LOGINBerita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian.
"Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter di dalam sekarang, ada yang terluka dan sedang sekarat!" "Kau–" "Ada apa ini?" Suara seorang pria yang lebih otoriter terdengar. Tesa menatap ke balik celah gerbang. Pria itu Mathius van Rheindorf. Dokter terkenal di Loma. "Tuan!" serunya lantang. "Aku datang ke sini untuk pasien." Ia mengulurkan sekantong koin, isinya berbunyi gemerincing saat Tesa menggoyangkannya. "Aku punya uang, tapi sekarang kau harus ikut denganku. Ada yang pingsan dan membutuhkan bantuan!" Penjaga itu menyeringai menghina. Mana mungkin sekantong koin cukup untuk membawa dokter Mathius! "Maaf Tuan, aku sudah katakan padanya kalau dia bisa datang besok pagi." Mathius van Rheindorf maju ke depan. Rasa penasarannya menang mendengar ada ribut-ribut di depan gerbang. Cukup berani untuk mengganggu tidurnya yang damai. Mata Mathius yang dingin meneliti penampilan wanita itu. Rambut merah layu, gaun kusam. Ada aksen aneh setiap kali dia bicara. Dari mana gadis gelandangan ini berasal? Tidak kunjung mendapat respon yang dibutuhkan. Tesa semakin gusar. Ia berkata. "Orang itu Duke Veldam, kalau kalian terlambat, akibatnya bisa fatal." Penjaga mencibir dengan sikap meremehkan. "Jangan menipu kami Nona. Sebelum kau, sudah ada lima orang yang mengaku-ngaku melihat Duke!" "Aku akan melakukannya." Keputusan tiba-tiba itu membuat mata mereka melebar. "Tidak ada salahnya kalau aku mempercayai wanita ini." "Tapi Tuan–" "Siapkan tas pengobatanku," potong Mathius tegas tanpa bantahan. Tesa menatapnya dengan mata biru yang rapuh. Wajahnya menjadi emosional karena masih ada yang percaya. Mereka memilih menggunakan kuda, Mathius menatap Tesa dingin ketika memintanya ikut naik. "Kau tahu Nona, kalau kau berbohong," peringatnya tenang. Namun nada suaranya tajam. "Kepalamu akan dipenggal, dan menjadi hiasan di alun-alun." Tesa meneguk ludah, mengangguk. Penjaga itu mengerutkan hidung ketika Tesa mendaki naik ke pelana di belakangnya. Ia mencemooh jijik. "Bagaimana seorang gadis bisa beraroma seperti kotoran?!" Tesa menahan gumpalan sakit hati. Dengan sabar ia mengarahkan mereka ke tempat Duke berada. Berharap pria itu masih bisa diselamatkan. Ketika sampai di tempat tujuan, sebuah gang sempit tanpa penerangan. Mata Mathius mulai menunjukkan emosi. Wanita ini tidak berbohong! "Astaga, dia terluka parah," seru penjaga ketika melihat tubuh Duke yang lunglai, bersandar di bangunan kayu reyot. Mathius bergegas turun, lalu berjongkok di samping tubuh Duke. Napasnya terembus lega saat meraba-raba pergelangan tangan pria itu dan menemukan nadinya masih berdenyut. Lemah, sangat halus. Ia memandang potongan kain yang diikat melingkar di pinggang Duke. "Kau yang melakukan ini?" tanyanya pada Tesa. Lalu melirik ke gaunnya yang compang-camping. Sebuah tindakan sederhana namun pengaruhnya sangat besar. Akibatnya itu membantu menghentikan pendarahan. Tesa mengangguk hati-hati. "Kita tidak bisa membawanya dengan kuda. Beritahu Ethan dan minta dia untuk membawa kereta kuda kemari. Cepat!" perintahnya tegas. Penjaga itu melesat seperti anak panah yang dilepaskan. Keletihan membebani punggung Tesa selama proses pemindahan Duke Veldam, ia ingat Duke mencengkeram erat gaunnya selama dalam perjalanan ke kediaman dokter Mathius, seolah dia tengah berpegangan dari maut. "Sabarlah sebentar, Duke..." Duke mengeram sebagai respon. Ia mendampingi Duke bahkan saat penjaga mengusirnya pergi. "Kau sudah cukup membantu, Nona." "Kalian harus memastikan dia diberikan morfin sebelum lukanya dibersihkan dan dijahit," sembur Tesa tersengal-sengal. Mathius menatapnya dingin. "Kemungkinan lukanya menembus lapisan otot oblikus. Jika bilahnya masuk secara miring, itu bisa saja mengenai rongga perutnya. Kalian harus memastikan tidak ada perdarahan internal sebelum menjahitnya tertutup." "Kau mengajarkan kami?" "Aku–" Ia pernah belajar ilmu pengobatan. Tapi di dunia yang mendewakan laki-laki. Wanita tidak dianggap bisa berkontribusi. Bahkan wanita tidak diperbolehkan memiliki tempat praktik. Membicarakan soal kedokteran hanya akan dianggap tidak sopan di masyarakat kelas atas. Mereka dididik menjadi wanita membosankan yang hanya membicarakan cuaca dan mode. Namun Tesa berbeda, sejak kecil ia sudah