登入Keheningan yang mencekam sempat mencengkeram area pos ronda di hadapan para warga desa setelah pengakuan blak-blakan terlontar dari bibir Nabila. Udara pagi yang terik mendadak terasa kaku, dipenuhi oleh napas tertahan dari bapak-bapak dan para tetua kampung yang mematung kebingungan. Ancaman kemarahan besar yang dibayangkan sebelumnya ternyata runtuh dalam sekejap, membuktikan bahwa situasi yang pelik di mata orang luar ternyata tidak serumit yang dikira.Pak RT, yang berdiri paling depan dengan tongkat kayu di genggamannya, menurunkan perlahan tangannya yang tadinya menunjuk ke arah Madun. Kerutan di dahi pria paruh baya itu mengendur, digantikan oleh helaian napas panjang yang terdengar pasrah. Sebagai sesepuh desa yang sudah kenyang asam garam kehidupan, ia tahu persis bahwa memaksakan kehendak pada dua insan yang sudah tersihir oleh gelora asmara dan candu duniawi adalah hal yang sia-sia."Kamu ini... benar-benar ya, Nabila..." gumam Pak RT pelan, menggelengkan kepalanya lemah
Matahari telah naik sepenggalah, memancarkan sinarnya yang terik dan membakar ubun-ubun di atas perbukitan. Di dalam gua tersembunyi yang menjadi tempat persembunyian mereka semalaman, udara dingin sisa hujan badai perlahan berganti dengan kehangatan hari yang baru. Madun berdiri di dekat mulut gua, merapikan pakaiannya yang telah kering, sementara Nabila berdiri tepat di belakangnya, menatap punggung bidang sang pria dengan binar mata yang menyiratkan rasa kagum sekaligus ketergantungan mutlak.Namun, ketenangan di atas tebing batu itu tidak mungkin berlangsung selamanya. Di kejauhan, dari arah jalan setapak bawah bukit, samar-samar terdengar suara teriakan beberapa orang warga yang memanggil nama Nabila bersahut-sahutan. Gema suara itu terbawa angin pagi, menandakan bahwa pencarian massal yang dipimpin oleh Pak RT dan para tetua desa belum juga surut, bahkan semakin mendekati area kaki bukit.Madun menoleh ke belakang, menatap wajah Nabila yang mendadak sedikit menegang mendengar
Badai hebat yang sempat mengamuk sepanjang malam perlahan-lahan mereda seiring bergesernya waktu menuju fajar. Suara gemuruh guntur berganti dengan tetesan air sisa hujan yang menimpa dedaunan lebat di luar rongga gua. Udara pagi perbukitan terasa sangat dingin, menusuk kulit, namun di dalam gua tersembunyi itu, atmosfer justru dipenuhi oleh kehangatan sisa-sisa pertempuran gairah yang berlangsung hingga menjelang subuh.Nabila terlelap dalam posisi meringkuk, kepala indahnya bersandar nyaman di atas dada bidang Madun. Rambut hitam ikalnya yang basah kini telah mengering, berantakan menutupi sebagian bahunya yang terekspos. Pakaian mereka yang sempat basah kuyup akibat terjangan hujan semalam kini dibiarkan terjemur di atas batu datar yang tersiram sinar matahari pagi pertama yang mulai menembus celah tebing.Madun membuka matanya perlahan. Tatapan tajamnya menyapu sekeliling gua yang kini diterangi cahaya keemasan pagi hari. Meskipun situasi malam tadi sempat mencekam akibat kepun
Titik-titik air hujan yang tadinya jatuh perlahan kini berubah menjadi lebat, menghantam dedaunan lebar hutan perbukitan dengan suara gemuruh yang konstan. Di balik rimbunnya rumpun semak tempat persembunyian, bau tanah basah dan dinginnya udara pegunungan meresap tajam ke kulit Madun dan Nabila.Suara langkah kaki warga dan suara lantang Pak RT masih terdengar bersahut-sahutan di dekat kolam mata air, mencari celah petunjuk di tengah lebatnya guyuran hujan sore itu. Nabila terus menggigil ketakutan, bukan hanya karena dinginnya air dan terpaan badai, melainkan karena teror luar biasa membayangkan apa yang akan terjadi jika warga berhasil menemukan mereka berdua dalam kondisi berantakan seperti ini."Om... mereka semakin dekat..." cicit Nabila dengan suara bergetar nyaris tak terdengar, air mata hangatnya bercampur dengan air hujan yang membasahi pipinya. Tangannya semakin erat mencengkeram lengan Madun seolah pria itu adalah satu-satunya benteng pertahanan di dunia.Madun tidak b
Cahaya matahari sore yang tadinya memancarkan kehangatan keemasan di balik perbukitan perlahan mulai meredup, digantikan oleh gumpalan awan mendung kelabu yang berarak cepat dari arah timur. Di tepi kolam mata air tersembunyi, suasana yang tadinya dipenuhi oleh gelora gairah dan kebebasan mutlak mendadak menyisakan keheningan yang mulai terasa janggal.Madun menghentikan gerakannya sejenak. Alis tebalnya bertaut tajam, merasakan ada sesuatu yang tidak beres di udara. Indra ketajamannya menangkap suara gemerisik ranting patah dari arah jalur setapak hutan di atas tebing—suara langkah kaki yang tidak biasa, terdengar terburu-buru dan berjumlah lebih dari satu orang."Nabila, diam sebentar," bisik Madun dengan nada suara rendah namun tegas.Nabila yang masih bersandar lemas di atas batu datar yang terendam air langsung terperanjat kaget. Wajah cantiknya yang merah merona seketika memucat. "Ada apa, Om?" bisiknya parau, ketakutan mendadak merayap di dadanya.Sebelum Madun sempat menj
Pagi yang hangat di kamar Madun perlahan bergeser menuju siang. Sinar matahari menembus tirai usang, memperlihatkan debu-debu halus yang menari di udara. Nabila, yang tadinya dikenal sebagai gadis paling pendiam dan kaku di desa, kini menjelma menjadi sosok yang sepenuhnya berbeda. Di balik selimut tebal, ia merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih menyimpan sisa-sisa kelelahan sekaligus kepuasan dari malam panjang sebelumnya."Om..." panggil Nabila dengan suara serak khas bangun tidur, jemarinya meraba dada bidang Madun yang kokoh. "Hari ini kita mau ngapain? Rasanya aku udah nggak peduli lagi sama dunia luar. Di sini aja terus sama Om."Madun tersenyum, rahang tegasnya bergesek pelan saat ia menunduk menatap gadis di sampingnya. Namun, di balik kepuasan fisik yang melimpah, ada sebuah kejujuran dan ide segar yang mulai bergolak di dalam kepala Madun. Hidup tidak hanya sekadar bersembunyi di balik kamar sempit dan melampiaskan nafsu setiap malam. Des
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







