تسجيل الدخولTangan kirinya bergerak ke pinggang Ruyu, meremasnya dengan lembut namun dominan, seolah ingin menegaskan bahwa tubuh gadis itu sudah menjadi miliknya. Ia mendorong Ruyu mundur perlahan hingga punggung gadis itu menempel ke dinding perpustakaan. Rak buku di samping mereka bergoyang sedikit karena benturan.“Kau milikku, Ruyu,” bisik Jin Guang pada telinga gadis di hadapannya. Napasnya menyapu kulit leher Ruyu, membuat bulu kuduknya meremang. “Bukan karena kekuasaan Keluarga Xie, tetapi karena aku menginginkanmu. Seluruh dirimu harus menjadi milikku.”Ruyu mencoba mendorong dada Jin Guang dengan tangan kirinya yang bebas, namun pria itu terlalu kuat. Tubuhnya telah menekan lebih erat, mengurung Ruyu sepenuhnya di antara dinding dan dadanya yang bidang. Wajah di antara mereka hanya berjarak beberapa. Matanya menatap bibir gadis itu dengan tatapan hasrat yang tidak bisa disembunyikan lagi.Ruyu merasa napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang karena campuran amarah dan rasa takut
Keluar dari kediaman Permaisuri, Xie Ruyu berjalan tanpa tujuan yang jelas. Langkahnya bergema pelan di lorong batu yang membelah kompleks istana. Di kanan dan kirinya menjulang tembok-tembok tinggi berwarna merah tua, memisahkan satu halaman dengan halaman lainnya. Pertemuan dengan Permaisuri Li barusan masih terus berputar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin sulit ia mempercayainya."Apa yang kucurigai selama ini ternyata benar…" gumamnya lirih.Tanpa sadar langkahnya membawanya menuju kebun istana. Hamparan bunga krisan dan peony bermekaran di sepanjang jalan setapak, sementara kolam teratai memantulkan cahaya matahari sore yang mulai menguning.Ruyu berhenti di tepi kolam. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Saat itulah, sebuah bola kertas kecil menggelinding pelan hingga berhenti tepat di dekat ujung sepatunya.Ruyu menunduk. Ia memungutnya tanpa ragu, lalu membuka lipatan kertas itu.“Perpustakaan Istana.”Hanya ada dua kata yang tertulis di kertas
“Apa maksudmu?” tanya Permaisuri meminta penjelasan.“Sudah cukup. Tidak ada yang perlu lagi disembunyikan di antara kita. Aku tahu, kau bukan Permaisuri Li yang asli.”“Karena… kita berasal dari dunia yang sama.” Ruyu menyunggingkan sudut bibirnya.Berkebalikan dengan permaisuri, bibirnya mendatar begitu juga sorot matanya. Wajah Permaisuri Li tertunduk sebentar sebelum menyandarkan kepalanya ke telapak tangan yang tengah bertengger di lengan kursi. Ia mengibaskan tangannya pelan, mengisyaratkan para pelayan yang berada di dekat mereka untuk keluar. “Sial. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Kupikir hanya aku sendiri yang datang di dunia ini,” desisnya.Ia mengangkat pandangannya, bertemu dengan pupil mata hitam jernih milik Ruyu. “Sejak kapan kau mengetahui kalau aku dan kau adalah sama?”“Menara Jatuh. Kau pernah menyanyikannya saat di perjamuan musim semi. Yah… awalnya aku juga ragu menganggapmu sebagai transmigrator. Akan tetapi…”Ruyu menyilangkan tangan saat ucapannya sengaja d
Seorang pelayan muda yang sebelumnya ditugaskan untuk membawa Ruyu telah datang dengan langkah ringan dan penuh hormat ke Istana Fengyi. Permaisuri Li terlihat sedang duduk anggun di kursi panjang berbahan cendana dengan ukiran halus.Lengan kirinya bersandar pada lengan kursi, sedangkan tangan satunya digunakan untuk memegang sebuah buku yang tengah dibacanya.“Yang Mulia, Nona Pertama Xie telah datang.”Permaisuri Li melirik kemudian mengangkat pandangannya dari buku. Senyum tipis segera muncul di bibir Permaisuri."Persilakan dia masuk.""Baik."Pelayan itu mundur beberapa langkah sebelum kembali ke luar aula. Sesaat kemudian terdengar langkah kaki yang ringan namun mantap setelah pelayan tadi mempersilakan Ruyu untuk masuk ke dalam.Xie Ruyu melangkah dengan tenang, gaun merah muda pucat yang membuat jadi terlihat sederhana namun tetap anggun menyapu lantai.Berjalan hingga beberapa langkah di depan Permaisuri, baru ia menekuk lutut sedikit sekejap sebagai tanda memberi salam.“Su
