Share

Bab 170

Author: Prince Molina
last update publish date: 2026-04-06 14:27:14

Suasana di belakang rumah joglo tua itu mendadak mendingin, bukan karena embusan angin malam, melainkan beratnya rahasia yang baru saja jatuh ke pangkuan Tresna. Kotak kayu kecil berbentuk pipih itu terasa berat, seolah menyimpan beban sejarah yang telah terkubur puluhan tahun di balik lumut sumur tua.

Tresna mengambil kotak kayu pipih tersebut dari atas pangkuannya dengan tangan yang masih gemetar hebat, sebuah getaran perpaduan antara sisa kelelahan fisik setelah pergumulan binal dengan Linda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 337

    Clara ikut mencondongkan tubuhnya, membaca isi surat tersebut dengan kening berkerut dalam. "Jalur hijau? Perluasan proyek pemerintah daerah?""Betul sekali," sahut petugas itu dengan senyuman sinis. "Area tanah wakaf klinik ini sudah masuk rencana proyek jalur hijau pemerintah daerah, hak pengelolaannya bahkan sudah dibeli secara sah oleh perusahaan pengolah limbah tingkat kabupaten.""Nggak bisa begitu! Tanah ini tanah wakaf desa yang sah untuk fasilitas kesehatan warga!" protes Linda keras sambil menunjuk dokumen di tangannya, "Lihat ini! Tanda tangan persetujuan pelepasan hak tanah di berkas ini... ini tanda tangan Pak Darto!""Ya, memangnya kenapa kalau itu tanda tangan Sekretaris Desa?" tanya petugas itu santai, melipat kedua tangannya di depan dada."Pak Darto itu mantan sekretaris desa yang sudah dipecat secara tidak hormat karena korupsi dan suap dari perusahaan limbah itu! Surat ini dibuat secara ilegal sebelum dia resmi diberhentikan, jadi tanda tangan ini nggak memiliki ni

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 336

    "Duh, Mas... lemas semuaku kalau kamu sudah menghantam sampai dalam begitu," bisik Silvi manja, tangannya bergerak pelan mengusap sisa keringat di perut berkotak sang mantri desa.Tresna terkekeh rendah, membalasnya dengan elusan lembut di rambut hitam Silvi sebelum mengecup kening janda itu sekilas. "Katanya tadi nggak rela kalau digantung. Sekarang malah ngeluh lemas.""Ya kan nggak ngira kalau bakal sekuat itu, Mas. Sampai mau copot rasanya pinggangku," sahut Silvi dengan senyuman menggoda, meskipun tubuh polosnya tetap enggan bergeser dari dekapan hangat Tresna."Sudah, ayo rapikan pakaianmu. Matahari sudah mulai naik, nggak enak kalau warga atau Linda dan Clara sampai melihat kita keluar dari sini dengan keadaan begini," kata Tresna lembut penuh wibawa. Pria itu perlahan mengurai pelukan mereka untuk mengambil celana jinsnya di atas tumpukan karung padi.Silvi mengerucutkan bibirnya sedikit karena agak tidak rela momen manjanya berakhir secepat ini. Namun, janda kembang itu tetap

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 335

    Silvi yang sudah berada di ujung tanduk kenikmatan langsung membuka matanya dengan napas memburu parah, wajahnya merengut kesal karena digantung begitu saja."Kenapa berhenti, Mas? Kamu nggak mau punya anak sama aku?" tuntut Silvi dengan nada manja yang bercampur kesal, membalikkan sedikit kepalanya menatap Tresna.Tresna tidak langsung menjawab, dia hanya terdiam dengan napas berat yang memburu di atas punggung Silvi. Pikiran sang mantri desa mendadak berkecamuk hebat, membuatnya bingung dan terjebak dalam dilema yang pelik.Di satu sisi, Tresna merasa belum siap. Karso memang sudah berhasil di bereskan ketika juragan sombong itu tertimbun gua, tapi nasib desa Sukamaju jelas belum sepenuhnya aman dari sisa-sisa anak buahnya yang masih berkeliaran di luar sana.Lagipula, menuruti kemauan Silvi sama saja dengan mengikat diri. Memiliki anak berarti dia harus menikahi janda kembang itu.Sementara di lubuk hatinya yang paling dalam, Tresna sadar ada perasaan wanita lain yang dipertaruhkan

