Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 81: Bikin Pengen

Share

Bab 81: Bikin Pengen

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-22 12:33:47

​"Aduh, Desi... Rara... denger gosip soal pasak bumi semut rangrang milik Madun aja udah bikin lutut aku lemes gemeteran begini, apalagi kalau ngerasain langsung tusukannya," bisik tawa maut dari bibir merah merona milik Yanti si janda kembang penjual kopi seksi, sambil menyandarkan tubuh montoknya di tiang pos ronda belakang pasar.

​Visual Yanti siang bolong itu bener-bener bikin jakun para pria turun naik gak karuan. Tank top rajut warna hitam yang dipakainya nampak super ketat dan melar maks
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 161: Langkah Anggun di Pelataran Pura

    ​"Aduh, indahnya hembusan angin pagi yang membawa kedamaian... lupakan saja khayalan soal munculnya pria kekar mirip mantan kekasih dari Amerika yang membawa surat gugatan hak asuh asmara internasional yang sangat mengada-ada itu, sekarang mari kita nikmati langkah kaki yang elegan menyusuri jalan setapak pelataran pura yang agung ini tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil merapikan letak daster baru di lengan kasarnya, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah berjalan dengan penuh keanggunan meninggalkan hiruk-pikuk los kain pasar kelurahan fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang pondasi ruko ruko desa. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 160: Angin Segar di Balik Kios Buah

    ​Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengayunkan langkah jantannya di atas paving blok, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah meloloskan diri dari kepungan drama fiktif buatan dukun warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung mengarahkan pandangan matanya ke deretan buah semangka yang merah merekah di atas meja kayu. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap memborong seluruh dagangan demi menyenangkan hati sang bidadari barat. "Nah, kalau suasananya adem dikelilingi tumpukan buah segar begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!"​Tiba-tiba, Cath

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 159: Kejutan Manis dari Balik Kemoceng Bulu

    ​"Waduh, untung saja reflek otot kuli pasar saya masih setelan pabrik... lupakan saja khayalan emak-emak matic bawa jaring kawat titanium seberat seratus ton dari kelurahan sebelah yang sangat tidak masuk akal itu, sekarang fokus jantan Mas Madun bener-bener cuma mau membantu pak tua kasihan ini mendirikan kembali gerobak es cendolnya yang sempat miring sedikit akibat kesenggol spion warga pasar, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil membersihkan sisa serutan es di tangannya, meresapi kembali getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah aman menjauhi bibir aspal jalanan yang mulai padat merayap fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton ruko desa. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah meskipun hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli pan

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 158: Segelas Es Cendol Pemikat Jiwa

    ​"Aduh, tenggorokan jantan saya rasanya kering kerontang bagai aspal jalur pantura. Madun bener-bener cuma mau membelikan kamu segelas es cendol segar di gerobak pinggir jalan. Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengibaskan kaos singlet hitam ketatnya, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah melangkah keluar dari area pasar tradisional yang mulai padat merayap fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menghentikan langkah tegapnya di samping gerobak kayu pak tua. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah berdiri di bawah terik matahari, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap memborong seluruh isi stoples gula merah demi menyegarkan dahaga sang bidadari barat. "Nah, kalau suasananya santai sambil memandangi tetesan santan segar begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nant

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 157: Belanja Daster Bali Pemancing Gairah

    Madun membayar dua lembar kain batik pilihan ini ke kasir. Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengantre di depan kasir los kain, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah kepalanya berhenti memikirkan gangguan fiktif buatan pemilik warung remang-remang lintas kelurahan fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat beton proyek desa. Tubuh sawo matangnya yang tinggi tegap dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menghalau segala bentuk copet pasar malam yang mengincar dompet jantannya. "Nah, kalau suasananya damai antre di depan kasir begini kan hati jantan Mas Madun bisa fokus memikirkan modal ruko kelontong kita nanti, tanpa perlu tegang ketakutan digerebek satpol pp akibat hasrat lubang rahim menantang maut siang ini!"​Tiba-tiba

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 156: Batik Pilihan untuk Sang Bidadari

    ​Madun dan Catherine melangkah masuk ke dalam los kain tradisional untuk mencarikan Miss Catherine selembar kain batik motif Bali yang indah tanpa perlu dikotori hawa nafsu birahi liar setelan pabrik, cyiiinnn!" seru Madun bernapas lega sedalam-dalamnya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang kekar, meresapi getaran asmara suci yang murni, adem, dan tulus setelah badai ketegangan fiktif buatan ruko remang-remang itu mendadak sirna ditiup angin sepoi-sepoi los pasar fajar ini.​Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung langsung memimpin jalan menembus tumpukan kain batik yang harum aroma lilin malam tradisional. Tubuh sawo matangnya yang tinggi kekar dengan susunan otot perut kotak-kotak penuh urat jantan nampak sangat gagah hanya dibalut kaos singlet hitam ketat, memancarkan pesona kuli panggul pasar tiga ton yang siap menjadi pelindung sejati bidadari barat dari desakan ibu-ibu pemburu daster diskonan. "Nah, kalau suasananya damai penuh warna kain

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status