Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 17: Perebutan Napsu

Share

Bab 17: Perebutan Napsu

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-04-30 11:50:45

Duel Maut Bidan vs Administrasi: Perebutan Linggis Pasar Malam

​"Mas Madun! Turunin aku di depan gang aja, jangan sampai depan rumah, nanti Bapak liat!" bisik Rini sambil meremas pinggang Madun yang keras berotot.

​Madun ngerem mendadak. Motor bututnya batuk-batuk. Rini turun, benerin crop top putihnya yang masih lembap kena keringat pergulatan tadi. Di bawah lampu jalan yang remang, kulit perut Rini yang putih mulus kelihatan berkilau, bikin Madun susah kedip. Celana jins pendeknya makin mempe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 158: Segelas Es Cendol Pemikat Jiwa

    ​"Aduh, tenggorokan jantan saya rasanya kering kerontang bagai aspal jalur pantura. Madun bener-bener cuma mau membelikan kamu segelas es cendol segar di gerobak pinggir jalan. Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengibaskan kaos singlet hitam ketatnya, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah keluar dari area pasar tradisional yang mulai padat merayap fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menghentikan langkah tegapnya di samping gerobak kayu pak tua. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah berdiri di bawah terik matahari, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap memborong seluruh isi stoples gula merah demi menyegarkan dahaga sang bidadari barat. "Nah, kalau suasananya santai sambil memandangi tetesan santan segar begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nant

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 157: Belanja Daster Bali Pemancing Gairah

    Madun membayar dua lembar kain batik pilihan ini ke kasir. Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengantre di depan kasir los kain, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya berhenti memikirkan gangguan fiktif buatan pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton proyek desa. Tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menghalau segala bentuk copet pasar malam yang mengincar dompet jantannya. "Nah, kalau suasananya damai antre di depan kasir begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!"​Tiba-tiba

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 156: Batik Pilihan untuk Sang Bidadari

    ​Madun dan Catherine melangkah masuk ke dalam los kain tradisional untuk mencarikan Miss Catherine selembar kain batik motif Bali yang indah tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang kekar, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah badai ketegangan fiktif buatan ruko remang-remang itu mendadak sirna ditiup angin sepoi-sepoi los pasar fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung memimpin jalan menembus tumpukan kain batik yang harum aroma lilin malam tradisional. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menjadi pelindung sejati bidadari barat dari desakan ibu-ibu pemburu daster diskonan. "Nah, kalau suasananya damai penuh warna kain

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 155: Ikatan Persaudaraan di Atas Aspal Sukawati

    ​"Aduh, puji syukur ke hadirat alam semesta... lupakan saja urusan keranda terbang mistis berwarna merah muda menyala yang sangat tidak masuk akal dan bikin pusing kelurahan itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau menyelesaikan urusan kepemimpinan geng moge internasional ini secara kekeluargaan tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" gumam Madun menghela napas lega sedalam-dalamnya sambil menurunkan kedua tangan kasarnya, mencoba meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah ketegangan gaib buatan ruko remang-remang itu mendadak ambyar ditiup angin laut Bali fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya di hadapan belasan petarung bayaran yang masih berlutut pasrah. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 154 : Tunduknya Para Penguasa Jalanan

    ​"Wah, kejutan macam apa lagi ini fajar-fajar... lupakan saja niat baku hantam menantang maut, ternyata belasan pengendara motor besar hitam misterius yang mengepung ruko pasar Sukawati ini mendadak turun dari moge mereka lalu serentak bersujud ambyar di atas aspal untuk memohon agar saya sudi menjadi pemimpin tertinggi komplotan petarung bayaran internasional mereka, cyiiinnn!" pekik Madun terperanjat kaget melihat pemandangan komedi interaktif di depan matanya fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung melipat kedua lengan sawo matangnya yang tinggi tegap sekuat beton proyek desa, mencoba meredakan ketegangan otot perut kotak-kotak penuh urat jantannya yang sudah terlanjur dipasang pada posisi setelan pabrik kuli panggul tiga ton siang hari ini. ​Melihat belasan pria kekar bertubuh raksasa itu berlutut tak berdaya demi memohon belas kasih kejantanan Madun, Catherine yang berdiri di sampingnya justru sengaja maju selangkah secara inte

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 153: Wibawa Sang Jagoan Baru Sukawati

    ​"Wah, gila! Ternyata sosok pemuda tampan berkulit sawo matang yang dari tadi duduk kalem mengunyah tetelan bebek itu adalah Juragan Madun, kuli panggul legendaris tiga ton yang tempo hari sendirian membantai habis puluhan preman akamsi ruko kelurahan sampai lemas ambyar bertekuk lutut memohon ampun, pantesan aura jantannya langsung disegani sebagai jagoan baru pasar tradisional Sukawati fajar ini, cyiiinnn!" bisik warga desa yang berkumpul di luar warung sambil membungkuk hormat penuh rasa segan melihat Madun melangkah keluar menembus kerumunan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton proyek desa, memancarkan wibawa jantan sejati setelan pabrik yang siap menjadi pelindung mutlak ketertiban wilayah ruko kelontong dari segala bentuk pemerasan haram siang hari ini.​Madun mengangguk tegas menyapa para pedagang pasar secara interaktif, mengepalkan kedua tangan kasarnya yang penuh urat kekuatan u

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status