LOGIN“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.
“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.
“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana.
“Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.
“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.
“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.
“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”
“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.
“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.
“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.
Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.
“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.
“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.
Renjana terdiam. Sejak saat dirinya bertemu sang ayah di pelataran rumah, dan menemukan sang ibu terbaring sakit, Liu belum juga pulang.
“Ayah kemana sih Bu kalau lama seperti ini?” Tanya Jana tak sabar akan kepulangan sang ayah.
“Bisa jadi di perusahaan yang di Bandung, atau di proyek clusternya yang di Depok,” jawab Sanjana sekenanya.
“Berarti Ibu tidak tahu Ayah dimana dan kapan pulang Bu?” Jana memastikan.
“Apa Jana mau beli sesuatu di minimarket?” pertanyaan peralihan pembahasan.
“Tidak Bu, Jana hanya ingin pulang,” jawab Jana.
“Baik,”
Satu jam lewat lima belas menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah.
Terlihat ada tanda kedatangan di garasi utama, garasi yang hanya menyimpan kendaraan khusus untuk berbisnis.
“Ayah sudah pulang Bu,” seru Jana, ada kembang api di wajah cantiknya.
Ia segera berlari ke lantai atas.
“Yah!” seru Jana. “Lama sekali!” Jana berhenti di hadapan Liu di teras atas.
“Maaf ya?” ucap Liu mensejajarkan diri di hadapan putri bungsunya. Seperti biasa, jeda yang lama tidak berarti bisa ditukar oleh peluk meski sebentar untuk meluruhkan rindu. Semua hanya bisa ditahan oleh Jana sekuat tenaga.
“Tidak apa-apa Yah,” kata maaf yang Liu ucapkan selalu disambut dengan senyum keikhlasan oleh dua wanita yang selalu ia rindui untuk pulang.
“Jam berapa Ayah pulang tadi?” Sanjana ikut berkumpul di teras harmonis keluarga kecil Liu di lantai atas.
“Sepuluh menit sebelum kalian pulang,” jawabnya sambil menderet kursi untuk mereka bertiga.
“Bagaimana lombanya?” Tanya Liu pada putrinya.
Renjana merengut.
Liu melirik Sanjana, mengisyaratkan pertanyaan apa yang terjadi pada putri mereka.
“Menangis,” bisik Sanjana.
Liu terkekeh.
“Mengapa menangis?” Tanya Liu menatap lamat-lamat wajah Renjana.
“Kali ini Jana gagal Yah,” sungutnya.
“Secepat itu?” sanggah Liu.
“Jana down Yah, tiba-tiba,” jawab Jana dengan raut yang meyakinkan sang ayah atas kegagalannya hari ini.
“Bukan gagal Jana, itu adalah pembelajaran yang paling mahal,” Liu meluruskan Jana.
“Jika kita merasa gagal hari ini, berarti kita masih dilatih untuk menghadapi pengalaman yang akan datang,” lanjut Liu menutrisi logika Jana.
“Nanti bisa sukses seperti Ayah?”
“Pasti, selagi tidak menyerah,”
“Baiklah Yah,”
**
“Jana?” Alan memanggil Jana, memberikan surat kecil lagi untuknya.
Sorak gemuruh memenuhi ruang kelas melihat keromantisan yang Alan ciptakan untuk Renjana.
Renjana tersipu, beberapa hari dunianya tidak baik-baik saja, Alan lah yang mengobatinya.
“Lan, Renjana mau ice cream!” teriak Lilis pada Alan.
“Benar Na?” tanpa menunggu jawaban, Alan segera menghampiri penjual ice cream, dan kembali membawa ice cream corn vanilla untuk Jana.
Suasana semakin riuh bak kembang api yang mekar di langit malam menyambut datangnya kebahagiaan dua manusia yang sedang gila cinta.
“Terimakasih Lan,” ucap Renjana lalu lekas masuk ke dalam kelas.
“Na tunggu Na, cie… Renjana love Alan selamanya!” teriak Lilis menggoda Jana.
Bel masuk berbunyi, pelajaran selanjutnya segera dimulai.
Tak tak tak
Semua telah mengenal suara langkah kaki milik siapa yang sudah terdengar dari luar kelas.
“Pak Baim datang woi,” seru teman laki-laki di kelas itu.
“Assalamu’alaikum,” Ucapan salam mengiringi langkah kaki yang memasuki kelas, pandangan pertama Baim selalu tertuju pada gadis elegant di kelas itu.
Pelajaran agama telah diserap nalar Renjana tanpa terkendala. Selanjutnya adalah merangkum tugas yang diberikan oleh Baim.
Renjana menghentikan tarian pulpen diatas kertas miliknya, merumuskan kembali setiap tulisan dalam otaknya.
