Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 82: Serbuan Gadis Gatel Bikin Madun Kesel

Share

Bab 82: Serbuan Gadis Gatel Bikin Madun Kesel

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-05-22 12:36:24

​"Aduh, Mas Madun! Tolongin aku dong, lubang rahim aku mendadak gatel banget nih denger keperkasaan pusaka semut rangrang kamu!" teriak Maya si gadis penjual ayam potong seksi sambil menerobos masuk ke dalam gudang kelontong, langsung memegangi pinggangnya yang ramping.

​Visual Maya siang itu bener-bener bikin mata kuli pasar copot. Tank top pink ketat yang dipakainya nampak melar maksimal menahan gundukan buah dadanya yang besar, kencang, dan padat menyembul seksi. Celana gemes denim super min
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 337: Senja Merah di Atas Jok RX-King

    ​Pukul 17.15 sore. Setelah badai amukan nafsu yang membakar habis seluruh sisa tenaga Gendis di dinding tebing purba Curug Menteng, langit di atas kawasan pinggiran selatan Jakarta perlahan berubah warna menjadi jingga kemerahan. Tirai air terjun tampak berkilau memantulkan cahaya senja, sementara hutan lebat di sekitarnya mulai diselimuti oleh kabut tipis tipis yang turun bersamaan dengan menurunnya suhu udara.​Di atas sebuah batu datar yang agak kering, Gendis terbaring dengan mata terpejam rapat. Napasnya terdengar teratur, perlahan kembali pulih dari pingsan singkat yang ia alami akibat terjangan klimaks mahadahsyat sebelumnya. Jaket hoodie hitam miliknya dibentangkan di atas bebatuan untuk menutupi tubuh mungilnya yang masih mengenakan bikini merah muda basah.​Madun berdiri tegap di dekat tebing. Ia mengenakan kembali celana pendek pantainya, namun tetap membiarkan dadanya bidangnya terbuka, membiarkan angin senja membelai otot-ototnya yang berkilau oleh sisa keringat. Di sampi

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 336: Puncak Bara di Tebing Purba

    ​Pukul 15.30 WIB. Matahari sore yang menyengat perlahan mulai tertutup oleh bayangan tebing batu hitam purba di kawasan Curug Menteng. Suasana di sekitar air terjun semakin terasa privat dan terisolasi dari dunia luar. Gemuruh air yang jatuh menghantam bebatuan menciptakan tirai alami yang menutupi segala suara, membuat tempat itu menjadi sarang sempurna bagi kelanjutan petualangan mesum sang jagoan desa dan daun mudanya.​Gendis masih terduduk lemas di atas batu licin basah. Napasnya memburu tak beraturan, dadanya yang dibalut bikini merah muda naik-turun dengan cepat, dan butiran air jernih—perpaduan air curug dan peluh—mengalir deras di kulit putih mulusnya.​Namun, bagi Madun, ronde di bawah guyuran air terjun tadi ternyata baru menjadi pembuka dari serangkaian amukan nafsu yang lebih liar.​Melihat sang daun muda terengah-engah, Madun tidak memberi waktu bagi Gendis untuk memulihkan tenaga. Dengan seringai maut preman pasar malam yang sarat akan dominasi absolut, Madun menarik ke

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 335: Desir Basah di Bawah Derasnya Curug Menteng

    ​Pukul 14.00 siang. Matahari menyengat terik di atas langit kawasan pinggiran selatan Jakarta, memancarkan gelombang panas yang membuat udara terasa gerah. Di sebuah kawasan pelindung alam tersembunyi yang dikenal sebagai Curug Menteng—sebuah air terjun alami berarus deras yang dikelilingi oleh tebing batu hitam purba dan hutan lebat—suasana tampak cukup sepi dari para pengunjung umum karena hari itu adalah hari kerja biasa.​Di balik rimbunnya pohon pakis liar dekat aliran sungai bawah air terjun, dua sosok manusia berdiri tersembunyi. Gendis mengenakan bikini dua pièces berwarna merah muda cerah yang kontras dengan kulit putih mulusnya, melapisi tubuh mungilnya dengan celana pendek denim tipis yang basah kuyup karena sengaja ia pakai untuk bermain air. Di usianya yang menginjak tujuh belas tahun, pesona sang daun muda tampak semakin matang, memancarkan aura menggairahkan yang siap meruntuhkan iman siapa saja.​Di sampingnya, Madun berdiri tegap dengan gaya khasnya: bertelanjang dada

