LOGIN
"Anak itu pembawa sial!"
Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim piatu pembawa petaka!" "Kalau ada sesuatu yang Paman tidak suka, sebaiknya Paman katakan–" "Rombongan kereta kuda yang membawa Duke Veldam mengalami kecelakaan!" Tesa membelalak. Suasana hening menakutkan, hanya menyisakan isak tangis Monica. "Benar," seru wanita itu serak. "Dan semua ini karena kau," tudingnya. Tesa menggigit bibir. Bagaimana mungkin musibah orang lain, kini bisa menjadi kesalahannya? Dulu mereka tidak berani meninggikan suara di hadapan Tesa. Dulu mereka bahkan menjilat tindakannya dengan pujian demi mendapatkan bagian harta. Namun itu dulu saat Papanya masih memegang gelar Marquess. Setelah beliau meninggal mendadak karena sengatan lebah, semuanya berubah. Hidup Tesa jungkir balik seketika. Mama menyusul tidak lama kemudian karena tenggelam dalam duka. Tesa menjadi sebatang kara. Karena tidak memiliki ahli waris laki-laki. Alhasil gelar Marquess jatuh ke tangan Pamannya. Perjodohan politik yang dijanjikan antara Putri Marquess dan Duke Veldam ikut bergeser, tempat yang seharusnya diisi oleh Tesa kini digantikan oleh Monica. Tesa kehilangan perlindungan. Ia dioper dari satu kerabat ke kerabat lain. Mereka terlalu percaya jika mengasuh anak yatim piatu akan mendapatkan kesialan yang sama. Seperti penyakit menular. Tak peduli seberapa tenang temperamennya, seberapa rajin ia bekerja. Tetap tidak ada yang menginginkannya. Akhirnya Marquess Alphen tidak memiliki pilihan selain mengasuh Tesa. Pamannya selalu memastikan Tesa akan lebih memilih mati daripada hidup berlama-lama. Tidak terhitung berapa banyak ia tidur dalam kedinginan, perut kelaparan, bibir kekeringan. Kendati demikian, Tesa tetap tenang. Kegigihannya dalam bertahan membuat Marquess Alphen jengkel. Ia menjalani aktivitas dalam bisu, berdiri diam seperti hiasan tak kasat mata, berharap suatu saat bisa diterima. Monica menatapnya dengan sikap permusuhan. "Kau pasti senang dengan kejadian ini bukan Tesa?" serunya. "Kau tidak suka melihatku bahagia!" "Paman apakah berita itu benar?" "Kau pikir kami pembohong?" bentak Pamannya, menatap nyalang. "Seharusnya aku tidak membiarkan kau tinggal di sini. Hector usir wanita ini keluar!" "Tidak Paman, jangan lakukan ini." Tesa menyentak lengannya yang dipaksa berdiri. Pelupuk matanya memanas. Ia bisa melakukan apa saja, asal tidak meninggalkan Falkenburg. "Biarkan aku tetap di sini." "Jangan mengujiku Tesa, kau tidak berguna. Jika bukan laki-laki, atau wanita bangsawan kau hanya akan dianggap remeh. Satu-satunya yang bisa kau tawarkan adalah menikah dengan bangsawan tua." Tapi Pamannya tidak akan melakukan itu karena terlalu pelit untuk mengeluarkan uang sebagai biaya debutnya. Air mata Tesa meleleh. Ia menggenggam kedua tangan Bibinya dalam keputusasaan ketika telah diseret keluar dari kediaman Alphen. Sore itu matahari mulai merosot turun, rambut merah Tesa tampak menyala tersiram pantulan cahaya. Matanya yang biru terang menjadi berkilat kaca seperti perhiasan dalam etalase. "Bibi, aku janji akan berdiri diam di sudut seperti biasa saat kalian makan malam. Aku janji tidak akan bersuara sedikit pun," pintanya penuh tekad. "Tapi tolong, biarkan aku tetap tinggal di sini." "Bukankah sebaiknya kau pergi Tesa?" Tempramen Bibinya lebih halus. Namun ia juga tidak berdaya. Ia tertekan melihat Tesa selalu disiksa. "Bibi–" "Kau pasti akan menemukan tempat." Air mata Tesa bercucuran tanpa henti. "Dulu saat rumah kalian terbakar, bukannya Papa menampung kalian di Alphen? Demi masa lalu, berikan aku kesempatan sekali lagi." Bibinya menjadi tidak senang ketika diingatkan dengan musibah menyakitkan itu. Ia tidak suka memiliki