Beranda / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 311: Perang Batin dan Ranjang

Share

Bab 311: Perang Batin dan Ranjang

Penulis: Ibrahiman
last update Tanggal publikasi: 2026-09-06 20:34:10

​Suara hantaman pintu ruang VIP yang jebol akibat tendangan serentak Vanesha, Celine, dan Audrey memecah keheningan ruangan mewah tersebut. Debu tipis berterbangan di ambang pintu, berpadu dengan aura permusuhan yang pekat. Ketiga istri Madun berdiri berjejer dengan mata menyalang tajam, menatap lurus ke arah Natasha yang masih berdiri terlalu dekat dengan suami mereka.

​Vanesha melangkah maju lebih dulu, jemarinya terkepal kuat di sisi tubuhnya, sementara tatapannya memancarkan kemarahan seora
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 311: Perang Batin dan Ranjang

    ​Suara hantaman pintu ruang VIP yang jebol akibat tendangan serentak Vanesha, Celine, dan Audrey memecah keheningan ruangan mewah tersebut. Debu tipis berterbangan di ambang pintu, berpadu dengan aura permusuhan yang pekat. Ketiga istri Madun berdiri berjejer dengan mata menyalang tajam, menatap lurus ke arah Natasha yang masih berdiri terlalu dekat dengan suami mereka.​Vanesha melangkah maju lebih dulu, jemarinya terkepal kuat di sisi tubuhnya, sementara tatapannya memancarkan kemarahan seorang wanita yang wilayah kekuasaannya diganggu musuh bebuyutan.​"Rupanya sang Ratu Malam yang terhormat ini belum kapok juga mencari masalah di kandang macan!" suara Vanesha menggelegar dingin, memecah ketegangan di dalam ruangan. "Berani sekali menawar posisi istri keempat di depan muka kami bertiga!"​Audrey dan Celine menyusul di belakang Vanesha, berkacak pinggang dengan ekspresi wajah yang sama-sama siap menerkam. Audrey menatap Natasha dari atas ke bawah dengan cibiran tajam. "Modelan muka

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 310: Pertemuan Empat Mata

    ​Perjalanan kembali dari Pasar Induk Kramat Jati menuju kawasan Menteng ditempuh oleh Madun dalam waktu yang sangat singkat. Motor bebek Honda Lele tua miliknya melesat membelah kemacetan ibu kota bagai kilat, dikendarai dengan satu tangan sementara tangan kirinya memastikan karung-karung petai segar aman terikat di bagian belakang. Begitu tiba di pelataran RM Jagoan Rasa, Madun sama sekali tidak membuang waktu. Ia langsung mematikan mesin, melompat turun dengan sandal jepit swallow hijau keramatnya, dan melangkah lebar memasuki pintu utama restoran dengan aura wibawa yang menggentarkan siapa saja yang melihatnya.​Di dalam restoran, suasana tampak tegang. Para pelayan berdiri bergerombol di dekat meja kasir dengan wajah pucat pasi, sementara Vanesha mondar-mandir mondar-mandir di ruang depan sambil menggigit kuku jemarinya menahan amarah.​"Di mana dia?" tanya Madun singkat kepada Vanesha dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.​Vanesha menunjuk ke arah koridor eksklusif di

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 309: Kenikmatan di Balik Truk Sayur

    ​Suasana di sudut area bongkar muat Pasar Induk Kramat Jati mendadak berubah drastis dari riuhnya aktivitas perdagangan menjadi kepompong pribadi penuh gairah yang membakar. Di balik bayangan badan truk sayur berukuran besar yang tertutup terpal gelap, Madun dan Audrey terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Aroma segar kubis, daun bawang, dan tanah basah khas pasar berpadu dengan wangi parfum feminin milik Audrey, menciptakan atmosfer yang pekat dan memabukkan.​Audrey menyandarkan punggungnya pada dinding besi bak truk yang dingin, sementara kedua tangannya masih melingkar erat di leher suaminya. Napas gadis itu memburu, naik turun tidak beraturan akibat gelombang adrenalin sisa duel kilat melawan para preman bayaran tadi, yang kini sepenuhnya bermutasi menjadi letupan nafsu berahi yang luar biasa dahsyat.​"Om..." rintih Audrey tertahan, suaranya bergetar manja di sela desisan angin pagi. "Jangan lama-lama membuat aku penasaran. Badan aku sudah lemas rasanya ingin leleh..."​Madun

