LOGIN"Hahaha! Lucky! Akhirnya ada kesempatan untuk membuatnya tau rasa!" ucap pria berambut merah dengan nada yang sangat senang. Rei merasa bahwa kehidupan di dunia baru ini bukanlah sebuah imbalan, melainkan sebuah siksaan dari dosa yang mungkin ia pernah perbuat di dunia sebelumnya. Tak lama, pengawas ujian memanggil nama mereka berdua dan membacakan peraturan dari duel ini.
"Morgan! Rei! Silahkan memasuki arena!"
"Untuk peraturannya, seluruh skill yang kalian kuasai boleh kalian gunakan. Pertandingan akan dihentikan ketika salah satu dari kalian menyatakan diri untuk menyerah atau kehilangan kesadaran. Penting untuk tidak melakukan percobaan pembunuhan dalam ujian ini. Kalian mengerti?"
Morgan terlihat sudah sangat menanti-nanti momen ini. Disisi lain, Rei tidak tahu harus melakukan apa. Atau Bastian memang sengaja melakukan ini kepadanya? Mungkin yang bisa Rei lakukan sekarang adalah mencoba bertahan selama mungkin sampai Morgan kehabisan mana dan tidak bisa merapal skill lagi.
*TING!*
Ujian dimulai. Sambil mengepalkan tangan, Morgan dengan cepatnya berlari ke arah Rei.
"[Enchant : Physical up!]"
Seketika, hantaman keras dari tangan Morgan mendarat tepat di perut Rei. Rasa sakit akibat hantaman telak tersebut membuat Rei lemas. Ia hanya bisa memegangi dan mencengkram tangan Morgan, berharap dapat menghentikan pergerakannya. Morgan mulai mengoceh kepada Rei sambil mencoba mengangkat tangannya yang ditahan oleh Rei.
"Kau pikir dengan kekuatanmu yang lemah itu dapat menghentikanku hah?!"
Bantingan yang keras ke arah tanah membuat Rei melepaskan cengkramannya dari tangan Morgan. Wajar saja untuk Morgan yang bisa meningkatkan kekuatan fisik dengan skillnya untuk mengungguli ujian ini akan sangat mudah. Hantaman, tendangan bahkan bantingannya dapat membuat siapapun akan menyerah berhadapan dengannya.
"Sudah ku bilang bukan? Untuk keluar dan berdiam diri saja," ucap Morgan dengan sombongnya sambil melangkah menjauh dari Rei.
Rei yang tergeletak dan kehilangan setengah kesadarannya mencoba untuk berdiri. Anehnya, status windows milik Rei muncul secara tiba-tiba. Terdapat progress-bar yang memperlihatkan angka persentase dari sebuah progres. Namun Rei tidak menghiraukan hal itu. Perlahan, ia mulai berdiri kembali dan siap untuk bertahan.
Melihat Rei yang kembali berdiri, entah mengapa Morgan menjadi kesal. Ia kembali berlari ke arah Rei dan kembali memukulnya. Pukulan bertubi-tubi dari Morgan menghujani Rei. Namun Rei menyadari suatu hal. Pergerakan Morgan menjadi lambat dan serangannya menjadi lebih banyak. Rei berasumsi bahwa skill Morgan sudah habis dan masuk ke dalam masa cooldown.
"Hei pecundang! Apa kau pikir aku akan berbelas kasih kepada mu?!" ucap Morgan sambil memukuli Rei
Rei terus mencoba bertahan dari pukulan-pukulan Morgan. Dan kembali lagi, status windows itu muncul di hadapan Rei. Namun kali ini progress-bar itu meningkat dengan cepat seraya dirinya dipukuli oleh Morgan. Kemudian, Rei memiliki sebuah ide yang mungkin cukup nekat.
"Siapa juga yang mau dikasihani olehmu, kepala petromak!" ucap Rei dengan nada yang mengejek.
Mendengar hal itu, Morgan makin memanas. Ia semakin membabi buta memukuli Rei. Di sisi lain, Rei mencoba terus menahan serangan Morgan, sambil sesekali melihat progress-barnya. Setelah lama dipukuli, Morgan menyadari bahwa skillnya sudah siap digunakan lagi dan ia melihat Rei sudah kehabisan stamina untuk meladeninya.
"Mati kau. "[Enchant : Physical up!]" "
Morgan mengaktifkan skillnya lagi dan tinjuannya siap melesat menuju ke arah wajah Rei. Rei yang kehabisan stamina hanya bisa pasrah untuk menerima hantaman itu mentah-mentah. Namun saat ini, Rei menerima hantaman itu sambil tersenyum.
