LOGINPukul 21.00 WIB. Angin malam kawasan Menteng berhembus pelan, membawa kesejukan yang kontras dengan suasana panas membara di dalam istana RM Jagoan Rasa. Pintu kayu kamar rahasia di lantai dua tertutup rapat dan terkunci dari dalam. Di luar sana, suasana restoran sudah sunyi senyap, meninggalkan ruang bagi Madun dan Gendis untuk menuntaskan seluruh sisa gairah yang sempat tergantung di tengah jalan.Begitu tubuh mereka melewati ambang pintu kamar, Madun tidak lagi sabar. Sisa-sisa kesabaran sang jagoan desa runtuh seketika setelah sepanjang perjalanan digempur oleh gesekan gendongan depan yang menyiksa.Gendis bahkan belum sempat melepas jaket hoodie hitam berukuran besar yang ia kenakan. Tubuh mungilnya langsung dihempaskan ke atas ranjang king-size berseprai satin hitam dengan hantaman yang cukup kuat.Bruk!"Om... pelan-pelan...!" jerit Gendis kaget, matanya membelalak lebar menatap wajah Madun yang tampak garang di bawah pendar lampu tidur berwarna merah marun.Madun tidak m
Pukul 20.15 WIB. Suasana di warung Bakso Beranak Jagoan berangsur-angsur kembali tenang setelah Bang Dul—tukang sate sekaligus paman kandung Gendis—hanya mampir sejenak untuk memesan sebungkus bakso urat pedas ekstra sambal tanpa sempat memergoki tangan nakal Madun yang beraksi di bawah meja.Meskipun lolos dari maut dan amukan sang paman, jantung Gendis masih berdegup kencang seperti hendak meloncat keluar dari dadanya. Wajah gadis belia itu merah padam, napasnya tersengal-sengal, dan ia buru-buru menghabiskan sisa air teh manisnya untuk menetralisir rasa kaget yang luar biasa.Setelah membayar tagihan mangkok bakso dengan selembar uang kertas tanpa meminta kembalian, Madun berdiri dari bangkunya. Ia merapikan kaos oblong putih polos dan celana training hitamnya, sementara Gendis berdiri di sampingnya sambil merapatkan jaket hoodie hitam berukuran besar untuk menutupi tubuhnya yang masih terasa lemas dan basah di bagian selangkangan."Udah kenyang makannya, Neng Gendis? Ayo, kita
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu neon kuning dari warung-warung kaki lima di sepanjang Jalan Menteng Raya. Asap putih mengepul tebal dari panci besar kuah kaldu sapi yang mendidih di gerobak Bakso Beranak Jagoan, menyebarkan aroma gurih bawang putih goreng dan tulang rangu yang langsung menggugah selera siapa saja yang lewat.Di salah satu meja kayu panjang yang terletak di sudut paling gelap warung bakso tersebut, Gendis duduk terdiam kaku. Seragam SMA-nya sudah ia tutupi dengan jaket hoodie kebesaran berwarna hitam untuk menyembunyikan leher putihnya yang penuh dengan jejak cup-mark ungu kebasahan. Rambutnya dikuncir kuda seadanya, namun sisa-sisa kelelahan akibat amukan kilat Madun di balik pagar kemuning beberapa jam lalu masih jelas tergambar di garis wajahnya yang masih belia.Di sebelah kanannya, Madun duduk dengan gaya khas preman kampung: satu kaki diangkat ke atas kursi, kaos oblong putih polos, dan sandal jepit hijau keramat. Wajah sang
Pukul 17.45 WIB. Menteng bersiap menyambut malam ketika lembayung senja berubah menjadi warna keunguan yang pekat di balik dahan-dahan pohon kemuning. Di atas rumput basah yang lembap, Gendis masih terbaring dengan napas yang memburu dan air mata yang belum kering sepenuhnya di pipi mulusnya. Bibir merah mudanya bengkak, terbuka sedikit karena kewalahan mengatur pasokan udara setelah melalui siksaan oral yang luar biasa dahsyat beberapa saat lalu.Seragam putih sekolahnya berantakan, kancing atasnya lepas, dan rok abu-abunya terlipat hingga ke pangkal paha. Gadis berusia tujuh belas tahun itu selemah kapas, organ-organ tubuhnya terasa seolah-olah terlepas dari sendi-sendi akibat gempuran tanpa henti dari sang kakek sakti penguasa Menteng.Namun, bagi Madun, gairah yang tersulut oleh jamu oplosan rawa lele dan pesona sang daun muda sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda padam. Justru sebaliknya. Sisa cairan pekat yang baru saja dimuntahkannya ke dalam mulut Gendis malah bertindak
Pukul 17.15 WIB. Matahari sore perlahan tergelincir di balik cakrawala kawasan Menteng, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang menembus sela-sela rimbunnya dedaunan pohon kemuning. Di atas hamparan rumput hijau yang basah oleh keringat, Gendis terbaring lemas dengan napas tersengal-sengal. Bola matanya sayu, menatap kosong ke langit sore setelah gelombang orgasme mahadahsyat baru saja merontokkan seluruh sisa tenaga di sekujur tubuh mungilnya.Leher putih mulus siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu dipenuhi oleh warna keunguan dari puluhan cup-mark basah. Seragam putihnya kusut masai, dan rok abu-abunya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha mulusnya yang gemetar halus.Namun, bagi Madun—sang kakek sakti penguasa Menteng—pertempuran sore itu belum resmi berakhir. Sesi sebelumnya baru saja menjadi pemanasan pembuka. Kini tiba saatnya bagi sang jagoan desa untuk melancarkan aksi pembalasan yang setimpal, menuntut balik seluruh energi dan pelayan dari sang daun muda dengan car
Sore di Menteng meredup perlahan, menyisakan bias jingga kemerahan yang menembus celah-celah dedaunan rimbun di balik pagar kemuning. Di tempat tersembunyi itu, dunia luar seolah berhenti berputar. Tidak ada lagi lalu-lalang tukang sate, suara bising knalpot motor, ataupun teriakan warga dari pos ronda. Yang tersisa hanyalah deru napas memburu dan gesekan panas dua tubuh yang terikat dalam satu pusaran gairah yang tak lagi mengenal kata ragu.Gendis, siswi SMA berusia tujuh belas tahun yang tadinya datang hanya untuk membawa keranjang rotan berisi daun kemangi segar, kini telah sepenuhnya bertransformasi. Air mata sisa ketakutan di sudut matanya telah mengering, berganti dengan kilatan sayu penuh candu yang memancar dari bola matanya yang bulat. Rok abu-abu sekolahnya tersingkap hingga ke pinggang, dan kemeja putihnya basah oleh keringat dingin yang bercampur dengan gelora darah mudanya.Madun berdiri dengan napas terengah, kedua tangannya mencengkeram erat pinggul mungil Gendis ya
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru







