Lampu gudang yang tidak terlalu terang membawa suasana menegangkan. Yang laki-laki duduk di kursi sedangkan wanita berdiri tidak jauh darinya.
“Ya, itu mereka, Pak.”
“Mungkin saja mereka mengikutimu, Fan. Apa kau benar-benar memastikan tidak ada yang mengikutimu?” Tam berdiri, meninggalkan kursi. Dia yang penasaran dengan tamu tak diundangnya, yang seakan sedang menantangnya.
Kakinya berhenti begitu jarak mereka lima langkah. Karena selisih tinggi tubuh mereka, dia harus menatap ke bawah.
“Kau tidak nyasar kan, gadis kecil?” seringainya.
Master yang ada di belakang, menahan diri seperti yang diminta.
“Apa kau kesini untuk mencari tahu yang terjadi pada ibumu?” ledek Tam.
---Sekali sampah tetaplah sampah.
Tam semakin menyungging senyum licik. “Kalau lihat lagi, kau juga cukup cantik. Apa matamu itu asli? Aku bisa kaya jika menjualnya di pasar gelap.”
Tangan besarnya terangkat berniat menyentuh rambut Reina. Secara diam-diam, Reina menggenggam tongkat listrik di tangan kananya, mengarahkannya ke perut buncit laki-laki itu. Tepat saat tangan itu berjarak beberapa centi lagi, Reina menekan tombol pada tongkat dan secara cepat listrik statis menyengat tubuh gempal itu.
Serangan dadakan yang spontan membawanya bergerak menjauh beberapa langkah. Dia terkejut, begitu juga dengan Fan--wanita keriting itu.
“Kau cukup licik juga, ya. Kau sama saja seperti pengecut.” Tam mengusap perutnya.
Sebagian tubuhnya masih mati rasa akibat sengatan itu, namun untuk menutupi kekurangannya dia memakai kekuatannya untuk mengurangi rasa sakitnya.
“Itu berarti, kau adalah pecundang yang lebih rendah dari pengecut. Begitu, kan?” sindir Reina, tak mau kalah. Dia sedikit bisa menilai kelompok seperti apa yang dimiliki Tam. Kumpulan orang-orang dengan superioritas di atas awan.
Kalimat sindiran yang langsung menusuk tepat di hatinya. Pancingan yang membuahkan hasil. Tam mulai diselimuti kemarahan, wajahnya berubah serius.
“Kutanya terakhir kalinya, apa kau menyesal?”
“Tidak.”
“Oke. Kau tidak bisa menarik kata-katamu.” Tam mengangkat tangan kanannya.
Tidak jauh berbeda dengan penduduk Arcent, para warga di Distrik Kumuh juga memiliki kekuatan. Mungkin yang membedakan mereka tidak perlu media. Hanya perlu menggerakkan tangan, membayangkan apa yang mereka inginkan pada kekuatan mereka, dan jadilah.
Begitu juga dengan apa yang dilakukan Tam. Menciptakan bola api dengan diameter 3 meter. Gelombang apinya membakar apapun yang ada di sekitarnya kecuali pemiliknya. Skala yang cukup untuk membakar satu bangunan.
“Tunggu! Kita semua bisa mati!” teriak Fan tidak terima. Dia mulai dilanda panik. Berniat untuk melarikan diri, namun Master yang berada di belakang Reina, menghalangi pintu keluar satu-satunya di bangunan itu.
---Ini berbahaya. Tapi kenapa dia sangat tenang?
Nostalgia yang membawa rasa seru setelah berhasil memprovokasi lawan bicaranya layaknya saat dia di pengadilan Kota Arcent waktu itu. Tapi, itu...
---Membosankan.
“MATILAH!” Cukup dengan satu gerakan, bola api raksasa itu melayang dengan cepat ke arah Reina.
---Lihat kau bahkan tidak berkutik. Aku bisa menghabisi satu gedung dengan kekuatanku ini.
Satu gerakan cukup, begitu juga dengan Reina. Dia hanya perlu mengulurkan tangan kirinya. Gelombang api yang mendekat mulai terasa panas, namun seperti yang pernah terjadi sebelumnya, bola api itu menghilang tepat di depan tangan Reina.
Menghilang bagaikan tidak pernah ada gumpalan panas sebelumnya. Menyisakan kepingan warna-warni yang menyebar seisi ruangan. Bahkan luka bakar pun tidak membekas di telapak tangan Reina.
“B-BAGAIMANA BISA?!” Tam terperanjat dari tempatnya. Menatap keajaiban yang tidak pernah dilihatnya selama dia hidup. Hal yang mustahil untuk terjadi, terlebih lagi dengan bola besar itu dia bisa sendirian membakar beberapa bangunan.
