Teilen

Bab 172

last update Veröffentlichungsdatum: 29.10.2026 20:04:06

Noval sedang fokus dengan layar laptopnya selama hampir lima belas menit, tetapi tidak satu pun garis yang berhasil menarik perhatiannya.

Pikirannya melayang ke satu nama yang sejak tadi terus mengganggu ketenangannya.

Duna.

Laki-laki itu akan bertemu dengan orang tua Chandani hari ini.

Noval menghembuskan napas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi. Jemarinya mengetuk meja kerja tanpa irama.

Di hadapannya, rancangan rumah bergaya American modern farmhouse yang sedang ia kerjaka
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 180

    Hujan turun deras sejak pagi. Langit Yogyakarta masih kelabu. Jalanan di depan klinik tampak basah, bahkan beberapa kendaraan harus berjalan pelan karena genangan air.Pagi itu klinik cukup sepi. Beberapa pasien menghubungi nomor klinik, untuk memundurkan jadwal terapi karena hujan tak kunjung reda.Kesempatan itu dimanfaatkan Chandani, Rika, dan Cahya untuk sarapan bersama di ruang istirahat.Di atas meja terdapat sebungkus cakwe hangat lengkap dengan sausnya."Kalau hujan pagi-pagi, kita bisa agak santai. Tapi nanti siang, wah bermunculan itu pasien.” kata Cahya sambil mengambil cakwe kedua.Rika meliriknya. "Iya mbak, kita nyantai dulu lah mumpung bisa santai.”"Kamu sudah sarapan belum, Rik?" tanya Cahya. “Udah mbak.”“Aku juga udah sarapan. Kok lapar lagi.”“Mbak Chandani, buruan makan cakue nya, keburu dihabisin mbak Cahya.”Chandani tertawa kecil mendengar ucapan Rika. Cahya memang punya nafsu makan yang besar."Eh, pasien pertama kita siapa?" tanya Chandani.Rika membuka pons

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 179

    “You have no idea how much those words mean to me. Thank you for seeing me beyond my past and accepting me for who I am. I never expected someone to understand me this way, but I'm grateful that it's you. And I hope you know that choosing you is something I would never regret.” jawab Noval sambil tersenyum. (Kamu tidak tahu betapa berartinya kata-kata itu bagiku. Terima kasih karena melihat diriku lebih dari sekadar masa laluku dan menerimaku apa adanya. Aku tidak pernah menyangka seseorang akan memahamiku seperti ini, tetapi aku bersyukur orang itu adalah kamu. Dan aku harap kamu tahu bahwa memilihmu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kusesali.) “Tapi Sayang, kayaknya jalan kita lebih terjal di banding orang lain. Kamu tidak keberatan?” “Mas mau jalan kita nanti berliku-liku, naik turun, mendaki gunung, lewati lembah, juga aku nggak peduli. Asal aku sama kamu.” jawab Chandani dengan mantap. Noval tidak menyangka jika Chandani yang terlihat kalem, manis akan mengatakan ka

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 178

    Chandani menundukkan kepala. Sejak tadi, perempuan itu tampak sibuk memainkan jemarinya di atas pangkuan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi ia seperti kesulitan menemukan kalimat yang tepat.Noval yang duduk di sampingnya tidak terburu-buru bertanya. Ia membiarkan Chandani mengumpulkan keberanian untuk bercerita."Ibu dan Bapak mengundang Duna," ujar Chandani akhirnya."Mereka ingin aku baikan sama Duna. Intinya, mereka berharap aku dan Duna bisa kembali seperti dulu. Mungkin mereka berpikir kalau aku dan Duna kembali bersama, hubunganku dengan Mas Noval juga akan berakhir."Ada sesuatu yang mengganjal di dada Noval mendengar nama itu. Laki-laki yang pernah menjadi bagian dari kehidupan Chandani dan rupanya masih memiliki tempat dalam pertimbangan kedua orang tuanya.Namun, Noval tidak ingin buru-buru bereaksi. Ia tahu, kecemburuan sering kali membuat seseorang mengambil kesimpulan tanpa memahami keadaan sebenarnya. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang membuat Chandani meras

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 177

    Pagi itu, udara di taman kota masih terasa sejuk. Embun membasahi rerumputan, sementara beberapa orang tampak sibuk melakukan aktivitas olahraga. Ada yang berjalan santai, bersepeda, dan sebagian lainnya berlari mengelilingi jalur pedestrian yang membelah taman.Noval sudah berlari hampir empat puluh menit.Kaos olahraga berwarna hitam yang dikenakannya mulai sedikit basah oleh keringat. Napasnya teratur, langkah kakinya mantap, dan sesekali ia mengusap keringat di pelipisnya.Namun, ada satu hal yang mengganggu konsentrasinya sejak tadi..Noval menghembuskan napas panjang. Sialnya, berlari ternyata tidak cukup ampuh untuk membuatnya berhenti memikirkan Chandani.Justru semakin lama ia berlari, semakin banyak hal yang muncul dalam pikirannya. Terutama sikap Chandani semalam. Noval tahu ada sesuatu yang sedang dipikirkan Chandani.Noval memperlambat langkah, kemudian berhenti di dekat bangku taman. Ia duduk sambil mengatur napas. Tangannya meraih botol air mineral berukuran kecil yang

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 176

    Malam semakin larut. Jam dinding di kamar Chandani menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sejak mengakhiri panggilan dengan Noval, perempuan itu belum juga bisa memejamkan mata.Ia berbaring terlentang dengan kedua mata menatap langit-langit kamar. Ponselnya tergeletak di samping bantal, sesekali menyala karena notifikasi yang masuk.Pikirannya masih dipenuhi kejadian di restoran sore tadi.Perkataan ibunya. Sikap ayahnya. Kehadiran Duna. Semuanya berputar-putar di kepalanya.Chandani membalikkan tubuh, kemudian menarik selimut hingga sebatas dada.Ia sebenarnya ingin menghubungi Noval lagi. Ingin mendengar suara laki-laki itu, bercerita tentang hari yang melelahkan, dan membiarkan dirinya mengeluh seperti biasanya.Namun, ada sesuatu yang menahannya. Chandani teringat bagaimana Noval sempat bertanya apakah pertemuannya hanya dihadiri kedua orang tuanya.Chandani lalu menyesal, mengapa ia tadi berbohong?Sejujurnya, Chandani tidak ingin menambah beban pikiran Noval. Belakan

  • Putus dari Mantan, Diratukan Duda Tampan   Bab 175

    Chandani melangkah cepat meninggalkan restoran. Wajahnya tampak masam, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Pertemuan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk berbicara baik-baik dengan kedua orang tuanya justru berubah menjadi sesuatu yang membuat emosinya terkuras.Ia masih tidak habis pikir bagaimana ibunya dan ayahnya bisa dengan mudah membandingkan Noval dengan Duna. Seolah-olah hubungan masa lalunya dengan laki-laki itu merupakan sesuatu yang harus kembali dipertimbangkan.Padahal, Chandani sudah mengambil keputusan. Ia tidak ingin kembali ke masa lalu."Ichan!"Suara Duna terdengar dari belakang.Chandani tidak menoleh. Ia terus berjalan melewati deretan kendaraan yang terparkir di depan restoran. Namun, beberapa detik kemudian, Duna berhasil menyusulnya dan meraih lengan perempuan itu."Chan, tunggu dulu."Chandani menghentikan langkah. Ia langsung menghempaskan tangan Duna dari lengannya."Jangan pegang-pegang aku."Duna terdiam sesaat. Ia menghembuskan napas p

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status