Share

19. Check Kandungan

Hari ini rania memutuskan untuk tidak datang ke sekolah, bukan tanpa alasan dia enggan untuk datang. Pasalnya kelas Xii memang dibebaskan pasca ujian maka dari itu dia memilih untuk tidak datang kesekolah. Rania juga mengabari aurel karena memang semalam mereka melakukan vidio call. 

Rania tersenyum mengingat kejadian semalam.

Flashback on. 

Jam sudah menunjukan pukul 9 malam tapi rania belum bisa memejamkan matanya padahal rasanya sangat lelah. Karena bosan dia memainkan sosmednya yang memang jarang sekali dibuka, tiba tiba arya datang dengan membawa susu hamil untuknya dan jangan lupakan tangan kiri nya yang juga terdapat laptop. 

" Nih minum dulu " arya menyodorkan segelas susu yang dibuatnya dan langsung di sambut oleh rania. 

" Makasih "

Setelah nya mereka sibuk dengan kegiatannya masing masing, sampai pada arya yang mengalihkan tatapannya dari laptop ke rania. 

" Gue mau ngomong "

" Apa? " rania menyaut tanpa melepaskan pandangannya dari hp yang sedabg menayangkan makanan. 

" Tatap gue dulu, gasopan ada orang ngomong ga tatap mukanya "

Rania menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah arya yang juga tengah memandangnya.

" Gue mau kerja di perusahaan papah "

" Hah,  serius? Bukannya lo gamau jadi penerus perusahaan? " Rania kaget, karena mertuanya bilang arya tidak pernah berniat untuk menjadi penerus perusahaan karena ingin mewujudkan cita citanya untuk menjadi polisi. 

" Awalnya gitu, tapi sekarang harus mau "

" Kenapa tiba tiba mau? " 

" Karena lo "

" Hah? " Rania mengerjapkan matanya beberapa kali dan itu sukses membuat arya gemas sendiri melihat tingkah istrinya. 

" Punya istri lemot banget si " arya mencubit pipi rania yang semakin hari semakin berisi. 

" Isss gausah cubit cubit " Rania menangkis tangan arya yang akan mencubit pipinya lagi, ingat lagi! 

" Hahah Oke oke, intinya gini. Gue gamungkin nafkahin lo pake uang bokap terus, gue mau kerja biar bisa nafkahin lo sekalian buat anak kita "

Blushh

Tanpa pamit rona merah itu muncul di pipinya, demi apapun hatinya tiba tiba menghangat mendengar alasan arya.

Rania menundukkan kepalanya, arya yang melihat itupun terus berusaha mengangkat kepalanya sampai tak sadar sekarang posisi rania sudah ada di bawah kungkungan arya yang berada di atasnya. 

" Ehh awas sana nanti aku ketiban badan kamu " Rania memalingkan wajahnya dengan tangan yang menahan dada arya. 

" Kenapa hm? " arya bertanya dengan nada menggoda nya, tepat ditelinga rania. 

" Isss awas ga, atau aku tendang! " rania memelototkan matanya garang. 

" Cium dulu "

" Ga, gamau " Rania menutup mulutnya dengan satu tangan. 

" Yaudah kita bakal gini terus sampe besok "

Ucap arya dengan seringai nakal yang terpatei dibibirnya. 

" Iiis kamu mesum "

" Ayo cepet, dosa tau nolak suami "

" Isss yaudah yaudah "

Arya mendekatkan wajahnya ke rania dan sedikit lagi dua benda kenyal itu saling menempel tapi-

Drtt drttt

Bunyi handphone rania mengacaukan semuanya, disana tertera nama aurel dengan Panggilan vidio Call. Rania langsung mendorong arya sampai terjatuh dari ranjang. 

" Awshhh "

" Ehh sorry sorry, gue keluar dulu "

Arya mengumpati aurel dalam hati. Bisa bisanya dia mengganggu momennya. 

" Padahal dikit lagi "

Flashback off

Rania tidak sadar jika sedari tadi arya memperhatikan rania yang sedang senyum senyum sendiri di pagi hari. 