Semua barang bukti mengenai penyalahgunaan anggaran senjata yang digelontorkan dari kas negara sebesar empat ribu tael perak untuk pembuatan pedang dan baju zirah masing-masing berjumlah lima ratus—ada juga dana sisa untuk keperluan yang lain jika darurat—tak bisa terelakkan.Pihak lawan Menteri Cui, yaitu Perdana Menteri Li dan rekannya terus memberi petunjuk, entah itu dapat dipercaya atau tidak. Pernyataan mereka tampak meyakinkan sehingga beberapa yang lainnya terhipnotis dan langsung mempercayainya tanpa dipikirkan lagi.Seruan-seruan yang mendukung Perdana Menteri Li membuat Kaisar merasa didesak. Dengan berat hati, ia menetapkan hukuman Menteri Cui untuk menjalankan pengasingan di daerah terpencil bagian utara.Selaku putrinya, Selir Agung Cui juga ikut terkena imbas karena dua kesalahan yang katanya merupakan perbuatan ayahnya. Walaupun begitu, hukumannya tidak berat, hanya saja posisinya di dalam istana diturunkan satu tingkat.Mengenai Jin Zhen, kedudukannya untuk menjadi Pu
Sebelum menutup rapat pada pagi hari itu, Jin Guang tiba-tiba melangkah keluar dari barisan. Jubah kebesarannya bergoyang perlahan mengikuti langkahnya.Ia menangkupkan kedua tangan yang tengah menggenggam tablet giok hijau pucat."Ayahanda, izinkan ananda menyampaikan satu perkara penting. Hal ini berkaitan dengan Kementerian Militer."Salah satu alis Kaisar bergerak terangkat, menatap putra ketiganya yang tampak sungguh-sungguh ingin melaporkan sesuatu yang sangat mendesak dari sorot matanya."Bicaralah,” suruhnya.Tangan kanan Jin Guang bergerak menyelip di dalam lengan jubahnya. Sedetik kemudian, keluar sebuah buku bersampul biru yang bentuknya memanjang ke samping.“Beberapa hari lalu, saat ananda mengunjungi Kementerian Keuangan, ada pegawai yang melakukan perhitungan ulang terhadap buku besar selama lima tahun terakhir ini. Mereka melakukannya karena perintah atasan.”"Namun, hal yang ingin ananda bahas saat ini adalah pada hari pemeriksaan tersebut ditemukan kejanggalan yang t
Langkah kaki Ruyu berhenti tepat di tengah keramaian jalanan pasar ibukota yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kain bendera berkibar dengan tulisan nama toko, suara pedagang bersahut-sahutan, dan aroma makanan pinggir jalan bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian di antara kerumunan. “W
Xie Luo’an turun dari kereta kuda begitu sampai di kediaman. Ujung jubah seragam dinas berwarna ungu berkibar tertiup angin sore berhembus lembut setelah melangkahi gerbang utama. Kali ini, ia tidak melewati atau berhenti di aula utama seperti biasanya. Tanpa menanggapi pada para pelayan yang mem
Ruyu yang masih tersungkur di tanah dengan ayam jantan masih meronta, langsung membeku setelah mengetahui pria yang di depannya adalah Putra Mahkota. Otaknya berhenti berpikir sejenak, benar-benar kosong. ‘Putra Mahkota ini pasti Pangeran Pertama yang bernama Jin Yuan, kan? Jika dilihat paras
Sekian hari setelah dirinya masuk ke dunia baru, seluruh penghuni kediaman Xie hidup dalam ketenangan. Tidak ada suara pecahan barang keramik menghantam lantai, teriakan emosional yang membuat para pelayan gemetar ketakutan, hingga seruan pelayan yang memohon ampun. Di depan tembok pembatas halam







