แชร์

8. Sihir

ผู้เขียน: SolSepatuDanSekitarnya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 18:27:05

Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.

Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.

Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi.

"Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap Rei sambil menguliti Killer-Rabbit yang ia tumbangkan.

Saat menguliti salah satu dari mereka, Rei mendapati ada sebuah batu kecil bersinar di dalamnya. Rei tidak mengetahui apa itu dan fungsinya. Ia memasukannya ke dalam kantungnya dan bergegas kembali ke gua.

Sesampainya di bibir gua, Rei takjub dengan kekuatan Russel. Hampir seluruh bongkahan bebatuan itu berhasil ia pinggirkan. Terlebih, tidak asal-asalan. Susunannya sangat terstruktur, cukup estetik dan terlihat natural. Ya, mungkin itu merupakan sifat alami dari seseorang yang mengenal alam dan selalu menghabiskan waktu untuk membantu ayahnya.

"Lora, Russel. Aku menemukan ini saat menguliti mereka" ucap Rei sambil berjalan masuk ke dalam gua dan menunjukan batu bersinar yang ia dapati.

"Oh? Itu Mana Stone"  jawab Russel.

"Iya, itu sangat langka. Kau bisa menjualnya atau membuat sesuatu seperti perlengkapan dari Mana Stone tersebut," sambung Lora.

Dari penjelasan Lora, Mana Stone merupakan energi kehidupan yang tersisa dari makhluk hidup. Tidak semua makhluk hidup akan meninggalkan Mana Stone di dalam tubuhnya. Hanya beberapa makhluk yang lebih kuat dari umumnya yang dapat meninggalkan Mana Stone.

"Kalau begitu, apakah manusia memiliki mana stone juga di dalam tubuh mereka?" tanya Rei bingung.

"Tidak, sekuat apapun manusia tidak akan memiliki mana stone di dalam tubuhnya. Namun, manusia memiliki mana seperti makhluk hidup lainnya. Dimana, jika kau bisa merasakan mana di dalam dirimu tentunya kau bisa menggunakan sihir" jawab Lora.

Berbeda dengan skill penguatan yang menggunakan stamina, ketika seseorang menggunakan sihir maka mana lah yang menjadi bahan bakarnya. Tetap dengan kondisi yang sama, hanya sedikit orang atau seorang dengan pengalaman yang cukup saja yang dapat mengeluarkan lebih dari satu sihir di waktu yang bersamaan.

Mendengar penjelasan Lora lebih lanjut, Rei terlihat sangat kagum. Lalu ia teringat dengan dirinya ketika melakukan ujian sebagai petualang yang tidak dapat menciptakan sihir apapun. Memang, ada beberapa dari mereka juga yang bernasib sama seperti Rei, tapi ia sangat ingin dapat menggunakan sihir.

"Lora, apakah aku bisa menggunakan sihir juga?" tanya Rei dengan penuh harapan.

Lora hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan tersebut. Ia takut membuat Rei kehilangan harapan. Bagaimanapun, Lora harus menjelaskannya. Namun, sebelum sempat berbicara, Russel menjawab pertanyaan Rei.

"Sayangnya, ketika seseorang mulai condong memiliki skill fisik, ia tidak bisa dikategorikan sebagai pengguna sihir. Seperti diriku."

Rei yang penuh harapan menoleh ke arah Lora. Lora hanya bisa menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Russel. Harapan Rei untuk menggunakan sihir memudar seketika. Ia hanya bisa tersenyum kecil dan menerima kenyataan tersebut.

"Tapi, aku pernah mendengar sebuah cerita dimana ada seseorang yang bisa menguasai kedua hal tersebut. Bahkan, ada buku yang pernah ku baca juga tentang seseorang yang memiliki keahlian bertarung secara fisik yang hebat disertai kemampuan sihirnya yang luar biasa" ujar Lora.

Lora sebenarnya tidak tahu pasti apakah hal yang ia ucapkan itu benar adanya atau hanya dongeng belaka. Namun, setidaknya ia ingin membuat Rei tidak kehilangan harapan. Lora lalu teringat akan sesuatu: Mana Stone. Mana Stone dapat menjadi perantara untuk mengetahui apakah seseorang memiliki mana atau tidak.