Arya mengernyitkan dahinya, melihat bagaimana rania menahan senyum dan tertawa pelan, dengan pelan arya mendekati rania dan langsung menempatkan tangannya ke kening sang istri. 

" Ngga panas " arya menjauhkan tangan nya dan menepuk pelan pipi istrinya dan itu sukses menyadarkan rania dari lamunannya. 

" Ehh udah bangun?"

" Lo ngapain? Kenapa dari tadi senyum senyum? "

" Hah? Apa? Ngga ko"

" Alesan dari tadi lo senyum senyum, kesambet ya lo "

" Enak aja lo "

" Oh gue tau " arya berjalan mengelilingi rania dengan mata yang memicing. 

" Lo lagi bayangin hal mesum yaaa " arya berkata seraya menunjuk rania tepat pada wajahnya. 

" Heh suudzon aja " rania memukul pelan lengan arya yang berada didepannya.

" Udah udah, ayo sarapan "

Setelah sarapan sampai siang, rania merasa bosan dia tidak melakukan kegiatan apapun dari tadi. Sedangkan arya sedang disibukan dengan pekerjaan kantor yang memang dibawa pulang. 

Tiba tiba hp nya berdering dan nama mamah yang tertera di sana. Tanpa menunggu waktu lama rania mengangkat panggilan tersebut. 

" Halo mah "

" Halo sayang, kamu dimana? "

" Aku dirumah ko mah, kenapa mah? "

" Sekarangkan kandungan kamu udah masuk 4 bulan, coba kamu cek ke dokter sayang. Seinget mamah kamu belum pernah cek kandungan kan? "

" Em iya mah, aku belum pernah cek kandungan aku"

" Yaudah hari ini harus cek ya, arya ada dirumah kan? 

" Ada ko mah "

" Yaudah, hari ini jangan lupa ya. Mamah udah bilang sama tante Felly, katanya jam 2 siang giliran kalian "

" Iyah mah, rania kesana nanti siang. Makasih ya mah "

" Sama sama sayang, nanti pulangnya mampir kerumah yah "

" Iyah mah "

" Yaudah mamah tutup."

Rania melirik arya yang juga sedang meliriknya, karena posisi mereka memang sedang berada di ruang tamu dan duduk dikarpet bawah kursi.

" Jam 2 nanti gue anter "

" Hem, makasih "

" Udah jadi kewajiban gue sebagai suami "

...

Arya dan rania sekarang sudah berada di Rumah sakit tempat Tante Felly bekerja. Mereka sedang menunggu Tante Felly yang sedang memeriksa satu pasien lagi. 

" Maaf nunggu lama, tante gatau kalo pasien tante yang pagi bakal balik lagi " Tante Felly mengawali obrolannya. 

" Langsung periksa aja dok "

" Yaudah, ayo rania ikut tante "

Rania mengikuti tante felly yang mengajaknya ke ruang USG, jangan lupakan arya yang dengan setia mengekori mereka. 

" Baring dulu ya sayang " Rania mengikuti intrupsi yang dikatakan tante felly.

" Bajunya dinaikin sampe bawah dada nak" 

" Hah? " 

Seolah tau jika rania malu karena ada arya yang memang memperhatikannya, felly tersenyum lembut. 

" Ngga usah malu sayang, arya kan suami kamu"

Rania tersenyum canggung, dengan gerakan slowmonya dia menyingkap bajunya. Sedangkan arya yang melihat itu hanya bisa memalingkan mukanya.

Tante felly mengoleskan gel ke perutnya, rania merasakan hawa dingin yang menyejukkan, dan pemeriksaan pun berlanjut. 

Setelah memeriksa kehamilannya arya dan rania bergegas menuju kediaman adi putra. Tapi ketika di jalan tiba tiba ada beberapa motor yang menghadangnya. 

" Woi turun lo "

Rania memegang erat jaket yang dikenakan arya, dia merasa ketakuan sekarang apalagi melihat gelagat arya yang terlihat menahan amarah. 