Tapi, kali ini—
Reina menekan lagi tombol di tongkat listrik. “Jangan panik seperti itu. Sejak awal kau kan yang mulai. Jadi, dengan senang hati aku akan menjadi mimpi buruk untukmu.”
Tanpa persiapan apapun, tongkat listrik sudah ada di depan mata laki-laki itu. Ujungnya menyentuh dahinya dan langsung membuatnya terduduk. Serangan langsung pada kepalanya, cukup untuk membuatnya setengah tidak sadarkan diri.
“Aku tidak akan membunuhmu. Bukankah kau cukup beruntung kali ini?” Reina berjalan mengambil botol air yang sudah disiapkannya, membawanya ke hadapan Tam.
Dia meletakkan botol itu, ganti mengambil tongkat listrik yang ada di dekatnya. “Begini lebih baik.”
Memainkan tongkat listrik di sekitar tubuh Tam. Karena dia pengguna kekuatan maka tubuhnya masih bisa menahan sengatan listrik, meskipun begitu dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
“AAaaRGGGGHH!!”
Teriakan histeris terdengar memilukan. Sengatan listrik kembali mengaliri tubuhnya dari lengan kanannya.
Reina melakukannya berulang kali pada bagian tubuh yang berbeda. Hingga berakhir dengan isakan tangis laki-laki di bawah kaki Reina.
“Bunuh saja aku. Bunuh aku,” gumamnya.
“Kenapa? Bukankah kau sering melihat mereka memohon seperti saat ini?” Reina menonaktifkan tongkat listrik, memakai ujungnya untuk mengangkat dagu Tam agar menatapnya.
“Dan kau mengabaikannya, kan?”
Tidak ada jawaban apapun, hanya sekedar respon tatapan mata ketakutan. Tidak jauh dari mereka, Master menahan wanita itu agar tidak melarikan diri. Meskipun dia banyak berontak namun tenaganya tidak sebanding dengan Master.
“Aku juga punya hadiah untukmu.” Menjauhkan tongkat listriknya dan berganti mengambil botol air.
Dia menyiramkan semua air ke laki-laki itu, memberikannya ingatan akan apa yang dilakukannya pada Ruri sebelumnya. Dia hanya bisa menunduk.
“Apa kau suka air dan listrik?”
Pertanyaan itu memaksa Tam kembali mendongak. Dia dan bola matanya yang bergetar, tanda penolakan keras. Namun semua itu diabaikan oleh Reina. Dia dengan santainya kembali menyalakan tongkat listrik di tangannya.
Reina menempatkan tongkat listriknya ke bawah dagu laki-laki itu, sambil menikmati ekspresi ketakutannya.
“Kau juga tidak akan langsung mati. Sebagai pengguna kekuatan, tubuhmu lebih kuat dari manusia biasa. Jadi, nikmati saja. Oke?”
BZZRRR!
Sekali sengatan, laki-laki itu pun tumbang. Tubuhnya tergeletak di lantai dengan busa memenuhi rongga mulutnya. Satu sudah selesai, tinggal satu yang tersisa.
Meskipun hanya melalui tatapan mata, wanita rambut keriting itu sudah lebih dulu menundukkan kepalanya, sejajar dengan lantai.
“S-Saya mohon maaf! Saya akui saya salah!! Saya hanya dibujuk olehnya! Tidak ada inisiatif dari diri saya sendiri. saya akan melakukan apapun yang anda inginkan! Saya mohon maafkan saya!”
---Mau bagaimana pun dia masih anak kecil. Sesama perempuan dia pasti tidak akan tega.
Begitulah yang ada di pikiran wanita itu. Namun apa yang didapatkannya justru kebalikannya.
Sebuah hentakan kaki di kepalanya membawa benturan dahinya ke lantai sangat keras. “Apa kau baru saja berpikir, mungkin aku akan mengampunimu hanya karena kita sesama perempuan? Dan karena aku masih kecil? Begitu, kan?”
---Bagaimana bisa?
“T-Tidak. Sama sekali tidak. Maaf.”
“Angkat kepalamu.” Reina menarik kakinya, menjaga jarak. Begitu wanita itu duduk berlutut, Reina membuka menyodorkan botol berisikan air pedas itu padanya.
“Kalau kau bisa menghabiskan setengah, aku akan melepasmu.”
Perintah yang cukup sederhana jika dibandingkan harus tersengat listrik seperti laki-laki sebelumnya. Namun, melihat betapa keruhnya air di dalam botol itu, dia merasa tenggorokannya akan terbakar.
Dengan ragu-ragu, dia menerima botol itu. “Anda benar-benar akan melepas saya, kan?”
Reina mengulas senyum. “Ya. Aku selalu menepati janjiku.”
