Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 129: Lelaki Sejati Menjaga Kesucian Cinta

Share

Bab 129: Lelaki Sejati Menjaga Kesucian Cinta

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-06-07 03:22:36

​Retakan gempa merah muda dan kurungan kawat baja bermuatan listrik pembuahan tsunami itu seketika hancur berkeping-keping menjadi debu jalanan setelah dihantam oleh tendangan kaki kanan Madun yang luar biasa kokoh, membuat seluruh kepungan mistis gaib itu lenyap tak berbekas dari atas aspal panas Bali fajar ini. Madun langsung membuang jauh-jauh sisa bahasa kemayunya yang biasa dia pakai, merombak total gaya bicaranya menjadi seratus persen jantan sejati yang sanggup menggetarkan jiwa wanita m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 400: Tantangan Putri Pemilik Toko Jamu Pesaing

    ​Pukul 10.00 pagi, Minggu, 18 Oktober 2026. Matahari pagi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bersinar hangat, memantulkan bias cahaya keemasan di atas aspal jalanan protokol yang mulai lenggang. Suasana di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa terasa begitu tenang dan damai, menyisakan aroma sedap sisa arang pemanggang yang bercampur dengan sejuknya hembusan pendingin ruangan.​Vanesha, sang permaisuri Menteng, berdiri di balik meja kasir utama mengenakan apron bersih bernuansa krem, sibuk menyusun laporan keuangan mingguan kedai. Sesekali, permaisuri berwibawa itu mengangkat kepalanya, mengawasi jalanan di depan kedai melalui jendela kaca besar.​Tiba-tiba, ketenangan pagi itu terusik oleh suara mesin diesel berukuran sedang yang menderu pelan. Sebuah mobil boks herbal berdesain modern dengan tulisan mencolok berlogo “Toko Jamu Akar Maut – Pusat Herbal Legendaris Jakarta” berhenti tepat di depan halaman kedai.​Screeeet... Thud.​Pintu mobil boks terbuka, dan sesosok gadis muda berambu

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 399: Festival Kuliner Malam Minggu di Menteng

    ​Pukul 17.00 sore, Sabtu, 17 Oktober 2026. Matahari petang perlahan mulai turun di ufuk barat kota Jakarta, menyisakan bias jingga keemasan yang memantul di atas gedung-gedung tinggi kawasan Menteng. Namun, di sepanjang jalur protokol yang biasanya lenggang setiap akhir pekan, suasana justru berubah menjadi lautan manusia yang sangat meriah. Hari itu adalah malam puncak perhelatan "Festival Kuliner Malam Minggu Menteng 2026"—sebuah bazar jajanan jalanan terbesar yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah kota bersama asosiasi kuliner elite ibu kota.​Ribuan pengunjung dari berbagai penjuru Jakarta, mulai dari pekerja kantoran, keluarga muda, hingga gerombolan muda-mudi gaul, tumpah ruah memadati jalanan yang telah disulap menjadi area pejalan kaki penuh lampu warna-warni dan deretan stan makanan yang berjejer rapi.​Di antara ratusan stan kuliner yang berpartisipasi, terdapat satu stan paling megah, paling luas, dan paling strategis yang berdiri tepat di titik tengah pusat festival

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 398: Ujian Kesetiaan Sang Jagoan Menteng

    ​Pukul 10.00 pagi, Rabu, 14 Oktober 2026. Udara pagi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa hangat dan cerah, menyinari jalanan protokol yang mulai dipadati oleh lalu-lalang kendaraan. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, suasana persiapan kedai menjelang jam makan siang berjalan dengan teratur. Vanesha, sang permaisuri Menteng, berdiri di balik meja kasir utama mengenakan apron bersih, mengawasi para pegawai yang sedang menata meja dan membersihkan area kedai.​Tiba-tiba, ketenangan pagi itu terusik oleh suara deru mesin mobil sedan mewah pabrikan Eropa berwarna putih mutiara yang melambat, lalu menepi dengan elegan tepat di depan halaman kedai.​Screeeet... Thud.​Pintu mobil terbuka, dan sesosok wanita paruh baya berpenampilan super glamor melangkah keluar. Wanita itu mengenakan gaun desainer kelas atas berenda emas, kacamata hitam besar bermerek desainer dunia, serta perhiasan berlian yang berkilauan di pergelangan tangan dan lehernya. Ia berjalan dengan langkah anggun penuh

