LOGINSuara gemuruh mesin diesel raksasa itu semakin keras merobek kesunyian fajar di desa Sukamaju. Getaran mekanisnya merambat melalui fondasi tanah dan membuat kaca jendela rumah Silvi bergetar hingga mulai retak.
Tresna terdiam merasakan denyut di pelipisnya yang semakin kencang seirama dengan deru mesin penghancur tersebut. Ia seolah sedang menghitung mundur waktu kehancuran klinik tempat pengabdiannya selama bertahu
Tresna menumpu beban tubuh dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat tepian bata, urat-urat di lengan kekarnya menonjol hebat saat ia mulai memacu kecepatan dorongan pinggul dengan ritme presisi serta bertenaga.Setiap hentakan pria itu memberikan sensasi benturan fisik yang konstan pada dasar sawah milik Linda, menciptakan suara gesekan kulit basah serta memabukkan di tengah kesunyian malam.Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya mendongak ke arah langit sementara jemarinya mencengkeram permukaan batu berlumut di belakang punggung. Ia berusaha menahan aliran nikmat yang menjalar laksana arus listrik, menyetrum seluruh saraf hingga ke ujung kaki."Nghhh... Mas... Mas Tresna... hhh... pelan sedikit... ahh..." rintih Linda dengan suara serak dan terputus-putus."Tahan, Sayang... nikmatin aja..." balas sang mantri lewat nada berat yang sarat gairah maskulin.Pria ini tidak mengurangi tempo, ia justru semakin menggila. Dua bukit kembar Linda yang besar serta padat terus bergunca
"Oohh, Linda... kamu sempit banget... nghhh..." desah Tresna dengan suara berat yang tertahan di tenggorokan.Linda merasakan gelombang kenikmatan yang semakin liar menyambar pusat kesadarannya. Dorongan Tresna kini jadi lebih bertenaga, menghujam dalam hingga ke dasar terdalam pintu sawahnya.Gadis itu sampai menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan suara supaya tidak terdengar oleh Silvi ataupun Tante Arum di dalam rumah joglo. Ia tidak ingin momen sakral ini terganggu oleh siapa pun."Nghhh... Mas... sshhh... jangan berhenti," rintih Linda di sela gigitan bibirnya. Tangannya merayap naik, mencengkeram bahu Tresna yang keras laksana batu karang, membiarkan kuku-kukunya sedikit menekan kulit sang pria."Enak? Heumm?" tanya Tresna sambil terus memacu pinggulnya dengan kecepatan yang meningkat."Enak... ahh... enak banget, Mas... hhh... terusin..." jawab Linda dengan napas yang terputus-putus. Tubuhnya melengkung mengikuti setiap hentakan Tresna yang tanpa ampun.Setiap kali pusaka b
Kulit Linda yang halus nampak berkilau laksana porselen mahal di bawah sinar rembulan, menciptakan kontras yang sangat indah dengan bayang-bayang pohon kamboja. Tresna terpaku melihat keindahan di depannya, sebuah mahakarya Tuhan yang selalu berhasil meluluhkan sisi liarnya."Kamu cantik banget. Selalu cantik," bisik Tresna dengan napas yang mulai memberat.Linda mendekat, membiarkan dada indahnya yang kenyal bersentuhan langsung dengan kulit dada Tresna yang panas. Ia membantu melepaskan sisa kemeja dan celana panjang Tresna yang sudah tidak berbentuk lagi, lalu memeluk tubuh kekar pria telanjang itu dengan sangat erat. Rasa hangat dari tubuh Tresna yang membara karena sisa adrenalin menyatu dengan kedinginan air sumur di kulit Linda.Di bawah naungan pohon kamboja yang harum, mereka seolah melupakan sejenak ancaman juru sita dan darah yang baru saja tumpah. Dunia seakan mengerucut hanya pada mereka berdua, di mana setiap sentuhan menjadi bahasa bisu yang lebih kuat dari sekadar kata