"Rei, Mana Stonenya. Kita bisa gunakan itu untuk mengetahui jawabannya" sambung Lora.

Rei kemudian mengeluarkan Mana Stonenya lagi. Lora menyampaikan kepada Rei untuk merasakan aliran mananya sendiri, entah itu yang ada di tubuhnya atau yang berusaha masuk ke dalam tubuhnya. Bernafas secara perlahan dan teratur akan membuat Mana Stonenya bereaksi mengikuti irama nafas Rei.

"Baiklah, akan aku coba"

Ia kemudian menutup matanya, mulai bermeditasi dan mencoba untuk merasakan aliran mana seperti apa yang Lora katakan. Mana Stone itu tidak memberikan reaksi apapun. Jika memang seseorang memiliki mana, maka batu itu akan bersinar ketika disentuh dengan tingkat kefokusan yang tinggi.

"L-Lora, lihat... I-itu..." ucap Russel pelan sambil menunjuk ke arah Mana Stone yang dipegang oleh Rei.

Bercahaya. Mana stonenya bereaksi. Lora yang menyaksikan ini sangat terkejut melihatnya. Ini diluar dugaan, Rei memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir.

 "T-tidak mungkin..."

"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk?" tanya Rei.

Lora mendekat, menatap Rei dengan tatapannya yang masih terkejut. Lora memegang pundak Rei, menggoyangkan tubuhnya kesana kemari kegirangan. 

"Kau seorang jenius, Rei. Tidak, kau seseorang yang langka!" teriak Lora.

"A-aku tidak tau apa yang kau bicarakan. Berhenti mengguncang-guncang diri ku, aku mual!" ucap Rei yang wajahnya mulai pucat.

"Mana stonenya bereaksi Rei, kau bisa menggunakan sihir Rei" ujar Russel.

Lora bertanya kepada Rei, apa yang ia rasakan ketika bermeditasi untuk merasakan aliran mana. Rei menjelaskan bahwa, awalnya ia melihat banyak warna. Namun, warna-warna itu kemudian menyatu dan berubah menjadi seperti warna pelangi yang masuk perlahan ketubuhnya. Rei juga menjelaskan bahwa ia dapat merasakan mana dari dalam tubuh maupun dari luar tubuhnya.

Hampir seluruh bagian yang Rei jelaskan merupakan hal yang valid untuk mengetahui penggunaan mana. Tapi tidak dengan warna putih. Warna-warna tersebut seharusnya menjadi simbol sebuah element yang dapat digunakan oleh seorang mage. Merah, biru, hijau, kuning, ungu, hitam dan putih. Tidak ada warna pelangi seperti apa yang Rei sampaikan. Dan setiap mage hanya dapat memiliki satu warna saja, tanpa pengecualian.

"Lalu, sihir apa yang bisa aku gunakan?" tanya Rei pelan.

"Kita sudah terlalu banyak melakukan kegiatan. Kenapa kita tidak berhenti sejenak dan mulai mengisi perut kita? Aku rasa, cacing-cacing di perut ku sudah mulai meronta untuk menyantap sesuatu" keluh Russel.

Lora dan Rei tertawa mendengar itu, dan kemudian mereka mulai menyiapkan perapian. Mengolah beberapa tumbuhan, jamur dan juga daging untuk hidangan makan malam mereka. Cahaya bulan yang indah menemani mereka dari luar. Membuat suasanya menjadi lebih indah dan tenang. 

Setelah beres, mereka merencanakan untuk melihat apa yang dapat Rei kuasai di esok hari. Untuk sekarang, istirahat adalah hal utama. Ditemani dengan api unggun yang menghangatkan, mereka bertiga mulai menutup matanya dan pergi ke alam mimpi untuk sementara.

Keesokan harinya, Rei dan yang lainnya berkemas untuk melanjutkan perjalanan mereka. Memasuki hutan lebih dalam lagi untuk dapat sampai ke tujuan mereka. Di tengah perjalanan, Lora kembali menjelaskan tentang warna yang dilihat oleh Rei saat bermeditasi semalam.

