Seperti yang dikatakan Argi. Hari panjang menuju sekolah pun dimulai. Guru private diundang untuk mengajar Reina, hanya satu orang yang dianggap mampu mengajarkan semua mata pelajaran.
Reina pun mengikuti pembelajaran tanpa kendala. Banyak hal yang belum pernah dia baca, dan itu berhasil menarik rasa penasarannya lebih jauh lagi. Namun, selalu ada batas di mana banyak pertanyaannya yang tidak bisa dijelaskan.
Formulir pindah sekolah sudah ditangan lalu tibalah hari ini, hari pertama Reina masuk sekolah. Aneka seragam sudah didapatkannya. Reina masuk pertama di hari Rabu.
“Suatu yang langka karena hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.”
Kelas 2-C, berisi 22 siswa. 10 laki-laki, dan sisanya perempuan. Wali kelas seorang perempuan berambut pendek bernama Asila yang saat ini berdiri di depan kelas.
Reina melangkah masuk, memakai seragam lengkap rok merah marun dan atasan putih bergaris merah. Terkhusus untuk pergi ke sekolah, Reina memilih memakai kacamata. Meskipun itu tidak berhasil menyembunyikan warna matanya yang berlainan.
---Wow.
---Cantik.
---Lihat, warna matanya beda.
Dan, yang lainnya. Reina mendengar semua decakan itu. Beberapa memang memujinya, namun ada juga yang baru pertama kali bertemu pun sudah menatapnya dengan sorot benci.
---Jangan pernah mencolok.
Begitulah pesan dari Argi. Tanpa diminta pun, Reina akan melakukannya.
“Salam kenal. Aku Reina Valhetta. Kalian bisa memanggilku Reina. Terima kasih.”
Nama belakang baru untuknya setelah dia diresmikan pindah kota. Dengan bantuan pemimpin kota Arcent, Reina dengan mudah mengganti namanya.
“Silakan duduk di paling belakang. Saya akan mulai pelajarannya.”
Satu ruang kelas diisi tiga baris bangku siswa. Lalu yang paling belakang hanya ada dua kursi dan satu kosong. Reina menjawab dengan anggukan kecil kemudian ke bangkunya.
Di sebelah kirinya, remaja perempuan sepertinya duduk, sesekali melirik padanya dan kembali menatap papan tulis.
“Minggu kemarin kita belajar Algoritma, hari ini juga masih sama. Silakan buka halaman 40 buku kalian. kita mulai.”
Pelajaran berlangsung selama 90 menit. Kemudian dilanjut pelajaran berikutnya dengan durasi yang sama. Barulah setelah itu, semua siswa mendapatkan jam istirahat selama satu jam. Akan berakhir di jam 12 siang.
“Hei, anak baru!”
Sebuah gebrakan di meja, memaksa Reina mengangkat wajahnya. Ketika kebanyakan siswa keluar kelas, Reina memilih tetap di kelas. Lalu tiga gadis menghampiri mejanya dengan gebrakan tidak sopan.
“Aku katakan padamu. Jangan pernah mencoba untuk mencari perhatian dalam bentuk apapun. Ingat itu.” Gadis berambut bergelombang, menatapnya tajam. Papan nama di dada kirinya bertuliskan Jeti. Dia mengajak dua temannya untuk melabrak Reina.
“Ya. Akan aku ingat.” Reina menjawab singkat disertai anggukan kecil.
Mendapat tanggapan cepat, Jeti sempat tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bicara dengan Reina jauh lebih mudah dibanding lainnya yang sering memancing emosinya.
“Baguslah, kalau kau mengerti.”
Lalu dia pergi begitu saja dengan kedua temannya. Mereka sedikit kecewa karena tidak ada bentrokan terjadi seperti yang selalu terjadi di sekolah itu. Tanggapan Reina jauh sangat tenang, membuat orang yang mengajaknya bicara enggan untuk menyela.
