แชร์

7.Ikatan

ผู้เขียน: SolSepatuDanSekitarnya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 18:22:41

"Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.

Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.

Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian.

"Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.

Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil masuk ke sana. Bahkan, sebagian besar dari mereka tidak pernah kembali.

"Apakah kau yakin? Aku tau ini permintaan Bastian, tapi bukankah berbahaya jika kita sampai ke sana?" tanya Lora perlahan.

"Bastian tidak meminta kita untuk memasukinya, kita hanya perlu menginvestigasinya. Mungkin, sebelum kita sempat sampai di sana, ada beberapa petunjuk yang bisa kita dapati" jawab Rei.

Akhirnya mereka semua sepakat untuk menjalankan investigasi tersebut. Sebelum pergi, Bastian menghampiri mereka berdua.

"Maaf telah merepotkan kalian, ini yang bisa aku berikan untuk membantu perjalanan kalian" ucap Bastian sambil memberikan sekantung koin emas dan beberapa potion.

"Ingat, jika kalian menghadapi masalah terlebih berhadapan dengan Demon itu sendiri, segeralah kembali" tegas Bastian.

Mereka bertiga mengangguk setelah mendengarkan ucapan Bastian dan kemudian mengambil pemberiannya sambil melangkah keluar dari Tavern untuk memulai perjalanan mereka.

"Rei, ini merupakan misi pertama mu bukan?" tanya Lora.

"Misi, ya? Sebenarnya, aku tidak menganggap ini sebagai misi. Ini merupakan sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mencegah bahaya yang mungkin terjadi di Altair," jelas Rei.

Jawaban Rei membuat Lora sadar bahwa Rei tidak pernah menilai sesuatu dari satu sudut pandang saja. Rei memiliki sebuah kepercayaan dan kepedulian yang akan membuatnya terus menjadi semakin kuat. Di sisi lain, Lora juga sempat menanyakan tentang skill Rei.

"Rei, bagaimana dengan skill mu? Apakah kamu mengetahui hal lainnya tentang skill mu?"

"Oh iya, terima kasih sudah mengingatkan ku. Aku sampai lupa akan hal tersebut" Jawab Rei.

Kemudian, Rei menjelaskan tentang bagaimana pertumbuhan dari skillnya kepada Lora dan Russel. Russel sempat kebingungan ketika Rei menjelaskan bahwa ia bisa mendapatkan skill baru ketika Rei menyelesaikan sebuah progress bar yang muncul di saat pertarungan.

"Itu aneh. Seharusnya, skill akan kita dapat ketika kita bisa mengetahui teorinya dan mencoba untuk melatihnya hingga kita bisa menguasainya. Singkatnya, ketika kita memahami dan bisa mengaplikasikan teori itu maka kita bisa menggunakan skill tersebut dengan kemampuan class kita masing-masing" jelas Russel.

"Heee~ tumben sekali otakmu berkerja. Apa ini semua karena kau membabi buta dan berkali-kali kepala mu terbentur sesuatu? Tapi yang diucapkan Russel sangat tepat. Kita tidak bisa mendapatkan skill secara acak hanya melalui sebuah pertarungan" ucap Lora.

Sambil berbincang, mereka sudah hampir mendekati wilayah hutan tersebut. Rei dan yang lainnya memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum memasukin hutan. Di saat mereka beristirahat, Russel bertanya kepada Rei.

"Rei, bolehkah kau menunjukan skill mu? Mungkin aku dan Lora bisa membantu mu untuk mengetahui bagaimana skill mu berkerja"

"Tentu, kenapa tidak" jawab Rei.

Mereka mulai berdiri dan mulai memperhatikan Rei yang akan menggunakan skillnya.

"[Enchant : Physical up!]"

"Hmm? tidak ada yang berbeda, kelihatan tidak ada yang berubah sebagaimana orang-orang menggunakan Physical up. Jika kau memiliki skill lainnya, kau bisa tunjukan setelah durasinya Physical Up mu hab-" 

Belum sempat Lora berbicara, Rei tanpa sengaja menggunakan skill lainnya yang ia peroleh saat bertarung untuk menghentikan Russel.

"[Enchant : Iron body!]"

Rei yang tanpa sengaja menggunakan kedua skill itu secara bersamaan sempat kaget karena ada window bar yang muncul di hadapannya. Setelah melihat window bar itu Rei terdiam sebentar.

"Hei, kau tidak bisa langsung menggunakan dua skill sekaligus secara bersamaan! Itu akan membebani pikiran mu" seru Lora kepada Rei.

"Tidak, aku bisa menggunakannya. Dan juga... apakah kita bisa membuat skill sendiri?" tanya Rei kebingungan setelah melihat status windownya.

Lora kaget mendengar pertanyaan Rei. Yang Lora ketahui, penggunaan skill seperti melakukan suatu pekerjaan. Jika seseorang menggunakan dua atau lebih dari satu skill, itu akan seperti melakukan banyak pekerjaan di satu waktu secara bersamaan. Yang mana, tentunya akan membuat otak pengguna terbebani akan hal itu. Dan hanya segelintir orang saja yang dapat melakukan hal tersebut. Lalu, tidak ada yang bisa menciptakan skill baru ketika menggunakan dua atau lebih skill untuk menciptakan skill baru lainnya.

"T-tunggu sebentar Rei. Apa yang ada di window bar mu?" tanya Lora.

"Umm.. sebentar. Ini... sepertinya aku harus memberikan nama" Jawab Rei.

Lora kemudian menjelaskan bagaimana seharusnya skill bekerja. Di sisi lain, Russel mendapati bahwa Rei tidak terlihat seperti menggunakan skill Iron Body ataupun Physical Up.

"Bagaimana kalau kita mencobanya saja?" tanya Russel.

"Mencoba gundulmu. Rei baru saja mengaktifkan dua skill secara bersamaan, ini merupakan hal yang langkah kau tau?! Sekarang kau malah ingin dia mencoba apa yang bisa dilakukan oleh skillnya itu" ujar Lora.

"Aku mengerti, tapi aku tidak melihat Rei seperti menggunakan Iron Body ataupun Pyshical Up. Dengan kita melakukan percobaan, mungkin kita bisa mendapatkan informasi lebih lanjut" ucap Russel.

Russel benar, Rei sendiri bahkan tau bahwa dia tidak akan mengetahui apapun jika tidak mencoba skillnya. Di sela perbincangan tersebut, Rei memiliki ide yang cukup gila di kepalanya.

"Bagaimana kalau kita coba untuk berduel Russel?" ucap Rei.

"Waahahaha, ini baru teman ku. Baiklah, kenapa tidak" Jawab Russel.

Lora hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berpikir bahwa mungkin Rei sudah ketularan oleh pikiran bodoh Russel. Tapi Lora cukup memahami sudut pandang Russel dan mulai memperhatikan mereka untuk beradu kekuatan. Rei dan Russel kemudian bersiap untuk mengujinya.

"Kau siap kawan?"

Rei mengangguk sambil berkata "Majulah tanpa ragu"

Russel berlari sekuat mungkin ke arah Rei sambil mengaktifkan skill Pyshical Up. Di sisi lain, Rei mulai mengaktifkannya juga, dengan tambahan skill Iron Bodynya juga.

"Baiklah, ini dia! [Enchant : Physical up!] lalu [Iron Body!]"

Hantaman keras yang dihasilkan dari terjangan Russel membuat debu berterbangan. Lora tidak dapat melihat apa yang terjadi. Tak lama setelah debu-debu itu menghilang, dari kejauhan Lora melihat Rei dapat menahan Russel dengan mudah.

"T-tidak mungkin! Rei bahkan tidak di level yang sama dengan Russel. Juga, fisik Russel merupakan yang terkuat" gumam Lora.

Mengejutkan, bahkan Rei sendiri terkejut mengetahui bahwa ia bisa menahan Russel dengan mudah. Namun, semakin lama Rei menahannya, penglihatannya mulai kabur. Kedua kakinya juga mulai gemetaran. Dalam beberapa saat ia menyadari bahwa ada darah yang mengalir keluar dari lubang hidungnya. Russel pun menyadari hal itu dan mulai berhenti. 

Bruuk!

Tepat setelah Russel berhenti untuk menerjangnya, Rei terjatuh tak sadarkan diri di tempat. Lora panik dan mulai berlari mendekat, Russel juga mencoba untuk membangunkannya namun tubuh Rei tidak merespon sedikit pun. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memberhentikan percobaan tersebut dan membawa Rei untuk beristirahat.

"Ughh... Apa yang terjadi?" tanya Rei ketika ia kembali siuman.

"Sudah ku bilang jangan mencoba hal yang aneh-aneh!" teriak Lora kepadanya.

Lora menjelaskan kepada Rei bagaimana penggunaan skill berkerja. Lora kagum akan bagaimana Rei bisa menggunakan kedua skillnya tadi, namun Lora menyampaikan bahwa otak Rei belum siap untuk menerima beban sebanyak itu. Bahkan, ketika satu skill digunakan secara terus menerus juga dapat membuat penggunanya kelelahan.

"Maaf, aku hanya ingin tau apa yang aku bisa lakukan dengan skill ku" kesahnya.

"Sudahlah, kita seharusnya bisa lebih mengerti perasaan Rei bukan? Kau bilang kau ingin mengajarinya banyak hal?" ucap Russel kepada Lora.

Russel benar. Setidaknya, Rei punya keingin untuk mengetahui bagaimana penggunaan skillnya. Tentunya, ini bukan hanya untuk sekedar menilai apa yang bisa dilakukan dengan skill itu, tetapi berguna atau tidakkah skill tersebut.

"Maaf Rei, aku hanya khawatir" ucap Lora.

Rei hanya bisa tersenyum kecil, menyadari bahwa ia memiliki orang-orang yang sangat memperdulikannya. Kemudian, ia bangun perlahan dan meregangkan tubuhnya.

"Perjalanan kita masih panjang untuk ke dalam sana. Aku harap kita bisa melakukan ini bersama!" tegas Rei.

Lora dan Russel menatap satu sama lain dan mulai tersenyum setelah mendengarkan perkataan itu. Mereka pun beranjak dari tempat istirahat mereka dan kembali melakukan perjalanan memasuki untuk memasuki hutan sebelumnya.

Memasuki hutan, mereka mulai berbincang dan bertukar cerita satu sama lain membahas riwayat hidup mereka. Di mulai dari Russel yang menceritakan bahwa dirinya merupakan anak tunggal. Dan sayangnya, sedari kecil tidak ada satu anak pun yang mau berinteraksi dengannya dikarenakan takut akan postur tubuh Russel yang besarnya tidak umum seperti anak-anak seusianya. Russel tidak memiliki rasa marah atau dendam akan hal itu. Ia menjelaskan bahwa dari situ, ia menyadari pasti ada suatu hal yang bisa ia manfaatkan dari badannya yang bongsor itu. Sampai akhirnya, Russel berlatih untuk menjadi seorang petualang.

Di sisi lain, Lora menceritakan bahwa ia adalah seorang anak biasa yang sangat menyukai sihir. Sangking senangnya dengan sihir, Lora sangat giat untuk mempelajarinya terus menurus. Kehidupan di tempatnya sangat damai. Namun tidak ada kebahagiaan yang berlangsung lama. Semua berubah ketika grombolan Red-Eyes Wolf menyerang desanya. Karena sihirnya, Lora bisa selamat. Tapi tidak dengan orang-orang desanya. Lalu, ia memutuskan untuk menjadi petualang sambil mempelajari ilmu sihirnya agar dapat menjadi penyihir terhebat yang dapat melindungi orang-orangnya.

Giliran Rei untuk bertukar cerita. Sungguh, Rei cukup bingung bagaimana menceritakannya. Ia tau bahwa tidak mungkin mereka berdua akan percaya dengan apa yang ia alami. Rei hanya bisa menjelaskan bahwa ia adalah seorang yatim piatu sedari kecil yang dirawat oleh panti asuhan dan memutuskan untuk berkelana untuk mencari pengalaman dan jati dirinya.

"Uwaaah kawan... Aku yakin hidupmu pasti lebih berat dari pada harus bersamaan dengan si kerdil ini selama hampir satu tahun!" ucap Russel sambil mengusap air matanya.

"APA MAKSUD MU! KAU PIKIR AKU MENYUSAHKAN MU HAH?! DASAR OTAK OTOT!" teriak Lora yang naik pitam setelah mendengar ucapan Russel.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • REINKARNASI TANPA SKILL   9. Demi-Human

    Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,

  • REINKARNASI TANPA SKILL   8. Sihir

    Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap

  • REINKARNASI TANPA SKILL   7.Ikatan

    "Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil m

  • REINKARNASI TANPA SKILL   6. Petualang Terpilih

    Belum cukup untuk berdiri dengan tegap, Rei kembali melihat Russel siap menerjangnya lagi. Rei tahu bahwa ia dapat mengisi bar progressnya dengan cepat dengan mengorbankan dirinya, namun itu tidak akan bertahan lama karena tubuh Rei tidak akan mampu untuk menahan semua rasa sakit itu.Rei tersadar akan sesuatu, yaitu asap hitam yang muncul dari belakang leher Russel. Saat Russel kembali menerjang, Rei mencoba menghindar dan mencari tahu apa sebenarnya asap hitam itu. Dengan sisa kekuatannya, Rei berhasil melihat sebuah kertas bertuliskan simbol aneh yang menempel di leher Russel."Sepertinya itu yang membuatnya hilang kendali. Mari kita coba—" Sebelum menyelesaikan gumamannya, Russel kembali menerjang Rei dengan kuat.[Enchant : Physical up!]Rei menerima terjangan itu. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya meski ia telah menggunakan skill. Tidak hanya menahan serangan tersebut, Rei juga berusaha meraih dan menarik kertas itu dari belakang leher Russel. Mereka berdua akhirnya mengha

  • REINKARNASI TANPA SKILL   5. Misi Penyelamatan

    Setelah cukup lama menyusuri jalan, akhirnya mereka sampai di depan hutan terdekat dari desa Topia. Seharusnya, tidak ada monster yang perlu dikhawatirkan untuk mereka. Karena Lora telah menjelaskan bahwa hutan ini cukup tenang dan tidak begitu berbahaya. Apalagi untuk dirinya yang sudah memiliki class. Perlahan mereka mulai masuk dan menyusuri hutan tersebut."Ngomong-ngomong Rei, di pertemuan awal kita kau belum sempat menjelaskan dari mana asal mu kan?" tanya Lora dengan nada yang sangat antusias."Oh- Iya, aku sebenarnya adalah seorang pengembara. Aku tidak begitu banyak menetap di suatu tempat sebenarnya. Dan dalam perjalananku, kebetulan kita bertemu," jawab Rei yang sedikit gagap karena sambil menyusun sebuah kebohongan."Tapi, kau sungguh sangat beruntung ya bisa selamat selama perjalanan mu. Kau ingat saat aku menolong mu? Itu adalah bentuk dari dewi keberuntungan yang mengirimku sebagai penyelamatmu. HAHAHA!" ujar Lora dengan sifat congkaknya yang kental.Rei mulai terbiasa

  • REINKARNASI TANPA SKILL   4. Tidak biasa

    "Create ?""Woaah, skill seperti apa itu? Apakah aku akan bisa membuat sesuatu menggunakan skill ku?" ucap Rei yang kagum dengan skillnya sendiri setelah mendengar namanya."Aku tidak yakin, dan aku benar-benar tidak memiliki informasi untuk skillmu nak," ujar Bastian yang masih bingung dengan skill milik Rei."Tidak apa Bastian, kau sudah membantuku. Selebihnya aku akan coba mencari taunya sendiri," balas Rei dengan optimis.Jika skill Rei memang benar dapat menciptakan sesuatu, bagaimana Rei bisa menang melawan Morgan? Bastian sangat yakin bahwa Rei tidak menggunakan apapun saat itu. Yang ia tahu, kekuatan Rei menjadi setara dengan Morgan saat dalam waktu terakhir dalam duel tadi."Bolehkah aku menanyakan sesuatu Rei?" tanya Bastian kepada Rei yang masing tersenyum-senyum sendiri."Tentu Bastian, ada apa?" jawab Rei"Kau mengaktifkan skill mu saat melawan Morgan, apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Bastian.Rei menjelaskan bahwa ia tidak merapal apa pun untuk skillnya muncul. Rei m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status