"Karena sihir ku merupakan sihir es, pondasi dari element ku adalah element air. Maka dari itu, warna yang dapat aku lihat saat bermeditasi adalah warna biru" ucap Lora.

"Tapi, Rei bilang bahwa warna yang dia lihat sebelumnya merupakan perpaduan warna yang berakhir memiliki warna pelangi dan kau menjelaskan bahwa itu tidak pernah ada. Apa sihir memang sesulit itu ya?" saut Russel kebingungan.

"Mungkin, kita bisa mencobanya setelah melewati hutan ini. Menurut peta, ketika keluar dari hutan kita akan memasuki wilayah Moonlit Chasm, jurang indah yang dihuni para Demi-Human," sambung Lora.

Selama perjalanan di dalam hutan, beberapa monster yang berkeliaran sering kali menghadang mereka. Namun, mereka bertiga cukup membangun chemistry satu sama lain dengan sangat baik dari pertempuran itu. Rei juga banyak belajar banyak hal dan pengalaman saat bertarung dengan mereka berdua.

"Setidaknya, aku tidak harus kesana kemari untuk menyerang ataupun melindungi Lora dari musuh jika ada Rei yang menjadi damage dealer kita nantinya" ucap Russel sambil tersenyum puas.

"Ya ya ya! Kau membuatnya terdengar seperti aku beban bagimu!" saut Lora ketus.

Rei hanya bisa tertawa mendengar pertikaian kecil tersebut. Namun, itu yang membuat Lora dan Russel akrab. Candaan kecil yang akan terus menguatkan ikatan pertemanan antara satu sama lainnya. Rei berharap ia bisa menjadi seseorang yang bisa mereka andalkan.

Ketika sudah cukup lama berjalan, mereka akhirnya melihat sisi lain dari hutan tersebut. Bergegas mereka menuju keluar dari hutan tersebut. Indah. Benar-benar indah. Jurang yang sangat dalam, namun memiliki pemandangan yang sangat luar biasa.

"Woooah! Baru kali ini aku melihatnya secara langsung" ucap Russel melongo melihat keindahan jurang tersebut.

"Aku pun demikian. Aku tau bahwa tempat ini memang ada dekat dengan desa kita, tapi aku tidak pernah menyangka tempat ini begitu indah" ujar Lora yang ikutan tercengan juga melihat keindahan Moonlit Chasm.

"Lalu, bagaimana kita melewatin jurang ini? Apakah kita akan melompat ke dalam?" tanya Rei.

"Kawan, aku tau bahwa aku tidak sepintar Lora. Tapi, bukankah itu tindakan yang bodoh?" jawab Russel.

"Kesampingkan itu, bagaimana kalau kita beristirahat sambil mencari tau tentang sihir Rei" saut Lora.

Mereka mulai mencari tempat untuk beristirahat. Tempat yang sedikit luas menjadi pilihan mereka untuk meletakan perlengkapan. Sebelum mulai mencari tau sihir apa yang Rei punya, ia menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu sama sekali cara menggunakan sihir. Lora mencoba untuk mendemonstrasikannya agar Rei bisa belajar sesuatu dari itu.

"Hal utama bagi para mage agar dapat menggunakan sihirnya adalah fokus. Rasakan aliran mana di dalam tubuh dan rapalkan mantra untuk merealisasikannya"

"[Hydro : Water Bullet!]"

Dari telapak Lora, muncul gumpalan air yang menyatu dan berfokus kepada satu titik. Gumpalan air tersebut kemudian melesat seperti peluru ke salah satu bebatuan yang ada di sekitar. Setelah itu, Lora melanjutkan penjelasnnya. Ada beberapa sihir lanjutan yang menggunakan mana dari alam atau sekitar. Sihir es milik Lora contohnya. Lora mengubah mana yang ada diluar tubuhnya untuk menciptakan es.

"[Cryo : Ice Spear!]"

Seperti saat pertama bertemu, udara sekitar menjadi terasa dingin. Muncul partikel-partikel kecil yang kemudian berfokus kepada satu tempat di hadapan Lora. Menyatu menjadi satu dan membentuk tombak es. Melesat cepat dengan daya hancur yang lebih kuat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • REINKARNASI TANPA SKILL   9. Demi-Human

    Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,

  • REINKARNASI TANPA SKILL   8. Sihir

    Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap

  • REINKARNASI TANPA SKILL   7.Ikatan

    "Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil m

  • REINKARNASI TANPA SKILL   6. Petualang Terpilih

    Belum cukup untuk berdiri dengan tegap, Rei kembali melihat Russel siap menerjangnya lagi. Rei tahu bahwa ia dapat mengisi bar progressnya dengan cepat dengan mengorbankan dirinya, namun itu tidak akan bertahan lama karena tubuh Rei tidak akan mampu untuk menahan semua rasa sakit itu.Rei tersadar akan sesuatu, yaitu asap hitam yang muncul dari belakang leher Russel. Saat Russel kembali menerjang, Rei mencoba menghindar dan mencari tahu apa sebenarnya asap hitam itu. Dengan sisa kekuatannya, Rei berhasil melihat sebuah kertas bertuliskan simbol aneh yang menempel di leher Russel."Sepertinya itu yang membuatnya hilang kendali. Mari kita coba—" Sebelum menyelesaikan gumamannya, Russel kembali menerjang Rei dengan kuat.[Enchant : Physical up!]Rei menerima terjangan itu. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya meski ia telah menggunakan skill. Tidak hanya menahan serangan tersebut, Rei juga berusaha meraih dan menarik kertas itu dari belakang leher Russel. Mereka berdua akhirnya mengha

  • REINKARNASI TANPA SKILL   5. Misi Penyelamatan

    Setelah cukup lama menyusuri jalan, akhirnya mereka sampai di depan hutan terdekat dari desa Topia. Seharusnya, tidak ada monster yang perlu dikhawatirkan untuk mereka. Karena Lora telah menjelaskan bahwa hutan ini cukup tenang dan tidak begitu berbahaya. Apalagi untuk dirinya yang sudah memiliki class. Perlahan mereka mulai masuk dan menyusuri hutan tersebut."Ngomong-ngomong Rei, di pertemuan awal kita kau belum sempat menjelaskan dari mana asal mu kan?" tanya Lora dengan nada yang sangat antusias."Oh- Iya, aku sebenarnya adalah seorang pengembara. Aku tidak begitu banyak menetap di suatu tempat sebenarnya. Dan dalam perjalananku, kebetulan kita bertemu," jawab Rei yang sedikit gagap karena sambil menyusun sebuah kebohongan."Tapi, kau sungguh sangat beruntung ya bisa selamat selama perjalanan mu. Kau ingat saat aku menolong mu? Itu adalah bentuk dari dewi keberuntungan yang mengirimku sebagai penyelamatmu. HAHAHA!" ujar Lora dengan sifat congkaknya yang kental.Rei mulai terbiasa

  • REINKARNASI TANPA SKILL   4. Tidak biasa

    "Create ?""Woaah, skill seperti apa itu? Apakah aku akan bisa membuat sesuatu menggunakan skill ku?" ucap Rei yang kagum dengan skillnya sendiri setelah mendengar namanya."Aku tidak yakin, dan aku benar-benar tidak memiliki informasi untuk skillmu nak," ujar Bastian yang masih bingung dengan skill milik Rei."Tidak apa Bastian, kau sudah membantuku. Selebihnya aku akan coba mencari taunya sendiri," balas Rei dengan optimis.Jika skill Rei memang benar dapat menciptakan sesuatu, bagaimana Rei bisa menang melawan Morgan? Bastian sangat yakin bahwa Rei tidak menggunakan apapun saat itu. Yang ia tahu, kekuatan Rei menjadi setara dengan Morgan saat dalam waktu terakhir dalam duel tadi."Bolehkah aku menanyakan sesuatu Rei?" tanya Bastian kepada Rei yang masing tersenyum-senyum sendiri."Tentu Bastian, ada apa?" jawab Rei"Kau mengaktifkan skill mu saat melawan Morgan, apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Bastian.Rei menjelaskan bahwa ia tidak merapal apa pun untuk skillnya muncul. Rei m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status