Se connecterMalam hari menyelimuti desa dengan keheningan yang menenangkan. Lampu-lampu warung dan ruko kelontong Madun menyala terang, memancarkan kehangatan di tengah angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.Sarah berdiri di ruang tengah ruko sambil merapikan laporan keuangan harian, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa semangat dari kunjungan sore tadi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan anggun.Madun berdiri tegar di dekat pintu utama, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak begitu tenang menikmati suasana malam yang damai.Bono datang menghampiri ruko dengan langkah ringan, membawa sekotak martabak manis pesanan khusus untuk merayakan suksesnya misi pendekatan pertama hari itu. Wajah Bono tampak berbinar-binar gembira."Wah, selamat malam para p
Suasana warung kopi Mak Jiah mendadak terasa lebih semarak dengan kehadiran kelompok kecil Madun dan kawan-kawan. Rini, gadis berkerudung rapi yang semula tampak sibuk dengan gelas-gelas pesanan, kini meletakkan nampannya di atas meja lalu membalas sapaan Bono dengan senyuman ramah yang menenangkan."Silakan duduk, Mas Bono... Mbak Sarah, Mas Madun, dan Siska juga," ucap Rini sopan sambil mempersilakan mereka menempati bangku kayu panjang di dekat etalase warung.Bono menarik kursi dengan gerakan sedikit kaku, masih diliputi rasa salah tingkah di hadapan gadis yang menjadi target utama agen biro jodoh dadakan tersebut. Madun duduk di sebelah Sarah, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa tenang untuk mencairkan suasana.Siska langsung menyenggol lengan Bono pelan sambil berbisik dengan nada menggoda. "Woy, jangan kaku amat kayak patung pancoran! Pasang senyum andalan dong, tunjukin kalau mantan raja jud
Sesi latihan fisik pagi itu ditutup dengan napas terengah-engah dan tawa lepas di pelataran ruko. Setelah berhasil melewati ujian push-up dan lari keliling desa, Bono duduk bersila di teras sambil meneguk air mineral dingin, merasa jauh lebih bugar dari hari-hari sebelumnya.Sarah berdiri di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena sisa angin pagi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari yang semakin hangat.Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Ia menatap sahabatnya yang kini tampak jauh lebih bersemangat menata hidup."Badan sudah mulai terbentuk, mental juga sudah mulai pulih dari bayang-bayang masa lalu," ucap Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa. "Tapi hidup kamu belum lengkap kalau cum
Matahari semakin tinggi, menyinari pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah bersih kembali setelah keributan kecil tadi pagi. Sisa-sisa kue lupis manis di bakul telah habis dinikmati, menyisakan gelak tawa yang masih membekas di antara mereka berdua. Bono berdiri di hadapan Madun dengan postur tegak, meski sesekali masih tampak canggung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang menyiratkan kesungguhan luar biasa. "Madun..." ucap Bono serius. "Kejadian tadi pagi, juga teror-teror kemarin... bikin aku sadar satu hal. Selama ini aku cuma jadi beban, gampang takut, gampang goyah, sampai akhirnya gampang disetir orang lain buat ngelakuin hal bodoh." Sarah yang sedang merapikan meja kasir menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Bono dengan senyuman tipis penuh penghargaan atas perubahan mental sahabat suaminya itu. Bono melanjutkan kata-katanya dengan penuh harap, "Aku mau berubah, Dun. Aku mau minta tolong... ajari aku cara biar b
Suasana pagi yang tadinya dipenuhi gelak tawa dan gurauan hangat mendadak terusik ketika suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar nyaring di depan pelataran ruko.Dua unit mobil minibus hitam berhenti secara arogan tepat di depan halaman. Pintu mobil terbuka lebar, menurunkan enam orang preman bertubuh kekar penuh tato dengan wajah sangar, menenteng balok kayu dan pipa besi. Mereka adalah sisa-sisa anak buah sindikat judol yang belum tahu bahwa bos besar mereka sudah diringkus polisi."Hei, Bono! Sialan kamu! Beraninya sembunyi dan mangkir dari setoran! Mau lari ke mana lagi kamu, hah?!" bentak pimpinan preman itu dengan suara menggelegar penuh ancaman.Sarah terkesiap kaget, refleks merapatkan tubuh sintalnya ke belakang punggung Madun. Siska mendengus kesal sambil berkacak pinggang, daster oranye ketatnya memperlihatkan belahan dada saat ia berdecak. "Ih, rombongan sirkus kurang piknik datang lagi! Pagi-pagi udah bikin polusi suara!" ledek Siska pedas.Bono menel
Matahari pagi kembali menyapa dengan kehangatan yang menyejukkan, menerangi pelataran ruko kelontong Madun yang kini telah kembali sibuk dengan aktivitas harian warga desa.Sarah berdiri di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena suasana hati yang begitu lapang dan bahagia. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.Madun berdiri tegar di teras depan, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa jantan yang kini dihiasi senyuman ramah.Tidak lama kemudian, Bono datang melangkah menghampiri ruko dengan membawa sebuah bakul besar yang ditutup daun pisang segar, menebarkan aroma wangi gula merah cair dan ketan yang sangat khas.Melihat kedatangan sahabatnya, Madun sengaja memasang wajah serius bercanda untuk mencairkan su
Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







