Share

Bab 187

Author: Si Kecil Tangguh​
Kemudian, seorang kasim muda segera menarik Dianti. Namun, semuanya sudah terlambat.

Bunga bakawali hancur karena ditekan Dianti. Bahkan, beberapa kuntum bunga telah masuk ke tanah. Bunga-bunga itu tidak terlihat indah lagi.

Kasim yang ketakutan terduduk di tanah dan bergumam, "Gawat ...."

Kasim tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menarik ujung gaun Dianti dan berseru, "Kamu yang menghancurkan bunga-bunga ini! Putri menyuruh orang untuk membeli bunga ini dari Ifra dengan harga mahal! Aku dan guruku baru berhasil menanam 2 kuntum bunga ini setelah berusaha keras!"

Kasim menambahkan, "Beberapa bulan lagi, bunga ini akan mekar. Tapi, kamu malah menghancurkannya! Kamu harus ganti rugi!"

Sesudah itu, kasim menangis histeris sehingga semua orang mengerumuninya. Gaun Dianti juga ternodai tanah. Dia makin panik karena ditertawakan lagi. Dianti menarik gaunnya dan membentak, "Lepaskan!"

"Aku nggak mau! Ganti rugi dulu!" tegas kasim. Dia bertekad untuk meminta Dianti bertanggung jawab. Jadi, dia tid
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Devie Jhael
huh..dianty kesempatan sm si rangga..
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1365

    Gerakannya terlalu mendadak hingga membuat tubuhnya yang memang sudah lemah langsung terkulai. Bangku itu terbalik ke lantai. Suaranya menggema di tengah keheningan seperti petir yang menggelegar!Rinun menatap Andini yang berdiri nyata di hadapannya. Hantaman kenyataan dan rasa teraniaya itu langsung menelannya seperti tsunami. Air mata pun seketika bercucuran, mengalir deras tanpa bisa dibendung."Uh ... ah ... ah ...." Dia membuka mulut. Urat-urat di lehernya menegang karena memaksa ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya suara napas serak yang terdengar, memilukan hingga menusuk hati.Tenggorokannya yang diracuni hingga bisu terasa seperti digesek berulang kali. Setiap upaya bersuara membawa rasa sakit seperti terkoyak, merobek habis seluruh harapan dan kata-kata yang ingin dia ucapkan.Hati Andini seperti dipotong pisau. Dia segera melangkah maju, menopang tubuh Rinun yang hampir roboh, lalu membantunya berbaring di ranjang dengan hati-hati. Dia mengulurkan tiga jari,

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1364

    Andini menunduk, menatap kunci kuningan kecil di telapak tangannya, lalu memandang Ikhsanun yang berlutut di lantai, menanggalkan seluruh harga diri hanya demi memohon secercah harapan hidup bagi adiknya. Entah mengapa, bayangan Abimana tiba-tiba terlintas di benaknya.Dia menarik napas dalam-dalam. Udara dingin mengalir masuk ke paru-parunya. Pada akhirnya, dia mengambil keputusan."Bangun." Suara Andini tetap dingin, seolah-olah diselimuti lapisan embun tipis, tetapi tidak lagi sedingin penolakan mutlak. Di dalamnya terkandung keputusan yang tak terbantahkan. "Aku akan pergi."Demi Rinun dan juga demi rencana esok hari, dia harus menempuh perjalanan ini.Malam kian larut, embun kian pekat, segala bunyi mereda. Seluruh Kediaman Gutawa seolah-olah tenggelam dalam air mati. Hanya ada suara angin yang berdesir, laksana tangisan arwah penuh keluh kesah.Dalam perlindungan tanpa suara dari Soekarno, sosok Andini bagai segumpal asap ringan di tengah malam. Dia dengan cekatan menghindari sel