“Aku pikir akan ada tragedi lagi hari ini. Aku ucapkan selamat.” Gadis yang duduk di sebelah kirinya melangkah mendekat. “Hai, aku Gery. Ketua kelas.”
Dia mengulurkan tangannya, mengajak Reina jabat tangan. Reina pun membalasnya dengan sopan.
“Salam kenal.”
“Ya, kau cukup tenang menghadapi bom waktu itu. Padahal aku sudah bersiap untuk kemungkinan terburuknya. Bagaimana caramu melakukannya?”
Gery memiliki perawakan tinggi ramping mungkin lebih tinggi dari Reina. Dia juga memiliki lesung pipi di atas bibir kanannya. Rambutnya bergelombang namun diikatnya rapi ke belakang. Sebagai ketua kelas, dia mencerminkan kepribadian yang teratur dan tidak berlebihan.
“Tidak ada yang istimewa. Aku hanya terlalu sering menghadapi orang sepertinya,” jawab Reina.
Gery mengangkat alisnya. “Oh, ya? Kau cukup unik, ya, Reina.” Dia mengambil duduk di kursi depan Reina, menatapnya sambil melipat tangan. “Apa kau sudah tahu kalau kelas dua ada program magang?”
Reina mengangguk. “Apa murid pindahan juga mendapat kesempatan?”
“Em. Mungkin tidak semuanya, tapi ada beberapa. Apa kau sudah tahu mana saja yang akan datang ke sini?” Gery kembali berdiri, menawarkan makan siangnya pada Reina lalu mengambil kotak bekalnya ke meja Reina.
“Makanlah.”
Di hadapannya, bekal mewah dengan kotak berwarna ungu. Di dalamnya ada telur gulung, nasi isi, udang goreng, irisan daging panggang lengkap dengan sausnya, dan sebotol susu.
---Anak orang kaya, ya?
“Tidak. Apa kau sudah memutuskan akan ke mana?” Reina sampai tidak berani mengambil makanan di depannya karena saking mewahnya.
Geri memakai sumpitnya mengambil telur gulung kemudian menyodorkannya ke Reina. “Makanlah. Ini enak kok.”
Hari pertama sekolah yang tidak terlalu buruk. Reina dengan ragu membuka mulutnya, membiarkan Gery menyuapinya. Meskipun rumahnya juga termasuk mewah, namun apa yang dirasakan berbeda dengan apa yang selalu dimakannya.
“Aku ingin mencoba ke Dewan Pengawas. Jika ke sana, mungkin sekolah ini juga akan sedikit terangkat. Karena dari dulu, sekolah istimewa tidak mendapat banyak perhatian. Kami selalu dipandang sebelah mata.” Gery bicara sambil mengerutkan alisnya.
Sorot mata ambisius yang seakan ingin balas dendam akan ketidakadilan. Sebagai orang baru, Reina tidak banyak merespon. Di mana pun selalu ada ketidakadilan, bahkan di tempat yang dikatakan sejahtera.
Hari pertama Reina berakhir. Hari berikutnya pun berjalan lebih lancar dibandingkan apa yang dipikirkannya. Ibarat hari yang tenang sebelum badai datang. Ya, dan itu benar-benar terjadi.
Kedatangannya mulai didengar setiap kelas. Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan memperhatikannya. Hingga puncaknya, salah seorang kakak kelas memberinya pernyataan suka.
Meskipun dia mengatakannya saat semua siswa sudah pulang, namun fakta itu bocor dan diketahui oleh para fansnya yang salah satunya adalah Jeti. Baru tiba di sekolah, saat akan masuk kelas, Jeti dan kedua temannya menyeret Reina ke kamar mandi yang ada di ujung lorong.
Mereka memperlakukan Reina dengan kasar, mendorongnya ke tembok kamar mandi.
“Mana ucapanmu yang katanya tidak akan berulah?” desisnya disertai tatapan tajam.
