa kamu sudah membujuk pak Dirga, Evan?" "Aku sudah berusaha membujuk dia. Dia tetap tidak mau membantu kita. Kamu lihat memar di wajah aku, dia yang menghajar aku sampai begini," ujar Evan menunjukkan memar di beberapa tempat di tubuhnya. "Dia menghajar kamu?" tanya Karin kurang percaya. Setahu Karin, pak Dirga bukan tipe orang yang akan bersikap kasar. "Kenapa pak Dirga memukul kamu?" tanya Karin penasaran. "Tadi aku ingin menjamin Liana jika dia mau tetap bekerja sama dengan kita. Kamu kan tahu, pak Dirga itu menyukai Liana. Jadi aku berusaha membujuk dia mau membantu kita dan aku akan memberikan Liana untuk dia." "Kamu menjual Liana begitu saja?" "Iya." 'Pantas saja pak Dirga marah. Tidak semua orang akan berpikir bijak seperti dia. Lagian, kenapa Evan bisa ne
"Ada apa Pak Evan menemui saya?" "Pak Dirga, kenapa Bapak membatalkan proyek yang sudah kita buat?" "Proyek yang telah kita buat mengalami banyak kendala. Jika saya melanjutkan ini, maka hanya akan sia-sia." "Pak, saya masih bisa mengelola semua itu. Saya hanya perlu modal sedikit saja dari Bapak," pinta Evan menyakinkan Dirga. "Saya tidak mau melanjutkan lagi. Saya tidak ingin waktu saya terbuang sia-sia." Evan bingung harus bagaimana. Dia tidak ingin kehilangan pak Dirga. Hanya Dirga satu-satunya penolong. "Pak, tolong lah. Tolong berikan kesempatan buat saya sekali lagi," mohon Evan dengan bersujud. Evan rela bersujud. Dia akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaan. "Maaf Pak, perusahaan kami hanya memberikan kesempatan sekali saja. Orang di perusahaan kami menghindari resiko yang sangat berbahaya. Karena itu akan mempengaruhi perusahaan kami." "Pak, jika Bapak berjanji mau membantu saya maka saya akan melakukan apapun," ucap Evan dengan nekad. "Apa maksud Bapa