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1363

    Bukan berarti Ikhsanun belum pernah menyaksikan sendiri aksi Braja yang dingin dan kejam. Braja bahkan pernah menggendong sendiri anak kandungnya sendiri dan membawanya ke wilayah terlarang itu. Namun, di lubuk hatinya, dia selalu berharap nasib Rinun akan berbeda.Rinun bukan bayi polos yang tidak mengerti apa pun, melainkan sudah berusia enam belas tahun. Selama itu, dia selalu hidup dengan patuh dan cerdas di Keluarga Gutawa. Dia bahkan memanggil Braja dengan sebutan paman buyut.Braja selalu memperhatikan dan berpihak pada Rinun sebagai anak perempuan satu-satunya Keluarga Gutawa di generasi ini dan Ikhsanun juga menyaksikan semuanya dengan matanya sendiri. Dia pernah percaya dengan naif bahwa sedikit ikatan darah itu setidaknya cukup untuk membuat Rinun aman di Paviliun Tafakur.Namun, ucapan Braja hari ini sudah menghancurkan sepenuhnya ilusi yang sudah dipertahankan Ikhsanun mati-matian. Dia akhirnya melihat bagaimana seorang kepala keluarga bisa bersikap begitu dingin dan kejam

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1362

    Malam yang gelap dan menekan berat di atas atap-atap bersusun serta balok ukiran kediaman Keluarga Gutawa, seolah-olah hendak menelan seluruh denyut kehidupan. Di dalam halaman, hanya terdengar suara angin bertiup di antara koridor-koridor sunyi dan menambah kesan hening yang mematikan.Saat duduk sendirian di bawah lampu tunggal yang cahayanya bergoyang-goyang, ujung jari Andini tanpa sadar mengusap sebuah jarum perak yang dingin. Namun, sentuhan dingin itu juga tidak mampu menenangkan pikirannya yang kacau.Racun Belenggu Tulang di tubuh Rangga, Rinun yang dikurung Paviliun Tafakur, dan perjalanan ke wilayah terlarang di malam bulan purnama besok. Semua itu mengacaukan pikiran Andini dan membuatnya terus gelisah.Saat itu, tiba-tiba terdengar suara serak dan rendah Soekarno dari sudut yang gelap. "Kepala Lembah, ada pergerakan di luar halaman. Dari posturnya, sepertinya itu Ikhsanun."Ikhsanun?Apa yang diinginkan Ikhsanun?Andini tiba-tiba menyipitkan matanya, lalu langsung menggeng

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1361

    "Baik ...."Ikhsanun berusaha mengeluarkan kata itu dari tenggorokannya dengan suara kering dan parau, seolah-olah sudah mengerahkan seluruh tenaganya. Dia menundukkan kepala dan bulu matanya yang tebal pun menutupi gejolak rasa sakit dan tidak berdaya di tatapannya. Dia tidak berani dan tidak boleh membantah juga. Di hadapan kepentingan Keluarga Gutawa, kasih sayang pribadi kecil dan tak berarti.Braja menatap kedua orang itu dengan dingin. Seolah-olah cukup puas dengan reaksi itu, dia baru kembali duduk di kursi besar berukir. Dia mengambil sebuah kuas dan tanpa sadar memutarnya di antara jari-jarinya, lalu menatap nyala lilin yang bergetar dan berkata dengan nada yang kembali tenang khas seorang pemegang kendali, "Bagaimana keadaan di Penjara Air Hitam sekarang?"Hasanun menahan sakit di keningnya dan pusing yang datang beruntun, lalu berkata dengan lemah dan napas yang terengah-engah, "Semalam ... aku baru pergi melihatnya. Surya dan para Pasukan Harimau ... semuanya seperti anjing

  • Putri Pengganti Untuk Keluarga Adipati   Bab 1360

    Mendengar ucapan itu, Ikhsanun pun segera berlutut ke lantai. Sama seperti Hasanun, dia menundukkan kepalanya dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun lagi.Darah di pelipis Hasanun masih mengalir dengan tanpa suara, beberapa tetes bahkan menetes ke lantai dan mengembang menjadi noda gelap yang kecil.Tatapan Braja yang keruh sekaligus tajam perlahan-lahan mengamati kedua sosok yang menundukkan kepala dengan rendah diri itu, lalu perlahan-lahan bangkit. Langkah kakinya yang berat menimbulkan suara yang pelan sekaligus jelas saat melangkah di lantai, terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang di hati.Braja berhenti tepat di hadapan kedua orang itu, lalu menundukkan kepala dan menatap dua generasi muda terbaik di Keluarga Gutawa itu."Angkat kepala kalian," kata Braja dengan suara rendah dan nadanya penuh wibawa yang tak bisa dibantah, tetapi di baliknya terselip kelelahan dan kekecewaan yang sulit disembunyikan.Ikhsanun dan Hasanun yang menurut pun berusaha mengangkat kep

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status