Dengan santai, Reina menyingkirkan tangan itu dari pundaknya. “Aku juga tidak akan menerimanya.”
Jeti menarik kembali tangannya lalu melipatnya. “Pembohong. Aku tidak akan percaya lagi. Juga, kau tidak akan aku lepas kali ini. Akan lebih baik kalau berhenti sekolah sekalian. Ambilkan air.”
Mereka yang terbiasa merudung siswa lain, terlihat kompak jika bersama. Dua ember sudah di depan mata. Seperti yang direncanakan, mereka akan mengguyur Reina dengan dua ember isi air itu.
Jeti menyungging senyum angkuh. “Berlututlah dan aku akan mengampunimu kali ini.”
---Bahkan saat di akademi Nova, ada juga yang seperti ini. Jadi, yang dirasakan Elvano seperti ini ya.
“Tidak mau,” tegas Reina.
“Jadi kau memilih keluar dari sekolah, ya?”
Reina justru tertawa kecil. “Coba saja kalau kau bisa.”
“Cukup! Bel sudah bunyi, apa yang masih kalian lakukan di sini?” Di saat mereka sedang bersitegang dan Jeti yang hampir menyiram air ke Reina, Gery muncul dari pintu kamar mandi.
Tatapan tajamnya dilempar ke temannya dengan sorot menakutkan. “Kau tidak mengunci pintunya?!” bentaknya.
Dia seketika menunduk, takut-takut. “M-Maaf. Aku lupa.”
Reina mengambil kesempatan itu untuk segera pergi. Perkelahian yang tidak akan berakhir. Dia memilih segera keluar bersama Gery. Jeti bahkan membiarkannya begitu saja.
“Abaikan saja mereka. Yang akan kembali juga cuma Jeti.” Reina bergumam saat melewati Gery. Dia dengan santai berjalan kembali ke kelas.
Semua siswa sudah duduk, menyisakan beberapa bangku yang masih kosong. Masih belum ada tanda-tanda guru akan datang. Namun mereka semua sudah siap dengan buku pelajaran dan juga alat tulis.
Diikuti wali kelas mereka, Asila, melangkah masuk. Saat dia membuka pembelajarannya, Jeti masuk dari pintu depan. Bagian bawah rok, kaos kaki, bahkan sepatunya basah. Dia mendapatkan teguran dari Asila barulah dipersilakan duduk.
Jeti semakin terang-terangan menatap Reina dengan tidak suka. Mereka yang hanya dengan melihatnya sudah merasa tekanan yang berbeda. Mungkin bisa dibilang dia salah satu siswa yang dihindari oleh kebanyakan siswa. Agar tidak dirudung.
Reina bahkan tidak merespon sedikit pun, menatap pun enggan.
“Kerjakan soal ini di buku kalian masing-masing. Bagi yang bisa menjawab, ibu kasih nilai.”
Satu soal matematika penjabaran interfal. Materi baru yang harusnya dipelajari minggu ini. Dan, Asila sudah membukanya dengan soal yang memuat materi tersebut.
Semua siswa mencatat di buku masing-masing dan mulai memikirkan jawabannya. Suasana kelas mulai hening hingga salah seorang siswa menginstruksi keras.
“Reina mau menjawab, bu!”
---Wah.
Reina yang semula menopang dagunya, kini duduk dengan tegak.
“Silakan, Reina,” ucap Asila.
Jeti tersenyum lebar, seakan mengejek Reina. Ya, sudah pasti suara itu dari Jeti yang memiliki banyak cara untuk merudung targetnya.
“Baik.” Reina beranjak dari tempat duduk, menuju ke papan tulis. Dia menggenggam spidol, sambil menatap Asila. “Apa saya akan mendapatkan nilai?”
Asila tersenyum memamerkan deretan gigi rapi. “Ya, tentu. Ini akan membantu nilaimu di akhir semester.”
