เข้าสู่ระบบ"Atau... jangan-jangan kau tidak memiliki skill nak?" ucap Bastian sambil melihat ke arah Rei dengan sangat prihatin. Bagi Bastian, kejadian ini sangat langkah dan aneh. Menurutnya, hampir seluruh orang di dunia ini seharusnya memiliki skill yang dapat dilihat dari saat mereka kecil dan bertumbuh. Namun di kasus ini, Bastian menemukan bahwa ada orang tidak bisa mendeskripsikan skillnya sendiri atau bahkan tidak memiliki skill sama sekali.
"Tapi itu masih perkiraan ku saja nak, jangan khawatir. Kebetulan matahari sudah mulai terbenam, aku akan menyiapkan kamar untuk mu. Russel pastinya akan pulang ke rumahnya sendiri. Besok, kita akan lihat. Benarkah kau tidak memiliki skill sama sekali?"
Bastian pergi ke belakang untuk mengambil kunci kamar Tavern. Russel pun berpamitan kepada Rei untuk kembali ke rumahnya. Sayangnya, gadis penyihir itu kelihatannya tidak muncul sedari tadi. Apakah benar yang dikatakan Russel tentang ketidakmungkinan gadis itu mengejar lantaran kaki-kakinya yang mungil?
"Ini dia, kunci kamar mu. Aku sarankan untuk membersihkan dirimu terlebih dahulu, agar kau tidak mengotori tempat tidurnya. hohoho~"
Sambil bergurau, Bastian memberikan kunci kamar untuk Rei. Pria yang baik, sayang ia harus menerima panggilan seperti tadi dari Russel. Rei mulai beranjak dari meja resepsionis menuju lantai dua, tempat dimana kamar Rei berada.
*kreeek~*
"Sejujurnya aku masih bingung dengan apa yang terjadi, namun aku bisa meraba bahwa aku berpindah ke dunia lain. Mungkin benar yang Bastian bilang, jangan khawatir. Sebaiknya aku segera membasuh diriku dan beristirahat"
Suasana ramai desa mulai mereda, lampu-lampu jalan pun mulai hidup satu persatu mengusir kegelapan yang datang. Rei yang baru saja selesai membasuh dirinya langsung pergi menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan dirinya. Keadaan yang begitu nyaman disebuah desa membuat Rei dengan cepat tertidur pulas. Di Sela tidurnya yang pulas, Rei terbangun kaget karena memimpikan kejadian yang ia alami di kehidupan sebelumnya.
"WOAAH!!! Hah?! A-apa... itu ingatanku yang dulu? Kenapa aku memimpikan hal tersebut?" ucap lirih seorang laki-laki yang terbangun kaget karena mimpinya. Ia menyingkirkan selimutnya, mencoba berdiri dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan langkahnya menuntunnya ke arah tempat cermin berada.
"Aku, masih hidup sekarang. Mungkin ini imbalan ku saat menyelamatkan Lea di kehidupan sebelumnya. Tapi, kenapa aku tidak memiliki Skill apapun di dunia ini?!"
Rei mencoba untuk membasuh wajahnya dan sesekali melihat pantulan dirinya dari sebuah carmin yang berada di kamar mandi. Aneh, Rei tidak merasa ada yang berubah dari dirinya. Bentuk tubuh dan fisiknya masih sama, dan ia yakin bahwa dirinya tidak bereinkarnasi.
"Sebaiknya aku kembali tidur, ada hal yang harus aku pastikan besok bersama Bastian"
Keesokan harinya, suasana Tavern yang mulai ramai terdengar dan membangunkan Rei. Ia bangun dan bergegas menuju ke lantai dasar untuk menemui Bastian. Berharap, ia dapat mengetahui sesuatu tentang skillnya.
"Anak muda yang rajin, kau sangat tanggap," ucap Bastian sambil membersihkan beberapa gelas minuman.
"Pagi Bastian, aku hanya tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari apa yang kau bicarakan tentang skill," ujar Rei yang masih berjalan menuruni anak tangga.
Rei menyadari bahwasanya ada beberapa orang-orang di Tavern yang tidak begitu mencolok dari yang lainnya. Ia merasa mungkin mereka memiliki masalah yang sama seperti yang ia alami. Namun, ada beberapa dari mereka menatap Rei dengan sangat remeh.
"Woaah, lihat! Sepertinya kau baru di sini?" ucap seorang pria berambut merah dengan ketusnya.
"Walaupun kau baru di sini, jangan harap kami sama dengan mu ya! Kami yang akan menjadi petualang baru nantinya," ujarnya lagi.
