Share

bab 31

Penulis: Noah harun
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 13:43:55

Beberapa orang berpakaian hitam perlahan muncul dari balik pepohonan dan menghadang rombongan Panglima Wei.

Salah seorang di antara mereka maju ke depan. Usianya sudah tidak muda lagi, tetapi tubuhnya masih tegap. Dari sorot matanya terlihat bahwa ia bukan orang sembarangan.

Ia tersenyum tipis.

"Panglima Wei! Ternyata kita bertemu lagi!"

Panglima Wei yang mendengar suara itu langsung tercengang.

Ia mengenali sosok tersebut.

Beberapa tahun lalu, lelaki itu pernah menjadi salah satu p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 34 Liu Weng Fu lolos dari maut

    Liu Weng Fu masih terbaring tidak sadarkan diri di tengah kekacauan pertempuran. Sementara itu, Hu Jianto semakin berada di atas angin. Ia terus mendesak Panglima Wei hingga keduanya bergerak semakin jauh ke dalam hutan belantara. Trang! Clang! Pedang mereka kembali beradu. Panglima Wei mulai kelelahan. Di sekelilingnya, banyak prajurit kerajaan telah berjatuhan. Sebagian terluka dan sebagian lainnya tidak mampu lagi melanjutkan pertempuran. Keadaan pasukan kerajaan Ming semakin terdesak. Namun tiba-tiba... Dari kejauhan terdengar suara derap kaki yang sangat ramai. Derap! Derap! Derap! Panglima Wei menghentikan gerakannya sejenak dan menoleh ke belakang. Dari balik jalan hutan, terlihat sekumpulan besar prajurit bergerak mendekati medan pertempuran. Wajah Panglima Wei seketika berubah. "Itu..." Ia memperhatikan panji yang dibawa oleh pasukan tersebut. "Prajurit kita! Bala bantuan dari perbatasan akhirnya datang!" Teriakannya terdengar oleh para prajuri

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 33 Liu Weng Fu hampir meninggal

    Panglima Wei tiba-tiba masuk ke dalam tenda Liu Weng Fu. Tatapannya langsung tertuju kepada Liong Bun yang berdiri di dekat tempat Liu Weng Fu tidur. "Liong Bun! Sedang apa kau di tenda Liu Weng Fu?" tanya Panglima Wei dengan suara tegas. Liong Bun seketika memucat. Ia tidak menyangka Panglima Wei akan datang pada saat seperti itu. "P... Paman..." Liong Bun berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Hmm... tadi aku ingin meminjam sesuatu kepada Liu Weng Fu. Tapi ketika aku masuk, ternyata dia sudah tertidur." Panglima Wei menyipitkan mata. Ia memperhatikan wajah Liong Bun beberapa saat. Jawaban itu terdengar masuk akal, tetapi sikap Liong Bun yang gugup membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Namun Panglima Wei tidak menemukan bukti apa pun. Akhirnya ia menghela napas. "Sudahlah. Keluar dari sini." Liong Bun segera menundukkan kepala. "Baik, Paman." Panglima Wei kemudian berkata, "Besok pagi kita akan kembali menyisir wilayah sekitar hutan. Kita h

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 32 Liu Weng Fu terkena racun

    Tubuh Hu Jianto terus dibopong oleh lelaki bertopeng itu semakin jauh ke dalam hutan, menuju sebuah desa terpencil yang tersembunyi di balik pepohonan. Sesekali lelaki itu menoleh ke belakang. Ia takut pasukan Panglima Wei masih mengejar mereka. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang mengikuti, ia kembali mempercepat langkahnya. Namun beberapa saat kemudian, ia merasakan tubuh Hu Jianto semakin berat. Ia berhenti. "Napasnya semakin lemah..." gumamnya. Lelaki itu menurunkan tubuh Hu Jianto perlahan ke tanah dan memeriksa lukanya. "Jarak rumah masih cukup jauh. Kalau terus seperti ini, aku takut keadaan Jendral Hu semakin kritis." Ia segera membuka pakaian luar Hu Jianto untuk memeriksa luka di bahunya. "Jendral..." Hu Jianto yang sejak tadi tidak sadarkan diri perlahan membuka matanya. Pandangan matanya masih kabur. Ia mengerang menahan rasa sakit. "Di mana... aku?" Lelaki itu segera mendekat. "Jendral, jangan banyak bergerak." Hu Jianto mencoba

