Home / Zaman Kuno / Putri Jahat Itu Menjadi Waras / Bab 91 – Yang Sebenarnya II

Share

Bab 91 – Yang Sebenarnya II

Author: Xiaofeng
last update publish date: 2026-07-05 21:10:21

Masalah sudah usai. Mereka yang ada di aula mulai meninggalkan tempat sidang dengan raut wajah yang masih menyimpan keterkejutan. Mereka tidak menyangka persidangan akan berbalik dengan fakta yang tidak terduga.

Keputusan akhir yang ditetapkan Kaisar yaitu Qiu Yi dikenakan hukuman cambuk dan juga tato wajah.

Tidak hanya itu, Menteri Keuangan Wang Zhiping sebagai pelaku penyebar rumor yang mencemarkan nama Pangeran Keempat dikenakan sanksi pencopotan gelar, penyitaan harta benda, dan diasingkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 104 – Pemakaman Selir Agung dan Serangan II

    Puluhan penyerang yang diketahui berasal dari Xiluo langsung menyerbu. Jin Zhen mencabut pedang sabit milik musuh yang sudah jatuh terkapar dengan gerakan cepat. Ia belum pernah memegang benda tajam di kehidupan modern selain pisau dapur. Di dunia ini, ia juga hanya sempat berlatih pedang kayu bersama mendiang Putra Mahkota saat itu. Dengan mengandalkan latihan pedang yang sudah agak lama, ia memberanikan diri kali ini. Bahkan, jika ia diharuskan membunuh orang. Tubuhnya bergerak otomatis mengikuti naluri bertempur yang sudah tertanam. Pedangnya berayun dan berhasil menyayat dada dan leher sehingga dua pembunuh berhasil dilumpuhkan sekaligus. Akan tetapi, lawan satu persatu datang secara bertubi-tubi hendak menyerangnya. Melihat majikannya terkepung oleh musuh, Wei Xin berlari mendekat dan langsung menyerang balik. Wei Xin dan Jin Zhen kini saling membelakangi dengan punggung saling menempel, mengawasi sisi depan dan belakang dengan cermat. Wei Xin pun berpendapat, “Mereka bukan

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 103 – Pemakaman Selir Agung dan Serangan

    Gerimis tipis turun tanpa henti bersama awan kelabu menyelimuti sejak fajar menyingsing.Di halaman utama istana, peti jenazah Selir Agung Cui telah diletakkan di atas tandu kayu yang dihiasi kain putih. Asap dupa mengepul perlahan, bercampur dengan aroma kayu cendana yang memenuhi udara.Puluhan pejabat, anggota keluarga kekaisaran, serta para pelayan berdiri berjajar mengenakan pakaian berkabung berwarna putih.Setelah keluarga Cui jatuh dan Selir Agung kehilangan kedudukannya, internal istana sudah tidak lagi stabil. Kabar mengenai Selir Agung terdengar oleh Kaisar dan membuat penyakit jantungnya kambuh seketika. Syok yang begitu hebat langsung membuatnya tak sadarkan diri.Oleh karena itu, ia tidak bisa menghadiri pemakamannya kali ini, kesempatan untuk melihat wajah istri yang paling dicintainya terakhir kalinya.Para pelayat yang menemani kepergian mendiang langsung ke makam segera bersiap berbaris. Di barisan paling depan, Jin Zhen sudah berdiri. Pakaian berkabung putih yang

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 102 – 20 Tahun Lalu

    Jin Zhen turun dari kereta kuda sederhana yang berhenti di depan kompleks penjara kekaisaran. Bangunan itu berdiri kokoh dengan dinding batu abu-abu yang tinggi, dipenuhi lumut akibat usia. Jejak kaki Jin Zhen di atas halaman berpasir berhenti tepat di akses masuk yang dihalangi oleh dua penjaga dengan tombak di genggaman yang tengah berdiri tegak. Salah seorang penjaga mengambil selangkah maju seraya mengulurkan telapak tangan ke depan.“Sesuai aturan, kami harus memeriksa setiap orang yang ingin menjenguk tahanan beserta barang bawaannya,” kata penjaga itu dengan tegas namun tetap sopan.Jin Zhen langsung menyetujuinya.Salah seorang penjaga mulai bergerak untuk memeriksa seluruh tubuhnya secara sopan, meraba lengan, pinggang, dan punggung, memastikan tidak ada senjata tersembunyi.Sedangkan, penjaga lainnya membuka kotak kayu yang merupakan rantang makanan dibawanya sedari tadi.Di dalamnya hanya terdapat beberapa roti kukus hangat, semangkuk sup ayam, sayuran rebus, acar lobak,