" Gue turun, lo disini jangan kemana mana "

 Rania menarik lengan arya ketika, dia menggeleng pertanda tak mengizinkan suaminya menghadapi 6 orang yang sedanf mengahadang mereka. 

" Percaya sama gue, gue aman "

Rania memejamkan matanya ketika mendengar suara perkelahian. 

Bugh bugh bugh

Arghh

" Bangsat "

Ketika dia akan membuka matanya, tangannya tiba tiba ditarik kebelakang oleh orang yang menghadangnya tadi. 

" Arghh Lepasin "

" Diem "

" Nggak, Lepasin gue "

" Diem Bangsat "

" Nggak lep-"

PLAKKK

Rania merasakan pipinya memanas dia juga merasakan anyir di bibirnya. Satu kata yang dapat dia definisikan, Sakit. Matanya berkaca kaca bersiap untuk menangis. 

" Diem atau lo gue gampar "

Rania menuruti perintah dua orang yang sedang menahannya, dihadapannya terdapat arya yang sedang melawan 4 orang sekaligus. 

Bugh 

Arya terjatuh karena terkena pukulan pada belakang kepalanya. Arya terjatuh tepat menghadap rania yang tengah memandangnya. Melihat kondisi istrinya yang mengenaskan sukses membuatnya seolah kehilangan akal, apalagi setelah melihat darah yang mengalir dari sisi bibir istrinya. 

" Bangsat, lo apain istri gue! "

Arya bangun dan langsung menerjang 2 orang yang memegangi lengan istrinya sampai terlepas. Dia menghajar nya dengan membabi buta, bahkan keempat orang yang melihatnya pun begidik ngeri. 

" Bajingan, mati lo "

Bugh bugh bugh

Arya masih menghajar 2 orang dengan begantian, sampai pada dia mendengar suara istrinya yang lemah.

" Ya cukup, aku takut " ucap Rania dengan nada yang gemetar. 

Arya menghampiri rania dan langsung memeluknya. Dia merasa gagal menjaga mereka, apalagi melihat pipi istrinya yang memerah dan sudut bibirnya yang sobek. 

" Kita Pulang, Next time aja mampir ke rumah mamahnya."

Rania hanya bisa menuruti perkataan suaminya, dia menaiki motor dan memeluk erat arya. 

Sesampainya mereka di apart, arya langsung bergegas menuju dapur mengambil batu es untuk mengompres pipi rania yang terlihat memar. 

" Sttt sakit ya "

" Pelan pelan"

" Ini gue udah pelan,  lo tahan bentar "

" Awshhh sakit ya hiks hiks "

" Eh ko lo malah nangis, ssttt iyaudah ini udah. Jangan nangis" arya meniup pipi yang telah dia kompres dan dengan gerakan kilat dia mencium pipi tersebut. 

Rania membulatkan bibirnya, dia terkejut menerima perlakuan arya yang tiba tiba menciumnya. Rona merah perlahan hadir di pipi sampai telinganya, rania malu. 

" Anjir bisa blushing juga ya lo "

" Iss arya nyebelin "

Rania memukul mukul dada arya dengan tenanganya yang tak seberapa. 

" Gue laper "

" Tunggu sini, gue ambil makan dulu "

" Em tapi mau makan sate "

Arya menundukkan kepalanya sejajar dengan perut rania, perlahan tangannya bergerak mengelus perut istrinya yang sudah sedikit membuncit. 

" Anak daddy lagi pengen sate hm? "

Rania memalingkan wajahnya melihat momen tersebut, hatinya menghangat mendapat perlakuan manis dari arya. 

" Tunggu dirumah ya, daddy keluar sebentar beli sate buat kamu. Kamu jagain mommy dulu oke "

Cup

Arya mencium perut buncit itu dan langsung pergi dari hadapan rania yang tengah mematung dengan pipi yang memerah. 

" Isss bisa bisanya gue baper "

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status