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 334: Semburan Terakhir di Bayangan Tabung Kayu

    Meskipun deru mesin motor two-stroke di dalam arena tong setan sudah sepenuhnya dimatikan dan para penjaga wahana mulai membereskan lampu-lampu sorot tenda, sisa-sisa getaran mistis dari papan kayu penopang tabung seolah masih merambat naik melalui sol sandal jepit hijau keramat milik Madun.​Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang besi besar pasar malam rakyat Menteng, Gendis berdiri dengan napas tersengal-sengal. Jaket hoodie hitam berukuran besar ia kenakan untuk menutupi seluruh tubuhnya yang basah kuyup oleh keringat malam dan cairan kenikmatan. Siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu bersandar lemas pada dinding luar arena, sementara kedua tangannya mencengkeram erat lengan kekar Madun.​Meskipun sebelumnya batang raksasa empat puluh sentimeter milik sang jagoan desa sempat ditarik keluar, gelombang candu yang tercipta dari fenomena "tempelan maut" membuat pembuluh darah mereka berdua seakan belum mau berdamai dengan kenyataan.​Madun menatap tajam ke arah wajah Gend

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 333: Tempelan Maut di Jantung Tong Setan

    ​Pukul 23.00 WIB. Raungan mesin two-stroke di dalam tabung kayu raksasa arena tong setan perlahan-lahan mulai menurun derunya. Asap tipis beraroma bensin bakar mengepul keluar dari sela-sela dinding papan, berpadu dengan udara malam pasar malam rakyat Menteng yang dipenuhi keringat dan keramaian penonton.​Di sudut paling gelap yang terhalang bayangan tiang penyangga utama, Madun dan Gendis masih terpaku dalam satu kesatuan raga yang menolak terlepas.​Ganti posisi atau merenggangkan jarak sama sekali bukan pilihan di kepala mereka. Setelah hantaman klimaks beruntun yang diselaraskan dengan getaran mesin motor sebelumnya, tubuh mungil Gendis masih menempel rapat di dinding kayu arena. Kedua kaki ramping sang siswi SMA itu melingkar erat mengunci pinggang Madun, sementara punggungnya bersandar penuh pada kayunya dinding tabung.​Di dalam sana, mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter milik Madun tidak ditarik keluar sedikit pun. Batang baja panas itu dibiarkan tetap

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 332: Getaran Maut di Arena Tong Setan

    ​Pukul 21.45 WIB. Suasana di dalam kamar rahasia istana RM Jagoan Rasa masih menyisakan hawa panas yang mengepul dari tubuh Madun dan Gendis. Setelah badai perkosaan brutal mereda, kedua sejoli itu terbaring berdampingan di atas ranjang satin hitam. Gendis menarik selimut bulu domba hingga sebatas dada, mengatur napasnya yang masih memburu. Wajah imut gadis berusia tujuh belas tahun itu tampak kemerahan, dipenuhi peluh tipis yang menempel di pelipisnya.​Namun, meskipun baru saja digempur habis-habisan dalam ronde yang melelahkan, mata bulat Gendis justru kembali berbinar-binar penuh kelicikan manja. Ia miringkan tubuhnya menghadap Madun, lalu menyentuh dada bidang sang jagoan desa dengan jemari mungilnya yang lentik.​"Om..." bisik Gendis manja, suaranya terdengar bergetar lembut menggoda.​Madun yang sedang menutup mata sambil merokok sebatang kretek membuka sebelah matanya. Ia melirik sang daun muda dengan seringai maut khas preman pasar malam. "Kenapa lagi, Neng Gendis? Tenaga kam

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status