Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 18: Pesta Linggis di Klinik Tengah Malam

Share

Bab 18: Pesta Linggis di Klinik Tengah Malam

Author: Ibrahiman
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-30 11:53:10

​"Aduh, Mas Madun! Pelan-pelan dong, ini paha aku sudah gemetar semua!" keluh Rini sambil mencoba mengatur napasnya yang tersengal.

​Rini saat ini sedang dalam posisi yang sangat menantang. Kaos putihnya sudah tersingkap hingga ke leher, memamerkan sepasang asetnya yang putih bersih dan kencang. Kulit perutnya yang rata tampak berkeringat, berkilau di bawah lampu operasi klinik yang terang benderang. Madun, dengan punggungnya yang lebar dan berotot cokelat gelap, tampak seperti raksasa yang s
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 391: Pertemuan Tak Sengaja dengan Selebgram Menteng

    ​Pukul 11.30 siang, Jumat, 9 Oktober 2026. Terik matahari siang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menyengat garang, memantulkan gelombang panas di atas aspal jalanan protokol. Suasana di depan istana kuliner RM Jagoan Rasa mulai menunjukkan tanda-tanda kesibukan yang padat. Aroma sedap bumbu sate kacang dan gulai kambing yang dibakar di atas arang mengepul harum di udara, memancing selera para pegawai kantoran elit yang mulai berhamburan keluar gedung untuk mencari makan siang.​Di teras depan kedai, Vanesha sedang sibuk merapikan tumpukan kursi kayu jati pesanan pelanggan, mengenakan apron kain bersih berbalut daster rumahan bercorak elegan. Sementara itu, Madun—sang penguasa Menteng yang agung—berdiri tegap di dekat tiang utama teras, mengenakan kaos oblong hitam ketat yang mempertontonkan otot lengan kekar berurat kawat, dipadu celana training hitam panjang.​Di balik celana training hitam tersebut, mahakarya legendaris hasil mutasi gigitan ribuan semut rangrang kimia sepanjang li

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 390: Pesona Sang Jagoan di Toko Kelontong Bu Broto

    ​Pukul 08.00 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Matahari pagi kawasan Menteng bersinar hangat, menyiram jalanan aspal dengan bias cahaya keemasan yang menyejukkan. Udara pagi terasa segar, membawa aroma dedaunan hijau dan uap kopi tipis dari teras-teras rumah kolonial di sekitarnya.​Di dalam istana RM Jagoan Rasa, Vanesha yang sedang merapikan botol-botol bumbu di dapur utama tiba-tiba teringat satu hal penting yang kurang untuk persiapan racikan bumbu sate hari itu. Ia langsung melangkah ringan menuju pintu depan tempat suaminya sedang meregangkan otot-otot tubuh bidangnya.​"Om," panggil Vanesha sambil membawa dompet kecil bermotif bunga. "Tolong jalan sebentar ke toko kelontong modern Bu Broto Mart di ujung blok jalan. Stok gula aren organik sama minyak wijen khusus kita udah habis total. Jangan lupa dibeliin ya, bos besar."​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, menghentikan gerakan peregangannya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah hitam dengan lengan digulung sampai siku

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 389: Warisan Semut Rangrang Kimia

    ​Pukul 21.00 malam, Kamis, 8 Oktober 2026. Lampu gantung kristal di kamar utama istana RM Jagoan Rasa diredupkan hingga memancarkan bias cahaya kuning keemasan yang menenangkan. Di luar jendela kamar, angin malam kawasan Menteng berembus pelan, menggesekkan daun-daun pohon mangga pada kaca jendela. Suasana di dalam ruangan terasa begitu intim, hangat, dan dipenuhi oleh aroma minyak aromaterapi lavender yang menenangkan saraf setelah seharian penuh disibukkan oleh riuhnya operasional kedai kuliner di lantai bawah.​Vanesha merebahkan tubuhnya di atas ranjang berseprai satin hitam legam, mengenakan piyama tidur berbahan sutra tipis berwarna merah marun yang memperlihatkan siluet tubuhnya yang memesona. Ia melipat kedua tangannya di bawah kepala, sementara sepasang mata indahnya menatap lekat ke arah sang suami yang masih berdiri di dekat jendela, memandangi jalanan malam ibu kota.​Madun, sang penguasa Menteng yang agung, berdiri tegak dengan dada bidang terbuka tanpa mengenakan kaos, h