Hanya dengan melihatnya, air pedas itu terlihat sangat mematikan. Wanita itu tidak bisa membuang waktu untuk berpikir berulang kali. Dia menengguk dengan cepat air pedas itu, tanpa jeda. Meskipun tenggorokannya mulai terasa terbakar. Dia mengabaikannya hingga dia berhasil menghabiskan setengah dari semula.
“HAH. HAH. HAH.” Tangannya mencengkram lehernya, sambil menjulurkan lidahnya. Air matanya sudah mengalir deras, matanya pun ikut memerah, ingus pun keluar tanpa henti.
Sekilas dia menatap Reina, namun tidak mendapat respon apapun.
“Ambil ponselmu.”
Wanita itu dengan patuh merogoh saku celananya, menyodorkan ponselnya ke Reina.
“Hubungi kantor polisi. Katakan pada mereka, kalau kau melihat seorang laki-laki bertubuh ramping memakai celana jins dan jaket hitam panjang, menghabisi laki-laki itu. Katakan juga lokasi kita saat ini.”
“B-Bagaimana jika mereka tidak percaya?”
“Kau hanya perlu melakukan sedikit drama. Bilang juga kalau kau juga korban laki-laki itu dan harus segera pergi.”
Meskipun dengan tangan gemetar, wanita itu mengetik nomor polisi dan di dengung ke dua sambungan telepon tersambung. Dengan mulut yang mencoba menahan pedas dan panas, dia mengatakan apa yang diinginkan oleh Reina, sama persis.
“M-Maaf. Pelakunya sudah langsung pergi saat saya sadarkan diri... iya... baik... maaf, maaf, saya harus pergi sekarang atau dia akan kembali memburu saya.”
TUTT! Panggilan berakhir.
Wanita itu mengakhiri telepon sepihak kemudian kembali menatap Reina. Dia mendapatkan seulas senyum darinya.
“Sekarang pergilah.”
Tanpa berpikir dua kali dan sebelum Reina berubah pikiran, dia terburu-buru untuk bangkit dan berlari keluar dari gudang. Dia terlihat sangat ketakutan dan rasa sakit di tenggorokannya makin terasa menyakitkan.
“Kita juga harus pergi, Master. Bereskan barang-barang kita."
“Baik.”
Begitu dia membuka pintu, gemerlap lampu bawah tanah yang terang digantikan dengan lampu kuning yang temaram. Di paling ujung, berseberangan dengan pintu, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan komputer dan papan tulis hitam. Di balik meja, dijaga seorang laki-laki berumur 40-an yang sedang membaca koran.“Selamat datang.” Dia menutup korannya begitu seseorang berdiri di depan mejanya.Dia dikenal dengan nama Cruel. Seseorang yang menjadi pintu masuk utama menuju Black Falcon. Pusat dari segala informasi bawah tanah, sekaligus orang yang menghandle hampir 40 orang yang tersebar sebagai anggota mafia.“Lantai 20.”Cruel mengambil kartu berwarna putih, menyerahkannya ke laki-laki di depannya. “Silakan, tuan.”Ada dua pintu yang dijaga olehnya. Sisi kiri mengarah ke gedung di atas mereka. Sedangkan sisi kanan, akan mengarah ke lorong tempat penjualan barang ilegal berlangsung.Laki-laki itu menerimanya dan langsung meluncur ke lantai 20 menggunakan lift. Tiba di lantai tujuan, dia tid
“Baik, pak!”“Baiklah. Hari pertama kalian akan diisi dengan berkeliling gedung Dewan Pengawas lantai dasar. Tempat para senior kalian keluar-masuk untuk bekerja. Kalian akan ditemani senior yang ada di depan kalian saat ini. Jadikan hari ini hari pengenalan tempat kerja kalian. itu saja dariku. Sisanya aku serahkan pada para senior.” Gavin menatap para senior di kanan-kirinya bergantian.“Tentu, pak!”Kemudian Gavin pergi. Dia akan mengawasi anak-anak magang itu dari lantai tengah, tempat di mana seluruh monitor CCTV gedung ada di sana.15 anak SMA bergerak mengikuti lima senior yang membawa mereka mengelilingi gedung. Dimulai dari lobby ke kanan, ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruang antai. Sambil berjalan, senior menjelaskan setiap ruangan yang mereka lewati.Agar tidak mengganggu jalan para pekerja, 15 siswa-siswi itu membentuk 2 barisan memanjang ke belakang dan Reina dapat bagian yang paling belakang sendiri, berjalan sendirian sambil berusaha mendengar apa yang dijela