Silvi yang menyadari situasi tersebut langsung mengerti. Ia tahu kalau Linda dan Tresna butuh waktu pribadi buat saling menguatkan setelah kejadian mengerikan di kebun tebu tadi."Aku masuk duluan ya, Mas. Mau langsung bersihin diri di kamar mandi dalam. Badan aku udah lengket semua kena asap sama lumpur," ucap Silvi sambil tersenyum tipis ke arah Linda."Iya, Sil. Tolong sekalian siapkan kain bersih ya di dalam," sahut Tresna.Silvi mengangguk cepat lalu melangkah masuk ke dalam rumah joglo, meninggalkan Tresna dan Linda di bawah bayang-bayang sumur tua yang dingin.Di bawah cahaya bulan yang mulai meredup, Linda kembali menatap Tresna dengan pandangan yang dalam. Seolah-olah ia ingin menyimpan setiap inci garis wajah pria itu sebelum badai juru sita datang menghancurkan segalanya besok pagi."Mas... kita bakal hadapi ini bareng-bareng, kan?" tanya Linda sambil merapatkan tubuhnya pada dada bidang Tresna yang masih terasa panas.Tresna terdiam. Ia hanya bisa menatap dalam ke arah sum
"Tresna, kamu cuma punya batas waktu dua puluh empat jam untuk mengosongkan rumah joglo tua kakek Linda sebelum tim juru sita datang dengan pengawalan ketat."Kabar itu seperti hantaman godam yang lebih menyakitkan daripada tendangan sepatu bot para pembunuh tadi. Di tengah puing gubuk yang masih berasap, Tresna menyadari kalau musuh yang dia hadapi sekarang bukan lagi otot dan senjata, melainkan kertas dan kekuasaan yang bisa menghancurkan hidup mereka tanpa perlu menumpahkan darah."Dua puluh empat jam?!" pekik Silvi yang berdiri di samping mereka. "Itu gila! Mas Tresna baru aja bertaruh nyawa, dan sekarang kalian mau mengusir dia kayak pengemis?"Para warga desa yang mendengar kabar tersebut langsung menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Suasana yang tadinya riuh karena kemenangan mendadak berubah jadi duka yang mendalam. Mereka merasa sangat iba sama nasib buruk sang mantri. Pria yang baru saja melindungi mereka dari maut, kini justru harus kehilangan tempat berteduhnya di tanah
Bara api dari gubuk yang mulai padam menciptakan siluet kemerahan di wajah Tresna yang bersimbah darah dan lumpur. Di tengah ladang tebu yang berbau sangit, napas Tresna masih memburu, namun tangannya tetap terentang kokoh menyambut Linda yang berlari ke arahnya dengan isak tangis lega.Pelukan wanita itu begitu erat, seolah takut kalau ia melepaskannya sedetik saja, sosok pria di depannya bakal menghilang ditelan kegelapan malam.AKP Darmawan menarik napas panjang, mencoba menstabilkan degup jantungnya yang tak karuan. Ia menyapu pandangan ke arah tiga tubuh kekar yang tergeletak tak berdaya di atas tanah berlumpur. Kekuatan fisik Tresna benar-benar di luar nalar, ia baru saja menumbangkan pembunuh profesional cuma dengan modal nekat dan kecerdikan mengolah hasil alam."Pak RT! Kang Dadang! Jangan biarin mereka kabur!" perintah perwira polisi itu dengan suara bariton yang kembali berwibawa meski seragamnya carut-marut."Siap, Pak!" sahut Kang Dadang dengan penuh semangat. Dia beralih
Linda menegaskan bahwa ia tidak mau dianggap sebagai wanita yang lemah hanya karena harus dilindungi oleh seorang mantri desa seperti Tresna. Ia merasa martabatnya sebagai putri orang terpandang harus tetap terjaga meski ia baru saja mengalami kejadian yang sangat memalukan."Apalagi berhutang budi
Lingerie merah marun yang dikenakan Arum akhirnya melorot sepenuhnya. Kain tipis itu jatuh, bertumpuk di batas pinggang rampingnya yang putih bersih. Pemandangan itu seketika memamerkan seluruh tubuh bagian atas Arum yang polos.Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, kulitnya nampak sangat ranum.
Wajah Pak Karyo langsung berubah merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air mendidih. Ia merasa harga dirinya sebagai lelaki terhormat di desa Sukamaju hancur berkeping-keping karena dipermalukan soal ukuran pusakanya di depan warga.Bapak-bapak yang tadi tertawa mengejek Tr
Arum mendadak menghentikan kalimatnya yang menggantung. Seolah tersadar bahwa udara di dapur malam itu sudah terlalu panas untuk mereka berdua.Ia melepaskan elusannya pada Si Gatot, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan nadanya. Senyum tipi







