Share

4: Pria Yang Bingung

Author: Titi Chu
last update Last Updated: 2026-02-25 17:46:14

"Pa-pakaianku?"

"Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki."

Tesa menjadi kehilangan kata-kata.

"Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?"

Tesa merasa gamang.

"Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam."

"Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya.

Ini tawaran yang menggiurkan.

"Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius menambahkan. "Jika keadaannya mulai membaik, kau bisa kembali menjadi dirimu."

Tesa menggigit bibir. Berbagai keputusan berkecamuk di wajahnya.

Di sini, jauh dari Falkenburg, jauh dari kastil Alphen yang Tesa sebut rumah. Ia merasa kehilangan arah. Tesa tidak tahu apakah ia akan terus terluntang-lantung, tidak memiliki tempat tinggal. Tanpa perlindungan. Atau bahkan berakhir di rumah bordil dalam keadaan putus asa.

Dengan mengubah jati diri, itu artinya Tesa akan memiliki hidup baru. Sudut pandang baru, sekaligus rumah baru.

Jika ia menolak, itu hanya akan membuatnya kembali menapaki jalan-jalan panjang yang suram. Jadi, bukankah tidak ada salahnya jika ia mencoba...?

Perut Tesa bergetar antusias saat memikirkan kemudahan apa saja yang akan ia dapat jika akhirnya sepakat.

"Keputusannya tetap ada padamu," ujar Mathius menyemangatinya. Memberi ruang bagi wanita itu untuk berpikir. "Kalau kau setuju, mulai hari ini kau bisa menjadi bagian dari kediaman kami."

Tesa menghela napas panjang ketika satu kesimpulan mulai terbentuk di dalam kepalanya. Dan arah hidupnya menjadi lebih tertata.

Perlahan, Tesa mendongak, punggungnya menegak. Mengunci tatapan Mathius tanpa berkedip saat mengatakan satu-satunya keputusan yang kini ia inginkan.

"Aku setuju."

"Kau tidak harus–"

"Perkenalkan Tuan," selanya tegas. "Namaku Simon van der Lelij."

Mathius tergelak. Suaranya menggelegar. Matanya berkilat-kilat. Ia menyukai kecerdasan wanita ini.

***

"Pelan-pelan..."

Dibantu pelayan Tesa mengubah penampilannya. Rambut panjangnya yang indah diikat ketat hingga kulit kepalanya seperti tertarik. Lalu dililit melingkar sebelum ditutupi dengan wig.

Ia teringat dengan kata-kata Pamannya. Tesa tidak berguna. Tesa tidak bisa diandalkan. Baginya Tesa hanya beban yang harus segera dipindahkan agar tidak lagi merepotkan nama keluarga.

Ia dipaksa dewasa.

Dipaksa menerima.

Dituntut tidak bicara.

Namun ini saatnya ia mulai angkat suara, membiarkan dunia mendengar pendapatnya. Membiarkan dunia menyadari keberadaanya sebagai manusia bukan sekadar hiasan semata.

Jika dunia hanya memberi ruang pada laki-laki untuk bergerak bebas, maka ia akan meminjam bentuk itu. Bukan untuk menjadi orang lain. Tapi untuk menjadi dirinya sendiri tanpa dibungkam.

Dari pantulan cermin, dalam balutan pakaian laki-laki berupa kemeja longgar, romper, celana lurus, dan sepatu bot berat, pandangan Tesa menjadi kabur.

Air matanya menetes.

Perlahan hanya satu, namun lama kelamaan menjadi aliran deras.

Tidak apa-apa, pikirnya dalam hati. Ia sudah memutuskan dengan benar.

Tidak apa-apa. Ia tidak akan membiarkan orang lain menghina statusnya lagi.

Tidak apa-apa...

Nafas Tesa menjadi tercekat, dengan mengusap sudut mata, ia menguatkan diri. Inilah identitas yang ia pilih.

***

'Maafkan kami, hari ini korban yang meninggal sudah dibawa ke kota Anda di Breda. Kami turut berduka, Duke.'

Gabriel memejamkan mata, kepalanya pening. Seorang dokter memberitahunya kalau yang tersisa dari kecelakaan nahas itu hanya Theo dan Pieter.

Semuanya meninggal bahkan pelayan pribadinya yang setia. Oscar. Pria yang selalu memenuhi ekspektasi Gabriel.

Di dalam pikirannya, Gabriel merasa tidak berada di dalam kamar itu. Ia kembali berada di turunan tajam.

Ia ingat suara mendesis di udara.

Anak panah.

Lalu kudanya menjerit.

Semua orang di Breda tahu ia akan bertunangan. Jalur yang ia lewati menjadi berita paling mencolok dalam kolom surat kabar.

Jika kuda dipanah di turunan curam, kereta pasti meluncur tidak terkendali. Siapa pun yang merencanakan ini memahami gravitasi lebih baik daripada sekadar membunuh dengan pedang.

Ini sebuah perhitungan!

"Duke, kau sadar."