“Kenapa kau tidak beri tahu aku, Rei? Kalau tahu, aku tidak akan mengajakmu ke sini!”Dia terlihat lebih manusiawi dibandingkan dengan kebanyakan manusia yang ditemui Reina.“Tidak apa, sungguh. Aku juga mau mencobanya.”“Anu, permisi. Tolong biarkan dia ikut sampai tes saja.” Gery tiba-tiba bicara pada dua wanita yang sedang menunggunya menyelesaikan pendaftaran.Salah satu wanita tersenyum canggung, tidak bisa mengiyakan permintaan Gery. “Itu agak sulit. Karena kalian hanya berdua, jadi kemungkinan bisa lolos semua.”Gery menggeram berat, menyesali keputusannya.Reina yang di sebelahnya menepuk-nepuk punggungnya. “Aku akan belajar lebih giat lagi.”“Baiklah.”Lembar pendaftaran dikumpulkan lalu mereka berdua diminta untuk melakukan tes awal. Meskipun dikatakan sebelumnya bahwa mereka bisa lolos, namun tes tetap harus dijalankan untuk formalitas dan juga isi laporan bagi mereka yang menjadi petugas hari ini.Reina dan Gery dipasangkan sebuah gear VCR yang mana mereka diminta untuk me
“Bagaimana? Supmu jadi merah tuh.”Dengan tarikan keras, dasi yang dipakai Jeti membawa wajahnya ke dalam mangkuk sup. Reina harus menggeser tubuhnya agar wajah sombong itu sepenuhnya penuh di dalam mangkuk.Kericuhan yang membuat siapapun menoleh ke arah Reina. Gery bahkan sampai harus menjauh dari meja agar tidak terkena cipratan sup, membawa serta piring makanannya.Hah! Jeti menarik kepalanya sekuat tenaga hingga dia kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai yang dingin. Matanya terpejam erat-erat, berusaha keras menahan agar kuah tidak masuk ke matanya.“Panas! Panas! Tolong siapapun!” Dia memakai dasinya untuk mengeringkan wajahnya.“Jangan lebay. Aku pesan kuah hangat hanya untukmu.” Reina membawa mangkuk yang sudah berceceran isinya ke depan Jeti. Tepat setelah Jeti berhasil membuka matanya, dia menuangkan sisa sup yang ada di mangkuk ke atas kepala Jeti.“Coba rasakan lagi. Hangat kan? Aktingmu buruk sekali. Ini kan yang selalu ingin kau lakukan padaku beberapa minggu in
Gery menatap Jeti dari belakang. Gadis itu sudah mengepalkan tangannya. Mungkin jika tidak ada guru di kelas, baku hantam akan terjadi.“Saya hanya bercanda, Bu. Lagipula, tidak ada untungnya bagi saya,” ungkap Reina yang mulai mengerjakan soal yang diminta.Asila yang mencoba mencairkan suasana tertawa canggung. “Tolong kerjakan dengan hati-hati.”Tidak ada tanggapan apapun. Reina mengerjakan dalam diam diiringi bisikan-bisikan teman-temannya. Tak butuh 5 menit mengerjakan, Reina sudah menyelesaikannya. Jawaban dengan rumus sederhana.Asila mengoreksi dengan teliti kemudian mengangguk. “Benar. Kau hebat, Rei. Apa kau sudah belajar semalam?”“Terima kasih.” Mengembalikan spidol ke Asila sebelum akhirnya dia kembali ke tempat duduknya.Sambil menatap anak didiknya, Asila membawa buku pelajaran ke tengah. “Saya akan menambah nilaimu, Reina. Untuk yang lain, bisa tiru Reina, belajar sebelum pelajaran dimulai.”Jawaban serempak terdengar seisi kelas. Jeti pun ikut menjawab namun masih den
Seperti yang dikatakan Argi. Hari panjang menuju sekolah pun dimulai. Guru private diundang untuk mengajar Reina, hanya satu orang yang dianggap mampu mengajarkan semua mata pelajaran.Reina pun mengikuti pembelajaran tanpa kendala. Banyak hal yang belum pernah dia baca, dan itu berhasil menarik rasa penasarannya lebih jauh lagi. Namun, selalu ada batas di mana banyak pertanyaannya yang tidak bisa dijelaskan.Formulir pindah sekolah sudah ditangan lalu tibalah hari ini, hari pertama Reina masuk sekolah. Aneka seragam sudah didapatkannya. Reina masuk pertama di hari Rabu.“Suatu yang langka karena hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.”Kelas 2-C, berisi 22 siswa. 10 laki-laki, dan sisanya perempuan. Wali kelas seorang perempuan berambut pendek bernama Asila yang saat ini berdiri di depan kelas.Reina melangkah masuk, memakai seragam lengkap rok merah marun dan atasan putih bergaris merah. Terkhusus untuk pergi ke sekolah, Reina memilih memakai kacamata. Meskipun itu tidak