Reina tiba-tiba ikut tersenyum. “Kalau begitu, jika saya bisa menyelesaikannya, apa anda akan mengurangi nilai siswa yang menunjuk saya?”
Lontaran pertanyaan itu membuat Asila membeku. Begitu juga dengan seisi kelas, dengan mata melotot tidak percaya. Sama halnya dengan Jeti yang semakin panas.
---Wah. Dia benar-benar berani.
Begitu dia membuka pintu, gemerlap lampu bawah tanah yang terang digantikan dengan lampu kuning yang temaram. Di paling ujung, berseberangan dengan pintu, terdapat sebuah meja kerja lengkap dengan komputer dan papan tulis hitam. Di balik meja, dijaga seorang laki-laki berumur 40-an yang sedang membaca koran.“Selamat datang.” Dia menutup korannya begitu seseorang berdiri di depan mejanya.Dia dikenal dengan nama Cruel. Seseorang yang menjadi pintu masuk utama menuju Black Falcon. Pusat dari segala informasi bawah tanah, sekaligus orang yang menghandle hampir 40 orang yang tersebar sebagai anggota mafia.“Lantai 20.”Cruel mengambil kartu berwarna putih, menyerahkannya ke laki-laki di depannya. “Silakan, tuan.”Ada dua pintu yang dijaga olehnya. Sisi kiri mengarah ke gedung di atas mereka. Sedangkan sisi kanan, akan mengarah ke lorong tempat penjualan barang ilegal berlangsung.Laki-laki itu menerimanya dan langsung meluncur ke lantai 20 menggunakan lift. Tiba di lantai tujuan, dia tid
“Baik, pak!”“Baiklah. Hari pertama kalian akan diisi dengan berkeliling gedung Dewan Pengawas lantai dasar. Tempat para senior kalian keluar-masuk untuk bekerja. Kalian akan ditemani senior yang ada di depan kalian saat ini. Jadikan hari ini hari pengenalan tempat kerja kalian. itu saja dariku. Sisanya aku serahkan pada para senior.” Gavin menatap para senior di kanan-kirinya bergantian.“Tentu, pak!”Kemudian Gavin pergi. Dia akan mengawasi anak-anak magang itu dari lantai tengah, tempat di mana seluruh monitor CCTV gedung ada di sana.15 anak SMA bergerak mengikuti lima senior yang membawa mereka mengelilingi gedung. Dimulai dari lobby ke kanan, ruangan pertama yang mereka lewati adalah ruang antai. Sambil berjalan, senior menjelaskan setiap ruangan yang mereka lewati.Agar tidak mengganggu jalan para pekerja, 15 siswa-siswi itu membentuk 2 barisan memanjang ke belakang dan Reina dapat bagian yang paling belakang sendiri, berjalan sendirian sambil berusaha mendengar apa yang dijela
“Kenapa kau tidak beri tahu aku, Rei? Kalau tahu, aku tidak akan mengajakmu ke sini!”Dia terlihat lebih manusiawi dibandingkan dengan kebanyakan manusia yang ditemui Reina.“Tidak apa, sungguh. Aku juga mau mencobanya.”“Anu, permisi. Tolong biarkan dia ikut sampai tes saja.” Gery tiba-tiba bicara pada dua wanita yang sedang menunggunya menyelesaikan pendaftaran.Salah satu wanita tersenyum canggung, tidak bisa mengiyakan permintaan Gery. “Itu agak sulit. Karena kalian hanya berdua, jadi kemungkinan bisa lolos semua.”Gery menggeram berat, menyesali keputusannya.Reina yang di sebelahnya menepuk-nepuk punggungnya. “Aku akan belajar lebih giat lagi.”“Baiklah.”Lembar pendaftaran dikumpulkan lalu mereka berdua diminta untuk melakukan tes awal. Meskipun dikatakan sebelumnya bahwa mereka bisa lolos, namun tes tetap harus dijalankan untuk formalitas dan juga isi laporan bagi mereka yang menjadi petugas hari ini.Reina dan Gery dipasangkan sebuah gear VCR yang mana mereka diminta untuk me