Rei yang tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh orang tersebut hanya bisa bersikap tidak peduli kepadanya. Lalu, ia mencoba berjalan menuju meja resepsionis dan duduk di sana. Tak lama, pria yang tadi membicarakan Rei datang menghampirinya. Sambil mengangkat segelas minuman tepat di atas kepala Rei, pria itu sengaja menuangkan minumannya dan berkata kepada Rei.
"Untuk orang seperti mu, kau terlihat cukup sombong huh?!"
Rei sangat geram dengan pria itu. Emosinya seketika muncul dan siap untuk membalas perlakuan pria tersebut kapan pun. Rei bangun dari tempat duduknya, mengepalkan tangan dan mencoba melesatkan satu pukulan kepada pria itu. Namun, nasib baik tidak menyertai Rei.
"[Enchant : Physical up!]"
Pria berambut merah tersebut mengaktifkan skillnya. Pukulan Rei yang mendarat di wajahnya tidak memberikan efek apapun. Pria tersebut kemudian menggenggam lengan Rei dan perlahan mulai meremasnya. Bastian yang melihat hal itu bergegas menghentikannya.
"[Umbra : Fear]"
"Hohoho~ Anak nakal. Apakah kau tau bahwa ada larangan keras untuk tidak membuat kegaduhan dan menggunakan skill di dalam Tavern," ucap Bastian sambil menggunakan skillnya.
Karena efek dari skill Bastian, pria tersebut mulai ketakutan. Perlahan, ia melepaskan remasan tangannya dari Rei. Mundur perlahan karena ia tahu bahwa Bastian yang memegang kendali di Tavern ini.
"Yaaa, mungkin sudah cukup untuk menakut-nakutinya. Rei, apakah kau baik-baik saja?" tanya Bastian kepada Rei.
Rei hanya bisa menganggukan kepalanya. Ia merasa bahwa tidak akan ada hal yang bisa ia lakukan di dunia ini atau bahkan melindungi dirinya sendiri jika tidak memiliki skill. Seketika, Rei teringat dengan status windows. Ia mencoba membuka status windows untuk pertama kalinya. Menyebutnya dengan ragu dan berharap menemukan apakah ada skill yang ia miliki.
"[Status Windows : Open] ?"
Setelah menyebutkan hal tersebut, keluar papan info berupa hologram berwarna biru muda dihadapannya. Rei sangat terkejut karena ia benar-benar dapat melihat seluruh statusnya di situ. Dari Kekuatan(STR), ketahanan(DEF), kepintaran(INT), kesehatan(VIT), kelincahan(AGI) dan juga keberuntungannya(LUK). Namun, dari semua yang ada dalam status windows tersebut hanya satu yang sangat amat ingin Rei lihat. Skill.
"Ti-tidak ada? Beneran tidak ada... skill?" ucapnya dengan rasa yang putus asa.
Rei yang tidak dapat berbuat apa-apa dengan hal itu, hanya bisa terdiam dan menundukan kepalanya. Disamping itu, Bastian yang melihat Rei murung mencoba untuk berbicara kepadanya. Berharap Rei tidak menyerah dan melanjutkan apa yang akan mereka coba nantinya.
"Rei, ini bukan akhir. Masih ada hal yang perlu kita coba bukan? Aku harap, kau tidak berputus asa sekarang. Bersiaplah, sebentar lagi akan dimulai"
Bastian kemudian berjalan ke arah kelompok orang-orang yang tidak terlalu mencolok itu. Merapikan bajunya dan siap untuk memberikan sebuah informasi.
"Ujian praktik untuk menjadi petualang akan segera dimulai! Untuk kalian yang mengikuti ujian diharapkan untuk ke area yang berada di belakang Tavern," ucap Bastian dengan tegas dan lantang.
Bastian benar, Rei tidak bisa berputus asa sekarang. Tidak mungkin tanpa alasan ia berpindah ke dunia ini tanpa apapun. Rei mencoba mengangkat kepalanya, mengikuti kerumunan orang-orang itu menuju area di belakang Tavern. Sesampainya di area tersebut, Bastian menyambut mereka dengan hangat.
"Selamat datang untuk kalian para calon petualang. Sebelum menjadi petualang, sangat penting untuk memiliki skill kalian masing-masing. Dengan adanya ujian ini, Guild akan mencoba menilai apakah kalian memiliki potensi atau tidak untuk menjadi seorang petualang"
Di area ini sudah disiapkan beberapa tempat untuk melakukan ujian praktek. Dari tempat yang kosong melompong, tempat yang memiliki target berupa boneka monster, dan juga tempat yang terlihat seperti arena bertarung. Untuk ujian pertama, para calon petualang diminta untuk mencoba mengaktifkan skill mereka masing-masing.
Tentunya, seluruh calon petualang yang berkumpul berhasil melakukannya. Lalu, tibalah giliran Rei. Rei yang optimis yakin bahwa ia bisa menggunakan skill seperti mereka. Dengan lantang dan percaya diri, ia mencoba meneriakan sebuah nama skill.
"[PYRO : FIRE BALL!]"
Tidak ada yang terjadi. Para calon petualang yang melihat Rei tertawa terbahak-bahak. Rei tau bahwa sikap optimis bukanlah hal yang dapat mengubah fakta bahwa ia tidak memiliki skill. Selanjutnya, para calon petualang diminta untuk menghancurkan target yang sudah disiapkan dengan skill mereka. Tentunya, Rei tidak bisa apa-apa.
Disini, ada banyak dari mereka yang berhasil melakukannya, dan ada juga dari mereka yang gagal. Namun berbeda dari Rei, mereka yang gagal dikarenakan tidak dapat dengan tepat menggunakan skill mereka untuk mengenai target yang ada.
"Sudahlah, lebih baik kau pulang dan berdiam diri saja di rumah. Kau bahkan tidak bisa melakukan apapun di sini," ucap pria berambut merah yang sebelumnya sempat mengganggu Rei.
Ucapan dari pria tersebut sangat membuat Rei merasa terpukul. Kesal, namun Rei tau bahwa ia tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ia gegabah, mungkin saja dirinya yang akan babak belur. Setelah kejadian itu, mereka bersiap untuk ujian berikutnya. Arena. Para calon petualang dipilih secara acak dan dipertemukan di arena yang sudah disiapkan. Malang untuk Rei, ia harus bertemu dengan pria berambut merah itu lagi.
"Hahaha! Lucky! Akhirnya ada kesempatan untuk membuatnya tau rasa!"
Mudah untuk dimengerti, tetapi sulit untuk diterapkan. Itulah yang ada di kepala Rei sekarang. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berdiri di samping Lora untuk mencoba mengeluarkan sihir pertamanya. Lora menyampaikan bahwa, apa pun elemennya, cara kerjanya sama."Fokus... Rasakan aliran mana..."Rei mencoba melakukan apa yang telah ia pelajari dari penjelasan Lora. Sayangnya, tidak ada yang terjadi. Mungkin karena tipe sihir utama Rei berbeda dari milik Lora. Lora kemudian memberi tahu beberapa rapalan dari sihir lain yang memiliki elemen berbeda."Aku rasa... ini tidak ada gunanya..." keluh Rei sambil menurunkan tangannya."Tidak perlu terburu-buru, Rei. Saat pertama kali aku mempelajari sihir, hanya bola air kecil yang dapat aku ciptakan, cukup untuk menyiram tumbuhan," ucap Lora pelan, mencoba menghibur Rei.Rei terlihat kesal. Bukan karena ia tidak bisa menggunakan sihir atau melakukan apa yang Lora ajarkan. Rei kesal karena dunia ini seolah-olah memberikan harapan kepadanya,
Matahari mulai bersembunyi, cahayanya meredup hingga hanya cukup menerangi jalan mereka di kedalaman hutan. Lora mengusulkan untuk bermalam di gua tempat mereka pernah singgah. Sambil berjalan menuju lokasi, Lora tidak lupa mengumpulkan beberapa herbal dan jamur di sela-sela perjalanan untuk mengisi perut nantinya.Sesampainya di sana, keadaan bibir gua yang porak poranda masih terlihat jelas di depan mata mereka. Mereka masuk ke dalam gua untuk meletakan perlengkapan mereka. Lora kemudian beranjak pergi menuju sungai untuk mendapatkan air, Russel juga mulai membereskan bebatuan besar yang ada dari sisa pertempuran Rei dan dirinya. Sedangkan Rei, ia pergi ke sekitar hutan untuk mencari hewan buruan yang dapat diambil dagingnya.Tidak butuh waktu lama, Killer-Rabbit yang mencoba mencari jalan pulang pun berpapasan dengan Rei. Satu per satu Killer-Rabbit yang mencoba menyerang Rei dapat ia tumbangkan, sedangkan lainnya memilih untuk pergi."Satu, dua... tiga. Ya, kurasa ini cukup" ucap