"[Skill Unlocked!]"
Setelah hantaman tangannya mendarat di wajah Rei, Morgan terkejut dan tidak percaya bahwa Rei baik-baik saja. Kemudian, Rei kembali mencoba mencengkram tangan Morgan, dan kali ini pergerakan Morgan dapat dihentikan.
"Jadi ini yang aku dapatkan ketika progress-bar itu penuh. Mungkin aku harus berterima kasih kepadamu kepala petromak. Berkatmu, aku akhirnya mendapatkan skill," ucap Rei dengan senangnya.
Rei sadar bahwa durasi dari skillnya akan bertahan lebih lama, daripada Morgan yang mengaktifkan skill terlebih dahulu. Rei langsung memanfaatkan situasi tersebut dan mulai melakukan serangan balasan. Tinjuan keras datang menghampiri wajah Morgan. Morgan merasakan sakit kali ini. Ia kebingungan mengapa Rei yang tidak memiliki skill dapat memberikan rasa sakit kepada dirinya.
"A-apa yang terjadi! Kau seharusnya tidak memiliki skill!" teriak Morgan.
"Apa yang terjadi? Aku juga tidak tau. Dan yang terpenting adalah, bisakah kau berhenti mengoceh!" ujar Rei yang siap kembali meninju Morgan.
Keberuntungan sekarang ada pada Rei. Skill Morgan sekarang telah kembali memasuki waktu cooldown dan ini adalah kesempatan untuk Rei. Hantaman keras dari tinju Rei mendarat tepat di ulu hati Morgan, membuatnya jatuh dan tidak sadarkan diri.
"Itu balasan untuk yang tadi, sialan!" ucap Rei.
Karena kehabisan stamina, Rei terjatuh dan terduduk di arena itu. Namun dengan percaya diri, Rei mengangkat kepalan tangannya ke atas. Pengawas guild yang sedang terpaku melihat duel itu seketika sadar dan memukul bel tanda ujian duel sudah berakhir.
Suasana di area ujian menjadi hening, masih heran dan terpukau dengan duel antara Rei dan Morgan. Kemudian, pengawas guild masuk ke dalam arena sambil diikuti oleh tim medis yang membawa tandu untuk Morgan yang tidak sadarkan diri.
"Pemenangnya adalah Rei!" Teriak pengawas guild.
Seketika, para calon petualang ikut heboh dan kagum kepada Rei. Rei yang terduduk mencoba berdiri dibantu oleh pengawas guild. Rei pun masih tidak percaya juga kepada dirinya yang bisa memiliki skill dan memenangkan duel tersebut. Dengan sedikit stamina yang didapatkan dari duduk tadi, Rei keluar dari arena dan beristirahat di tempat istirahat ujian.
"Kerja bagus nak, ini hadiah untuk kemenangan duel mu," ucap Bastian yang muncul di hadapan Rei yang sedang beristirahat sambil memberikan segelas minuman kepadanya.
"Kau sengaja ya melakukan hal ini?! Kau sungguh keterlaluan Bastian!" ujar Rei dengan marah namun masih mau mengambil minuman pemberian Bastian.
Bastian mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya ia rencanakan. Bastian berkata, mungkin Rei harus memancing suatu hal agar perkembangan dirinya bisa lebih cepat dan membuka skill miliknya sendiri. Yang mana skill itu dapat berkembang lagi nantinya sesuai dengan skill-tree yang ada di bagian skill-windows. Dan jalannya adalah melalui ujian duel.
Namun, Rei mengerutkan dahinya karena heran dengan apa yang dijelaskan oleh Bastian. Dari yang Rei alami, ia hanya membuka dan menemukan satu skill dalam skill-windowsnya. Tidak ada skill-tree seperti yang dijelaskan oleh Bastian. Rei kemudian membuka dan melihat kembali skill-windowsnya dan menyampaikan nama skill yang ia miliki kepada Bastian.
"Ummm... nama skillnya... Aku tidak bisa membacanya, apakah kau punya pena Bastian? Akan ku coba menuliskannya dan nanti kau bisa membacakannya untuk ku," ucap Rei yang kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
Kemudian, Bastian memberikan sebuah pena dan secarik kertas kepada Rei. Lalu Rei mulai menulis tulisan yang tidak ia ketahui. Semirip mungkin, Rei mencoba menuliskan apa yang ada. Setelah beres, ia kemudian memberikannya kepada Bastian.
