Accueil / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 229: Membuka Hari Dengan Senyuman

Partager

Bab 229: Membuka Hari Dengan Senyuman

Auteur: Ibrahiman
last update Date de publication: 2026-07-07 16:21:31

​"Syukurlah, semuanya aman dan tidak ada hal-hal aneh yang perlu kita khawatirkan di awal lembaran baru pernikahan kita ini, Istriku Mbak Vina!" seru Madun lantang sambil meraih anak kunci besi dari atas meja kasir toko. Langkah tegap Madun yang gagah berani memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang selalu siap mengawali aktivitas perniagaan rukun warga mereka dengan kejujuran dan kerja keras yang tulus.

​Vina yang kini sudah tampil rapi mengenakan daster rumahan motif batik yang be
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 286: Pengakuan di Balik Jeruji Desa

    ​Matahari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat ketika pos ronda desa sudah dipadati oleh warga yang penasaran ingin melihat langsung wajah pencuri pakaian dalam wanita yang tertangkap semalam.​Sarah berdiri anggun di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa penasaran yang besar. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi.​Madun berdiri tegar dengan wibawa luar biasa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, menatap tajam ke arah sang maling yang terduduk lemas di sudut pos.​Siska menyusul di belakang mereka, mengenakan daster oranye ketat yang mempertontonkan belahan dada secara vulgar sambil melipat tangan di dadanya. "Coba ngomong sekarang, mau alesan apa lagi kamu? Mau bilang khilaf karena salah ngambil jemuran baju bayi?" lede

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 285: Perangkap Celana Dalam

    ​Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala desa, meninggalkan kegelapan malam yang pekat di sekitar area ruko kelontong Madun.​Sarah duduk di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa kesal. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, membuat paha mulus jenjangnya tampak kontras di bawah cahaya lampu teras yang temaram.​Madun berdiri di dekat pintu gudang belakang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menghadapi teror apa pun malam ini.​"Sudah tiga hari berturut-turut jemuran pakaian dalam kita hilang dicuri orang misterius, Mas! Ini sudah keterlaluan dan menjijikkan!" geram Sarah kesal sambil melipat tangan di dadanya yang padat berisi.​Siska berjalan mendekat dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam hangat, daster oranye k

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 284: Bayangan di Balik Jendela

    ​Kilatan cahaya kamera ponsel yang mendadak menyambar dari balik jendela kamar tidur belakang langsung membuat rahang tegas Madun mengeras seketika.​Sarah langsung merapatkan tubuh sintalnya ke dada bidang Madun, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa terkejut yang luar biasa. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah temaram lampu kamar.​Madun berdiri tegar memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik privasi rumah tangganya.​"Tetap di sini, Sarah. Biar saya tangkap penyusup yang kurang ajar itu," bisik Madun dengan suara berat bernada rendah penuh penekanan.​Dengan gerakan kilat seorang lelaki perkasa, Madun mendobrak jendela kaca kamar dan melompat keluar menuju halaman samping ruko yang gelap gulita. Namun, penyusup miste

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 283: Tamu Tak Dikenal di Malam Tenang

    ​Bayangan yang mendekat dari tikungan jalan itu akhirnya melangkah masuk ke halaman ruko, memecah ketenangan malam yang baru saja tercipta.​Seorang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit hitam kumal berdiri di hadapan Madun, memperlihatkan raut wajah penuh penyesalan dengan tatapan mata yang menyendu.​Sarah langsung berdiri sigap dari kursi kasirnya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena waspada. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, membuat paha mulus jenjangnya tampak kontras di bawah lampu teras.​Madun melangkah maju menempatkan diri di depan istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya dengan wibawa dingin yang mematikan.​"Maafkan saya, Mas Madun... Mbak Sarah..." ucap pria asing itu terbata-bata sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan mereka.​Siska yang berdiri di samping rak to

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 282: Fajar Baru di Halaman Ruko

    ​Sinar matahari pagi menyapa lembut kaca jendela ruko, membawa kehangatan baru setelah malam panjang yang penuh gairah dan peluh kemesraan.​Sarah merentangkan tangan lentiknya di atas tempat tidur, mengenakan kemeja putih longgar milik Madun yang sengaja dibiarkan terbuka bagian atasnya hingga mengekspos gundukan buah dadanya yang kencang tanpa sehelai benang pun di baliknya. Paha mulus jenjangnya terkelupas indah di bawah selimut putih, memancarkan pesona luar biasa seorang istri yang sangat bahagia.​Madun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang telanjang bulat yang dipahat sempurna oleh kerja keras dan latihan fisik. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak segar, memancarkan aura maskulin yang membuat siapa pun wanita yang melihatnya pasti akan bertekuk lutut.​"Pagi banget bangunnya, Mas... Badan aku masih berasa lemes gara-gara genjotan ganas kamu semalam," ucap Sarah manja sambil tersenyum menggoda dari

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 281: Warisan Lelaki Sejati

    ​Wanita berambut pirang itu berdiri tegak di hadapan Madun, mengenakan gaun malam merah ketat yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena kelelahan perjalanan jauh.​Sarah langsung menyipitkan mata tajamnya, memperhatikan setiap gerak-gerik tamu asing tersebut sementara blus krem pas badan dan rok pensil hitamnya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna.​Madun berdiri tegar di sisi istrinya, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa jantan yang luar biasa.​"Maaf, tuan rumah... Saya Clara, perwakilan dari lembaga riset bioteknologi kota yang mendengar legenda tentang keperkasaan fisik pria desa ini," ucap wanita pirang itu tanpa basa-basi dengan senyuman menggoda.​Siska yang sedang merapikan piring tasyakuran langsung mendengus keras dari balik daster oranye ketatnya, mempertontonkan belahan dada secara vulgar. "Ih, buset! Ini

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 166: Sentuhan Lembut di Ambang Pintu

    Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status