Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 38: Di Balik Karung

Share

Bab 38: Di Balik Karung

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-07 08:07:41
"Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong jalannya, kaki aku pegal nih ngejar langkah Mas yang lebar banget!" protes Rini sambil berlari kecil menyusul Madun di lorong gudang yang remang-remang.

Madun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan hingga dada bidangnya yang hanya terbalut kaos singlet ketat hampir bertabrakan dengan wajah Rini. "Lho, bukannya tadi kamu yang semangat mau ikut Mas cek stok beras di gudang belakang, Rin?"

Rini terengah-engah, wajahnya memerah karena lelah sek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 41: Pusaka Kuli Pasar

    ​"Aduh, Mas Madun... ini beneran isinya daging semua? Kok rasanya kayak megang batang pohon jati yang baru ditebang?" bisik Dara dengan suara yang gemetar hebat. Tangannya yang mungil dan halus kini sedang menggenggam erat gundukan besar di balik sarung Madun.​Madun hanya terkekeh, ia sengaja membusungkan dada bidangnya yang kecokelatan dan penuh peluh, membuat otot-otot perutnya yang kotak-kotak terlihat makin jelas di bawah lampu gudang yang temaram. "Itu namanya pusaka kuli, Dara. Kalau nggak keras dan besar begini, Mas nggak bakal kuat manggul beras berkarung-karung tiap hari. Gimana? Masih berani lanjut atau mau lari pulang ke desa?"​Dara menelan ludah dengan susah payah. Visual Dara saat itu benar-benar maut; ia mengenakan tank top tipis yang talinya nyaris melorot, memperlihatkan pundak putih mulusnya yang tanpa noda. Karena posisinya yang sedang membungkuk di depan Madun, belahan dadanya yang kencang dan padat terpampang nyata, membuat napas Madun ikut memburu. Paha mulusnya

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 40: Godaan Dara Muda

    ​"Mas Madun, kok jalannya pelan banget? Takut sarungnya melorot?" goda Dara, adik sepupu Rini yang baru saja datang dari desa untuk mencari peruntungan di kota.​Madun menghentikan langkah tepat di depan pintu gudang yang sepi. Ia menoleh ke arah Dara yang sedang duduk santai di atas tumpukan karung kosong. Visual Dara siang itu benar-benar merusak konsentrasi kerja Madun. Gadis itu memakai kaos ketat berwarna biru muda yang memperlihatkan lekuk dadanya yang masih kencang dan membusung berani menantang arah angin. Celana pendek kain yang dikenakannya sangat longgar di bagian paha, sehingga setiap kali ia menggoyangkan kaki, paha putih mulusnya yang bening dan kencang terpampang nyata di depan mata Madun. Kulitnya tampak sehalus sutra, tanpa noda, membuat siapapun yang melihat ingin segera menyentuhnya.​"Bukannya takut melorot, Dara. Tapi Mas lagi nahan beban berat di dalam sini yang sudah tidak sabar mau keluar," jawab Madun sambil menepuk pelan bagian depan sarungnya dengan gaya jan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 39: Madu Gadis Muda

    "Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mendekat, otot lengannya menonjol saat berlutut membetulkan rantai. Bau oli bercampur keringat kuli langsung menyergap. Peni membungkuk, pinggang ramping dan pusar mungilnya terlihat jelas. "Tangan kuli emang kuat ya, Mas?" bisik Peni nakal, suaranya mendesah pelan. Madun menelan ludah. "Hati-hati, Pen. Jangan deket-deket. Nanti rantainya nyangkut." Belum sempat Madun berdiri, Rini muncul membawa rantang. Matanya menyipit melihat pemandangan itu. "Mas Madun, jangan kelamaan benerin sepeda. Nanti 'rantai' Mas sendiri yang lepas!" Peni tertawa manis, tidak merasa bersalah. "Mbak Rini, Mas Madun jago banget benerin rantai. Nanti sore mampir ya Mas, Ibu lagi ke kota. Peni mau belajar tekn

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 38: Di Balik Karung

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang dong jalannya, kaki aku pegal nih ngejar langkah Mas yang lebar banget!" protes Rini sambil berlari kecil menyusul Madun di lorong gudang yang remang-remang. Madun menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan hingga dada bidangnya yang hanya terbalut kaos singlet ketat hampir bertabrakan dengan wajah Rini. "Lho, bukannya tadi kamu yang semangat mau ikut Mas cek stok beras di gudang belakang, Rin?" Rini terengah-engah, wajahnya memerah karena lelah sekaligus malu. Visual Rini sore itu benar-benar bikin mata pria normal sulit berkedip. Ia memakai kaos putih berbahan tipis yang sudah basah oleh keringat, membuatnya menempel ketat dan memperlihatkan bentuk bra renda merahnya yang kontras. Rok mini jeans yang ia pakai juga memperlihatkan sepasang paha putih mulus yang sangat kencang, hasil sering jalan kaki keliling pasar. "Habisnya Mas Madun kalau jalan kayak mau balapan karung. Mentang-mentang badannya kekar, nggak mikirin aku yang pakai sand

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 37: Jamu Kuat di Warung Kopi

    "Mas Madun, pelan-pelan dong jalan itu! Masih gemetar ya kakinya habis dikeroyok dua bidadari tadi malam?" goda Rini sambil menarik ujung sarung Madun saat mereka berpapasan di gang sempit dekat pasar.Madun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rini sambil membetulkan posisi kaos singletnya yang ketat, memperlihatkan otot bisepnya yang keras dan berurat. "Bukannya gemetar, Rin. Ini namanya langkah pria perkasa yang sedang menjaga keseimbangan linggis beton supaya tidak tumpah energinya."Rini tertawa cekikikan, visualnya pagi itu sangat menyegarkan mata. Ia memakai kaos putih yang sedikit kekecilan, menonjolkan lekuk dadanya yang padat dan membusung kencang. Celana pendek yang ia kenakan memperlihatkan paha putihnya yang mulus, bersih tanpa noda, seolah-olah kulitnya memang terbuat dari santan kelapa pilihan. Madun sampai harus menelan ludah berkali-kali melihat keringat tipis di leher jenjang Rini yang putih."Alah, paling juga Mas cuma mau ke warung kopi buat cari jamu telur beb

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    bab 36: Ronda Malam di Pasar

    "Aduh, Mas Madun! Jangan kencang-kencang tariknya, daster Rini bisa sobek jadi kain pel kalau ditarik kasar begitu!" bisik Rini sambil mencubit manja lengan Madun yang berotot keras seperti besi galvalum. Madun hanya terkekeh, napasnya masih menderu berat setelah sesi panas di gudang tadi. Ia menatap Rini yang sedang bersandar manja di bahunya yang lebar dan kokoh. Visual Rini malam itu benar-benar maut; daster kuningnya sudah tidak keruan bentuknya, memperlihatkan leher putih mulus dan sebagian pundaknya yang kuning langsat. Rambutnya yang sedikit berantakan justru membuat auranya makin menggoda, seperti kucing yang baru saja diberi makan ikan asin kualitas super. "Habisnya kamu kenyal banget, Rin. Beda sama tumpukan beras yang Mas panggul tiap pagi," jawab Madun sambil tangannya yang kasar merayap kembali ke pinggang Rini yang ramping namun berisi. Siska yang sedang merapikan kemeja putihnya di pojok gudang langsung menoleh dengan tatapan tajam. Ia membuka dua kancing atas keme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status