“Bagaimana? Supmu jadi merah tuh.”Dengan tarikan keras, dasi yang dipakai Jeti membawa wajahnya ke dalam mangkuk sup. Reina harus menggeser tubuhnya agar wajah sombong itu sepenuhnya penuh di dalam mangkuk.Kericuhan yang membuat siapapun menoleh ke arah Reina. Gery bahkan sampai harus menjauh dari meja agar tidak terkena cipratan sup, membawa serta piring makanannya.Hah! Jeti menarik kepalanya sekuat tenaga hingga dia kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai yang dingin. Matanya terpejam erat-erat, berusaha keras menahan agar kuah tidak masuk ke matanya.“Panas! Panas! Tolong siapapun!” Dia memakai dasinya untuk mengeringkan wajahnya.“Jangan lebay. Aku pesan kuah hangat hanya untukmu.” Reina membawa mangkuk yang sudah berceceran isinya ke depan Jeti. Tepat setelah Jeti berhasil membuka matanya, dia menuangkan sisa sup yang ada di mangkuk ke atas kepala Jeti.“Coba rasakan lagi. Hangat kan? Aktingmu buruk sekali. Ini kan yang selalu ingin kau lakukan padaku beberapa minggu in
Gery menatap Jeti dari belakang. Gadis itu sudah mengepalkan tangannya. Mungkin jika tidak ada guru di kelas, baku hantam akan terjadi.“Saya hanya bercanda, Bu. Lagipula, tidak ada untungnya bagi saya,” ungkap Reina yang mulai mengerjakan soal yang diminta.Asila yang mencoba mencairkan suasana tertawa canggung. “Tolong kerjakan dengan hati-hati.”Tidak ada tanggapan apapun. Reina mengerjakan dalam diam diiringi bisikan-bisikan teman-temannya. Tak butuh 5 menit mengerjakan, Reina sudah menyelesaikannya. Jawaban dengan rumus sederhana.Asila mengoreksi dengan teliti kemudian mengangguk. “Benar. Kau hebat, Rei. Apa kau sudah belajar semalam?”“Terima kasih.” Mengembalikan spidol ke Asila sebelum akhirnya dia kembali ke tempat duduknya.Sambil menatap anak didiknya, Asila membawa buku pelajaran ke tengah. “Saya akan menambah nilaimu, Reina. Untuk yang lain, bisa tiru Reina, belajar sebelum pelajaran dimulai.”Jawaban serempak terdengar seisi kelas. Jeti pun ikut menjawab namun masih den
Seperti yang dikatakan Argi. Hari panjang menuju sekolah pun dimulai. Guru private diundang untuk mengajar Reina, hanya satu orang yang dianggap mampu mengajarkan semua mata pelajaran.Reina pun mengikuti pembelajaran tanpa kendala. Banyak hal yang belum pernah dia baca, dan itu berhasil menarik rasa penasarannya lebih jauh lagi. Namun, selalu ada batas di mana banyak pertanyaannya yang tidak bisa dijelaskan.Formulir pindah sekolah sudah ditangan lalu tibalah hari ini, hari pertama Reina masuk sekolah. Aneka seragam sudah didapatkannya. Reina masuk pertama di hari Rabu.“Suatu yang langka karena hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.”Kelas 2-C, berisi 22 siswa. 10 laki-laki, dan sisanya perempuan. Wali kelas seorang perempuan berambut pendek bernama Asila yang saat ini berdiri di depan kelas.Reina melangkah masuk, memakai seragam lengkap rok merah marun dan atasan putih bergaris merah. Terkhusus untuk pergi ke sekolah, Reina memilih memakai kacamata. Meskipun itu tidak