Suara itu membuatnya memfokuskan pandangan. Seorang laki-laki kecil duduk di dekat ranjang, lengan bajunya digulung hingga siku. Ada noda samar kecokelatan di pergelangan kemejanya, bekas darah yang tak sepenuhnya hilang meski sudah dicuci.

Gabriel mencoba bergerak. Rasa nyeri menyambar sepanjang sisi tubuhnya hingga perutnya menegang.

"Jangan," cegah laki-laki itu, menahan bahu Gabriel agar tetap berbaring. "Jahitan kau bisa tertarik lagi, Duke."

Dengan keras kepala Gabriel tetap duduk. "Siapa kau?" tanyanya.

Suaranya bahkan tidak terdengar seperti suaranya sendiri. Serak, kering, dan mengandung kekejaman.

"Simon," jawab laki-laki itu, menatapnya tenang. "Simon van der Lelij."

"Berapa lama?"

"Enam jam sejak siuman yang pertama. Kau pingsan hampir seharian, Duke."

Simon membantu menyandarkan bantal lebih tinggi di punggungnya dengan perlahan, menjaga agar tubuh Gabriel tetap sedikit miring ke sisi kanan untuk mengurangi tekanan pada luka kiri.

"Perutku…" Gabriel mengerutkan dahi.

"Aku sudah memeriksanya setiap setengah jam sekali." Suara Simon terukur. Seakan dia sudah terbiasa merawat pesakitan. "Tidak ada pembengkakan. Tidak ada tanda perdarahan dalam. Kau muntah sekali saat siuman, tapi tidak ada darah."

Tesa kemudian menuangkan sedikit air hangat ke cangkir kecil dan mengangkatnya ke bibir Duke.

"Minum pelan-pelan. Terlalu banyak nanti bisa memicu mual," perintahnya.

Duke menurut. Setiap tegukan terasa seperti menelan segenggam pasir.

Tesa kemudian bergerak ke sisi pinggang Duke memastikan balutan utama masih bersih, hanya ada noda merah gelap seukuran koin di tengahnya. "Benturan membuka sebagian jahitan lamamu," jelasnya pelan. "Tidak sampai menembus rongga perut, syukurlah. Ototnya memar berat, tapi tidak robek sepenuhnya."

Ia menyentuh perut Duke dengan ujung jari, menekan perlahan di beberapa titik.

"Beri tahu aku jika sakit."

Tekanan pertama hati-hati. Ia mencoba mengukur ekspresi Duke. Kendati wajahnya pucat. Namun matanya tampak keras. Netranya yang berwarna biru mengingatkan Tesa pada danau tenang di tengah hutan musim panas di Alphen. Cantik sekali.

Buru-buru Tesa menunduk, rasa malu menguasainya saat pria itu membalas tatapannya dengan datar.

"Bagaimana dengan ini?" Tesa menekan untuk yang kedua kali.

"Apa yang kau–argh!" Tekanan ketiga jemari Tesa menyentuh lebih dekat ke bawah tulang rusuknya.

Duke mengeram rendah.

Tesa segera menarik jemari. "Masih wajar," gumamnya pelan. "Jika perutmu menjadi sekeras papan atau kau tidak bisa buang angin hingga besok pagi, itu pertanda buruk."

"Pria terhormat tidak seharusnya berbicara tentang buang angin," kata Duke nyaris mengejek.

"Pria terhormat juga manusia biasa, Duke," balas Tesa tanpa ekspresi.

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, sudut bibir Duke terangkat tipis.

Lalu bayangan melintas di matanya.

Seorang wanita dengan rambut merah, gaun kusam. Ia ingat menggenggam erat gaun wanita itu seolah perpegangan pada tali agar tidak tenggelam.

Napas Gabriel menjadi dangkal.

Wanita itu telah menyelamatkannya!

"Di nama?" tanyanya memburu.

"Siapa?" Tesa mengerutkan dahi.

"Wanita itu," sebut Gabriel, tatapannya menajam. "Wanita yang bersamaku."

Tesa mendapati dirinya menatap Duke lebih lama dari yang ia inginkan. Kemudian ia berdiri, membereskan cawan bekas membasuh memar. Suaranya yang berat berkata tanpa menatapnya. "Tidak ada wanita di sini Duke, semua orang yang merawatmu sejak kau datang adalah laki-laki."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   5: Gadis Yang Menghilang

    "Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan." Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur. Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam. Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga. "Mungkin kau salah mengenalinya Duke." Gabriel tertegun. Apakah ia bermimpi? Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   4: Pria Yang Bingung

    "Pa-pakaianku?" "Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki." Tesa menjadi kehilangan kata-kata. "Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?" Tesa merasa gamang. "Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam." "Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya. Ini tawaran yang menggiurkan. "Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   3: Lepaskan Pakaianmu

    "Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda.Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat.Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda."Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir."Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas.Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, seba

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   2: Dokter Dingin

    Berita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian. "Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter d

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   1: Pria Jelmaan Iblis

    "Anak itu pembawa sial!" Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status