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 31

    Beberapa orang berpakaian hitam perlahan muncul dari balik pepohonan dan menghadang rombongan Panglima Wei. Salah seorang di antara mereka maju ke depan. Usianya sudah tidak muda lagi, tetapi tubuhnya masih tegap. Dari sorot matanya terlihat bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia tersenyum tipis. "Panglima Wei! Ternyata kita bertemu lagi!" Panglima Wei yang mendengar suara itu langsung tercengang. Ia mengenali sosok tersebut. Beberapa tahun lalu, lelaki itu pernah menjadi salah satu panglima kepercayaan Kaisar Liu Bing. Bahkan, ia pernah memimpin pasukan Kerajaan Wu sebelum akhirnya dikalahkan dalam pertempuran. "Hu Jianto! Ternyata kau masih hidup!" seru Panglima Wei. Hu Jianto tertawa kecil. "Sepertinya kau masih mengingatku." Panglima Wei menatapnya tajam. "Jadi kau yang berada di balik semua ini?" Hu Jianto perlahan mencabut pedangnya. Sring! Kilatan pedang terlihat di bawah sinar matahari. "Hari ini kau akan merasakan kembali pedangku, Panglima Wei!"

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    Bab 30 Lim Guan Yang mencium Liu Weng Fu

    Liong Bun masuk ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Panglima Wei menuju Kota Yuning. Ia membuka lemari kecil di sudut kamarnya. Tangannya kemudian mengambil sebuah kotak kecil yang tampak mengilap. Liong Bun menatap kotak itu beberapa saat sebelum membukanya perlahan. Klik! Di dalamnya terdapat beberapa jarum kecil yang telah dilumuri racun. Tatapan Liong Bun berubah gelap. Ia mengambil salah satu jarum itu dan menggenggamnya erat. Kemarahan dan kecemburuan yang selama ini dipendamnya kembali membara. "Liu Weng Fu..." gumamnya dengan suara rendah. "Di medan pemberontakan nanti, aku akan menggunakan ini untuk mencelakaimu." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Tak seorang pun akan menyangka. Mereka pasti mengira kau terkena senjata musuh." Liong Bun tertawa kecil. "Haha... kali ini kau tidak akan bisa menghindar dariku." Ia kembali memasukkan jarum itu ke dalam kotaknya, lalu menutupnya rapat. Klik! Setelah itu ia menyimpan kotak ters

  • Putra Mahkota Yang Terbuang    bab 29 Liu Weng Fu dibawah ke Medan peperangan

    Pasukan kerajaan istana segera mengajak Panglima Wei berangkat menghadap Baginda Kaisar Ming Lung. "Silakan ikuti kami, Panglima. Yang Mulia sudah menunggu di istana." "Baik," jawab Panglima Wei singkat. Tak lama kemudian, Panglima Wei menaiki kereta kudanya. Di depan dan belakangnya, pasukan kerajaan mengawal dengan ketat menuju istana. Setelah melewati beberapa jalan utama ibu kota, rombongan akhirnya tiba di gerbang istana yang megah. Panglima Wei turun dari keretanya, lalu berjalan mengikuti pasukan kerajaan menuju aula utama. Tap... tap... tap... Derap langkah para prajurit bergema di lorong-lorong istana yang dipenuhi tiang-tiang besar berukir naga emas. Di depan pintu aula telah berdiri seorang kasim istana yang seolah memang menunggu kedatangannya. Kasim itu membungkuk hormat. "Panglima Wei, Yang Mulia telah menunggu. Silakan masuk." Panglima Wei mengangguk pelan, lalu melangkah memasuki aula kerajaan. Di ujung ruangan tampak Kaisar Ming Lung telah dudu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status