LOGIN"Masa betina kota selemah ini? Di sukuku, betina bisa kawin sambil lari dikejar harimau, masa kamu gini aja udah nyerah-nyerah?" timpal Arya terus melakukan ritual purbanya.
Penghuni tubuh Arya, jarang sekali bisa menikmati keenakan seperti ini. Dirinya kemudian ingat sesuatu.
Pada masa lampau, dia sering bermain di atas batu, ranting. Setiap main pasti ada gesekan, atau minimal, paha lecet kena batu.
Pas lagi enak-enak main pun, ketika ada mammoth atau sejenis dinosaurus yang mengancam, permainan terpaksa ditunda. Sial memang, zaman dulu kalau main aja taruhannya nyawa.
Kadang waktu lagi main dan hasrat sudah membuncah tak bisa ditundah, mereka harus bermain sambil lari dikejar harimau. Sambil gendongan, satu ngatur nafas, satu ngatur tempo gerakan.
Pun jika dirinya atau betina ingin lanjut dan harimau ada dua, sudah pasti, permainan ini dilanjut di atas pohon yang tinggi, dan mereka duduk di tengah jepitan ranting.
Ya, gimana lagi, zaman dulu memang banyak bahaya.
Tapi yang pria itu nikmati sekarang adalah, dia bisa bermain tanpa bahaya sama sekali. Apalagi, kasurnya empuk, sudah seperti reruntuhan pohon kapuk yang disusun rapi.
Seiring berjalannya detik-detik yang memanas, rasa sakit di area sensitif Sonya perlahan menyusut habis. Rasa ngilu itu berganti menjadi aliran kenikmatan luar biasa yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya. Napas aktris terkenal itu mulai putus-putus dan dadanya naik turun dengan cepat.
"Arya, ampun, aku tahu kamu kepala suku, tapi nggak sampai kayak gini juga! Plis, plis, sumpah, aku bayar kamu tiga kali lipat, sama aku promosiin kamu ke temen-temenku. Plis, terus!" rancau Sonya sambil meremas kuat sprei kasur hingga kusut berantakan.
"Hahaha, bilang saja kamu sudah mulai suka, kan? Betina memang selalu gengsi kalau baru awal-awal!" ledek Arya sambil memberikan senyuman mengejek.
"Ahhh! Iya, aku ngaku aku suka!" pinta Sonya yang akhirnya menyerah total pada hasratnya sendiri.
Arya tersenyum puas mendengar pengakuan jujur itu. Pria itu langsung menuruti permintaan Sonya tanpa membuang waktu.
Detik demi detik terus berlalu tanpa tanda-tanda berhenti sama sekali.
Tenaga Arya seolah tidak ada habisnya layaknya mesin giling raksasa. Keringat membasahi seluruh tubuh mereka berdua hingga saling menempel erat.
Tepat pada detik berikutnya, tubuh Sonya mengejang hebat seperti tersengat petir, diikuti dengan Arya yang juga merasakan hal serupa. Keduanya bernapas tersengal-sengal di atas kasur yang sudah basah oleh keringat.
Sonya langsung lemas dan memejamkan matanya rapat-rapat karena kelelahan luar biasa.
Melihat betina di bawahnya diam tak berkutik, Arya hanya tertawa pelan dan menepuk paha Sonya. Dia merasa sangat lengket dan gerah karena keringat membanjiri sekujur badannya.
"Argh, emang wanita zaman sekarang kayak gini, ya? Badan bagus, molek, putih, beda banget sama gadis-gadis masa purba dulu. Tapi, mereka ga tahan lama. Percuma kayaknya, kalau cantik aja. Mending aku cari gadis-gadis lain yang lebih kuat!" batin Arya setelah membaringkan tubuh Sonya di atas ranjang.
Pria itu menyingkirkan tubuh Sonya dengan pelan, lalu Arya berjalan tanpa busana mencari sumber mata air di dalam ruangan aneh itu.
Langkahnya terhenti sempurna di depan sebuah pintu kaca transparan.
Di balik kaca itu, Arya melihat benda putih berbentuk mangkuk besar menempel kuat di lantai. Lalu ada tiang besi panjang menancap di tembok atasnya.
"Wah, pasti ini tempat khusus buat minum dan mandi para pejantan elit kayak si Arya! Tapi kok bentuknya aneh banget dan kecil begini? Zaman dulu, semua batu sama kayu, ini benar-benar gila!" gumam Arya sambil menggaruk dadanya yang dipenuhi keringat.
Tanpa ragu sedikit pun, Arya berjalan jongkok mendekati mangkuk putih tersebut. Dia menjulurkan lidahnya dan bersiap meminum air genangan dari lubang toilet itu. Namun, kaki kasarnya tidak sengaja menginjak pedal aneh di lantai samping mangkuk.
Air di dalam mangkuk itu tiba-tiba berputar kencang, menyusut, dan mengeluarkan suara sedotan sangat keras menakutkan.
"Gila! Airnya disedot monster pusaran batu! Aduh, kabur, ini kayak belalang sembah, nanti gigit!" teriak Arya sambil melompat mundur karena kaget setengah mati melihat kejadian horor itu.