hutang budi. Sekantong koin diselipkan dengan paksa ke tangan Tesa. "Pergilah, kau pasti bisa bertahan di luar sana." "Siapa yang akan menerimaku?" bisik Tesa. Namun Bibinya sudah menjauh. Ia bahkan tidak dibiarkan berkemas. Tesa hampir percaya musibah ini hanya alasan yang sengaja dibuat Pamannya untuk mengusirnya dari rumah. Angin dingin mengibarkan gaunnya yang lembab. Lengannya menggigil, ia mengusapnya pelan. Berjalan tidak tentu arah, dua keping koin ia gunakan untuk membeli lilin sebagai penerangan. Malam semakin larut. Suasana menjadi sunyi. Kakinya mulai lelah. Tanpa sadar Tesa telah sampai di perbatasan kota Loma. Gang-gang sempit di depannya tampak seperti ular tidak berujung. Suara tawa dan dentingan gelas terdengar dari pub-pub yang ia lewati. Suara yang terdengar seperti ejekan di telinganya. Tesa menyingkir ketika melihat dua pria mabuk tampak terhuyung-huyung ke arahnya. Mereka meracau sambil menendangi batu. Ia menahan napas, lalu cepat-cepat berpaling, menghindar dengan masuk ke gang lain. Namun Tesa nyaris menjerit ketika menabrak seorang pria. "Kenapa kau?" tanyanya gemetar. Cahaya lilin menari-nari di depan wajahnya ketika berusaha memerhatikan pria itu. "Bantu..." Pria itu justru mengeram. Mengulurkan tangan. Darah ada di mana-mana. Di wajahnya, di pakaiannya, di celananya. Jantung Tesa berdebar kencang. "Bantu mereka..." "Apa yang terjadi padamu?" Tesa setengah menduga pria itu adalah jelmaan iblis yang sengaja berkamuflase untuk menjerat gadis-gadis perawan, seperti dalam buku yang pernah ia baca. Atau mungkin ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan. Kehidupan dunia tidak membuatnya bahagia. Jika bersama iblis hidupnya akan membaik. Tesa akan mengikutinya dengan sukarela. Tapi saat Tesa meraihnya, jemari mereka bersentuhan. Ia tersentak, buru-buru menarik diri. "Kau–" Pria itu langsung ambruk menimpa tubuh Tesa, praktis membuat mereka sempoyongan dan jatuh ke tanah. "Ya Tuhan," serunya ngeri. Ia mendorong pria itu, menggulingkannya menjadi telentang. Merasakan bokongnya memanas. Jika bukan karena hati nurani yang telah diasahnya seumur hidup, Tesa pasti sudah meninggalkannya. Namun ada sesuatu yang membuatnya enggan. Ia merobek ujung gaun, lalu membantu menyeka wajah pria itu. Semakin noda darah di wajahnya memudar. Semakin Tesa menunjukkan pengenalan. Matanya kemudian melebar. "Duke Veldam?" ***"Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan." Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur. Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam. Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga. "Mungkin kau salah mengenalinya Duke." Gabriel tertegun. Apakah ia bermimpi? Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat
"Pa-pakaianku?" "Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki." Tesa menjadi kehilangan kata-kata. "Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?" Tesa merasa gamang. "Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam." "Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya. Ini tawaran yang menggiurkan. "Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius
"Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda.Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat.Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda."Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir."Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas.Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, seba
Berita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian. "Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter d
"Anak itu pembawa sial!" Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim p