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 101 – Penyesalan dan Kekecewaan

    Setelah meninggalkan perpustakaan, Jin Zhen dan Xie Ruyu membawa langkah keduanya menuju sebuah taman kecil yang berada di sisi timur kompleks istana. Tempat yang jarang didatangi orang karena letaknya cukup tersembunyi di balik rumpun bambu dan pepohonan tua.Begitu sampai di tepi kolam, barulah mereka berhenti. Jin Zhen langsung berbalik menghadap Ruyu. Sorot matanya yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan akhirnya bertemu dengan mata gadis itu.“Kau tidak apa-apa?” tanya Jin Zhen. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat dan mendarat perlahan di atas kedua bahu Ruyu. Tangannya menggenggam dengan hati-hati.Ruyu memandang wajah pria itu beberapa saat. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari perpustakaan, ia benar-benar menyadari betapa pucat wajah Jin Zhen. Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.Ruyu memahami kekhawatiran yang disembunyikan di balik tatapan itu. Ia hanya menganggukkan kepala pelan dan sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Senyum yang sengaja ia tunjukkan agar pria itu t

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 100 – Sebuah Tamparan Jera

    Tangan kirinya bergerak ke pinggang Ruyu, meremasnya dengan lembut namun dominan, seolah ingin menegaskan bahwa tubuh gadis itu sudah menjadi miliknya. Ia mendorong Ruyu mundur perlahan hingga punggung gadis itu menempel ke dinding perpustakaan. Rak buku di samping mereka bergoyang sedikit karena benturan.“Kau milikku, Ruyu,” bisik Jin Guang pada telinga gadis di hadapannya. Napasnya menyapu kulit leher Ruyu, membuat bulu kuduknya meremang. “Bukan karena kekuasaan Keluarga Xie, tetapi karena aku menginginkanmu. Seluruh dirimu harus menjadi milikku.”Ruyu mencoba mendorong dada Jin Guang dengan tangan kirinya yang bebas, namun pria itu terlalu kuat. Tubuhnya telah menekan lebih erat, mengurung Ruyu sepenuhnya di antara dinding dan dadanya yang bidang. Wajah di antara mereka hanya berjarak beberapa. Matanya menatap bibir gadis itu dengan tatapan hasrat yang tidak bisa disembunyikan lagi.Ruyu merasa napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang karena campuran amarah dan rasa takut

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 99 – Bujukan dan Jeratan

    Keluar dari kediaman Permaisuri, Xie Ruyu berjalan tanpa tujuan yang jelas. Langkahnya bergema pelan di lorong batu yang membelah kompleks istana. Di kanan dan kirinya menjulang tembok-tembok tinggi berwarna merah tua, memisahkan satu halaman dengan halaman lainnya. Pertemuan dengan Permaisuri Li barusan masih terus berputar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin sulit ia mempercayainya."Apa yang kucurigai selama ini ternyata benar…" gumamnya lirih.Tanpa sadar langkahnya membawanya menuju kebun istana. Hamparan bunga krisan dan peony bermekaran di sepanjang jalan setapak, sementara kolam teratai memantulkan cahaya matahari sore yang mulai menguning.Ruyu berhenti di tepi kolam. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Saat itulah, sebuah bola kertas kecil menggelinding pelan hingga berhenti tepat di dekat ujung sepatunya.Ruyu menunduk. Ia memungutnya tanpa ragu, lalu membuka lipatan kertas itu.“Perpustakaan Istana.”Hanya ada dua kata yang tertulis di kertas

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 7 — Langkah Awal Menjadi Nona Bermasalah

    Langkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “W

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 6 — Hari Sial yang Berlanjut

    Xie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang mem

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 5 — Beiyan

    Ruyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras

  • Putri Jahat Itu Menjadi Waras   Bab 4 — Nona Pertama Tidak Lagi Menakutkan

    Sekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status