LOGIN"Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."
Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda. Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat. Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda. "Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir. "Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas. Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, sebaiknya dia tidak dibawa pulang sekarang." Akhirnya Mathius membuat keputusan. "Baik." Ethan mengangguk patuh. Kedua alisnya mengerut. Wajahnya menjadi ragu-ragu. "Dan soal wanita itu... Haruskah kita menampungnya juga?" Alis Mathius terangkat. Ethan membagikan kegelisahannya sejak semalam. "Dia agak mencurigakan." Kehadiran wanita itu memang mengejutkan. Mathius yakin dia bukan wanita biasa. Pembawaannya terlalu arsitokrat, bukan sesuatu yang akan dimiliki oleh rakyat jelata. Namun Mathius tidak bisa membuktikannya. "Aku tidak tahu apa sebenarnya motif wanita itu," ujar Mathius lambat-lambat. Ia berpaling ke pintu lalu berseru. "Masuklah aku tahu kau mendengarkan." "Maafkan aku Tuan." Tesa segera menghambur masuk seraya menundukkan kepala. "Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya ingin memberi kabar kalau Duke Veldam sudah siuman." Tesa bertanya mengenai keberadaan dokter Mathius. Dan seorang pelayan mengarahkannya ke ruangan ini. Tidak ada unsur kurang ajar yang disengaja. "Periksa Ethan." Ethan mencebikkan bibir ke arah Tesa. Namun dia patuh, pamit undur diri. Suara knop dibuka terdengar disusul dengan suara pintu yang tertutup. Jantung Tesa berdegup kencang menyadari sekarang Mathius berdiri. Derap sepatunya terdengar berat dan mengancam. Tesa ingin mengutuk diri karena telah lancang. Padahal dokter Mathius sudah berbaik budi mengizinkannya menginap dengan alasan menjaga Duke. Ia bahkan diperbolehkan mandi meski masih menggunakan gaun yang sama. Tesa menahan napas saat pria itu berdiri di hadapannya. Ia hanya bisa memandang nanar sepatu Mathius yang mengkilap. Hening menguasai. Lalu.... "Siapa namamu?" "Te-Tesa...." sahutnya terjeda-jeda. Gugup menjalari punggungnya. "Theressa Verhagen, Tuan." "Dari mana kau tahu mengenai ilmu kedokteran Tesa?" "Aku mempelajarinya, Tuan." "Kau bangsawan?" "Bu-bukan Tuan," jawabnya semakin menunduk. "Aku hanya rakyat biasa." "Rakyat biasa yang kukenal tidak bisa membaca dan menulis." "Aku mempelajarinya secara otodidak, Tuan. Dan aku mencuri buku-buku di perpustakaan majikanku." Ia merasa takut, betapa mudahnya ia menyemburkan kebohongan. Namun Tesa terdesak, tidak ada gunanya menceritakan tentang siapa dirinya yang sebenarnya sekarang. Orang lain tidak akan bersimpati. Tesa bukan lagi bangsawan. Kini ia hanya budak tanpa upah dengan status sosial setara pelacur. Suara Mathius terdengar mendesah. "Ah, jadi kau pelayan rumah tangga?" Tesa mengangguk hati-hati. "Lalu bagaimana kau bisa bertemu dengan Duke Veldam?" "Aku sedang berjalan-jalan–" "Di tengah malam?" guntingnya. Belakangan Loma sedang mengantisipasi dengan kemungkinan adanya perang. Mata-mata menjadi topik utama yang diberitakan di surat-surat kabar. Jadi tidak menutup peluang kalau wanita ini adalah bagian dari tim spionase benua seberang. Merasa tidak senang dengan bagaimana cara mereka berkomunikasi. Mathius berujar tidak ramah. "Angkat kepalamu kalau aku sedang bicara, Tesa." Tesa menurut, pandangannya terangkat. Pada celana hitam pria itu. Lalu naik pada rompernya yang rapi. Kemudian mendarat di kedua matanya yang abu-abu. Ia buru-buru menunduk, memfokuskan pandangan pada titik di tengah-tengah simpul cravatnya. Tenggorokannya kering. Mathius sangat maskulin. Sudut-sudut wajahnya keras. Dia tampak seperti pria berpendidikan yang terkendali. Tesa menelan ludah. "Maafkan aku, Tuan." "Aku tidak mengerti," jawab Mathius tenang. Menjauh dari Tesa. Melemparkan pandangan keluar jendela. Dan melihat dari lantai dua ruangannya, petugas telegram baru saja meluncur pergi dengan kereta kuda. "Untuk apa kau meminta maaf?" "Sebenarnya aku baru saja diberhentikan dari pekerjaanku," akunya jujur. "Dan sekarang aku tidak memiliki tempat tinggal. Jika kau tidak keberatan–" "Tentu saja aku keberatan." Mathius bahkan tidak menutupi nada sinis dalam suaranya. "Satu pelayan, artinya bertambah lagi satu orang yang harus kami beri makan." Dia menatap Tesa dengan alis bertaut. "Apa yang bisa kau tawarkan sebagai gantinya?" Tesa menahan sentakan rasa nyeri, meremas gaunnya yang kotor. "Aku bisa membantu dalam pengobatan. Aku bisa membuat ramuan. Aku juga bisa mencuci semua perabotan. Aku bahkan bisa menjahit pakaian yang robek." Sudut bibir Mathius terangkat tipis. "Pelayan pribadiku bahkan lebih berbakat darimu," katanya dengan nada mengejek. "Itu tidak akan cukup." Dari tempatnya sekarang berdiri, sesuatu yang semalam tertutupi kini terpampang jelas di hadapan Mathius. Tesa menarik dari segala sisi, hanya penampilannya kurang terurus. Rambutnya yang panjang berwarna merah menyala seperti bara api, dibiarkan kusut masai dalam ikatan rendah. Bibirnya sensual. Kendati pakaiannya tampak kusam, namun tetap tidak bisa menyembunyikan keranuman yang berada di baliknya. Dia cantik. Namun Mathius sudah belajar. Di dunia yang didominasi laki-laki keparat sepertinya. Kecantikan bagi rakyat jelata hanya berarti satu hal: petaka. "Baik," ujarnya lambat-lambat. Kembali melangkah mendekati Tesa yang masih menunduk. Kedua tangan mengait di belakang punggung dalam sikap terhormat. "Aku akan mengizinkan kau tinggal di sini. Tapi dengan satu syarat." Tesa menatapnya penuh harap. Lalu bertanya hati-hati. "Katakan Tuan." Wajah Mathius menjadi datar, ia mempertahankan kontak mata saat menjawab. "Lepaskan semua pakaianmu." ***"Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan." Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur. Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam. Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga. "Mungkin kau salah mengenalinya Duke." Gabriel tertegun. Apakah ia bermimpi? Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat
"Pa-pakaianku?" "Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki." Tesa menjadi kehilangan kata-kata. "Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?" Tesa merasa gamang. "Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam." "Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya. Ini tawaran yang menggiurkan. "Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius
"Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda.Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat.Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda."Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir."Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas.Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, seba
Berita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian. "Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter d
"Anak itu pembawa sial!" Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim p