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 308: Duel Kilat Pasar Induk

    ​Lorong sempit Pasar Induk Kramat Jati yang tadinya mendadak sunyi brubah jadi arena ketegangan tingkat tinggi. Delapan preman badan kekar berseragam jaket kulit hitam lencana mawar hitam berdiri ngepung, pegang sragam senjata tajam sm pipa besi. Di barisan paling dpan, pemimpin preman bekas luka sayat nyengir lebar, ngerasa di atas angin krn nira sang jagoan desa bakal terjebak di kepungan.​Tapi, reaksi yang ditunjukkin Madun jauh banget dari perkiraan mereka.​Alih-alih lepas rangkulan atau pasang kuda-kuda tarung kaku, Madun tetep berdiri santai banget. Kaki kanan beralaskan sandal jepit swallow hijau keramat bertumpu rileks di lantai semen pasar yang basah. Penuh PD, tangan kiri Madun tetep rangkul erat pinggang ramping Audrey, tarik tubuh istri ketiganya itu nempel aman dan nyaman di sisi tubuhnya.​"Wah, rupanya rombongan sirkus keliling nyasar smpe los sayur," gumam Madun suara bariton berat santai, mecah kesunyian pagi pasar induk. "Kalian salah tempat kalau mau cari panggung

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 307: Perjalanan ke Pasar Induk

    ​Mentari pagi di langit Jakarta makin tinggi, mancarin bias cahaya keemasan yang nembus celah gedung pencakar langit ibu kota. Udara pagi yang seger berpadu kepulan asap kendaraan, ciptain ritme hidup metropolitan yang serba cepet. Di tngh hiruk-pikuk lalu lintas pagi yang padat, pemandangan kontras tapi ikonik banget nampak di ruas jalan protokol Menteng ngarah pinggiran kota.​Motor bebek tua Honda Lele warna biru pudar melaju lincah nyalip deretan mobil sedan mewah sm bus kota. Di atas jok motor legendaris itu, duduk sang jagoan desa, Madun. Dia pake kaos oblong putih polos kesayangan, celana training hitam longgar, dan tentu saja—lambang keagungan abadi—sandal jepit swallow hijau keramat yang bertumpu mantap di pijakan kaki motor. Di blakangnya, melekat erat istri ketiga yang jelita dan lincah, Audrey.​Perjalanan pagi itu bkn sekadar jalan-jalan biasa bwt belanja kebutuhan dapur restoran. Di atas motor bebek tua yang mesinnya menderu konstan krn racikan jamu rawa lele, tersimpen

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 306: Serangan Cemburu di Dapur

    ​Mentari pagi di kawasan elit Menteng baru saja merayap naik, memantulkan pendar keemasan di atas genting-genting bangunan RM Jagoan Rasa. Namun, alih-alih disambut dengan suasana tenang khas jam persiapan buka restoran, udara di dalam bangunan mewah itu justru terasa bergetar hebat oleh gelombang emosi yang membakar. Vanesha, Celine, dan Audrey masih belum bisa menetralisir rasa cemburu yang mengakar kuat di dada mereka setelah insiden kemunculan Natasha—sang Ratu Malam berambut perak—yang dengan lancang mendekati suami tercinta mereka malam sebelumnya.​Vanesha mondar-mandir di ruang depan dengan wajah tertekuk masam, sementara Audrey terus-menerus mencengkeram spatula besi di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa tidak suka terhadap wanita asing yang berani menggoda Madun benar-benar memicu letupan cemburu buta yang luar biasa dahsyat. Di tengah situasi panas penuh kecemburuan itulah Madun melangkah santai ke area dapur utama, mengenakan kaos oblong putih kesayangannya d

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status