Tak sengaja, matanya mengarah pada Baim yang ternyata sudah menatapnya begitu dalam. Benaknya penuh dengan pertanyaan. Apakah ia melakukan kesalahan? atau ia terlalu lama untuk mengerjakan tugas dari Baim?. Namun tatapan itu tidak asing bagi Jana, tatapan yang sering dilakukan Alan padanya.
‘Ah… Sudahlah, itu tak penting sekarang,’ batinnya menyangkal.
Sepulang sekolah, Renjana dan Lilis mendapat tugas piket kelas hari itu, semua temannya telah pulang, hingga yang tersisa hanya mereka berdua di ruangan petak itu.
“Kak Lilis, ayo pulang!” suara adik Lilis memecah kegitan bersih-bersih mereka.
“Ibu atau Kakak yang jemput?” Tanya Ciput, ia adalah anak tengah di antara tiga bersaudara.
“Kakak,”
“Yes! Kami akan pergi jalan-jalan sore kalau Kakakku yang menjemput Na,” ujarnya dengan percaya diri.
“Yasudah kalau begitu samperin Kakakmu,” jawab Jana pengertian.
“Bener Na?” mata Lilis membulat berbinar, lalu melompat memeluk Renjana hingga sapu di tangannya terhempas ke lantai.
“Makasiiih Renjana Cantik Sayangku,” ucap Lilis semakin menggelayut manja,
“Iya, cepat sana, sudah ditunggu tuh,”
Kini hanya Renjana yang berada di kelas.
Beberapa menit setelah Lilis pergi, terdengar suara langkah dan bayangan dari luar yang kelas yang tidak asing juga bagi Jana.
“Belum pulang?” sapa Baim mendekati Jana.
“Ini, menyelesaikan ini Pak,” menunjuk debu yang tersapu di hadapan.
“Jan,” suara Baim lirih menelisik telinga Jana.
“Iya Pak?” Jana menatap Baim.
Suasana hening sejenak, angin berembus menelusup di anatara Jana dan Baim.
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.
“Cepatlah pakai hijabmu, aku tidak akan melihat,” titah Haikal yang membelakangi Renjana.Renjana menurut.“Sudah?” Haikal memastikan.“Belum Kak,” jawab Jana berusaha untuk cepat merapikan hijabnya. Haikal masih menunggu tanpa berbalik badan.“Sudah Kak, terimakasih banyak ya Kak?” ucap Renjana.“Jangan menangis lagi ya?” ujar Haikal sambil menatap wajah sembab Renjana.“Milla sangat keterlaluan,” umpatnya pada sang kekasih.Renjana hanya diam, sampai bel pulang berbunyi.**“Saat itu mungkin kalian sudah saling jatuh cinta. Siapa yang lebih dahulu mengungkapkan?” Tanya Sherly sang psikiater.“Tidak ada yang mengungkapkan Dok. Kami hanya saling tahu satu sama lain, saling menyapa, bersenda gurau melalui pesan-pesan yang kami kirim dengan kenyamanan, saling menatap saat kami bertemu di lingkungan sekolah, serta saling memberikan semangat saat salah satu dari kami menjalankan tugas sekolah,” tutur Renjana menyayangkan hubungan mereka.“Aku sungguh mencintainya Dok, dia pun tahu, namu
“Oh itu Na yang namanya Haikal, yang main darbuka,” bisik Lilis di telinga Jana.“Biarkan saja,” singkat Jana.“Pantas saja jadi idola para siswi, ganteng banget Na,” Lilis ikut kagum.“Lis! Inget kita disini mau sekolah, bukan mau cari idola!” tegas Renjana memarahi sahabatnya.“Hahaha… Aku sudah tahu jawabanmu pasti seperti ini Na,” Lilis terkekeh melihat wajah sahabatnya yang mulai sinis.Demo ekskul telah selesai, seluruh siswa diperbolehkan untuk istirahat terlebih dahulu.“Dimana kantinnya?” Tanya Lilis pada siswi lama yang baru saja melewati lorong.“Terus saja kesana, sebelah kanan,” seorang senior memberitahu. Renjana dan Lilis lekas melewati lorong dengan setengah berlari.BRUKRenjana menabrak seseorang dari balik dinding lorong.“Ah,” Keluh Jana yang sudah terduduk di tanah.“Maaf-maaf,” seseorang itu segera turun dari memastikan Jana.Netra keduanya saling bertemu, hingga mengaktifkan mode berhenti pada waktu yang semula berjalan cepat.HAIKALSeseorang yang ia tabrak ad