Arya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tiang besi panjang di dinding seberang. Tangan kasarnya iseng meraih dan memutar sebuah tuas kecil di dekat tiang shower itu. Dia tidak tahu itu benda apa dan coba memutar tuasnya ke arah merah, sebelum akhirnya tuas itu mengeluarkan air.
Seketika itu juga, air jernih menyembur deras dari atas tepat mengenai kepalanya.
Pria purba itu kembali menjerit panik melolong-lolong. "Tolong, tolong, Dewa jangan turunkan hujan di dalam gua ajaib ini! Dewa, kenapa hujan ini sangat panas? Dewa, apa kau marah denganku karena aku tidak segera membuat anak?"
Arya masih berlarian di dalam kamar.
Melihat tingkah Arya, tentu Sonya sedikit curiga. Arya yang dia kenal, sangat-sangat culun dan gampang keluar walau hanya dimainkan pakai tangan. Masalahnya, setiap kali Sonya menyewa Arya, dia hanya ingin curhat saja.
Tapi malam ini jauh berbeda bagi Sonya, Arya memberinya servis setara gigolo bintang lima. Bukan, bukan bintang lima. Sonya bisa memberinya bintang sepuluh kalau ada.
Saat ingin menghentikan Arya yang masih loncat-loncat dengan badan sedikit memerah karena air shower, dia tidak bisa berbuat banyak ketika Arya kembali mendorongnya ke ranjang.
Napas Arya memburu kencang mencari udara segar. Dia merasa bahwa goa ini sangat berbahaya, penuh dengan sihir jahat, dan tidak masuk akal.
Insting survivalnya berkata, dia harus segera melarikan diri dari tempat ini secepat mungkin.
Pria itu melihat sepotong kemeja tipis milik Arya asli tergeletak di lantai dekat sofa. Dia mencoba memakai kemeja berwarna merah marun itu dengan susah payah.
Namun, otot dada dan lengannya yang kini mengembang efek jiwa purba membuat kemeja itu langsung robek parah di bagian kancing dan ketiak.
"Baju macam apa ini? Sempit banget dan bikin dada sesak napas! Sialan, aku harus cari padang rumput, goa ini penuh sihir. Aku nggak mau dikutuk Dewata!" gerutu Arya jengkel luar biasa.
Kemudian, Arya melempar sisa kemeja robek itu ke sembarang arah hingga tersangkut di atas lampu tidur.
Tanpa mengenakan sehelai benang pun, Arya membuka pintu kamar VIP itu dengan sekali tarikan keras tak terkira. Pintu tebal berpelitur mahal itu sampai terlepas dari engselnya dan berdebum jatuh ke lantai.
Arya melangkah santai keluar ke lorong klab malam yang sangat terang benderang.
Di sepanjang lorong itu, belasan wanita hidung belang elit dan staf klab sedang berjalan hilir mudik.
Mereka semua menghentikan langkah seketika secara bersamaan. Mata mereka melotot sempurna melihat kemunculan sosok pria kekar yang baru saja menghancurkan pintu kamar VVIP.
"Astaga naga! Itu si Arya, kan? Kenapa dia PD banget tanpa busana, mana bawa pusaka segede botol kecap."
Dua bodyguard bule raksasa itu sontak maju selangkah memasang badan tegap menghalangi jalur jalannya."Minggir!" Arya mendesis tajam memberikan peringatan mematikan untuk kedua pria asing tersebut."Kalian berdua pejantan bule kelebihan lemak mending minggir dari hadapanku sekarang juga sebelum terlambat! Jangan sampai aku mematahkan leher besar kalian persis seperti matahin ranting kering di dalam hutan sana!"Tentu saja kedua bule sombong itu tidak paham bahasa Arya dan malah balik mendorong dada bidang sang kepala suku. Hanya bermodalkan satu sapuan punggung tangan kosongnya, Arya membalas dorongan pelan itu. Kedua bodyguard berbadan terlatih tersebut seketika terpental jauh mundur belasan langkah ke arah belakang.Punggung raksasa kedua bule itu menabrak tembok ruangan marmer sampai berbunyi retakan luar biasa kencang.Karina langsung membelalakkan matanya lebar-lebar saking shock berat melihat pemandangan ajaib barusan. Jarak antara sang ratu es dan sang kepala suku kini tersisa
Sisca sontak mendongakkan kepalanya ke atas dan tertawa terbahak-bahak tanpa canggung. Wanita bergaun merah marun itu menggeser posisi duduknya menempel sangat rapat ke paha berotot Arya."Ya ampun, Arya! Kita ini lagi asyik baca komentar netijen-netijen di internet tentang kamu. Coba deh kamu lihat medsos sekarang juga, biar kamu liat sendiri. Video pas kamu berantem sama preman-preman tadi udah ditonton dua juta orang se-Indonesia, kamu viral banget loh!"Bola mata Arya terbelalak hingga nyaris keluar tepat ketika dia melihat layar ponsel tersebut. Jantung sang kepala suku berdegup super kencang berdebar-debar merasakan ketakutan luar biasa."Sihir!" Arya refleks melompat jauh ke belakang menabrak dinding marmer dengan bantingan keras."Gila, kalian semua, betina kota emang suka main ilmu hitam, ya! Benda sihir mematikan apa yang kalian pegang? Kenapa wajah dan seluruh tubuhku bisa ditarik masuk ke dalam kotak kecil bercahaya itu dengan gampang? Cepetan hancurin batunya! Keluarin ji