tertarik dengan anatomi tubuh manusia. Ia bermimpi untuk masuk Universitas, sebelum mimpi itu kandas tak berbekas. Di tengah hiruk pikuk pikirannya. Mathius tiba-tiba berseru. "Siapkan air hangat," ujarnya memberitahu. Tangannya yang terampil menggunting kemeja penuh darah Duke. Sengatan rasa malu memenuhi dada Tesa, menyadari di ruangan itu, hanya dia satu-satunya wanita. "Apa?" "Kalau kau memang bisa membantu," sahut Mathius datar. Mengerling tajam padanya. "Sekarang lakukan tugasmu." "Tuan Rheindorf, kita tidak bisa meminta bantuan orang sembarangan." Ethan menyemburkan ketidaksetujuan. "Lagipula kita tidak tahu siapa wanita ini, dari mana dia berasal, dan bagaimana dia bisa bersama Duke?" tudingnya dengan mata menyipit. Sebagian dokter di kediaman Rheindorf telah berangkat ke ibu kota untuk ujian kelulusan kedokteran. Kehadiran Tesa bisa meringankan sedikit beban Mathius. Malam semakin larut, para pelayan yang bekerja sudah beristirahat di rumah masing-masing. Tidak ada pilihan. "Kau masih berpikir tentang asal-usulnya sementara ada pasien yang sedang berjuang antara hidup dan mati?" Kata-kata Mathius membuat Ethan mengatupkan bibir rapat-rapat. "Cepat! Kau tidak dengar?" seru Mathius pada Tesa yang masih bengong. "Ba-baik!" Tesa melesat keluar. Kendati tempat itu asing. Tapi bermodalkan mulut, bertanya sana-sini. Ia berhasil menemukan dapur dan menjerang air. Sudut bibir Mathius berkedut, tidak ada wanita yang akan melompat-lompat seperti itu saat dihadapkan dengan luka menganga. Antusiasme Tesa terasa janggal, mencubit dadanya dalam cara yang gusar. Dia bahkan tidak mundur saat Mathius menggores pinggang Duke lalu menarik pecahan kayu yang menusuk. Setelah itu, ia membebatnya dengan kain kasa. Malam itu, dua orang dengan latar belakang yang berbeda bekerja sama untuk menyelamatkan satu nyawa. *** Matahari mulai merangkak naik ketika Tesa merasakan gerakan samar di lengannya. Menyapu rambutnya yang berantakan. Dengan sempoyongan ia mengangkat kepala. Lalu menyadari gerakan itu dari Duke Veldam yang berbaring di sisinya. "Duke?" sebutnya berdiri tegak. Ia membungkuk di atas tubuh pria itu, memastikan perbannya masih bersih. Memastikan Duke mampu merespon. Di dalam pandangan Gabriel van Veldam, wajah Tesa tampak kabur. Suaranya terdengar jauh, sulit dijangkau. "Tidak apa-apa Duke..." Samar-samar ia bisa membaca gerakan bibir wanita itu. "Sebentar lagi, kau akan membaik." Kelopak mata Gabriel terasa berat, tubuhnya ketat. Ia tidak bisa bergerak. Kenapa sulit baginya untuk fokus? Ingatannya menjadi tumpang tindih. Berbagai adegan menyerbu tanpa henti, namun suara wanita itu menyusup, memaksa menyelinap di kepalanya. "Tenanglah Duke..." Lembut sekali. Kelembutan itu membuat Gabriel waspada. Ia kembali menatap wanita itu, rambut merah menyala. Lekuk tubuhnya. Lantas... apakah sekarang ia sedang berada di surga? Atau terlempar ke neraka? Lalu di antara kesadaran yang semakin menipis. Gabriel berbisik parau, nyaris tidak terdengar. "Siapa kau?" ***"Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan." Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur. Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam. Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga. "Mungkin kau salah mengenalinya Duke." Gabriel tertegun. Apakah ia bermimpi? Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat
"Pa-pakaianku?" "Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki." Tesa menjadi kehilangan kata-kata. "Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?" Tesa merasa gamang. "Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam." "Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya. Ini tawaran yang menggiurkan. "Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius
"Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda.Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat.Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda."Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir."Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas.Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, seba
Berita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian. "Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter d
"Anak itu pembawa sial!" Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim p







