로그인Matahari pagi menyinari pelataran balai desa dengan kehangatan yang menenangkan, mengusir seluruh sisa-sisa kelam yang sempat menyelimuti hari-hari warga sebelumnya.Sarah berdiri anggun di ambang pintu ruko, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa haru. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi yang cerah.Madun berdiri tegar menjulang di halaman balai desa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, memancarkan wibawa jantan yang luar biasa setelah berhasil menumpas sindikat judol hingga ke akar-akarnya.Di hadapan Madun, Bono berdiri dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Bekas luka di wajahnya akibat tekanan berat masa lalu tampak nyata, namun sorot matanya kini menyiratkan kelegaan yang luar biasa setela
Matahari mulai condong ke barat ketika Madun melangkah keluar dari rumah Bono dengan tekad baja yang sudah bulat. Ia tidak akan tinggal diam melihat sahabat masa kecilnya itu dipermainkan dan dihancurkan oleh sindikat judi online ilegal yang merusak moral desa.Sarah berdiri di halaman ruko dengan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa cemas. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya sore."Kamu yakin mau mendatangi sarang mereka sendirian, Mas? Itu sangat berbahaya," bisik Sarah cemas sambil menyentuh lengan kekar suaminya dengan jemari lentiknya.Madun menatap istrinya lekat-lekat, lalu tersenyum maut menenangkan. "Justru karena berbahaya, saya harus turun tangan sendiri supaya tidak ada lagi warga desa yang jadi korban rentenir keparat itu," jawab Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh wibawa.Siska yang berdiri
Matahari baru saja naik sepenggalahan, namun suasana di balai desa masih menyisakan sisa-sisa ketegangan setelah penangkapan Bono malam tadi.Sarah berdiri anggun di halaman balai desa, mengenakan blus krem pas badan yang menonjolkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena rasa penasaran yang belum tuntas. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya matahari pagi.Madun berdiri tegar di sisi sang istri, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang membuat siapa pun tidak berani menatap matanya terlalu lama.Meskipun Bono telah mendekam di sel tahanan sementara, rasa penasaran yang mengganjal di benak Madun belum juga reda. Ia merasa ada motif lain yang jauh lebih besar di balik pengkhianatan sahabat karibnya itu, mengingat Bono dulunya adalah sosok penolong yang setia sebelum berubah dra
Pria bertudung hitam yang terkapar di lantai akibat tendangan telak Madun mengerang kesakitan sambil mencoba merangkak bangun. Sarah melangkah maju dengan tatapan tajam, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot lampu ruko yang kembali menyala terang.Madun berdiri tegar menjulang, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas menatap dingin ke arah musuh yang sudah tak berdaya."Buka penutup wajahnya, biarkan warga desa melihat siapa dalang pengecut di balik semua teror ini!" perintah Madun dengan suara berat bernada rendah yang menggelegar.Siska yang berdiri di dekat reruntuhan etalase langsung maju sambil berkacak pinggang, daster oranye ketat yang mempertontonkan belahan dada secara vulgar
Meskipun tiga antek pengancam berhasil diringkus tanpa perlawanan berarti, senyum kelegaan di wajah Madun dan Sarah mendadak sirna ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Madun tepat saat fajar mulai merekah.Sarah berdiri di samping meja kasir, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan ketegangan baru. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot cahaya pagi yang temaram.Madun berdiri tegar memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya, memancarkan wibawa dingin yang langsung membuat seisi ruko menegang seketika.“Kalian pikir anak buah bodoh itu adalah otak utamanya? Permainan baru saja dimulai, Madun. Nyawa istrimu taruhannya.”Begitulah isi pesan dari nomor tidak dikenal yang tertera jelas di layar ponsel Madun.Siska yang sedang membereskan toples dagangan langsu
Madun memungut amplop putih yang terselip di bawah pintu ruko tersebut dengan gerakan tegas, sementara rahangnya mengeras tajam menahan amarah yang kembali membuncah.Sarah berdiri di samping suaminya dengan tatapan waspada, mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena cemas. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot matahari siang.Madun merobek amplop itu dengan sigap, memperlihatkan selembar kertas bertuliskan pesan singkat bernada ancaman pembunuhan karakter yang dikirim oleh sindikat gelap kota.Siska yang baru saja merapikan meja kasir langsung mendengus kesal, daster oranye ketatnya mempertontonkan belahan dada secara vulgar saat ia melipat tangan di dadanya. "Ih, nambah lagi nih gerombolan makhluk halus kurang kerjaan! Kemarin korporasi tumbang, sekarang muncul lagi sisa-sisa preman galau yang hobi ngirim surat cinta berdarah-d
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
Madun bener-bener cuma mau memastikan kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat fajar ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membuka grendel pintu pagar anyaman bambu, meresapi kembali getaran asmara suci yang murn
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita