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 388: Cukur Bulu

    ​Pukul 08.15 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Suasana di dalam istana RM Jagoan Rasa perlahan-lahan mulai kembali kondusif setelah badai kepanikan akibat blunder nasi goreng petai berlumur ekstrak Jamu Rawa Lele generasi keempat berhasil diredam. Madun, sang penguasa Menteng, kini duduk tegap di sebuah kursi kayu kokoh di tengah ruang belakang, mengenakan cangcut baja pusaka yang berdetak konstan mengeluarkan getaran ultrasonik rendah guna menahan mahakarya raksasanya agar tidak kembali mengamuk.​Namun, ada satu masalah baru yang langsung disadari oleh Vanesha begitu ia mendekati suaminya dengan membawa peralatan cukur lengkap berupa gunting tajam stenlis, pisau cukur lipat tradisional, dan sebaskom air hangat bercampur sabun mandi harum lavender.​Akibat ledakan mutasi jamu maut yang terjadi beberapa menit lalu, pertumbuhan folikel rambut dan bulu di sekujur tubuh Madun—terutama di sekitar kawasan strategis bawah—mengalami percepatan abnormal hingga ribuan persen dalam hitungan detik. H

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 387: Penyelamatan Mahakarya

    ​Pukul 07.30 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Situasi di dalam dapur istana RM Jagoan Rasa telah berubah menjadi zona merah darurat biologis. Akibat blunder fatal Vanesha yang tidak sengaja menuangkan satu botol penuh Jamu Spesial Ki Rawa Lele generasi keempat ke dalam wajan nasi goreng petai, Madun kini berdiri terhuyung-huyung dengan transformasi fisik yang benar-benar di luar nalar manusia.​Otot-otot sekujur tubuhnya mengembang masif, merobek sisa-sisa kain kaos putih hingga berserakan di lantai. Namun, krisis utama bukan terletak pada lengan atau dadanya, melainkan pada senjata rahasia sang jagoan Menteng yang berada di balik celana training hitamnya.​Karena dosis tinggi jamu pekat tersebut tertelan tanpa sisa dalam satu porsi penuh, mahakarya legendaris itu melesat membesar secara eksplosif. Ukurannya kini telah menembus rekor mutasi tertinggi: panjangnya hampir menyamai tinggi lutut orang dewasa, dengan lingkar luar biasa selebar paha manusia normal. Denyutan energinya bergemuruh

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 386: Jamu Rawa Lele yang Tertukar Botol Kecap

    ​Pukul 07.15 pagi, Jumat, 9 Oktober 2026. Matahari pagi bulan Oktober bersinar cerah menyinari kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Suasana di dalam istana RM Jagoan Rasa seharusnya dimulai dengan rutinitas pagi yang tenang, damai, dan penuh kehangatan domestik seperti hari-hari sebelumnya. Namun, sebuah kecerobohan kecil yang tak disangka-sangka seketika mengubah jalan cerita pagi ini menjadi sebuah kekacauan lucu nan menegangkan.​Pagi itu, Vanesha bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan spesial berupa nasi goreng petai kesukaan suaminya. Dengan mengenakan daster rumahan bercorak bunga kuning, ia bergerak lincah di dapur utama. Di meja kayu dekat kompor, berjejer rapi berbagai botol bumbu cair: botol kecap manis, botol saus tiram, botol minyak wijen, dan—ini dia sumber masalahnya—sebuah botol kaca bening sisa Jamu Spesial Ki Rawa Lele generasi keempat yang pekat, berwarna hitam kecokelatan, yang kemarin malam lupa disingkirkan ke dalam lemari khusus.​Karena warnanya yang sama-sama hi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status