INICIAR SESIÓNMeskipun deru mesin motor two-stroke di dalam arena tong setan sudah sepenuhnya dimatikan dan para penjaga wahana mulai membereskan lampu-lampu sorot tenda, sisa-sisa getaran mistis dari papan kayu penopang tabung seolah masih merambat naik melalui sol sandal jepit hijau keramat milik Madun.Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang besi besar pasar malam rakyat Menteng, Gendis berdiri dengan napas tersengal-sengal. Jaket hoodie hitam berukuran besar ia kenakan untuk menutupi seluruh tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat malam dan cairan kenikmatan. Siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu bersandar lemas pada dinding luar arena, sementara kedua tangannya mencengkeram erat lengan kekar Madun.Meskipun sebelumnya batang raksasa empat puluh sentimeter milik sang jagoan desa sempat ditarik keluar, gelombang candu yang tercipta dari fenomena "tempelan maut" membuat pembuluh darah mereka berdua seakan belum mau berdamai dengan kenyataan.Madun menatap tajam ke arah wajah Gend
Pukul 23.00 WIB. Raungan mesin two-stroke di dalam tabung kayu raksasa arena tong setan perlahan-lahan mulai menurun derunya. Asap tipis beraroma bensin bakar mengepul keluar dari sela-sela dinding papan, berpadu dengan udara malam pasar malam rakyat Menteng yang dipenuhi keringat dan keramaian penonton.Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang penyangga utama, Madun dan Gendis masih terpaku dalam satu kesatuan raga yang menolak terlepas.Ganti posisi atau merenggangkan jarak sama sekali bukan pilihan di kepala mereka. Setelah hantaman klimaks beruntun yang diselaraskan dengan getaran mesin motor sebelumnya, tubuh mungil Gendis masih menempel rapat di dinding kayu arena. Kedua kaki ramping sang siswi SMA itu melingkar erat mengunci pinggang Madun, sementara punggungnya bersandar penuh pada kayunya dinding tabung.Di dalam sana, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter milik Madun tidak ditarik keluar sedikit pun. Batang baja panas itu dibiarkan tetap
Pukul 21.45 WIB. Suasana di dalam kamar rahasia istana RM Jagoan Rasa masih menyisakan hawa panas yang mengepul dari tubuh Madun dan Gendis. Setelah badai perkosaan brutal mereda, kedua sejoli itu terbaring berdampingan di atas ranjang satin hitam. Gendis menarik selimut bulu domba hingga sebatas dada, mengatur napasnya yang masih memburu. Wajah imut gadis berusia tujuh belas tahun itu tampak kemerahan, dipenuhi peluh tipis yang menempel di pelipisnya.Namun, meskipun baru saja digempur habis-habisan dalam ronde yang melelahkan, mata bulat Gendis justru kembali berbinar-binar penuh kelicikan manja. Ia miringkan tubuhnya menghadap Madun, lalu menyentuh dada bidang sang jagoan desa dengan jemari mungilnya yang lentik."Om..." bisik Gendis manja, suaranya terdengar bergetar lembut menggoda.Madun yang sedang menutup mata sambil merokok sebatang kretek membuka sebelah matanya. Ia melirik sang daun muda dengan seringai maut khas preman pasar malam. "Kenapa lagi, Neng Gendis? Tenaga kam
Pukul 21.00 WIB. Angin malam kawasan Menteng berhembus pelan, membawa kesejukan yang kontras dengan suasana panas membara di dalam istana RM Jagoan Rasa. Pintu kayu kamar rahasia di lantai dua tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Di luar sana, suasana restoran sudah sunyi senyap, meninggalkan ruang bagi Madun dan Gendis untuk menuntaskan seluruh sisa gairah yang sempat tergantung di tengah jalan.Begitu tubuh mereka melewati ambang pintu kamar, Madun tidak lagi sabar. Sisa-sisa kesabaran sang jagoan desa runtuh seketika setelah sepanjang perjalanan digempur oleh gesekan gendongan depan yang menyiksa.Gendis bahkan belum sempat melepas jaket hoodie hitam berukuran besar yang ia kenakan. Tubuh mungilnya langsung dihempaskan ke atas ranjang king-size berseprai satin hitam dengan hantaman yang cukup kuat.Bruk!"Om... pelan-pelan...!" jerit Gendis kaget, matanya membelalak lebar menatap wajah Madun yang tampak garang di bawah pendar lampu tidur berwarna merah marun.Madun tidak m
Pukul 20.15 WIB. Suasana di warung Bakso Beranak Jagoan berangsur-angsur kembali tenang setelah Bang Dul—tukang sate sekaligus paman kandung Gendis—hanya mampir sejenak untuk memesan sebungkus bakso urat pedas ekstra sambal tanpa sempat memergoki tangan nakal Madun yang beraksi di bawah meja.Meskipun lolos dari maut dan amukan sang paman, jantung Gendis masih berdegup kencang seperti hendak meloncat keluar dari dadanya. Wajah gadis belia itu merah padam, napasnya tersengal-sengal, dan ia buru-buru menghabiskan sisa air teh manisnya untuk menetralisir rasa kaget yang luar biasa.Setelah membayar tagihan mangkok bakso dengan selembar uang kertas tanpa meminta kembalian, Madun berdiri dari bangkunya. Ia merapikan kaos oblong putih polos dan celana training hitamnya, sementara Gendis berdiri di sampingnya sambil merapatkan jaket hoodie hitam berukuran besar untuk menutupi tubuhnya yang masih terasa lemas dan basah di bagian selangkangan."Udah kenyang makannya, Neng Gendis? Ayo, kita
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu neon kuning dari warung-warung kaki lima di sepanjang Jalan Menteng Raya. Asap putih mengepul tebal dari panci besar kuah kaldu sapi yang mendidih di gerobak Bakso Beranak Jagoan, menyebarkan aroma gurih bawang putih goreng dan tulang rangu yang langsung menggugah selera siapa saja yang lewat.Di salah satu meja kayu panjang yang terletak di sudut paling gelap warung bakso tersebut, Gendis duduk terdiam kaku. Seragam SMA-nya sudah ia tutupi dengan jaket hoodie kebesaran berwarna hitam untuk menyembunyikan leher putihnya yang penuh dengan jejak cup-mark ungu kebasahan. Rambutnya dikuncir kuda seadanya, namun sisa-sisa kelelahan akibat amukan kilat Madun di balik pagar kemuning beberapa jam lalu masih jelas tergambar di garis wajahnya yang masih belia.Di sebelah kanannya, Madun duduk dengan gaya khas preman kampung: satu kaki diangkat ke atas kursi, kaos oblong putih polos, dan sandal jepit hijau keramat. Wajah sang
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o