"Ini, tolong bacakan untukku Bastian. Skill apa yang aku miliki?" ucap Rei sambil memberikan kembali pena dan kertas itu.
Bastian terlihat kebingungan, tidak mengerti apa yang ia temukan dari goresan-goresan yang Rei tulis di kertas tersebut.
"Hei, apa kau jangan-jangan tidak bisa membaca juga?" ujar Rei sambil melihat ke arah Bastian.
"Hohoho~ Bukan seperti itu. Hanya saja, aku belum pernah melihat nama skill seperti ini sebelumnya selama aku hidup," jawab Bastian.
"Memangnya apa nama skill ku?" balas Rei yang penasaran juga dengan skill yang ia miliki.
Entah karena ia bingung dan heran, Bastian menyampaikan nama skill yang Rei miliki dengan ragu.
"Create ?"
Rei dan teman-temannya terus berlari untuk menghindari kejaran dari beberapa penjaga tersebut. Meskipun mereka tidak tau kemana arahnya, yang terpenting bagi meraka saat ini adalah tidak tertangkap. Lalu mereka berbelok ke arah kiri dan memasuki sebuah gang kecil."Mereka pasti tidak jauh dari sini! Mari berpencar!" ucap salah satu penjaga yang terdengar dari kejauhan."Apa mereka sudah pergi?" bisik Lora."Entahlah, aku tidak bisa memastikannya" jawab Rei."Memangnya, kalian bersembunyi dari siapa?""Ya dari siapa lagi memangnya yang mengejar kita?!" Jawab Lora kesal kepada Russel."Aku tidak bilang apapun loh" saut Russel.Lalu mereka bertiga menoleh ke arah belakang dan terkejut melihat seseorang yang telah berdiri tepat di belakang mereka. Jika diperhatikan, orang ini bukan seperti seorang pedagang, atau mungkin merupakan salah satu dari warga Madelina. Dengan perasaan yang was-was dan juga penasaran, Rei mencoba bertanya kepada orang tersebut."E-Emm... Kau siapa?""Oh, perkenalk
Setelah selesai berbincang dan sarapan, Zeldrik mengajak Rei dan partynya untuk berkeliling di jurang Moonlit Chasm. Tinggal disetiap sisi dari jurang Moonlit Chasm merupakan gaya hidup para Demi-Human. Bukan tanpa alasan, mereka tinggal di dalam jurang untuk menghindari banyaknya informasi yang dapat menyebar secara luas tentang kehidupan mereka.Zedrik juga mengatakan bahwa orang-orang Demi-Human sering terlibat dalam banyak masalah, apalagi kepada manusia. Banyak dari anak-anak sampai wanita ditangkap dan dijadikan sebagai budak oleh para manusia. Tentu itu membuat para Demi-Human membenci manusia, namun itu tidak berlaku untuk Rei dan partynya.Belum pernah ada cerita dimana makhluk agung mereka sampai menundukan kepala untuk meminta maaf kepada manusia itu sendiri. Atas kejadian tersebut, Zedrik dan Demi-Human lainnya yakin bahwa Rei bukan orang yang jahat dan malah sebaliknya. Zedrik berpikir bahwa Rei merupakan orang yang spesial."Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasih..."
Griffon itu ditahan dan diangkat dengan Rei. Seluruh penonton termasuk Zedrik tidak percaya dengan apa yang mereka lihat secara mata telanjang itu. Rei melempar griffon itu ke tembok, melesat cepat ke arahnya. Hantaman yang keras membuat griffon itu pusing tak sadarkan diri."Reiiii!" teriak Russel sambil membopong Lora mendekat ke arah Rei.Zedrik yang menyaksikan hal tersebut cukup geram. Orang-orang yang menontonnya pun juga ikut merasakan hal yang sama. Zedrik kembali lagi memasuki arena dengan perasaan yang penuh amarah. Rei tidak bisa begitu berbuat banyak hal karena telah menggunakan skillnya. Disisi lain, Russel pun tidak bisa lagi bertarung karena kehabisan kekuatan dan Lora pingsan kehabisan mana."K-kau! Berani-beraninya kau menyakiti makhluk agung kami!" teriak Zedrik sambil menunjuk ke arah Rei."Apa yang kau pikirkan?! Itu hal yang kami bisa lakukan untuk menjaga diri kami! Dan lagi, kau tidak mau mendengarkan penjelasan kami!" jawab Rei spontan.Zedrik semakin geram, me
Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,
Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap
"Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil ma