Baim melangkah mendekati Jana, dan segera memeluk Jana dengan erat lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Renjana. Jana membeku, dadanya berdegup kencang tak beraturan.‘Apa ini?’ teriaknya dalam hati.Hatinya menolak keras, namun tubuh seakan terbius dengan keadaan yang tak pernah ia kenal sebelumnya.“Jana? Jana milik Bapak ya,” ungkap Baim menatap dalam masih memeluk Jana.Jana hanya terdiam tak mengerti. Ingin menangis namun tertahan entah oleh apa. Yang bisa ia lakukan hanya membeku, tak ada yang bisa mencairkan tubuhnya. Hingga akhirnya Baim pergi meninggalkan Jana dalam ruangan yang lengang tanpa suara, tanpa penopang, tanpa cahaya yang bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi olehnya.Tubuhnya tersandar ke dinding yang dingin, tubuhnya melorot ke lantai kehinaan. Air mata ikut luruh, jiwanya hancur berkeping bagai puing yang sengaja diruntuhkan oleh seseorang yang bahkan telah ia hormati, ternyata dialah penghancur utama istana kehormatannya.Tatapan Jana kosong, tangannya berge
“Kenapa?” Tanya Sanjana pada Renjana yang berhambur kepelukan sang ibu.“Aku takut pengujinya Bu,” jujurnya.“Pengujinya galak ya?” pak Kholis segera memahami keadaan Jana. “Iya Pak” Jawab Jana sambil meringis.“Yasudah tidak apa-apa, mau jajan?” pak Kholis menenangkan.“Mau pulang saja Pak,” pinta Jana.“Yasudah kalau gitu, tidak apa-apa pulang duluan saja. Anisa dan Angga pulang sama Bapak,”“Iya Pak,” dengan tubuh lesu, Jana menyalami pak Kholis dengan penuh penyesalan karena sudah ia pastikan sekolahnya tidak akan menang kali ini karenanya.“Maaf ya Pak? Kami pamit pulang duluan,” pamit Sanjana.“Iya Bu tidak apa-apa. Hati-hati di jalan,” jawab pak Kholis dengan lembut.Sanjana dan Renjana kini sudah berada di dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, Sanjana yang menyetir, karena mang Jaja sebagai supir pribadi mereka sedang sakit.“Ayah ada di rumah Bu?” Tanya Jana.“Tidak,” jawaban singkat Sanjana dengan tatapan mata yang tak beralih sedikit pun.Renjana terdiam. Sejak saat diri
“Ibu kenapa?” lirih Jana di hadapan wajah ibunya.“Tidak apa-apa Nak,” jawab sang ibu.Seharusnya Jana tidak mempercayai kalimat itu, tapi, anak seusia Jana hanya sebatas memahami bahwa ibunya ingin beristirahat, meski ada rasa iba disana.“Bagaimana mengajinya?” Sanjana tidak ingin putri kecilnya terlalu dalam memikirkan ada apa sebenarnya yang terjadi pada ibunya.“Alhamdulillah Bu, semua berjalan lancar. Lilis membimbingku dengan baik,” ceritanya.“Tadi ada teman sekolah juga Bu, yang rumahnya dekat sungai sana,” lanjutnya dengan semangat.“Jana bahagia?” tentu saja pertanyaan itu untuk menambah kebahagiaan Jana.“Iya Bu, Jana mendapat banyak teman disana,”“Alhamdulillah kalau begitu, istirahatlah lebih cepat, besok harus bangun untuk sekolah kan?” titah sang ibu.“Iya Bu,” Jana segera melaksanakan perintah sang ibu.**Sekolah dasar cukup menyenangkan, tapi ada sesuatu yang membuat Jana tak memiliki semangat untuk menjalaninya, entah apa itu, Jana belum menemukannya.Meski ia cu
Renjana, gadis elegan nan mempesona. Pemilik rambut pirang bergelombang, pemilik daya tarik alami bagi siapapun yang melihatnya.“Yah. Bagaimana cara Jana menjalankannya?” Tanya gadis belia berambut pirang sambil berusaha menjalankan mobil-mobilan di tangannya.“Mundurkan dulu Na, lalu lepaskan,” Jawab Liu pada putri kecilnya.“Seperti ini Yah?” Renjana segera mengerti apa yang dititah oleh ayahnya.“Bagus, betul seperti itu Renjana Sayang,” telapak selebar kepala Renjana itu segera mengelus pelan rambut panjangnya.“Yah. Kata Ibu, perempuan tidak boleh main mobil-mobilan,” Tanya Renjana mengerjapkan mata dengan polosnya.“Boleh Kok, meskipun Jana perempuan, Jana harus bisa semua, bahkan harus bisa menaklukkan dunia ini,” jawab Liu yang tidak dimengerti oleh Renjana.“Tuan, Mister Hook menelpon anda,” seorang bodyguard menyerahkan secon ponsel bisnis pada Liu.Liu mendengkus kasar.“Saya telah memesan marmer pada orang lain, karena marmer yang kau kirim sebagai contoh itu dibuat denga







