Home / Romansa / Putri Buangan Jadi Kesayangan / 5: Gadis Yang Menghilang

Share

5: Gadis Yang Menghilang

Author: Titi Chu
last update Last Updated: 2026-02-25 17:55:31

"Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan."

Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur.

Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam.

Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga.

"Mungkin kau salah mengenalinya Duke."

Gabriel tertegun.

Apakah ia bermimpi?

Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri.

"Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat agar kondisimu lebih stabil, Duke."

"Kalau begitu siapa yang membawaku kemari?" Gabriel keras kepala.

Hidung Tesa mengembang.

"Aku tidak mungkin melayang sendiri ke tempat ini, bukan?" sindirnya tajam. "Panggilkan orang yang telah membawaku kemari, aku ingin berterima kasih padanya secara pribadi."

Tesa menghela napas panjang. Di dunia mereka, hutang budi adalah hal yang serius. Tesa ingin Duke melupakannya karena tindakan itu bagian dari hati nurani. Ia percaya jika bukan dirinya, maka akan ada orang lain yang membantu Duke. Ini hanya kebetulan mutlak. Namun hutang budi tidak bisa dibayar dengan uang. Hutang budi hanya bisa dibayar dengan budi.

"Kau dibawa oleh seseorang." Setelah jeda yang cukup lama. Tesa kembali menemukan suaranya. "Namun setelah mengantarmu, dia langsung menghilang."

Untuk saat ini, Gabriel memilih percaya. Ia memberengut muram. "Aku ragu dia tidak menginginkan imbalan yang pantas."

"Tidak semua orang melakukan kebaikan karena pamrih," balas Tesa pelan.

"Dengar Simpson."

"Simon." Tesa mengoreksi.

"Aku tahu kecelakaan ini tidak wajar. Tapi katakan padaku. Berapa lama lukaku akan pulih?"

"Kurang lebih sebulan."

"Apa?"

"Jika kau mendengarkan perintah dokter Mathius dan meminum obatmu secara teratur. Itu bisa lebih cepat."

"Tapi aku tidak bisa berada di sini selama sebulan," bantahnya gusar.

Gabriel adalah laki-laki bebas, ia terbiasa bergerak. Kendati sudah mengemban tugas Duke sejak berusia 13 tahun. Namun itu tidak mengubah gaya hidupnya. Ia suka berburu, menyelam, bahkan tergabung dalam perwira angkatan laut kerajaan.

Kakinya lebih banyak menantang ombak daripada berada di lantai dansa. Membiarkan ia berada di kamar sama saja seperti mengurung hiu haus darah.

Tesa memahami hal itu. "Kami sudah mengirimkan surat ke kediamanmu di Breda, dan meminta seseorang datang untuk menamanimu. Jika perlu mereka juga bisa membawa pekerjanmu. Kami akan memfasilitasi segalanya, Duke."

"Kau tidak mengerti."

"Aku–"

"Kau yang harus menemaniku."

Mulut Tesa terbungkam.

"Selama menunggu orang-orangku tiba, tentu aku membutuhkan hiburan."

Ada sesuatu dari tatapan Simon yang membuat Gabriel gelisah.

Tidak, tatapan itu tidak tajam. Tatapan itu tidak mengintimidasi. Sebaliknya, tatapan itu justru punya semacam kepolosan. Keluguan yang digdaya. Sesuatu yang mengingatkan Gabriel akan bagaimana tetesan air hujan mampu melubangi batu.

"Baik." Tesa berdiri, mengangkat cawan keramik itu lalu berjalan ke pintu.

Membayangkan akan kembali ditinggal sendirian dengan pikiran bercabang. Membuat Gabriel berkeringat. Ia menyergah kasar.

"Jangan tinggalkan aku, brengsek."

Tesa berhenti di ambang pintu. Ia sudah terbiasa dipanggil dengan berbagai sebutan kasar oleh Pamannya. Jadi alih-alih tersinggung. Tesa justru menyunggingkan senyum teduh.

"Tidak," sahutnya lembut. "Aku hanya akan membuang ini. Setelah itu aku akan kembali dan menemanimu, Duke."

Rahang Duke mengeras, wajahnya merah padam, ia langsung memalingkan muka tidak terbiasa menerima perhatian. "Bagaimana jika kau berbohong?"

"Kalau begitu, kau bisa berhitung."

"Berhitung?"

Tesa mengangguk. "Sampai seratus. Jika aku belum kembali sampai hitunganmu selesai. Kau bisa memberikanku hukuman."

Gabriel menyeringai, menampakkan senyumnya yang kejam. Namun saat pria kecil itu keluar. Ia merebahkan kepala dan perlahan mulai menghitung.

***

Falkenburg.

Kediaman Marquess Alphen.

"Tuan!" seru Hector tergopoh-gopoh. "Tuan, ada surat dari kastil Veldam."

Tiga orang di ruang duduk seketika mengangkat kepala. Kendati mereka memiliki kecemasan yang berbeda. Namun harapan di mata mereka tampak serupa.

Monica yang lebih dulu bersuara. "Apakah itu surat mengenai kabar calon tunanganku?"

Ia sudah banyak menderita, selama berhari-hari Monica tidur dalam gelisah. Takdir telah mempermainkannya.

Keluarganya menggelontorkan banyak uang untuk mengadakan pesta pertunangan. Namun musibah yang menimpa Duke of Veldam mengubah segalanya. Semua yang sudah tersusun rapi mendadak berantakan.

Monica tidak tahan dengan pendapat dan desas-desus kalangan kelas atas mengenai musibah ini. Setiap kali keluar rumah, ia muak selalu dipandang dengan tatapan kasihan.

Semuanya bermuara dari satu nama, wanita yatim piatu terkutuk!

Hector membungkuk, mengulurkan surat itu dengan sopan. "Benar My Lady."

Marquess Alphen menerimanya, membuka segel lilinnya dengan tidak sabar.

Matanya kemudian melebar, membaca barisan kalimat yang ditulis oleh Lady Jasmine, ibunda Duke of Veldam.

"Apa katanya My Lord?" Ibunya yang selalu tenang bahkan ikut menegang.

Ekspresi Duke tidak berubah. "Di sini dikatakan kalau kita tidak perlu khawatir. Duke Veldam selamat. Dia sedang dirawat di Loma, tapi keadaannya masih kacau."

Monica menghela napas, ia nyaris menjatuhkan diri saking lega karena merasa bebannya terangkat.

"Loma?" tanya Marchioness. "Bagaimana Duke bisa ada di sana?"

"Ada yang menemukannya kemudian membawanya ke kediaman Rheindorf. Dia seorang dokter terkenal di Loma. Untuk saat ini Duke belum bisa dijenguk."

"Apakah dia cacat?"

Marquess Alphen mengerutkan kening, lalu menyergah kasar. "Tutup mulutmu Monica. Jangan berasumsi sembarangan tentang sesuatu yang belum kau ketahui kebenarannya."

"Tapi kenapa Lady Jasmine tidak mengizinkan kita menjenguk Duke?" tanya Monica histeris.

Tidak bisa dibiarkan. Ia sudah menunggu lama, hanya untuk mendapatkan kabar yang ambigu?

Ia menjatuhkan diri di sofa, memegangi kepala dengan wajah kosong. "Aku tidak mau menikah dengan pria cacat sekalipun dia adalah Duke!"

Tatapan Marquess Alphen berubah tidak senang, baginya kekuasaan jauh lebih penting daripada perasaan pribadi.

Marchioness buru-buru mengambil alih surat itu dari jemari suaminya. Lalu membaca sisanya. Dengan tenang ia berkata. "Monica, Duke tidak cacat."

Monica mengerling.

"Namun mereka memutuskan kalau pertunangan kalian harus ditunda."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   5: Gadis Yang Menghilang

    "Aku ingat wanita itu yang menolongku di gang sebelum jatuh pingsan." Degup jantung Tesa menggebu-gebu. Ia sudah memastikan penampilannya tidak akan bisa dikenali. Saat siuman yang pertama, Duke demam tinggi, sehingga Tesa hanya berupa bayangan kabur. Bahkan Ethan sempat menyangka Tesa sudah diusir oleh dokter Mathius. Sebelum akhirnya dia sadar kalau Tesa hanya 'berganti kulit'. Ia sudah merubah diri, mengubur masa lalunya dalam-dalam. Identitasnya sudah ia tinggalkan di Alphen, kini ia adalah seorang perawat laki-laki. Namun sepertinya ingatan Duke lebih tajam dari yang ia duga. "Mungkin kau salah mengenalinya Duke." Gabriel tertegun. Apakah ia bermimpi? Ia merasa yakin kalau sosok itu adalah wanita. Rambutnya yang merah terang. Gaunnya, lekuk tubuhnya... Hanya saja saat itu gang sangat gelap. Hampir tidak ada penerangan. Di titik ini Gabriel mulai meragukan ingatannya sendiri. "Jangan terlalu dipikirkan." Tesa mengingatkan. Nadanya menenangkan. "Kau harus banyak istirahat

