تسجيل الدخولPria bertudung hitam yang terkapar di lantai akibat tendangan telak Madun mengerang kesakitan sambil mencoba merangkak bangun. Sarah melangkah maju dengan tatapan tajam, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot lampu ruko yang kembali menyala terang.Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas menatap dingin ke arah musuh yang sudah tak berdaya."Buka penutup wajahnya, biarkan warga desa melihat siapa dalang pengecut di balik semua teror ini!" perintah Madun dengan suara berat bernada rendah yang menggelegar.Siska yang berdiri di dekat reruntuhan etalase langsung maju sambil berkacak pinggang, daster oranye ketat yang mempertontonkan belahan dada secara vulgar
Meskipun tiga antek pengancam berhasil diringkus tanpa perlawanan berarti, senyum kelegaan di wajah Madun dan Sarah mendadak sirna ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Madun tepat saat fajar mulai merekah.Sarah berdiri di samping meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan ketegangan baru. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi yang temaram.Madun berdiri tegar memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang langsung membuat seisi ruko menegang seketika.“Kalian pikir anak buah bodoh itu adalah otak utamanya? Permainan baru saja dimulai, Madun. Nyawa istrimu taruhannya.”Begitulah isi pesan dari nomor tidak dikenal yang tertera jelas di layar ponsel Madun.Siska yang sedang membereskan toples dagangan langsu
Madun memungut amplop putih yang terselip di bawah pintu ruko tersebut dengan gerakan tegas, sementara rahangnya mengeras tajam menahan amarah yang kembali membuncah.Sarah berdiri di samping suaminya dengan tatapan waspada, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena cemas. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari siang.Madun merobek amplop itu dengan sigap, memperlihatkan selembar kertas bertuliskan pesan singkat bernada ancaman pembunuhan karakter yang dikirim oleh sindikat gelap kota.Siska yang baru saja merapikan meja kasir langsung mendengus kesal, daster oranye ketatnya mempertontonkan belahan dada secara vulgar saat ia melipat tangan di dadanya. "Ih, nambah lagi nih gerombolan makhluk halus kurang kerjaan! Kemarin korporasi tumbang, sekarang muncul lagi sisa-sisa preman galau yang hobi ngirim surat cinta berdarah-d
Matahari pagi baru saja memancarkan sinarnya yang hangat ketika pos ronda desa sudah dipadati oleh warga yang penasaran ingin melihat langsung wajah pencuri pakaian dalam wanita yang tertangkap semalam.Sarah berdiri anggun di samping suaminya, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa penasaran yang besar. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi.Madun berdiri tegar dengan wibawa luar biasa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, menatap tajam ke arah sang maling yang terduduk lemas di sudut pos.Siska menyusul di belakang mereka, mengenakan daster oranye ketat yang mempertontonkan belahan dada secara vulgar sambil melipat tangan di dadanya. "Coba ngomong sekarang, mau alesan apa lagi kamu? Mau bilang khilaf karena salah ngambil jemuran baju bayi?" lede
Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala desa, meninggalkan kegelapan malam yang pekat di sekitar area ruko kelontong Madun.Sarah duduk di dekat meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa kesal. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, membuat paha mulus jenjangnya tampak kontras di bawah cahaya lampu teras yang temaram.Madun berdiri di dekat pintu gudang belakang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menghadapi teror apa pun malam ini."Sudah tiga hari berturut-turut jemuran pakaian dalam kita hilang dicuri orang misterius, Mas! Ini sudah keterlaluan dan menjijikkan!" geram Sarah kesal sambil melipat tangan di dadanya yang padat berisi.Siska berjalan mendekat dari arah dapur sambil membawa secangkir kopi hitam hangat, daster oranye k
Kilatan cahaya kamera ponsel yang mendadak menyambar dari balik jendela kamar tidur belakang langsung membuat rahang tegas Madun mengeras seketika.Sarah langsung merapatkan tubuh sintalnya ke dada bidang Madun, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa terkejut yang luar biasa. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah temaram lampu kamar.Madun berdiri tegar memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik privasi rumah tangganya."Tetap di sini, Sarah. Biar saya tangkap penyusup yang kurang ajar itu," bisik Madun dengan suara berat bernada rendah penuh penekanan.Dengan gerakan kilat seorang lelaki perkasa, Madun mendobrak jendela kaca kamar dan melompat keluar menuju halaman samping ruko yang gelap gulita. Namun, penyusup miste
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj







