Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 6: Pelarian Madun Sang Kuli Pasar

Share

Bab 6: Pelarian Madun Sang Kuli Pasar

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-03-21 06:06:36

"Gimana kalau... kita kerja sama saja, Siska?" bisik Sarah dengan nada menggoda. Matanya tidak lepas dari gundukan di balik celana Madun yang tampak berdenyut kaku. "Satu pasien, dua bidan. Biar racun semutnya benar-benar habis total sampai ke akar-akarnya."

Siska terdiam sejenak, lalu melirik Sarah dengan senyum licik. "Ide bagus, Sar. Kamu pegangi kakinya, saya yang urus bagian 'saraf pusatnya'. Kita hajar sampai kuli ini lupa caranya manggul beras!"

Madun yang berdiri di tengah-tengah dua bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 203: Benteng Pemuda Kampung Halaman

    ​"Alhamdulillah, urusan sengketa tanah kemarin sudah beres tanpa sisa, sekarang saatnya saya fokus jantan menggerakkan pemuda karang taruna demi melawan teror rentenir kelurahan sebelah!" seru Madun lantang sambil mengebrak meja pos ronda dengan kepalan tangan kekarnya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi peran barunya sebagai pelindung warga sekaligus ketua karang taruna yang selalu siap menjadi tameng bagi masyarakat desa fajar ini.​"Hidup Mas Madun! Kalau tidak ada wadah pemuda and perlindungan dari kamu, mungkin seluruh tabungan emak-emak di rukun tetangga kita sudah habis diperas lintah darat itu!" puji Ratna, bendahara karang taruna yang baru saja selesai mendata kas warga, sambil berjalan interaktif membawakan segelas kopi jahe hangat ke atas meja ronda. Gadis desa bertubuh sintal itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga lekuk tubuhnya yang padat beris

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 202: Pahlawan Sosial Kampung Halaman

    ​Madun berusaha mengabdi membantu bapak-bapak memperbaiki jembatan desa yang bolong . Madun memanggul sebatang pohon kelapa utuh sendirian tanpa bantuan alat berat. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kesibukan barunya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang penuh tantangan demi membawa kedamaian murni di tanah kelahirannya fajar ini.​"Aduh Mas Madun, untung ada kuli panggul perkasa seperti kamu, kalau tidak mungkin kerja bakti memperbaiki fasilitas umum warga ini bisa mangkrak berbulan-bulan!" puji sekertaris desa baru bernama lndah yang berjalan interaktif membawa baki berisi es teh manis menuju lokasi gotong royong. Gadis kota yang baru pindah dinas itu sengaja memajukan langkah tegapnya hingga lekuk tubuhnya yang sintal padat berisi nampak memantul indah di bawah terik matahari pagi, membuat papan kayu jembatan yang diinjaknya ikut bergetar manja.​Visual Inda

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 201: Aroma Surga di Serambi Masjid

    Madun merasa sekarang saatnya mengabdi sebagai marbot masjid demi ketenangan iman yang hakiki!" gumam Madun sambil mengibas sajadah beludru di teras depan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kehidupan barunya yang sangat alim, adem, dan sederhana setelah resmi meninggalkan seluruh masa lalu liarnya di perantauan demi menjadi pemuda saleh dambaan rukun warga.​"Mas Madun, ini mukena dan sarung titipan Pak Ustaz sudah saya cuci bersih, tolong ditaruh di lemari saf depan ya!" panggil Fatimah, putri tunggal pak kiai setempat yang berjalan interaktif mendekati serambi masjid dengan nampan kayu di tangannya. Gadis berhijab itu sengaja memajukan langkah halusnya hingga bayangan tubuhnya yang sintal dan padat berisi nampak bergoyang lembut tertimpa cahaya matahari pagi, membuat anyaman bambu pembatas saf berguncang pelan.​Visual Fatimah di area pelataran masjid yang sejuk

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 200: Selamat Datang di Tanah Kelahiran

    ​"Akhirnya saya injakkan kaki lagi di tanah kelahiran ini, bebas dari kepungan bule gila!" bisik Madun sambil melompat turun dari pintu bus malam yang baru saja berhenti di tepi jalan desa. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, menghirup dalam-dalam udara kampung yang bersih, jauh dari drama asmara rumit lintas kelurahan yang membuatnya kabur seorang diri tanpa ada satu orang pun yang tahu.​"Heh Madun! Pulang-pulang kok malah melamun di pinggir jalan, tidak takut ditabrak gerobak sapi apa?" sapa sebuah suara renyah dari arah warung kopi bambu, membuat Madun menoleh dengan cepat. Ternyata di sana sudah berdiri Ningrum, janda kembang paling montok se-kecamatan yang sedang menyapu halaman warungnya dengan gerakan pinggul yang sangat interaktif dan sengaja dibuat meliuk-liuk manja.​Visual Ningrum di bawah temaram lampu warung subuh itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan mau

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 199: Pelarian Tengah Malam Juragan Madun

    ​"Kurang ajar, kenapa bayangan paha mulus Miss Catherine masih saja menempel ketat di otak jantan saya, padahal bus malam ini sudah melaju kencang meninggalkan pelabuhan!" gerutu Madun sambil memukulkan tangan kekarnya ke sandaran kursi bus yang bergetar. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, mencoba mengusir bayangan gadis bule yang ditinggalkannya tidur sendirian di bungalow fajar tadi demi mencari ketenangan batin seorang diri.​"Hei Mas Tampan, kalau melamun terus sambil meremas kursi begitu, nanti sandaran besi bus ini bisa patah berantakan karena tenaga kuli kamu yang terlalu beringas itu!" celetuk seorang gadis penumpang di sebelahnya secara interaktif membuat Madun kaget setengah mati. Gadis lokal bertubuh sintal itu nampak sengaja menggeser posisi duduknya hingga buah dadanya yang padat berisi menyenggol lengan berotot Madun.​Visual gadis penumpang bus malam di sebela

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 198: Rencana Rahasia di Tengah Malam

    ​Seorang diri menuju terminal bus malam tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" bisik Madun dengan suara sangat lirih sambil mengendap-endap keluar dari pintu belakang penginapan, meresapi kembali getaran asmara jantannya yang mulai jenuh and butuh ketenangan batin murni setelah berbulan-bulan dikepung rupa-rupa drama asmara lintas kelurahan fajar ini. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi memulai misi pelarian rahasianya kembali ke kampung halaman sebatang kara.​Madun langsung memajukan langkah tegapnya untuk melompati pagar tanaman pembatas jalan, membiarkan tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan sejati nampak sangat gagah memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang malam ini memilih mundur demi kesehatan mental masa depan. Sambil membenahi letak ransel kanvas lusuhnya secara i

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 77: Lemas Beruntun di Gudang Belakang

    ​"Aduh, Mas Madun... ini muncratannya kok banyak banget sih?! Sampai luber-luber keluar dari paha Lala nih," keluh Lala sambil mengelap celah paha mulusnya yang putih bersih dan sangat bening menggunakan ujung kain yang tersisa.​Visual Lala pagi itu benar-benar menggetarkan jiwa pria normal. Tank

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 75: Gudang Kelontong Ambyar

    ​"Aduh, Mas Madun... linggis beton Mas bener-bener bikin rahim Lala bergetar hebat, gak bisa gerak lagi paha Lala ini," keluh Lala sambil selonjoran lemas di atas tumpukan karung beras yang sudah berantakan.​Visual Lala di pagi yang makin terang ini bener-bener merusak pertahanan iman pria normal.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 71: Lembur Massal Gudang Belakang

    ​"Aduh, Mas Madun... linggis Mas bener-bener gak ada matinya ya. Ini paha Lala sampai mati rasa, lemes banget kayak mie instan kesiram air panas," keluh Lala sambil meluruskan kakinya di atas karung beras.​Visual Lala yang terlentang pasrah benar-benar bikin mata pria normal enggan berkedip. Tank

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 70: Gudang Kelontong Bergoyang

    ​"Mas Madun... buruan tutup pintu gudangnya! Lala udah gak tahan lihat linggis beton Mas yang menonjol gede banget di balik celana itu!" rengek Lala sambil bersandar di tumpukan karung beras.​Visual Lala di dalam gudang remang-remang itu benar-benar bikin mata pria normal langsung melotot. Tank to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status