Tanpa menunggu balasan Arya, Sonya segera menarik kencang tangan pria yang masih menjilati sisa saus di jarinya itu. Mereka berdua bergegas lari kabur menuju mobil dan meninggalkan restoran sebelum polisi datang.Sesampainya di area depan klab milik Sisca, suasana mendadak riuh menyambut kedatangan mereka.Rumor tentang keperkasaan Arya melempar pengusaha dan staminanya di kamar VVIP sudah menyebar luas. Banyak LC elit dan tamu kaya raya sengaja berkumpul padat di depan pintu masuk."Wah, itu dia si Arya yang lagi viral diomongin! Katanya tenaganya brutal banget dan staminanya nggak ada matinya, ya?" goda seorang LC muda sambil mengedipkan matanya genit ke arah Arya."Minggir kalian semua, kalian ini LC murha, beda sama kita. Minggir, cepat, dasar pelayan klab! Arya, mending temenin tante malam ini di hotel paling mewah. Tante bakal langsung beliin kamu mobil sport baru asalkan kamu bisa bikin tante puas sampai pagi!" sahut wanita paruh baya berdandan menor dari barisan depan.Mendapa
Melihat kelakuan barbar itu, Sonya langsung menjerit histeris. Aktris itu buru-buru merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi laju tubuh besar Arya."Berhenti, Arya! Ini tuh mobil buat jalan-jalan di kota, benda ini aman dan nggak bakal gigit kamu sama sekali!" omel Sonya sambil memelototi wajah Arya kesal. "Kalau kamu pukul mobil ini, kepalamu yang ganti aku pukul pakai hak sepatu!""Mobil itu fungsinya mirip kuda raksasa yang bisa lari cepat. Emang ya, dasar orang Purba! Kamu duduk tenang aja di kursi, nanti monster ini bakal bawa kita ke tempat makanan. Udah, jangan banyak tingkah, atau kamu ga jadi makan daging!"Setelah mendengar omelan panjang itu, perlahan Arya menurunkan kepalan tangannya dengan ragu-ragu. Pria itu masih menyempatkan diri mengendus-endus bagian pintu mobil untuk mencari tahu apakah ada bahaya."Kuda raksasa apaan ini? Badannya keras banget dan dingin pas aku pegang," ucap Arya sambil duduk pelan-pelan di kursi penumpang. "Oke, aku naik ke perut monster in
Tanpa menunggu persetujuan, tangan kekar Arya langsung melingkar kuat di pinggang ramping Sisca. Wanita pemilik klab itu menjerit kaget saat tubuhnya ditarik paksa. Tubuh Sisca langsung menempel rapat pada dada bidang Arya yang penuh keringat."Lepaskan aku, Arya! Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu ya! Berani-beraninya kamu menyentuh bosmu sendiri di depan semua orang!" ronta Sisca sambil berusaha memukul pundak raksasa pria itu sekuat tenaga."Lepaskan tangan kotor ini dari tubuhku sekarang juga! Aku janji akan memecatmu dan membuat hidupmu menderita selamanya!"Arya mengabaikan pukulan lemah Sisca sama sekali. Pria purba itu langsung membopong tubuh montok wanita itu di atas bahu kanannya dengan sangat mudah."Tunjukkan di mana sarangmu, Betina! Kita selesaikan urusan aroma gairah ini di ruang kerjamu saja. Sebagai kepala suku yang baik, aku harus memastikan betinaku mendapat kepuasan batin, bahkan kalau perlu, sampai kamu pingsan!!""Turunkan aku, dasar cowok gila! Kali
Seketika suasana lorong VVIP itu berubah menjadi sangat kacau balau. Beberapa wanita berpakaian ketat langsung menjerit keras sambil menutup mata mereka rapat-rapat."Mau pamer kalau punya dia gede kali ya, mentang-mentang lorong VVIP isi cewek cakep semua!" teriak seorang wanita gemuk dengan riasan menor sambil menutup mulutnya, tak percaya.Tentu saja mereka kaget melihat Arya berjalan sangat percaya diri, tanpa pakaian, dengan cacing besar alaska miliknya yang menyapa para pengunjung.Meskipun begitu, ada juga wanita hidung belang yang justru sengaja membuka celah jarinya lebar-lebar. Mereka malah mengintip Arya sambil menelan ludah berkali-kali, melihat betapa bagusnya bentukan traktor Arya.Padahal, selama ini Arya dirumorkan traktornya ga bisa nyala. Atau ya, kalau nyala, palingan cepat lowbet karena dua menit saja sudah keluar.Berbeda dengan si pria Purba dalam diri Arya, dia sama sekali tidak peduli traktornya yang sangat besar dan menyita perhatian. Purba satu ini malah teru