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 334

    "Duh, kalau buat melayani Mas Tresna, rasa capekku langsung hilang," bisik Silvi manja, tangannya terjulur menarik kerah jaket hitam tebal Tresna masuk ke dalam kehangatan tumpukan karung padi.Tresna tidak memberikan jawaban lewat kata-kata. Dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya langsung menjulur, merengkuh pinggang ramping Silvi dan menariknya hingga tubuh padat janda kembang itu menempel sempurna pada dada bidangnya."Aduh, Mas... kok langsung buru-buru begini," desah Silvi lirih, matanya sayu menatap wajah tegap Tresna dalam keremangan lumbung."Kamu sendiri yang mulai, Sil. Jangan nyesel ya kalau besok pagi kakimu sampai lemas nggak bisa jalan," kekeh Tresna, suaranya berat penuh dominasi jantan yang pekat."Memangnya aku kelihatan mau kabur? Aku malah mau dikurung terus sama kamu di sini, Mas," rintih Silvi, jemarinya mulai mengelus rahang tegas sang mantri desa.Tresna tidak membiarkan Silvi bicara lebih banyak lagi. Dia menundukkan kepalanya, membungkam bibir tipis Silvi

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 333

    Terdengar suara tangisan histeris Mbah Tejo, sesepuh desa yang bertugas menjaga barak darurat di sebelah klinik. Pria tua itu memukul-mukul kaca jendela dengan wajah yang bersimbah air mata dan dipenuhi kepanikan luar biasa."Mbah Tejo? Ada apa, Mbah?!" tanya Tresna, sedikit membuka celah jendela tanpa melepaskan kendali energinya pada wadah obat."Anak-anak pengungsi, Mas! Tiga anak dari desa seberang mendadak berhenti bernapas di dalam barak! Kulit mereka sudah membiru semua, Mas!" lapor Mbah Tejo dengan suara gemetar hebat, meratapi kondisi para korban yang kian kritis di luar."Gusti... bakterinya sudah menyerang pusat saraf pernapasan mereka, Mas!" pekik Clara spontan, wajah dokternya seketika pucat pasi mendengar laporan tersebut. "Kalau dalam lima menit mereka nggak dapat penawar ini, mereka nggak akan bisa diselamatkan lagi!""Clara, selesaikan sisa campurannya sekarang juga! Biar aku yang urus anak-anak itu duluan!" perintah Tresna dengan suara bariton yang menggelegar penuh

  • Pusaka Idaman Gadis Desa   Bab 332

    Tresna berlari sekencang mungkin membelah jalanan setapak desa, diikuti Clara dan Silvi yang bersusah payah mengejar dengan pakaian yang masih basah kuyup. Begitu mereka tiba di depan halaman klinik, pemandangan di sana jauh lebih kacau dari yang dibayangkan.Asap hitam pekat ternyata berasal dari tumpukan ban bekas yang sengaja dibakar di depan pagar pembatas. Di sana, sudah berkumpul kerumunan ratusan warga dari desa seberang yang berteriak histeris dengan wajah beringas."Keluar kamu, Mantri Sialan! Berikan obatnya pada kami!" teriak seorang pria berkaus dekil sambil mengacungkan sebatang kayu besar."Jangan biarkan warga desa seberang mati kelaparan dan membusuk karena karantina ini! Kalian sengaja mau membunuh kami?!" sahut warga lainnya, menyulut api lebih besar ke tumpukan ban."Mundur kalian semua! Jangan bikin rusuh di sini!" bentak beberapa pemuda karang taruna Sukamaju yang mencoba menahan pagar pembatas agar nggak jebol."Mas Tresna! Gusti... banyakkk banget orangnya!" pek

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status