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   4: Pria Yang Bingung

    "Pa-pakaianku?" "Benar." Mathius menelengkan kepala, mata abu-abunya memindai penampilan Tesa dengan tenang. "Tentu kau tidak bisa berkeliaran di tempat ini dengan pakaian kusam seperti itu. Dan akan lebih baik kalau kau mengubah penampilanmu menjadi laki-laki." Tesa menjadi kehilangan kata-kata. "Kerajaan sudah membuat aturan kalau wanita tidak bisa menjadi dokter." Mata biru Tesa yang terang menggangu Mathius ketika dengan berani mendongak, membalas tatapannya. "Kau pasti sudah tahu soal ini, bukan?" Tesa merasa gamang. "Dengan mengubah identitas, kau akan terlindungi sekaligus kita berdua tidak akan disalahkan atas kejadian semalam." "Tapi aku bisa menjadi pelayan dapur, aku tidak perlu dekat-dekat dengan ruang praktik kalau memang perlu," sahut Tesa masuk akal. Namun detik itu ia menyadari Mathius van Rheindorf menginginkan Tesa berada di bawah bimbingannya. Ini tawaran yang menggiurkan. "Duke masih membutuhkan perawatan." Seolah bisa membaca pikiran Tesa. Mathius

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   3: Lepaskan Pakaianmu

    "Hanya dua orang yang berhasil diselamatkan. Sisanya sudah meninggal sebelum kami sampai di tempat."Mathius termangu mendengar penuturan Ethan. Mereka membuntuti jejak darah yang dibawa Duke Veldam untuk menemukan lokasi kecelakaannya. Pria itu berjalan berkilo-kilo meter mencari bantuan agar kelompoknya bisa diselamatkan. Tidak ada manusia yang sanggup melakukan itu kecuali memiliki tenaga sekuat kuda.Kereta kuda Duke meluncur di turunan curam. Nyaris masuk ke jurang. Mayat bergelimpangan, bau busuk menyengat.Berdasarkan analisis petugas, disinyalir kecelakaan terjadi karena faktor kesengajaan dari jejak-jejak anak panah yang membunuh para kuda."Penyerangan terencana," gumam Mathius merenung di kursinya. Berpikir."Apa kita harus mengabarkan berita ini ke kastil Veldam?" tanya Ethan cemas.Mathius mengetukkan jemarinya di meja kayu berpelitur. Lalu menghela napas panjang. "Kirimkan telegram. Sampaikan ke Veldam kalau Duke berada dalam perlindungan kita. Tapi demi kesehatan, seba

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   2: Dokter Dingin

    Berita itu sudah menyebar di seluruh benua, Duke Veldam kecelakaan dan dikabarkan menghilang. Namun pria itu kini muncul di hadapannya, seperti kembali dari kematian. "Tolong bantu aku!" Tesa berseru, menggedor-gedor salah satu kediaman seorang dokter, yang paling diingatnya dari kota Loma adalah mereka terkenal dengan ilmu pengobatannya. Penjaga berwajah garang, tidak berpikir dua kali untuk mengusirnya. "Pergilah, jangan mengacau di sini." Pintu gerbang baja langsung ditutup dengan kasar di depan wajah Tesa. Ia tersentak mundur, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Napasnya memburu. Dengan keras kepala Tesa kembali menggedor-gedornya. "Apa kau tidak dengar?" selak penjaga itu jengkel. Membuka pintu gerbang hanya sejengkal. "Kalau ini soal wabah kutu, kau bisa datang untuk mendapatkan jatah sabun besok!" "Tidak." Tesa menahan baja itu dengan tangannya agar tidak tertutup. Wajahnya yang pucat menjadi memerah saat menatap penjaga itu. "Kau harus memberitahu dokter d

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   1: Pria Jelmaan Iblis

    "Anak itu pembawa sial!" Theressa Verhagen sedang menyiapkan wewangian kelopak bunga di dalam bak mandi Monica Breuer ketika mendengar seruan itu dari celah ventilasi. Ia memucat, nafasnya tercekat. Punggungnya memberat. Pekan ini telah dijadwalkan pertunangan antara sepupunya Monica dengan Duke Veldam. Rakyat Falkenburg bergembira. Tesa berusaha menyiapkan keperluan dengan teliti. Menciutkan diri menjadi wanita tak terlihat. Namun, ia sadar hinaan itu pasti ditujukan untuknya. Selanjutnya, pintu kamar Monica terbuka, lalu Tesa diseret keluar. Tubuhnya yang mungil limbung dalam kebingungan. Ember berisi air yang ia bawa jatuh, membasahi lantai marmer sekaligus gaunnya yang dekil. "Kemari kau!" bentak Marquess Alphen. Gadis itu seketika bersimpuh, melakukan tindakan pertama yang ia pelajari ketika sadar suasana hati pamannya sedang buruk. "Maafkan aku, Paman." "Aku tahu cepat atau lambat kau pasti akan membuat keluarga kami menderita," raungnya marah. "Kau anak yatim p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status