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 397: Kontes Masak Antar-Kecamatan dan Ujian Iman Sang Jagoan

    ​Pukul 08.00 pagi, Selasa, 13 Oktober 2026. Udara pagi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu segar, diselingi deru kendaraan yang mulai memadati jalan protokol ibu kota. Namun, suasana di halaman depan istana kuliner RM Jagoan Rasa tampak jauh lebih semarak dari biasanya. Spanduk berukuran besar berwarna merah-putih terbentang megah di atas kanopi kedai, bertuliskan: “Festival Kuliner Nusantara & Kontes Masak Antar-Kecamatan se-Jakarta Pusat 2026”.​Di bagian tengah halaman depan, beberapa meja besar berhiaskan taplak putih telah disiapkan berdampingan dengan bilik-bilik memasak portabel. Puluhan peserta dari berbagai kecamatan tampak sibuk mempersiapkan bumbu, kompor gas mini, dan bahan-bahan masakan segar.​Vanesha, sang permaisuri Menteng, berdiri di dekat meja juri kehormatan dengan balutan apron putih bersih dan kerudung kepala modis yang elegan. Wajahnya memancarkan wibawa tingkat tinggi seorang pemimpin yang memastikan seluruh rangkaian acara berjalan tanpa cela. Ses

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 396: Insiden Kopi Tumpah di Meja Nomor Tiga

    ​Pukul 12.30 siang, Senin, 12 Oktober 2026. Matahari siang di langit kawasan Menteng, Jakarta Pusat, bersinar sangat terang, memantulkan cahaya menyengat ke atas aspal jalanan ibu kota yang mulai padat oleh kendaraan bermotor. Di dalam istana kuliner RM Jagoan Rasa, suasana jam makan siang pasca-acara arisan sosialita pagi tadi kembali berputar normal dengan ritme yang jauh lebih dinamis. Pintu kaca utama kedai dibuka lebar-lebar, membiarkan aroma harum rempah sate jando berpadu dengan gulai kambing mengepul keluar, menarik minat para pebisnis, pekerja kantoran elit, hingga kaum muda mudi ibukota yang memadati meja-meja kayu jati kedai.​Di balik meja kasir utama, Vanesha berdiri dengan balutan apron bersih dan senyuman ramah penuh wibawa. Permaisuri Menteng itu mengatur setiap lembar nota pesanan dengan sangat cekatan, memastikan roda operasional kedai berjalan tanpa celah sedikit pun di bawah pengawasannya yang tajam.​Tepat pada pukul 12.45 siang, pintu kedai berdering nyaring meny

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 395: Arisan Ibu-Ibu dan Anak Gadisnya

    ​Pukul 09.00 pagi, Senin, 12 Oktober 2026. Suasana di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, terasa cerah dan segar di awal pekan. Namun, ada yang berbeda dari pemandangan di depan istana kuliner RM Jagoan Rasa. Pintu kaca utama kedai ditutup rapat, dan sebuah plang bertuliskan “Reserved: Private Event - Arisan Sosialita Menteng” tergantung rapi di gagang pintu.​Di bagian dalam kedai, suasana tampak sangat sibuk dan elegan. Vanesha, sang permaisuri Menteng, mengenakan dress rumahan bercorak batik modern berbalut apron bersih. Ia memimpin langsung para pelayan kedai untuk menata ulang tata letak meja panjang di ruang tengah. Kursi-kursi kayu jati diatur sedemikian rupa dengan taplak meja putih bersih, dihiasi vas bunga segar di setiap sudutnya, mengubah warung sate andalan Menteng itu menjadi ruang pertemuan eksklusif kelas atas.​"Pastikan AC-nya diatur di suhu dua puluh derajat, jangan sampai kepanasan. Ibu-ibu sosialita Menteng itu paling sensitif kalau gerah sedikit," instruksi Vanesha k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status