"Setidak begitu tenangnya kah diriku ini?" ucap Rei setelah mendapati bahwa tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Memori-memori itu terus membawa Rei untuk melihat bayang-bayang masa lalunya. Rei memutuskan untuk kembali untuk kembali ke kasurnya, menarik selimut, dan mulai memejamkan matanya, meninggalkan semua yang telah terjadi untuk sementara.Keesokannya, ia bangun dan membereskan barang-barangnya untuk menjalankan permintaan Bastian. Saat keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai dasar, kebetulan Lora dan Russel ada di sana. Rei menghampiri mereka berdua dan menjelaskan tentang permintaan Bastian."Kalau begitu, menurutku kita harus kembali ke dalam hutan itu. Kita tidak punya banyak informasi mengenai hal ini bukan?" ucap Russel.Sambil membuka peta, Lora menjelaskan bahwa hutan tersebut memang merupakan salah satu jalur menuju tanah para Demon, atau biasa disebut Land of Olethros. Lora juga menyampaikan kepada Russel dan Rei bahwa jarang ada petualang yang berhasil m
Belum cukup untuk berdiri dengan tegap, Rei kembali melihat Russel siap menerjangnya lagi. Rei tahu bahwa ia dapat mengisi bar progressnya dengan cepat dengan mengorbankan dirinya, namun itu tidak akan bertahan lama karena tubuh Rei tidak akan mampu untuk menahan semua rasa sakit itu.Rei tersadar akan sesuatu, yaitu asap hitam yang muncul dari belakang leher Russel. Saat Russel kembali menerjang, Rei mencoba menghindar dan mencari tahu apa sebenarnya asap hitam itu. Dengan sisa kekuatannya, Rei berhasil melihat sebuah kertas bertuliskan simbol aneh yang menempel di leher Russel."Sepertinya itu yang membuatnya hilang kendali. Mari kita coba—" Sebelum menyelesaikan gumamannya, Russel kembali menerjang Rei dengan kuat.[Enchant : Physical up!]Rei menerima terjangan itu. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya meski ia telah menggunakan skill. Tidak hanya menahan serangan tersebut, Rei juga berusaha meraih dan menarik kertas itu dari belakang leher Russel. Mereka berdua akhirnya mengha
Setelah cukup lama menyusuri jalan, akhirnya mereka sampai di depan hutan terdekat dari desa Topia. Seharusnya, tidak ada monster yang perlu dikhawatirkan untuk mereka. Karena Lora telah menjelaskan bahwa hutan ini cukup tenang dan tidak begitu berbahaya. Apalagi untuk dirinya yang sudah memiliki class. Perlahan mereka mulai masuk dan menyusuri hutan tersebut."Ngomong-ngomong Rei, di pertemuan awal kita kau belum sempat menjelaskan dari mana asal mu kan?" tanya Lora dengan nada yang sangat antusias."Oh- Iya, aku sebenarnya adalah seorang pengembara. Aku tidak begitu banyak menetap di suatu tempat sebenarnya. Dan dalam perjalananku, kebetulan kita bertemu," jawab Rei yang sedikit gagap karena sambil menyusun sebuah kebohongan."Tapi, kau sungguh sangat beruntung ya bisa selamat selama perjalanan mu. Kau ingat saat aku menolong mu? Itu adalah bentuk dari dewi keberuntungan yang mengirimku sebagai penyelamatmu. HAHAHA!" ujar Lora dengan sifat congkaknya yang kental.Rei mulai terbiasa
"Create ?""Woaah, skill seperti apa itu? Apakah aku akan bisa membuat sesuatu menggunakan skill ku?" ucap Rei yang kagum dengan skillnya sendiri setelah mendengar namanya."Aku tidak yakin, dan aku benar-benar tidak memiliki informasi untuk skillmu nak," ujar Bastian yang masih bingung dengan skill milik Rei."Tidak apa Bastian, kau sudah membantuku. Selebihnya aku akan coba mencari taunya sendiri," balas Rei dengan optimis.Jika skill Rei memang benar dapat menciptakan sesuatu, bagaimana Rei bisa menang melawan Morgan? Bastian sangat yakin bahwa Rei tidak menggunakan apapun saat itu. Yang ia tahu, kekuatan Rei menjadi setara dengan Morgan saat dalam waktu terakhir dalam duel tadi."Bolehkah aku menanyakan sesuatu Rei?" tanya Bastian kepada Rei yang masing tersenyum-senyum sendiri."Tentu Bastian, ada apa?" jawab Rei"Kau mengaktifkan skill mu saat melawan Morgan, apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Bastian.Rei menjelaskan bahwa ia tidak merapal apa pun untuk skillnya muncul. Rei m







